Dear My Idol

Dear My Idol
Hari Bunga


__ADS_3

Ruang kerja luas yang simpel namun mewah. Sangat sesuai untuk ukuran Aaron Rama Erlangga. Disinilah Haikal sekarang. Berdiri diantara dua orang, Aaron dan Sherly.


Sherly berdiri tepat di samping kursi Aaron, sedangkan Haikal berada persis di depan Aaron, mereka berdua hanya berjarak dengan meja.


Aaron menatap tajam Haikal. "Bukankah aku memintamu untuk membunuhnya?" tanya Aaron dengan nada rendah.


Haikal menundukkan kepalanya. "Maaf, setelah ku selidiki lagi. Arus sungai itu tak sederas dan sedalam biasanya, hal ini dikarenakan musim hujan sudah berhenti," jelas Haikal.


Aaron memejamkan matanya sejenak, setelah cukup reda, dia lalu membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Berdiri dan menodongkan pistol ke kepala Haikal.


"Katakan dengan jujur. Sekalipun air sungai sudah tak sederas dan sedalam biasanya, harusnya dia sudah mati tenggelam karena Annora Sinta Az-Zahra tidak pernah bisa berenang," sentak Aaron.


Haikal masih menunduk, dirinya terdiam. "Maaf," hanya itu kata yang bisa diucapkannya.


Aaron menghembuskan nafasnya. Dia menatap Haikal. "Untuk kali ini, akan ku ampuni, kuharap kau tidak mengulanginya lagi," ujar Aaron.


Sherly yang berada di samping Aaron itu angkat suara. "Sepertinya, kau berpihak pada Annora. Aku tidak yakin jika dirimu benar-benar membunuh Annora," ungkap Sherly.


Aaron masih menganalisis ekspresi wajah Haikal. Dia, sedikit terkejut. Tapi, setelah itu, raut wajahnya kembali normal.


Haikal mengangkat kepalanya menatap Sherly. "Tuduhan yang tidak mendasar, apa hubungannya kegagalan misi ku dengan perkataan mu?"


Sherly tersenyum mendengar Haikal. "Benarkah? Tapi ... bukankah ini mencurigakan, Aaron? Annora masih hidup sedangkan dia tidak bisa berenang? Tidakkah janggal?" pancing Sherly


"Jikapun iya aku berpihak pada Annora, untuk apa?" elak Haikal. "Ini murni kesalahanku dalam menganalisa informasi," lanjutnya.


Suara Aaron menginterupsi. "Pergilah," perintahnya. Haikal mengangguk, dia kemudian membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kakinya untuk keluar. "Jika kau terbukti memihak Annora, kau sudah tau akibatnya 'kan, Haikal Putrajaya?"


Haikal menghentikan langkahnya. "Baik," jawabnya singkat tanpa menoleh. Dia lalu kembali meneruskan langkahnya.


...****************...


Annora mendesah kecewa, dirinya kemudian memutuskan untuk keluar kamar dan pergi ke taman untuk merefresh otaknya. Baru beberapa meter dari kamarnya, Felicia datang menghampirinya.


"Nyonya," ujarnya dengan nafas tak beraturan. Dia berdiri di depan Annora. "Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya ingin memberikan ini pada Anda, Nyonya," lanjutnya sambil menyodorkan bunga aster pemberian Athaya.


Annora menerima bunga itu dengan tatapan bingung. "Dari siapa?" tanyanya


"Dari adik Anda, Nyonya," jawab Felicia.

__ADS_1


Annora memukul kepalanya sendiri. Dia lupa jika sang adik ada di mansion Erlangga. Ini karena dirinya terlalu emosional tadi. "Dimana dia sekarang?" tanya Annora


"Adik Anda sudah pulang dari tadi, Nyonya," jawab Felicia.


Annora menganggukkan kepalanya, meski sedikit agak kecewa. Dia kemudian tersenyum kala melihat bunga aster yang ada di tangannya. Felicia menatap heran nyonyanya itu.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Felicia


Annora menoleh kearahnya. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak," jawabnya singkat.


Felicia itu termasuk orang yang memiliki tingkat kepo yang cukup tinggi. Jadi, dengan memberanikan diri, dia bertanya kepada Annora. "Maaf, Nyonya, itu bunga apa?" tanya Felicia


Annora tersenyum mendengarnya. "Akan ku beri tau di taman, ayo ..." ajak Annora, Felicia menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu berjalan bersama.


Disinilah Annora berada, di antara ribuan macam bunga. Dia tengah duduk bersama Felicia.


"Aster, bunga aster memiliki banyak sekali makna. Salah satu makna bunga aster adalah untuk menunjukkan rasa terima kasih seorang saudara atas kehadirannya dalam hidupnya, serta harapan untuk hubungan yang bahagia dan abadi dengan saudara." jelas Annora


Felicia tersenyum senang. "Sepertinya, adik Anda sangat menyayangi Anda, Nyonya," ujar Felicia.


