Dear My Idol

Dear My Idol
Star Jasmine


__ADS_3

Di dalam kantor Aaron lah sekarang Belinda berada. Dia menatap Aaron dengan sungguh. Dia bertekad untuk mempertahankan eksistensinya di Erlangga ini.


Aaron meliriknya malas. "Ada apa?" tanyanya


"Saya ingin mengatakan sesuatu yang penting bagi Anda," jawab Belinda formal.


"Cepat katakan," perintahnya.


Belinda menghela nafasnya. "Bisakah kau memperhatikan ku dulu? Aku punya informasi penting menyangkut Jennie," ujar Belinda, nadanya sudah tak formal.


Gerakan tangan Aaron terhenti. Kepalanya terangkat menatap Belinda. Belinda tersenyum kecil melihatnya. "Cepat," serunya kembali.


"Sebenarnya, Jennie tidak pernah berselingkuh dengan Dafa, itu hanyalah sebuah kebohongan nyata yang direncanakan oleh nyonya Adelia," ungkap Belinda. "Bagi nyonya, Jennie adalah ancaman, jadi dia menyuruhku untuk menyingkirkannya, lewat dirimu."


Belinda menundukkan kepalanya, dia tak berani menatap Aaron. Emosi pria itu tengah tidak stabil. Cari mati namanya jika Belinda tetap arogan.


Aaron mencengkeram kuat bahu Belinda. "Kenapa kau tega melakukan itu? Bukankah kau adalah sahabatnya? Kau juga bisa berenang?" Aaron memberondongi dirinya dengan berbagai macam pertanyaan.


Belinda hanya diam, dia bingung harus bagaimana lagi. "JAWAB!!" teriak Aaron kemudian.


Belinda kaget. Dia menatap Aaron lurus. "Karena aku, mencintaimu. Saat itu, aku mencintaimu. Apalagi dengan adanya Aluna, aku tidak ingin dia tersaingi," jawab Belinda akhirnya.


Aaron melepaskan cengkeramannya. Nafasnya memburu tak beraturan. "Keluar!!" serunya, Belinda membungkukkan badannya, dia kemudian berjalan keluar. Kaki Aaron lemas. Ingatannya berputar waktu dirinya bertengkar dengan Jennie.


...****************...


Annora mengernyitkan keningnya heran saat melihat Belinda yang keluar dari ruang kerja Aaron dengan setitik air mata. Tapi, dia tak peduli dengan apapun yang berhubungan dengan Aaron. Kecuali untuk saat ini, karena dia harus mendapatkan izin dari Aaron untuk pergi mengantar adiknya dengan membawa Aluna. Ya, gadis itu merengek minta ikut.


Belinda menundukkan kepalanya saat melewati Annora. Annora tersenyum kecil menanggapinya, dia kemudian berjalan dan membuka pintu ruang kerja Aaron.


Aaron yang sedang tertunduk dengan setitik lelehan air mata, itulah pemandangan yang Annora lihat pertama kali. Dia kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Aaron. Aaron segera berdiri, Annora menghela nafasnya panjang.


"Jika kau ingin menangis, menangis saja. Setiap orang berhak untuk itu. Menangis bukanlah aib dan kau bukan robot yang tak boleh menangis," ujarnya.


Hening, tak ada jawaban apapun. Annora berbalik memunggungi Aaron. "Aku tidak akan melihatmu, tenang saja," lanjut Annora kemudian.


Aaron segera menghapus air matanya. "Siapa yang menangis?" tanyanya dengan nada arogan.


Annora memutar bola matanya jengah. Dia kemudian membalikkan badannya menghadap Aaron. "Entahlah," jawabnya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Aaron


"Aku ingin mengajak Aluna pergi bersamaku. Ya, kau tau 'kan jika adekku akan pergi. Jadi, aku harus mengantarkannya, setidaknya sampai bandara," jelasnya pada Aaron.


Aaron menatap intens wajah Annora. Membuat sang gadis sedikit tak nyaman. "Kau ... mau mengajak Aluna pergi bersamamu?" tanya Aaron


Annora menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi ... jika kau tidak mengijinkannya, tak mengapa," ujar Annora.


Aaron diam sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Annora. "Apakah kau tau siapa itu Aluna?" tanya Aaron, Annora mengernyitkan keningnya. "Jennie bukan ibu Aluna."


Annora menatap Aaron, dia tak menyangka jika Aaron akan mengatakan hal ini padanya. "Aku ... tau. Dia putrimu dengan Belinda, kan? Seorang kepala pelayan?" tebak Annora


Aaron menatapnya kaget. "Bagaimana kau bisa ...(?)"


