Dear My Idol

Dear My Idol
Sun Flower


__ADS_3

Annora bangun tidur dengan keadaan yang berantakan. Kantung mata tebal dan penampilan yang acak-acakan. Mengerikan, itulah satu kata yang mampu menggambarkan penampilan Annora saat ini.


Kepalanya pusing bukan main. Annora merutuki dirinya yang menangis semalaman. Sekarang ini, ia tak berani keluar. Annora yakin jika neneknya, Evelyn akan memberondongi dirinya dengan berbagai macam pertanyaan. Dan yang pasti, Annora tak ingin neneknya itu khawatir. Karena bagi Annora, ini adalah masalah rumah tangganya, tidak ada yang boleh ikut campur.


Ketukan pintu terdengar. Annora kaget bukan main. "Ya, ada apa?" tanya Annora dengan sedikit berteriak. Dia sudah tak peduli lagi dengan tata krama, karena saat ini, ia hanya tak ingin wajah berantakannya itu dilihat oleh orang lain.


"Nyonya besar Evelyn mencari Anda," jawab pelayan itu dari luar.


Sudah Annora duga. Neneknya itu pasti khawatir. Mengingat, ini sudah menunjukkan pukul siang, tapi Annora belum juga keluar.


"A-aku sedang tidak enak badan. Ya, katakan ada nenek bahwa cucunya yang cantik ini sedang sakit," bohong Annora, meskipun tak sepenuhnya. Otaknya sudah buntu, hingga akhirnya, keluarlah omong kosong yang klise ini.


"Baik," jawab pelayan itu.


Annora menghembuskan nafasnya lega. Sekarang tugasnya adalah mandi dan memperbaiki diri. Huh, tampilannya memang mengerikan. Sudah mirip dan bisa disebut sebagai mayat hidup.


Setelah mandi dan mengikuti berbagai tutorial dari internet, akhirnya wajah Annora sudah tak seburuk tadi. Ya, setidaknya lebih baik, lah.


Pintu kamarnya terbuka, Annora terlonjak kaget. Dia lalu menoleh dan mendapati Evelyn yang menatapnya khawatir. Duh, jika seperti ini, kan jadi Annora-nya yang gak enak.


Annora bangkit dari duduknya dan menghampiri Evelyn. "Nenek, apa yang Nenek lakukan disini?" tanya Annora.


"Justru aku yang bertanya seperti itu padamu. Kenapa kau malah minum air dingin? Bukankah kau tadi sakit? Apa yang ada di pikiranmu sebenarnya?"


Berbagai pertanyaan keluar dari mulut Evelyn. Annora kelabakan dibuatnya. "Itukan tadi, Nek, sekarang sudah tidak. Lagian, aku adalah cucu Nenek, mana mungkin aku bisa sakit dalam jangka waktu yang lama," ujar Annora.


"Ya, ya, terserah padamu. Sekarang ini yang penting adalah, bagaimana kabarmu? Baik 'kan? Apa ada yang membuatmu menangis? Kenapa kantung mata mu tebal?"


"Nenek, semuanya baik-baik saja. Dan soal kantung mataku ini, ya ... biasalah. Aku menangis karena melihat drama. Dramanya sangat bagus. Aku prihatin pada tokoh perempuan itu karena diselingkuhi oleh suaminya, padahal mereka baru menikah beberapa bulan," jelas Annora yang sedikit membeberkan kisahnya semalam.


Evelyn tersenyum kecil. "Sudah-sudah, itu hanya drama 'kan, kau tak perlu memikirkannya," ujar Evelyn menasihati.


Sebenarnya tidak, Nek. Tokoh perempuan itu aku. Nyata dan sangat menyakitkan. -batinnya.


Annora menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Ada apa Nenek kemari?" tanya Annora.


"Aku akan pergi dalam waktu yang cukup lama, kuharap kau baik-baik saja," ujar Evelyn.


Annora menatap wanita tua yang masih terlihat segar itu dengan tatapan mata tak percaya. "Nenek akan pergi? Meninggalkan ku? Lalu, aku dengan siapa di sini?" tanya Annora bertubi-tubi, bahkan air mata gadis itu sudah hampir menetes.


Evelyn menangkup pipi gembil cucunya itu. "Kau tak perlu khawatir, aku yakin kau bisa sendiri. Ada beberapa surat untukmu, nanti kau cari sendiri, ya? Nenek harus pergi sekarang, bye-bye cucuku tersayang ..." pamit Evelyn, mereka berdua lalu berpelukan dengan cukup lama.


