
Annora menatap semua yang ada di sana satu persatu. Panglima Jevano, Jasmine, Haikal, Felicia, dan Sherly tengah bersama Annora mendiskusikan langkah selanjutnya.
Beberapa bukti telah didapat, meskipun bukan bukti yang kuat, tapi cukup untuk menuntut balik. Panglima Jevano sendiri yang terjun untuk mencari bukti tertulis mengenai riwayat penyakit Jennie yang dibantu oleh adiknya, Jasmine.
Haikal bagian pengamanan. Dia yang mengamankan Daffa dan beberapa bukti mengenai kematian Jennie juga berada di tangannya.
Dan, Felicia, dia berada memiliki tugas untuk mengawasi langkah musuh. Memata-matai ibunya yang dicurigai sebagai dalang kematian Jennie.
Kemudian, Sherly. Sherly sendiri akan membantu Daffa mengingat semuanya. Tentang kenangannya juga penyebab kematian Jennie.
Meski agak sulit, tapi Annora mencoba untuk mencari bukti yang kuat. Bukan dari saksi atau apalah itu. Ia ingin bukti yang melibatkan sang pelaku atau korban secara langsung dengan bantuan teknologi. Singkatnya seperti alat penyadap. Meskipun itu adalah hal yang mustahil didapat.
"Daffa sudah cukup pulih, ingatannya satu persatu juga mulai kembali," lapor Sherly, dia terdiam sebentar. "Semua informasi yang bersangkutan sudah aku laporkan pada kalian. Kita hanya butuh pemulihan agar dia benar-benar bisa diajak berbicara."
Felicia menganggukkan kepalanya. "Bagus, sangat bagus. Tapi sepertinya, mereka sudah mulai curiga," celetuk Felicia, membuat semua kepala menoleh menatapnya.
"Aku mendengar ibu sudah mengetahui jika ternyata kalian masih beroperasi. Aku juga sempat diinterogasi soal itu. Dia menanyakan apakah aku masih berhubungan dengan kalian, tapi aku menjawab jika aku sudah lama keluar."
Haikal yang mulanya diam kini bersuara. "Aku akan mencoba menghapus jejak yang ada. Kita harus mengamankan Daffa bagaimanapun juga." Semuanya mengangguk setuju.
"Lalu ... bagaimana kita mengungkapkan semua itu?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Annora.
Hening melanda beberapa detik. Sebelum akhirnya Jevano membuka mulutnya untuk berbicara.
"Massa, desakan massa. Hanya itu yang bisa membuat runtuh Erlangga," jawab Jevano.
Annora diam, kepalanya menunduk, dia masih menimbang-nimbang perkataan Jevano. "Desakan massa?" gumam nya. "Maksudmu, kita harus membuka aib Aaron di depan umum?" tanyanya sembari menatap Jevano dengan tatapan khawatirnya.
Felicia menyadari itu, dia menghela nafasnya panjang melihat reaksi Annora. "Annora, aku tau kau mencintainya. Tapi, jangan pernah menggagalkan rencana kita ini hanya karena alasan cinta," peringat Felicia.
Annora terdiam menatap Felicia. Ya, apa yang dikatakan Felicia memang benar. Dia tidak boleh egois. Rencana yang sudah lama dijalankan tidak boleh gagal hanya karena cinta sepihak.
Annora lalu tersenyum simpul. "Tak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan hal itu," kata Annora meyakinkan.
...****************...
__ADS_1
Athaya mengernyitkan keningnya melihat suami kakaknya itu datang. Awalnya dia tidak ingin membukakan pintu untuk pria brengs*k sepertinya. Akan tetapi, pria itu malah nekat masuk ke dalam rumah tanpa bisa Athaya tahan.
Aaron tengah duduk santai, sedangkan Athaya sendiri masih mencoba untuk mengusir keledai dungu itu. Sebuah ide gila muncul dari kepala bungsu Atmadja itu. Dia kemudian mengambil tongkat baseball miliknya yang ada di dapur.
Athaya menyeret tongkat baseball nya, dia lalu menodongkan tongkat tersebut kearah Aaron. "Jika kau masih berada di sini, maka akan ku pastikan tongkat ini melayang di kepalamu," ancam Athaya, Aaron meliriknya dengan tatapan horornya. Dia langsung bangkit dari duduknya dan berlari masuk ke salah satu kamar.
"Dasar keledai dungu ...!! Keluar kau dari kamar kakakku ...!!" teriak Athaya sembari menggedor kuat pintu kamar milik Annora.
