Dear My Idol

Dear My Idol
Rindu


__ADS_3

Disinilah Annora berada. Di sebuah restoran mewah bersama dengan sang idola, Aaron. Dirinya tengah menunggu makanan yang mereka pesan.


Mungkin Aaron biasa-biasa saja, tapi tidak dengan Annora. Jantung gadis itu selalu berpacu lebih cepat jika berada di dekat Aaron. Ini, seperti mimpi. Dia, bisa melihat wajah Aaron dengan jelas. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan Annora karena dia masih ingin terbuai dengan semua ini.


Pesanan mereka telah sampai. Beef steak dan beberapa makanan yang lain. Baik Aaron maupun Annora mulai memakan makanannya itu. Tapi, sepertinya ada masalah dengan Annora. Mendadak dia lupa tentang bagaimana cara memotong steak.


Aduh, gimana, nih. Masa gue gak makan. Arghh ...!! Ini semua karena gue gugup. Oke, tenang, santai, lo pasti bisa, Ra. -batinnya menyemangati.


Annora lalu mencoba memotong steak nya lagi. Kali ini, garpunya yang melayang. Aaron menatapnya dan hanya dibalas dengan senyuman kikuk.


Aaaa ...!! Gue malu ...!! Ibu, mau pulang ...!! -jeritnya dalam hati.


Aaron diam tak menanggapi, akan tetapi dia kemudian memotong steak nya dan menyodorkannya tepat di depan mulut Annora. Annora memandangnya heran.


"Makan," ujar Aaron yang terkesan memerintah. Tanpa sadar, Annora membuka mulutnya. Aaron tersenyum tipis. "Enak?" tanyanya


Annora sontak menganggukkan kepalanya, pipinya bersemu merah. Dan, setelah itu, Annora berakhir disuapi Aaron. Dia senang, sekaligus malu.


Annora menundukkan kepalanya. "Te-terimakasih," ujarnya.


Aaron menyentuh dagu Annora dan memaksakannya untuk menatap dirinya. Aaron kemudian mengambil tisu dan mengelap bibir Annora yang terkena saos. "Kau seperti anak kecil," ujar Aaron. Tak taukah dirimu, Aaron, bahwa Annora sudah meleleh karena perlakuan mu.


Perhatian mereka berdua teralihkan karena pertunjukan musik. Aaron hanya memperhatikan Annora yang masih terkagum-kagum dengan pertunjukan musik itu.


Tiba-tiba, MC acara itu menunjuk random orang. Malangnya, Annora lah orang yang terpilih itu. Dengan langkah yang kurang yakin, Annora berdiri di atas panggung.


"Oke, sebelum itu, siapakah nama Anda?" tanya si MC.


"Saya, Annora Sinta Az-Zahra," jawab Annora.


"Mari kita beri tepuk tangan pada Kak Sinta ...!!" ujar MC tersebut.


Annora hanya tersenyum tipis mendengar tepukan tangan itu. Irisnya terhenti karena melihat Aaron mengangkat sebelah tangannya yang mengepal seolah memberi semangat. Tanpa sadar Annora menganggukkan kepalanya singkat. Tiba-tiba, rasa percaya dirinya tumbuh.


"Apakah Anda bisa menyanyi?" tanya sang MC.


"Insyaallah, bisa," jawab Annora.


"Coba, nyanyikan sebuah lagu random yang saat ini mewakili perasaanmu dan juga apa alasannya."


Annora menghembuskan nafasnya pelan. "Lagu ini, saya tujukan untuk ibu saya. Saya ingin meminta maaf sekaligus mengungkapkan rasa rindu saya kepada beliau."

__ADS_1


Suara musik mulai mengalun. Annora memejamkan matanya, mencoba mengingat serta menikmati lagu itu.


Kuingin saat ini engkau ada di disini.


Tertawa bersamaku seperti dulu lagi.


Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkan lah.


Bukannya diri ini tak terima kenyataan.


Oh ... Bukannya diri ini tak terima kenyataan.


Hati ini hanya rindu, oh ....


Hati ini hanya rindu, hm ....


Ku rindu senyummu, ibu.


^^^—Rindu (Andmesh)^^^


Tanpa sadar, air mata Annora menetes. Ya, dia rindu ibunya. Dunia seakan berubah menjadi kejam saat ibunya tidak ada. Dunia seakan ingin membunuhnya saat bidadari tak bersayap nya itu pergi.


Tak hanya Annora, beberapa orang juga ikut merintih kan air matanya. Termasuk sang MC sendiri.


Annora kemudian kembali ke tempat duduknya. Aaron memberinya selembar tisu. Annora menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Setelah beberapa saat, dia kembali mengangkat kepalanya.


