Dear My Idol

Dear My Idol
Gerbera


__ADS_3

Annora berjalan dengan langkah tegasnya. Pikirannya melayang saat Aaron mencium bibirnya.


Sialan. -umpatnya dalam hati.


Suasana sedang buruk, seseorang menabraknya. Membuat orang itu terjatuh, Annora berjingkit kaget, dia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Belinda.


Bukannya menerima uluran tangan Annora, justru Belinda malah menepisnya. Dia berdiri lalu pergi tanpa sepatah katapun. Annora hanya mengangkat bahunya tak peduli.


...****************...


Haikal tersenyum puas kala melihat Sherly menatap horor kearah Daffa. Dia saat ini berada di dalam ruangan cctv rumah sakit. Ya, dia memiliki seorang kenalan di sini, awalnya hanya iseng saja. Tapi, ternyata temannya itu tau.


Perlu kalian ketahui jika Daffa sudah tidak dalam pantauan keluarga Erlangga sejak dua tahun terakhir. Dan, mungkin saat ini mereka tengah mencari, mengingat perkataan Felicia yang mengatakan bahwa Erlangga sudah mengetahui tentang penyelidikan mereka.


Haikal tadi menyuruh seseorang untuk membuat Sherly pingsan, secara singkat, menculik Sherly. Dia lalu memerintahkan pada orang itu untuk membawa Sherly ke ruang rehab milik Daffa, bagaimana ... cerdik, bukan?


Haikal dan Daffa dulu cukup akrab. Mengingat, mereka memiliki hubungan erat dengan Jennie. Daffa sang pengawal dan Haikal yang merupakan teman main. Lengkap, bukan?


Daffa pernah bercerita pada Haikal tentang pacarnya. Laki-laki itu cukup terbuka pada Haikal, bahkan dia sering meminta tolong pada Haikal. Ya, biasanya dia akan meminta tolong Haikal untuk menanyakan tentang apa yang perempuan suka pada Jennie untuk pacarnya.


Ibarat kata, Haikal itu adalah pengantar soal dan jawaban untuk pertanyaan Daffa tentang perempuan. Haikal hanya diberitahu Daffa nama pacarnya, itupun tak lengkap. Chintya Arabella, hanya itu nama yang diberitahukan padanya.


Aku akan tetap menyeret mu jika kau belum mampu memulihkan ingatannya. -ujar Haikal dalam hati.


...****************...


Sherly menatap tajam Daffa yang dari tadi menatap lama dirinya. Daffa tersenyum lembut, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Sherly, akan tetapi, hal itu langsung ditepis oleh Sherly.


Daffa tersentak, dia kemudian tersenyum lembut. "Bagaimana kabar bubu?" tanya Daffa, bubu adalah nama panggilan bayi yang ada di perut Sherly.


Sherly mendecih. "Kau tak patut menanyakan itu," sinis nya. Dia lalu memalingkan wajahnya kearah yang lain, ia enggan menatap wajah Daffa.


Masih tak menyerah. Daffa kembali bertanya. "Apakah kalian berdua baik-baik saja?' tanyanya dengan nada lembut, ah, tidak, sangat lembut.


Air mata Sherly menetes. Dia berbalik dan menatap tajam Daffa. "Kau meninggalkanku dan masih berani bertanya tentang keadaanku?! Kau gila!" serunya

__ADS_1


Daffa menatapnya kaget, dia ingin memeluk Sherly tapi sayangnya, hal itu langsung ditepis kasar oleh sang puan.


"Jangan menyentuh ku, bajing*n!" teriakannya


Daffa menatap Sherly dengan terkejut. "Hey, Sayang-"


Perkataan Daffa langsung dipotong oleh Sherly. "Jangan memanggilku dengan sebutan itu, brengs*k!" serunya dengan nada marah. Ingatan tentang hari itu kembali berputar di kepalanya. Sherly berteriak kemudian pingsan.


...***...


^^^Erlangga's Past^^^


^^^xxxx^^^


Sherly berdandan rapi, senyumannya mengembang. Dia memoles wajahnya dengan riasan tipis. Rambutnya dibiarkan terurai sehingga kelihatan dewasa. Tas selempang mini pun dipakainya. Sempurna.


Gedoran pintu yang kencang terdengar oleh indra pendengarannya. Sherly diam, kedua bola matanya meliar mengamati sekitar. Firasatnya buruk.


Sherly mengambil tongkat baseball miliknya yang memang ada di kamar. Pintu kamar dibuka paksa, menampilkan sosok pria berumur. Sherly menatap pria itu dengan penuh waspada, sedangkan sang pria menyeringai menatapnya.


Langkah pria itu semakin mendekat, Sherly memundurkan langkahnya, tangannya masih memegang tongkat baseball.


