
Annora berjalan dengan santai menuju rumahnya. Irisnya berhenti bergulir pada sebuah mobil mewah yang terparkir di gang sempitnya. Otaknya menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Dia kemudian melangkahkan kakinya cepat menuju gubuknya.
Suara barang jatuh serta bunyi adu mulut pun terdengar. Annora segera mempercepat langkahnya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sang adik sedang beradu mulut dengan orang yang diketahui bawahan idolanya.
"Athaya ..." panggil Annora, suaranya agak pelan. Dia, tengah bingung dan mencoba mencerna situasi yang ada di depannya ini.
Athaya menoleh kearahnya. Dia lalu menghampiri kakak perempuannya itu dan menyeretnya. Athaya menatap tajam Haidar dan Aaron. "Kakakku baru pulang. So, dia gak akan kemana-mana. Lebih baik kalian pulang!" perintahnya
Haidar menggelengkan kepalanya tak setuju. "No! Kedatangan kami adalah untuk menjemput Kakakmu yang manis itu dan keputusan ada di tangannya. Kau tak berhak melarangnya," ujar Haidar tak terima.
Gigi Athaya gemeretak karena marah. Dia geram dan langsung melayangkan pukulan kearah Haidar. Haidar yang tak siap itupun harus merasakan kuatnya bogem mentah dari Athaya di bagian perut.
Annora kaget, begitupula dengan Aaron. Annora menahan tubuh Athaya agar tak memukul lagi. Sedangkan Aaron menahan Haidar supaya tidak jatuh dan membalas Athaya.
Annora menatap tajam Athaya. "Apakah aku pernah mengajarimu untuk bertindak seperti itu pada tamu, Athaya?!" Athaya diam tak menjawab, kepalanya menunduk. "Jawab!!"
"Ti-tidak, Kak," jawabnya dengan sedikit takut.
Annora menghembuskan nafasnya perlahan untuk meredam emosinya. "Minta maaf dan obati dia." perintahnya pada Athaya.
Annora menolehkan kepalanya kearah Aaron dan Haidar. Dia tersenyum ramah. "Silahkan masuk, biar Adek saya yang obatin kamu," ujarnya.
Aaron dan Haidar berpandangan, sebelum akhirnya mengangguk menyetujui. Mereka berempat kemudian masuk, pintu rumah terbuka. Annora takut menimbulkan fitnah.
Athaya menekan perut itu dengan handuk yang sudah dicelupkan kedalam air es. Dia dengan sengaja menekan perut tersebut sehingga membuat sang empu mengaduh. Annora melihat itu dengan tatapan ngilu. Dia lalu memukul pundak Athaya dan menatapnya tajam. Athaya tersenyum kecil.
Athaya lalu mengembalikan baskom dan handuk tadi di dapur. Annora menatap keduanya dengan pandangan bersalah. "Maafkan tingkah adekku, ya, dia memang ada tempramen," ujar Annora meminta maaf.
Aaron menggelengkan kepalanya pelan. "Tak apa, lagian, dia juga tahan banting," ujarnya. Annora tertawa kecil mendengarnya. Aaron menatapnya heran. "Ada yang lucu?"
__ADS_1
Annora menggelengkan kepalanya. "Maaf," ujarnya kemudian. "Ada apa kalian mencari ku? Apakah aku dan adekku membuat masalah?" tanya Annora.
"Tidak, hanya saja, kami atau lebih tepatnya dia-" sambil menunjuk Aaron. "--ingin mengucapkan terimakasih, jadi ... dia berniat mengajakmu untuk, ya, semacam makan malam, mungkin (?)." jelas Haidar
Annora mengernyitkan keningnya heran, meski hatinya dengan berbunga-bunga, dan jangan lupa tentang jantungnya yang berdebar kencang. "Sepertinya, itu tak perlu. Anda 'kan orang penting dan terkenal, pasti sangat sibuk. Lagipula, saya sudah sangat berterimakasih karena Anda mau membawa saya ke rumah sakit dan membiayai pengobatannya," ujarnya.
"Anggap saja sebagai ucapan terimakasih, lagipula ... bukankah kau berkata bahwa aku orang penting 'kan? Jadi, harusnya kau tak menolak ajakan orang penting ini. Benar begitu, Annora?"
Pipi Annora bersemu dengan samar, dia sedikit menundukkan kepalanya untuk menutupi rona wajah. Ingin sekali dia berteriak. Aaaa ...!! Mimpi apa dia semalam sampai-sampai seorang Aaron mengucapkan namanya.
"Hey ....?"
Annora mengangkat kepalanya. "Jika, itu memang keinginan Anda, saya bisa apa," jawab Annora yang terkesan pasrah. Dia terlihat seperti menolak, padahal mau. Dasar.
Athaya datang dengan dua cangkir teh hangat. Dia menaruh cangkir itu didepan tamu-tamu kakaknya. Dia sendiri, sih, tak sudi menyebut dua orang asing itu dengan tamu.