Annora menganggukkan kepalanya. "I know that," katanya sambil tersenyum.


Annora mencium pipi gembil Aluna. "Aluna ... Ibu kangen ...!!" seru Annora, dia tak berhenti menciumi pipi Aluna.


Aluna tertawa dibuatnya. "Ibu, geli ...!!" ujar Aluna, Annora menghentikan kecupannya, dia juga ikut tertawa.


Setelah beberapa saat, tawa mereka berdua reda. Aluna menatap Annora dengan serius, membuat baik Annora atau Felicia menahan tawanya.


"Ibu ... Ibu dari mana saja?" tanya Aluna


Annora tersenyum kecil. Dia mengusap kepala Aluna. "Apakah kau rindu dengan Ibumu yang cantik ini, hm?" tanya Annora dengan nada menggoda.


Kedua bola mata Aluna berkaca-kaca. Membuat Annora kelabakan melihatnya. "Aku rindu Ibu ...!!" serunya disertai tangisan.


Annora segera memeluk tubuh Aluna. Dia mengusap punggung kecil milik putrinya. "Maafkan Ibu, ya, Sayang? Jangan nangis, okey? Mau es krim?" tawar Annora di akhir kalimatnya.


Aluna menatap Annora. "Benarkah?" tanyanya memastikan, Annora menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja, rasa apa yang kau mau? Ibu akan meminta tolong Haikal untuk membelinya," tanya Annora

__ADS_1


...****************...


Haikal menaruh beberapa suplemen dan vitamin di kantung plastik itu. Dia juga menaruh bunga kamila putih atau white chamomile. Sebenarnya, dia bukan anak buah Aaron maupun Annora. Haikal bekerja untuk seseorang yang jauh di sana. Orang itu memerintahkan Haikal untuk selalu melindungi Annora.


Pistol bertengger apik di kepala Haikal. Aaron lah pelakunya. Haikal sontak terdiam sembari melirik kearah Aaron. "Vitamin dan yang lainnya itu untuk siapa, Haikal?" tanya Aaron mengintimidasi


"Untuk nyonya Annora karena dia memintanya tadi," jawab Haikal dengan tenang.


Aaron mengangkat sebelah alisnya. "Lalu bunga itu?" tanyanya lagi


Haikal terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat agar Aaron tidak curiga. "Nyonya Annora meminta saya untuk membelikan es krim dan juga vitamin, untuk apa, saya tidak tau. Dan, bunga itu saya dapat karena ada seseorang yang memberi. Katanya, sekarang adalah hari bunga sedunia," jelas Haikal.


Mungkin, banyak dari kita yang tak tau bahwa ada hari bunga sedunia. Hari bunga sedunia terjadi pada tanggal 12 Mei. Hari bunga sedunia dirayakan untuk menghargai keindahan dan keberagaman bunga serta untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan bagi keberlangsungan hidup bunga dan tanaman lainnya.


Pada hari itu, banyak orang di seluruh dunia merayakannya dengan mengunjungi kebun bunga, memberikan bunga kepada orang yang mereka sayangi, atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bunga dan tanaman.


Aaron menurunkan pistolnya. Dia lalu mengambil kantong plastik itu. "Biar aku yang memberikan ini padanya," ujar Aaron. "Dimana dia?"


"Nyonya ada di taman," jawab Haikal, Aaron kemudian melangkahkan kakinya menuju taman.


...****************...


Aaron dapat melihat Annora yang tengah bercanda ria dengan Aluna. Disampingnya Annora juga terdapat Felicia, pelayanan pribadi gadis itu.


Aaron kembali melangkahkan kakinya menuju mereka. Aluna adalah orang yang pertamakali menyadari kehadirannya dan menyambutnya dengan hangat.


"Ayah ...!!" serunya sambil merentangkan kedua tangannya. Dia lalu memeluk tubuh atletis milik Aaron.


Aaron membalas pelukan itu. Setelah dirasa cukup, Aluna mengurai pelukannya. "Ayah bawa apa?" tanya Aluna


Aaron tersenyum tipis. "Pesanan Ibumu," jawab Aaron singkat, dia lalu menyodorkan kantong plastik itu kepada Annora.


Annora menerima. Keningnya mengernyit kala melihat vitamin, suplemen, dan bunga kamila putih. Dia menatap Aaron yang masih berbicara dengan Aluna.


Gak mungkinkan kalo Aaron yang ngasih? -batin Annora


"Aaron, vitamin, suplemen, dan bunga ini ...?" tanya Annora


Aaron menatapnya heran. "Bukankah itu pesanan mu?" tanya balik Aaron, Annora terdiam sejenak. Dia paham, ini adalah pemberian Haikal, bukan Aaron.

__ADS_1


Annora menghembuskan nafasnya. "Ah, iya, aku lupa," jawabnya.


__ADS_2