Bukannya berhenti, sang pria justru semakin mendekat. Hingga sesuatu yang ditakutkan Sherly beberapa menit lalu terjadi.


...****************...


Daffa tersenyum senang menatap buket bunga gerbera yang ada di tangannya. Seseorang dari jauh mengamatinya. Senyuman smirk mengembang di wajahnya. Perempuan itu menekan gas mobilnya.


Srett


Daffa terseret, cukup memprihatinkan. Gita membuka jendela mobil dan menengoknya. Dia tersenyum sebelum akhirnya kembali menginjak gas mobilnya. Daffa tidak pingsan, dia masih bisa melihat Gita yang tersenyum. Hingga akhirnya, matanya tak mampu lagi untuk sekedar terbuka. Dia, pingsan.


...****************...


Sherly menatap kosong. Pria itu mengusap lembut pipi Sherly yang sedikit lebam. Dia tersenyum, pria itu kemudian mencium punggung tangan Sherly.

__ADS_1


"Wajahmu cantik, aku suka," ujarnya, dia kemudian melenggang pergi setelah mengecup bibir Sherly.


Sehabis pria itu pergi, tangisan Sherly mengudara. Semuanya sakit. Hatinya sakit, badannya juga. Dia benci Daffa. Ya, sangat benci.


...****************...


Adelia tersenyum kala melihat kedatangan Belinda. Belinda membungkukkan badannya hormat. "Salam, Nyonya," salamnya.


Adelia mengangguk pelan. "Bagus, kau datang tepat pada waktunya. Aku ingin kau membuat Aaron terpojok atas kematian Jennie," ujar Adelia to the poin.


Belinda membutakan matanya kaget. "Tapi, Nyonya, bukankah itu terlalu berlebihan? Maksud saya ... bagaimanapun juga, Aaron itu juga putra Anda," kata Belinda.


Adelia menatapnya datar. "Apa hak mu berbicara seperti itu?" tanyanya, dia memalingkan wajahnya. "Bukankah kau ingin Aluna mendapat gelar Putri? Jika itu yang kau mau, kau harus tetap menyingkirkan Aaron dari tahta yang dia punya di Erlangga. Apakah kau ingin kejahatan mu berakhir sia-sia?"


Belinda menatap Adelia tak percaya. "Tapi Anda yang memerintahkan saya untuk membunuh Jennie, saya hanya menjalankan perintah Anda," elak Belinda.


Adelia meliriknya sebentar. "Kau yang melakukannya, kenapa sekarang malah memutar balikkan fakta? Lagipula, apakah kau punya bukti bahwa itu adalah perintah dariku?"


Belinda mengepalkan tangannya. "Anda memerintah saya untuk membunuh Jennie karena dia telah membuat Aaron terlena."


Adelia tertawa kecil. "Belinda, Belinda, kau ini lucu sekali, ya? Dengar, kau sendiri 'kan yang bilang jika ingin menguasai Aaron. Aku sudah berbaik hati dengan memberimu izin dan juga nasihat. Lalu, apa salahku? Tidak ada. Lagian, aku juga masih punya rekaman suara saat kau mengatakan ingin membunuhnya."


Adelia mengeluarkan sebuah alat perekam suara kecil yang berwarna hitam. Dia kemudian tersenyum menatap Belinda, ia lalu menekan tombol tersebut.


"Saya tidak ingin Jennie menjadi penghalang bagi anak saya untuk menjadi putri. Saya akan menyingkirkan Jennie dalam waktu dekat."


Belinda membuatkan matanya kaget. Dia, memang mengucapkan itu, tapi ... itu tidak sepenuhnya benar. Adelia yang memerintahkannya dan dia hanya menyetujui. Tapi di situ, dia yang seolah-olah bersalah.


"Aku punya bukti ini, jika kau ingin aman, maka lakukan perintah ku. Lagipula, aku juga akan memberikan tahta Aaron pada putrimu 'kan? Pergilah"


Belinda menahan amarahnya. Dia lalu berbalik dan melangkahkan kakinya pergi. Tangannya masih terkepal erat. Bajing*n. -umpatnya dalam hati. Awas saja jika aku sudah menjadi nyonya besar, aku akan menyingkirkannya.


...****************...


Psikologis. Jika seseorang terlalu kuat, maka kita dapat mengandalkan kondisi mental atau psikolog yang dia punya, jika lawannya memang memiliki rasa.

__ADS_1


Itulah yang dilakukan Haikal. Sherly mungkin terlihat seperti wanita yang sulit untuk dikalahkan juga dikendalikan. Tapi, kembali lagi bahwa dia adalah manusia, apalagi dia merupakan wanita, sang makhluk perasa.


Haikal menekan Sherly melalui Daffa, dia melakukan itu agar Sherly mau berbalik dan menjadi sekutunya. Sherly itu licik. Dia pasti tau dimana harus memihak.


__ADS_2