...****************...


Annora sedang berjalan, dibelakangnya ada Haikal. Mereka akan pergi untuk mengunjungi adik Annora, Athaya. Gadis itu rindu dengan adiknya, sehingga dia memutuskan untuk menemui sang adik sekaligus menghibur hatinya yang tengah terluka.

__ADS_1


Seorang anak kecil menubruk tubuh Annora hingga terjatuh. Annora membantu anak itu untuk berdiri. Dia berjongkok dan menatap anak itu. "Kau tak papa, gadis kecil?" tanyanya dengan nada ramah.


"Umm, terimakasih ... dan, maaf karena menabrak mu," ujar gadis kecil itu.


Annora menganggukkan kepalanya. "Tak apa," jawabnya.


"Seorang putri tak pantas meminta maaf kepada rakyat jelata. Anda tak boleh seperti itu lagi, Nona Aluna," ujar seseorang. Perempuan itu berpakaian necis, wajahnya juga masih muda. Siapakah dia?


Wanita itu menatap remeh kearah Annora. "Harusnya Anda meminta maaf pada putri Aluna karena membuatnya terjatuh," katanya.


"Setinggi apapun kedudukan, seseorang tak boleh lupa akan tanah yang ia pijak," ujar Annora, dia lalu menatap wanita itu. "Apakah begini caramu mendidik anak?" tanyanya kemudian.


"KAU-"


Tangan Belinda yang terangkat itu ditahan oleh Haikal. Laki-laki itu menatap tajam Belinda. "Jaga sopan santun Anda dihadapan Nyonya Annora." kata Haikal dengan nada rendah.


Belinda melepaskan tangannya dari cekalan Haikal. "BA-"


"Siapa namamu tadi? Aluna? Nama yang cantik, seperti orangnya. Oh ya, mau ikut ke taman? Disana banyak bunga, ada juga ikan, mau?" potong Annora, dia tak ingin Aluna mendengar perkataan yang tak sesuai dengan usianya itu.


Kedua bola mata Aluna berbinar. Dia lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat. Annora kemudian menggandeng tangan gadis kecil nan manis itu. "Ayo ...!!" ajaknya dengan semangat tanpa mempedulikan tatapan jengkel Belinda.


"Anda harus bertemu dengan nyonya Adelia, Putri. Ada beberapa tutor yang sedang menunggu kedatangan Anda," ujar Belinda.


Aluna lalu menarik tangan Annora dan menariknya. Annora terkikik geli melihatnya, dia hanya menurut saja saat gadis cilik itu menariknya.


Taman, tempat pertama kali yang Annora kunjungi bersama dengan Evelyn, neneknya. Sekarang ini, dia datang kembali dengan bersama gadis cilik yang baru ditemuinya beberapa menit. Aluna, namanya.


Aluna tengah asik menangkap kupu-kupu, namun gadis cilik itu tak kunjung mendapatkannya. Mimik wajah kesal pun ditampakkan olehnya, membuat Annora menggelengkan kepalanya.


"Siapa gadis cilik itu?" tanya Annora pada Haikal.


"Dia, anak dari Aaron, Aluna Zea Erlangga," jawab Haikal.


Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Tapi, kenapa Aluna tidak mirip dengan Jennie Anggraeni, istri Aaron yang sudah almarhumah. Lagian, bukankah Jennie dikabarkan meninggal saat mengandung anak pertama mereka yang belum lahir?


"Aluna itu ... anak pertama Aaron dengan almarhumah Jennie, ya?" tanya Annora memastikan.


"Tidak." jawab Haikal cepat, Annora menatap Haikal bingung. "Aluna bukan anak Jennie. Dia adalah anak haram," lanjutnya.


"Maksudmu?" tanya Annora tak paham. Haikal baru mau membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Annora, tapi Aluna membuyarkan mereka.


"Ibu, Ibu, aku berhasil menangkap kupu-kupu ini," adu Aluna pada Annora.


Annora menolehkan kepalanya, tersenyum lembut menatap Aluna. "Bagus. Sekarang, coba lepaskan," ujar Annora.

__ADS_1


Aluna merengut tak suka. "Ibu ...!! Aku sudah susah payah menangkapnya, masa disuruh lepas," protesnya.


