Dear My Idol

Dear My Idol
The Next Step?


__ADS_3

Aaron memijit pangkal hidungnya. Suara dering ponsel berbunyi, dia meliriknya sekilas sebelum akhirnya mengambil benda pipih berbentuk persegi itu.


Sebuah pesan dari seseorang yang memang dikenalinya. Aaron lalu membuka pesan itu. Beberapa foto paparazi tentang kedekatan Annora dengan Haikal.


Aaron mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa cemburu merasuki hatinya. Ditambah dengan kalimat provokasi yang dituliskan oleh wanita itu. Sialan. Jika memang seperti ini, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan memberikan pelajaran pada Haikal.


...****************...


Annora menghela nafasnya pasrah menyaksikan perdebatan antara Jasmine dengan Haikal. Mereka berdua tengah meributkan tentang bagaimana caranya agar Adelia, Aaron, bahkan Belinda masuk hotel prodeo. Mengingat, mereka semua sangat anti dengan semua itu.


Mereka bertiga bisa saja melakukan banyak cara untuk melenyapkan bukti dan menyogok para pegawai sipil.


"Hentikan perdebatan konyol kalian," kata Felicia dengan nada tegasnya. Annora bersyukur di tim mereka memiliki Felicia yang memang sudah matang sehingga bisa menengahi perselisihan yang ada.


Baik Jasmine ataupun Haikal mendengus mendengarnya. Membuat Felicia menggelengkan kepalanya tak percaya.


Panglima Jevano tidak hadir, dia sedang mengurus urusannya untuk menemani Sherly dalam hal mengamankan Daffa dari Adelia dan antek-anteknya.


Annora tersenyum tipis. "Massa, desakan massa." Gadis itu menatap satu persatu orang yang ada di sana. "Kita bisa memanfaatkan itu, mungkin mereka kebal dengan berbagai macam hukuman, tapi tidak dengan desakan massa."


Felicia menganggukkan kepalanya setuju, begitupula dengan yang lain. Annora lalu melanjutkan perkataannya, "Tapi, bagaimana cara kita agar bisa menimbulkan itu?"


Semuanya terdiam, sebelum akhirnya Haikal membuka mulutnya. "Perayaan. Negara ini dibangun oleh tiga marga besar. Narada, Erlangga, dan juga Atmadja."


"Kita semua tau jika Narada dan Erlangga telah bergabung dikarenakan pernikahan nyonya agung Evelyn dengan tuan Arkan. Sedangkan Atmadja sendiri telah menghilang tanpa kabar."


"Besok adalah hari perayaan memperingati bergabungnya Erlangga dengan Narada. Kita bisa memanfaatkan hal itu untuk membongkar semuanya," jelas Haikal panjang lebar.


Jasmine mengernyitkan keningnya. "Bukannya masih lama, ya? Kurang lebih satu bulan lagi," koreksinya.


Haikal mendengus kasar. "Itu bahasa kiasan, bodoh." Jasmine mendelik menatapnya yang hanya dibalas oleh lirikan malas.


"Baiklah, untuk langkah selanjutnya, kita lihat kondisi dulu," putus Annora kemudian.


Satu persatu dari mereka keluar, meninggalkan ruangan gelap itu yang hanya menyisakan Felicia dan Annora. Felicia memegang pundak Annora lembut. Annora menoleh.


"Kau baik-baik saja, kan?"


Annora menganggukkan kepalanya, tersenyum simpul menatap Felicia. "Ya," jawabnya singkat.


...****************...


Annora duduk termenung di kamarnya, ia tengah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin saja akan terjadi dalam waktu dekat.


Dilihat dari segi manapun, hubungan Adelia dan Annora tampak seperti mertua-menantu pada umumnya. Namun, hanya sedikit yang menyadari bahwa keduanya selalu mengibarkan bendera dingin.

__ADS_1


Adelia bukanlah tipe wanita urakan yang suka main terbuka dan kasar. Dia lebih memilih untuk menjadi seperti ular, licik dan licin. Tenang namun menghanyutkan, dan sangat mahir dalam bermain rapi.


Sedangkan Annora sendiri mengikuti lawan mainnya. Selain itu, dia juga masih menjunjung tata krama. Mau bagaimanapun juga, Adelia merupakan ibu dari suaminya yang berarti adalah mertuanya.


Mereka berdua sama-sama profesional, akan tetapi, siapapun tau jika Annora masih jauh dibawah Adelia.


"Hanya tinggal beberapa langkah lagi," gumamnya pelan.


...****************...


Adelia tersenyum mendengar laporan Belinda. Ya, sebentar lagi putranya akan pulang. Dan dia sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk putranya itu.


"Kau harus patuh pada ibumu ini, Aaron, atau kau akan kehilangan orang yang kau cintai, bahkan dirimu sendiri."


...****************...


Sherly menatap Daffa, laki-laki itu sudah dinyatakan sembuh. Mereka semua telah menceritakan semuanya pada Daffa. Masih sama, Daffa akan tetap melakukan apapun itu untuk Sherly.


"Kau ... sudah sembuh, jaga dirimu baik-baik," ujar Sherly. Dia lalu memberikan sebuah jam tangan yang didalamnya ada alat pelacak lokasi. "Kau adalah kunci berhasilnya misi ini," lanjutnya kemudian.


Daffa terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, aku akan berusaha semaksimal mungkin," katanya dengan nada sungguh.