Aaron sendiri berada di balik pintu tersebut bermaksud untuk mengganjal pintu kalau-kalau kamar Annora didobrak paksa oleh Athaya. Ya, meskipun itu hal yang mustahil, mengingat pintunya sudah dikunci oleh Aaron.
Gedoran pintu sudah tidak terdengar. Aaron menghela nafasnya lega. Tatapannya tak sengaja tertuju pada buku bersampul hitam yang berhias bunga dan kupu-kupu di pinggirannya.
Aaron mengambil buku tersebut, menatapnya sebelum akhirnya membuka buku tersebut. Buku diary, ya, itu adalah buku diary milik Annora.
Aaron membuka buku tersebut. My Idol, Aaron Rama Erlangga. Itulah judulnya, ada banyak foto Aaron di sana.
“Dia tampan, layaknya dewa Yunani kuno dalam dongeng, dia juga baik hati, tak salah jika banyak perempuan tergila-gila padanya.”
Aaron tertawa kecil melihatnya. Ya, bukannya narsis, dia hanya mengakui ketampanan yang memang tampan. Aaron lalu membuka halaman selanjutnya.
“Aku cemburu pada perempuan itu, perempuan beruntung yang bisa bersanding dengan idolaku. But, it's okey, aku senang Aaron mendapatkan pendamping yang sepadan.”
“OMG ...!! Aku tadi bertemu dengan Aaron ...!! Arghh ...!! Dia terlihat lebih tampan ketika dilihat dari dekat.”
Aaron membaca buku tersebut sampai akhir. Dia tersenyum kecil, menatap buku tersebut. Senyuman kemudian luntur ketika mengingat perlakuannya pada sang istri.
Maafkan aku, Annora. -batin Aaron meminta maaf.
...****************...
Annora menekan tombol hijau guna menyambungkan telepon seluler dari Athaya.
"Halo, assalamualaikum, Athaya ... ada apa?" tanya Annora dalam panggilan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam, kak ...!! Keledai dungu itu masuk ke dalam kamarmu, usir dia sekarang, kak ....!!"
__ADS_1
Annora mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Athaya. "Siapa yang kau maksud dengan keledai dungu itu, Athaya?"
"Tentu saja suami tolol mu itu. Cepat kemari dan usir dia."
"Iya-iya, dasar cerewet," sungut Annora, gadis itu lalu meminta Haikal untuk mengantarnya ke rumah.
...****************...
Athaya tersenyum melihat sang kakak menghampirinya. Annora sendiri langsung memeluk sang adik.
"Dimana dia?" tanya Annora langsung.
"Ada di kamarmu," jawab Athaya. "Oh ya, kalo udah ngurusin keledai dungu itu, buatkan aku makanan, ya, Kakakku tersayang? Aku sangat rindu sekali dengan masakan mu."
Annora tersenyum, dia mengacak rambut Athaya dengan gemas. "Iya, Adek manja."
Annora lalu berjalan menuju kamarnya, dia mengetuk pintu itu. "Aaron, ini aku, keluarlah ..." kata Annora
"Tidak mau ...!!" tolak Aaron
Annora menghela nafasnya panjang, dia lalu berbalik hendak ke dapur untuk memasak makanan untuk sang adik tercinta.
Beberapa menit berlalu, Annora datang dengan berbagai makanan. Aroma harum menguak, membuat perut lapar. Athaya langsung duduk di meja makan.
"Wah ... ini enak sekali, Kak," kata Athaya yang memang sudah memasukkan berbagai makanan di dalam mulutnya.
Annora tersenyum melihatnya. Sementara Aaron mengendap-endap keluar dari kamar. Pria itu menatap dari jauh makanan yang ada.
"Beri aku sedikit makanan," pinta Aaron dengan nada memelas nya. Tidak ada respon, Aaron kemudian menatap Annora. "Bisakah kau memberiku sedikit makanan buatan mu itu, Nyonya Erlangga, kumohon ...?"
Annora menghela nafasnya panjang. Dia kemudian memberi kode Aaron agar duduk di samping Athaya. Awalnya adiknya itu protes, tapi setelah mendengar permintaan sang kakak agar Aaron tidak berbuat ulah lagi, Athaya pun menyetujuinya meskipun tidak ikhlas.
Aaron sebenarnya sudah mengajak Annora untuk ke mansion Erlangga, tapi sayangnya gadis itu menolak dengan alasan ingin menemani adil sematawayangnya.
...****************...
__ADS_1
Annora menatap bunga mawar hitam yang ada di tangannya. Mawar hitam melambangkan kesedihan, meskipun ia sangat suka dengan bunga tersebut.
Hatinya sedang gundah. "Cinta yang tak terbalas harusnya sudah moksa, namun mengapa ini malah semakin menyiksa?"