"Maaf ..." lirihnya


Aaron menggelengkan kepalanya. "Itu wajar," ujarnya kemudian. "Ibu ... ingin bertemu denganmu, apakah kau keberatan?" tanya Aaron.


Annora menatap Aaron dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Aaron hanya tersenyum tipis seolah meyakinkan. "Tak apa, ibu pasti akan menyukaimu. Lagipula, tak mungkin 'kan dia menolak calon menantunya sendiri?" tanya Aaron yang membuat pipi Annora bersemu. Jika ini mimpi, tolong bangunkan Annora, ia rasa, ini sudah keterlaluan.


"Ca-calon mantu?" ulang Annora dengan terbata-bata.


Aaron menganggukkan kepalanya singkat. Dia lalu berdiri dan bersiap pergi. Mau tak mau, Annora harus mengikutinya.


...****************...


Annora menatap khawatir kearah Aaron. Dia, takut. Dia takut Aaron marah, karena dari tadi, laki-laki itu tidak bicara apapun padanya.


Annora menatap kagum kearah mansion itu. Mobil yang Aaron kendarai berhenti. Laki-laki itu keluar dan membukakan pintu untuk Annora, terkadang ... Annora malu karena diperlukan seperti itu.

__ADS_1


"Ikut aku," ujar Aaron, Annora menurut, dia mengikuti Aaron di belakang. Aaron berhenti, menoleh kearah Annora. "Berjalanlah di samping ku," katanya. Annora lalu berjalan dengan menyamai langkah tegap milik Aaron.


Sebuah pintu ruangan terbuka. Menampilkan beberapa orang penting yang Annora kenal. Tentu saja dia kenal, Erlangga adalah keluarga top seantero negeri. Bahkan mungkin sampai mancanegara.


Annora menyapa mereka dengan sopan. Dan, sepertinya mereka semua menerima kehadirannya, mungkin. Tapi, sepertinya yang paling akrab dan benar-benar mau dekat dengan Annora adalah Evelyn, neneknya.


...****************...


Taman belakang adalah tempat yang Annora singgahi sekarang bersama dengan Evelyn. Mereka berdua berbicara banyak sekali.


"Annora Sinta Az-Zahra Atmadja, sebenarnya, aku penasaran dengan arti dari namamu yang begitu panjang itu," ujar Evelyn yang membuat Annora tertawa kecil.


"Apakah Nenek benar-benar ingin tau arti namaku?" tanyanya memastikan


"Tentu saja."


"Gadis cantik yang memberi jalan untuk menuju cahaya. Ya, itulah artinya. Ibu bilang, dia ingin aku menjadi anak yang mampu menerangi sekitarnya," jelas Annora.


Evelyn tersenyum tipis. "Kau sangat hebat. Tak salah cucuku jika memilih istri sepertimu. Karena kau akan membawanya kedalam tempat yang suci nan penuh cahaya," ujar Evelyn, Annora tersipu mendengarnya.


"Ah, Nenek bisa aja," ujar Annora, mereka berdua lalu tertawa bersama.


Aktivitas mereka sedang diperhatikan oleh pasangan ibu-anak itu. Ya, Adelia dan Aaron tengah memperhatikan interaksi keduanya.


Adelia menatap Aaron. "Gadis polos itu tidak akan membahayakan mu, setidaknya untuk saat ini."


"Tapi, Bu, dia ... tak mengerti apapun. Apakah kita benar-benar harus mengorbankan dia?" tanya Aaron


Adelia menatap putranya itu dengan pandangan aneh. "Kau ini kenapa? Tingkah mu sangat aneh. Tenang saja, kau hanya memerlukannya untuk membersihkan skandal itu darimu dan mempercantik reputasi mu."


Adelia menatap Aaron dengan serius. "Selama kau menurut dengan Ibu, maka semuanya akan baik-baik saja. Baik-baik saja."


Adelia lalu pergi meninggalkan Aaron sendiri. Aaron masih memperhatikan Annora yang bercanda ria dengan Evelyn sebelum akhirnya pergi.


Evelyn tau jika Adelia dan Aaron menatapnya dari tadi. Tapi, dia lebih memilih mendiamkan mereka berdua. Dia, sudah terlalu lelah. Tugasnya disini sekarang hanyalah untuk melindungi gadis yang ada di depannya. Hanya gadis itu yang mampu membersihkan nama Erlangga seperti semula. Erlangga yang bersih.


"Nek, Nek ..." panggil Annora


Evelyn menatapnya. "Iya, ada apa?" tanyanya.


"Harusnya aku yang tanya seperti itu pada Nenek. Nenek gapapa?" tanya Annora dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Iya, kamu tenang aja. Udah, ayo kembali," ajak Evelyn.


__ADS_2