Annora memalingkan wajahnya. "Kau adalah orang terkenal, tak sulit jika seseorang ingin mencari tau tentangmu. Apalagi dengan aku menjadi istrimu, tentu itu bukanlah hal yang berarti," tutur Annora kemudian.


"Jika kau tau lalu kenapa kau malah-"


"Berbaik hati dan menganggapnya sebagai putriku, begitu maksudmu? Hahh, aku menyangka jika kau sangat bodoh dalam menjadi manusia, Aaron."


Annora menatap Aaron dengan tajam. "Aluna tak ada sangkut pautnya dengan kesalahan yang kalian berdua lakukan. Sekalipun dia ada karena kesalahan, namun dia terlahir dengan suci layaknya bayi-bayi lain."

__ADS_1


"Lagipula, aku tak memiliki hak untuk itu. Belinda dan Sherly, wanita pujaannya hatimu selain Jennie. Ya, mereka beruntung."


Aaron mengernyitkan keningnya. "Beruntung?" tanyanya, itu adalah hal tabu. Aaron yakin jika Annora tak sebodoh itu. Mana ada seorang perempuan yang mengatakan perempuan lain beruntung saat dipermainkan dan diselingkuhi.


Annora tersenyum kecil. "Ya, tentu saja beruntung. Jennie istrimu yang paling kau cinta. Belinda dan Sherly, perempuan kesayangan mu. Setidaknya, dia tak akan mati ditangan mu, bukan?" Aaron terdiam. Annora memang berniat menyindirnya.


Annora tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Ah, jadi apakah Aluna boleh ikut?" tanya Annora kemudian.


Aaron menganggukkan kepalanya. "Boleh saja, asal aku harus ikut," jawabnya yang berhasil membuat senyum Annora luntur.


"Kenapa kau harus ikut? Bukankah pekerjaanmu masih banyak?" tanya Annora


"Jika kau tak mau, ya sudah."


Annora mengembung kan pipinya sebelah. "Iya-iya," ujarnya setuju. "dasar pemaksa," gumamnya kemudian.


...****************...


Aluna tersenyum melirik kedua orangtuanya. "Aku sangat senang hati ini," tutur Aluna, mereka sedang berada di dalam mobil.


"Benarkah? Memang apa yang membuat putri kecil ini senang hari ini?" tanya Annora


"Karena aku bersama Ayah dan Ibu," jawabnya, dia kemudian memeluk ibunya. "Ibu, bisakah Ibu menceritakan tentang paman?" tanya Aluna


Annora menganggukkan kepalanya, tangannya terangkat mengelus kepala Aluna lembut. "Tentu saja," setuju nya.


"Pamanmu itu orangnya pemalas, dia sangat takut dengan kakek. Jika kakekmu sedang pergi keluar kota, maka dia akan memanfaatkan itu untuk tidur dan membolos."


"Sedangkan nenekmu adalah wanita paling lembut yang pernah Ibu kenal. Dia selalu memberi izin Athaya untuk membolos dengan berbagai macam alasannya. Alhasil, jika kakekmu ke luar kota, dia meminta Ibu untuk membangunkan pamanmu itu."


Aaron pun berkomentar, "Pemalas."


Annora menatap tajam Aaron. Athaya memang pemalas, tapi tetap saja ia tak terima apabila orang lain mengejeknya. Baginya, tidak ada yang boleh mengejek Athaya pemalas kecuali dia.


Aluna tersenyum menggoda. "Wahh, apakah Ayah dan Ibu tengah perang cinta? Kalian romantis sekali ...!!" seru Aluna gemas, Aaron memalingkan wajahnya, sedangkan Annora menghela nafasnya.


...****************...


Saat ini, mereka tengah berada di depan gang sempit dekat rumah Annora. Annora kemudian keluar, namun sebelum itu, dia berpesan agar Aaron dan Aluna tetap mobil. Hal ini dikarenakan jika Athaya sudah pergi melesat ke bandara, Annora langsung masuk ke mobil tanpa menunggu.


Annora mengetuk pintu itu dengan cukup kencang. Nihil, tak ada jawaban samasekali dari dalam. Ia kemudian mencoba membuka pintu rumahnya, akan tetapi pintu itu di kunci. Annora menghela nafasnya kasar, opsi yang paling masuk akal saat ini adalah bandara. Ya, mungkin saja adiknya sudah berada di bandara.