Annora tersenyum kecil. "Bayangkan jika kau jadi kupu-kupu ini. Sebaik apapun tempat yang kau berikan pada kupu-kupu ini, dia akan tetap memilih terbang bebas di luar. Layaknya Aluna yang ingin pergi ke luar saat tutor berlangsung. Ibu yakin, saat tutor, Aluna diberi makanan yang enak dan fasilitas mumpuni, tapi ... Aluna tetap ingin bermain di luar 'kan? Begitupula dengan kupu-kupu ini."


"Kau paham, Sayang?" tanya Annora kemudian.


Aluna menganggukkan kepalanya mengerti. Dia lalu membebaskan kupu-kupu tersebut. Annora tersenyum melihatnya.


"Oh ya, kenapa Aluna memanggilku Ibu?" tanyanya pada Aluna.


"Itu karena seluruh media menyajikan berita tentang ayah yang menikah lagi denganmu. Awalnya aku tak setuju, tapi setelah ini, aku senang. Karena ternyata ibu baruku adalah orang yang sangattt baik," jawab Aluna, Annora kemudian menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Sayang Luna banyak-banyak ...."


"Hu'um, sayang Ibu banyak bangett ...."


Mereka berdua lalu tertawa bersama. Aluna kemudian melepaskan pelukannya. Dia berpamitan akan pergi mencari bunga untuk Annora.


Setelah Aluna pergi, Annora menoleh kearah Haikal. "Lanjutkan perkataan mu tadi," perintahnya pada Haikal.


"Aluna bukan anak Jennie, dia adalah anak dari sahabat Jennie, Belinda. Orang yang kau temui tadi. Dulu, dia merupakan sahabat Jennie, dia selalu mengikuti apapun yang Jennie lakukan. Hingga akhirnya tragedi itu terjadi. Tragedi yang menewaskan Jennie." terang Haikal, Annora bisa merasakan kesedihan dan amarah dalam duri Haikal.


"Bisakah kau memberitahuku tentang semua ini, tanpa terkecuali?" tanya Annora.


Haikal menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak, maaf, aku tidak bisa. Kau terlalu awam untuk ini," tolak Haikal, Annora mengangguk mengerti. Ya, ini bukan tanggungjawab nya 'kan?


Aluna berteriak keras memanggil Annora sambil berlari. "IBU ...!!" teriaknya sembari membawa sun flower atau bisa dibilang bunga matahari.


Annora menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak itu. "Jangan lari-lari, Sayang, nanti ja-" ucapan Annora terpotong karena Aluna jatuh. Annora dengan segera berlari menghampiri Aluna yang terjatuh. Dia lalu menggendong gadis cilik itu.


Annora mendudukkan Aluna. Dia kemudian meniup lutut Aluna yang sedikit tergores tadi. "Sudah-sudah, tak perlu menangis. Aluna itu kuat, kan?" ujar Annora memberi semangat, dia lalu menghapus air mata Aluna. "Wahh, bunga matahari yang petik itu cantik sekali, Sayang. Mau diberikan kepada siapa?"


Aluna kemudian menyodorkan bunga itu kepada Annora. "Ini untuk Ibu, aku memetiknya khusus untukmu," ujarnya.


Annora menerima bunga itu. Dia kemudian mencium pipi gembil Aluna. "Terimakasih, Aluna kesayangannya Ibu ..." ujar Annora, sedangkan Aluna hanya tersenyum malu.


"Aluna, apa kau tau makna bunga matahari ini?" tanya Annora, Aluna menggelengkan kepalanya tanda tak tau.


"Bunga matahari melambangkan loyalitas atau kesetiaan karena tumbuhan ini selalu mengikuti arah matahari. Setiap pagi, menghadap ke sisi timur mengikuti arah matahari. Sedangkan pada sore hari akan berotasi ke mengikuti terbenamnya matahari.


"Selain lambang dari persahabatan, bunga matahari juga merupakan lambang cinta. Jika Aluna sudah besar nanti, Ibu akan menceritakan padamu tentang sebuah kisah cinta yang berkaitan dengan bunga matahari," lanjut Annora


Aluna merengut. "Kenapa tidak sekalian saja, Bu?" tanyanya


"Karena kau masih kecil, sudah, ayo kita kembali," ajak Annora kembali. Aluna merentangkan kedua tangannya. Annora tertawa kecil. "Alololo, anak Ibu ini manja sekali, ya?" Annora lalu menggendong gadis kecil itu. Aluna tertawa senang.

__ADS_1


__ADS_2