Aaron dan Haidar kemudian pamit pergi tanpa meminum teh yang diracik Athaya. Tentu saja ini memantik api emosi dari adik Annora itu. Athaya berdiri dan menarik baju Haidar. Baik Annora, Aaron, maupun Haidar sendiri kaget.
Haidar berdiri menatapnya. "Sebenarnya, apa masalahmu, Athaya Bima Atmadja?" tanya Haidar, dia sebenarnya sudah tau bahwa Athaya memang menyimpan dendam padanya. Tapi masalah apa, dia tak tau.
Athaya tersenyum culas. "Layaknya bunga raflesia arnoldi, kau itu spesies langka sekaligus busuk, ya. Kau berlagak tak tau setelah melakukan hal itu?!"
"Tolong bicara yang jelas."
"Gubuk itu, gubuk tua yang baru saja kau hancurkan itu adalah satu-satunya tempat dimana anak-anak menimba ilmu dasar. Sebenarnya, aku tak begitu peduli. Tapi, mengingat Kakakku yang membuatnya, menjadikanku peduli."
Haidar mulai mengerti. Jadi, ini karena gubuk reyot yang dirobohkan kemarin? Hey, dia tak melanggar hukum karena sudah membeli tanah tersebut. Harusnya, Athaya yang salah.
"Justru kau yang salah, Athaya," ujar Haidar sambil menunjuk Athaya. "Aku sudah membeli tanah itu dengan sah, sedangkan kau? Menggunakannya secara ilegal."
__ADS_1
Athaya menatap tajam Haidar. Orang kaya gak tau diri. Dia kemudian kembali memukul Haidar, kali ini di pipinya. Haidar pun membalas, meski tak kena.
"HENTIKAN!" teriak Annora, dia lalu memandang Athaya. "Tolong hentikan ini, Athaya Bima Atmadja," lanjutnya. Athaya tau, jika kakaknya sudah memanggil nama lengkapnya. Maka tak boleh diganggu gugat.
"Tapi, Kak-" ucapan Athaya dipotong cepat oleh Annora.
"Hentikan pertengkaran bodoh ini, Athaya. Yang harus kita lakukan adalah mencari jalan keluarnya. Bukan adu jotos. Sekarang, minta maaf dan masuk. Kau tenang saja, mereka masih bisa mendapatkan ilmu dasar," potong Annora.
Mau tak mau Athaya masuk. Dia, tak ingin membuat sang kakak marah padanya. Annora menghela nafas. Dia menoleh menatap kedua laki-laki itu.
"Maafkan adek saya," ujarnya meminta maaf.
Aaron yang dari tadi hanya diam memperhatikan, kini dia mengangkat suaranya. "Jika kau mau, aku bisa menyekolahkan mereka semua di sekolah yang layak," ujar Aaron.
Annora tersenyum dan menggeleng. "Tak perlu, itu berlebihan. Sepertinya, saya tidak bisa mengantar kalian berdua sampai depan. Sekali lagi, saya minta maaf," ujar Annora sebelum pergi kembali ke rumahnya.
...****************...
Annora membuka pintu kamar Athaya. Dia menggelengkan kepalanya pelan saat melihat sang adik terbaring dengan badan yang membelakanginya.
Annora lalu duduk di tepi kasur. "Athaya, Kakak tau betul kau marah pada mereka. Tapi, Kakak hanya tak ingin kau di apa-apa 'kan," ujar Annora.
Athaya membalikkan tubuhnya menghadap Annora. "Tapi, Kak, kita bisa melawan. Kita tak boleh hanya diam," sahut Athaya cepat.
"Athaya, kita sudah tak seperti dulu lagi. Kakak tak mempunyai uang yang cukup jika harus membeli tanah itu. Semuanya, sudah berubah ... semenjak kematian ayah," ujar Annora yang berhasil membuat Athaya terdiam.
Annora menghela nafasnya panjang. "Kau ingat kejadian lima tahun lalu 'kan? Kita pernah seperti mereka yang bergelimpangan harta, tapi sifat kita tidak pernah seperti mereka yang semena-mena. Athaya, bukankah Kakak pernah berkata padamu bahwa uang dapat berbicara dan uang dapat membungkam?"
"Athaya, sekarang tanah itu sudah menjadi hak miliknya. Kita, sudah tak bisa memakainya lagi. Dari dulu, kita memang hanya menumpang. Tapi ... agar mereka semua tetap mendapat pendidikan dasar, kau bisa mengatakan pada mereka agar sekolahnya di rumah," lanjut Annora.
__ADS_1
Athaya membulatkan matanya. "Tidak, aku tak setuju. Kak ... yang benar saja, dong, masa rumah kita. Mereka itu, arghh ...!! Sangat berisik dan menyebalkan."
Annora tertawa kecil mendengarnya. "Kau ini, sudah, besok bawa mereka kemari, okey?" Dengan lesu, Athaya mengangguk.