Sherly tersenyum menatap Daffa. "Terimakasih, terimakasih atas semua informasinya," tutur Sherly tulus.


Daffa menganggukkan kepalanya lagi. Sherly lalu berjalan, perlahan wanita itu meninggalkan Daffa. Daffa masih diam, irisnya tak bisa lepas dari punggung Sherly.


...****************...


Annora dan Sherly berjalan berdampingan, mereka hendak menemui Adelia karena memang wanita itu yang memanggilnya.


Di depan ruangan pribadi Adelia, Sherly menatap tajam seorang pria. Seorang pria yang Annora ketahui sebagai perebut kesucian Sherly.


Tubuh Sherly takut, akan tetapi kedua bola matanya menatap George penuh amarah, giginya gemertuk menahan tangis.


Annora mengerti itu, dia dengan sengaja menggenggam tangan Sherly yang membuat sang puan menoleh kearahnya. Annora hanya tersenyum kecil menatap Sherly.


Ia sudah bisa menebak apa kemauan Adelia. Wanita paruh baya itu jelas tau kelemahan Sherly. Dan wanita paruh baya itu akan menggunakan George untuk mengintimidasi Sherly.


Pintu dibuka, Adelia tersenyum ramah melihat tiga orang yang diundangnya itu. "Ah, kalian sudah datang, ya."


Basa-basi yang basi. -batin Sherly malas.


"Silahkan duduk," ujar Adelia dengan ramahnya. "Padahal aku mengundang kalian di waktu yang berbeda, tapi kenapa bisa datang bersama, ya?" Bohong. Jelas-jelas Adelia menghubungi mereka di waktu yang sama.


Annora berdehem kecil dan mengangguk kepalanya. "Iya. Oh ya, ada apa Ibu memanggilku?" tanya Annora yang memang tidak ingin membuat basa-basi lama.

__ADS_1


Adelia tersenyum tipis. "Aku hanya ingin kau membereskan pekerjaan Aaron yang memang belum beres. Jangan khawatir, hanya sedikit saja. Kurang lebih butuh dua hari untuk menyelesaikannya. Apakah kau sanggup, Annora?" Annora menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara.


Iris Adelia bergulir menatap Sherly dan George secara bergantian. "Dan, untukmu, Sherly, ku perintahkan kau agar menemani Tuan George untuk memilih dekorasi untuk perayaan nanti," sambungnya.


Sudah Annora duga. Hal ini memang dimaksudkan Adelia agar mental Sherly terguncang.


"Maaf, Ibu, tapi ... Sherly adalah pelayan pribadiku, jadi Ibu tidak memiliki hak untuk memerintahnya, sekalipun Ibu adalah seorang nyonya besar Erlangga," tutur Annora memberi pengertian.


Adelia mendecih pelan. Sialan menantunya itu. Bisa-bisanya dia mengibarkan bendera perang secara terang-terangan pada seorang Adelia Chandrawinata.


Adelia tersenyum tipis. "Baiklah, berarti kau yang mengambil alih tugas Sherly," putus Adelia, Annora hanya menganggukkan kepalanya saja. Toh, itu juga masalah besar.


Mereka kemudian keluar. Adelia masih terdiam, memikirkan hal selanjutnya yang harus dilakukan.


...****************...


Annora mengernyitkan keningnya heran kala melihat ponselnya yang berdering menampilkan nama Aaron. Annora terdiam sejenak, berfikir apakah dia menjawab panggilan itu atau tidak. Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Annora memutuskan untuk menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo, assalamualaikum, ada apa?" tanya Annora to the poin.


Terdengar samar suara helaan nafas dari lawan bicara. "Tidak ada apa-apa," Aaron terdiam sejenak. "Bagaimana kabarmu?" tanya Aaron dalam panggilan selulernya.


"Baik, bagaimana denganmu?"


"Tidak baik," jawab Aaron di seberang.


"Ada masalah apa?"


"Kau benar baik-baik saja?" Bukannya menjawab, Aaron malah memberikan pertanyaan kepada Annora.


Annora menghela nafasnya. "Iyaa, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa? Sepertinya kau sangat khawatir, apakah ada hal yang menganggu pikiranmu, Aaron?"


Hening cukup lama, Aaron diam tak menjawab. Annora mendesah pasrah. "Hey, kau belum tidur, kan?"


"Iya-iya, dasar bawel. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja karena seminggu lagi kita harus menghadiri konferensi bersama para pemimpin lainnya," jelas Aaron panjang lebar.


Annora memajukan bibirnya beberapa senti. Gadis itu cemberut, untung Aaron tak melihatnya. "Aku sebenarnya malas, tapi ... ya sudahlah," ujar gadis itu mengeluarkan keluhannya.


"Tidurlah ... ini sudah malam. Jangan matikan telepon ini, aku akan menemanimu tidur dari jauh."


Annora tertawa renyah. "Kau berniat sleep call, begitu?" tanyanya


"Hentikan tawa jelek mu itu dan bersiaplah untuk tidur. Jika kau berani mematikan sambungan telepon kita, maka aku akan meneror mu dengan cara telepon." ancam Aaron


Annora menggelengkan kepalanya. "Zaman sudah modern, Aaron. Aku bisa menghidupkan mode silent," balas Annora.

__ADS_1


"Dan, karena zaman sudah modern, aku bisa mematikan mode silent itu dari jauh," timpal Aaron.


"Iya-iya, aku tidur dulu. Selamat tidur, Aaron."


__ADS_2