Annora segera melangkahkan kakinya menjauh dari rumah. Dia berjalan dengan tergesa, tangannya sibuk mengutak-utik ponselnya untuk menghubungi Athaya.


"Kakak?"


Annora menghentikan ketikannya. Dia mengangkat kepalanya menatap Athaya. Annora tersenyum lega. "Dari mana saja, kau?" semprot Annora


Athaya mengangkat bungkusan plastiknya. "Habis beli makanan, Kakak sendiri ngapain ke sini?" balas Athaya dengan pertanyaan.


Annora menghela nafasnya. "Aku ingin mengantarmu, bodoh," tuturnya.


Kaca mobil dibuka Aluna. Gadis kecil itu menatap ibunya. "Ibu, apakah dia adalah Paman?" tanyanya


Annora menoleh menatapnya, ia mengangguk mengiyakan. "Benar, ini adalah Adek Ibu, Pamanmu, namanya Athaya," terang Annora.


Athaya tersenyum, dia melambaikan tangannya kecil. "Hai," sapanya.


Aluna membalasnya dengan senyuman pula. "Halo, Paman."


Athaya menyenggol lengan Annora, membuat sang kakak menoleh kearahnya dengan penuh tanya. "Itu siapa, Kak?" bisiknya

__ADS_1


"Aluna, perkenalkan dirimu," perintah Annora.


Aluna tersenyum dan menganggukkan kepalanya semangat. "Tentu, Bu," jawabnya. Irisnya bergulir menatap Athaya. "Hai, Paman, namaku adalah Aluna Zea Erlangga, aku adalah putri Ibu Annora yang tersayang."


Athaya mengangguk mengerti. "Baiklah, Aluna, perkenalkan, aku adalah Athaya, Pamanmu yang sangat tampan," ujar Athaya dengan narsisnya. Aluna tertawa kecil mendengarnya.


Annora menggelengkan kepalanya. "Sudah-sudah, ayo kita masuk rumah," ujar Annora, Athaya mengangguk, dia adalah orang yang pertama kali beranjak dari tempat berdirinya. Sedangkan Annora dia menggendong putri manjanya.


Sebenarnya, Aaron telah dilarang ikut oleh Annora, tapi karena merasa kasihan, dia kemudian mengijinkan Aaron untuk masuk. Aluna menatap sekeliling rumah itu. Satu kata yang menggambarkan semua ini, sederhana. Terlalu sederhana.


Annora mengerti arti tatapan itupun tersenyum tipis. "Rumah yang sebenarnya bukan dilihat dari seberapa mewahnya, tapi dilihat dengan kehangatan suasana yang ada di dalamnya," tutur Annora tiba-tiba.


Aluna menolehkan kepalanya menatap Annora, dia tersenyum kecil dan mengangguk. Ah, ibunya ini selalu tau jalan pikirannya, ya.


Mereka berempat duduk melingkar. Annora menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. "Kau hanya memberi jamuan pada Aluna sedangkan aku tidak? Keterlaluan sekali kau, Athaya," ujar Annora.


Athaya memutar bola matanya malas. "Salah sendiri mau dateng gak bilang-bilang, makannya, kalo mau ke rumah itu bilang. Lagian, aku 'kan juga gak tau kalo kamu mau ke sini, Kakk," kata Athaya panjang lebar.


"Mau ke rumah sendiri 'kok bilang-bilang," dengus Annora, Athaya menyimpitkan matanya menatap Annora. Annora tersenyum. "Canda."


Athaya menatap Aluna yang sangat lahap menyantap bubur ayam pemberiannya. "Kau tidak pernah diurus Ibumu, ya, Aluna?" tanyanya menyindir Annora.


Aluna menatap Athaya. "Tidak, Paman. Ibu sangat memperhatikan ku, lagipula, di mansion Erlangga tidak ada makanan seperti ini," jelas Aluna.


Athaya baru ingat jika Aluna adalah putri Erlangga. Wajar saja jika dia sangat excited sekali.


"Ada apa Kakak kemari, apalagi dengan membawa keledai dungu itu?" tanya Athaya


Aaron menatap tajam dirinya yang hanya dibalas oleh tatapan datar. Annora menghela nafasnya panjang. "Bukankah kau harus ke bandara, ya? Memang keberangkatan mu sore?" tanya Annora


"Aku gak jadi ambil," jawab Athaya enteng.


"Hah?! Gak jadi?!"


"Iyaa, Kakakku tersayangg," ujar Athaya, dia kemudian menatap Aluna yang telah selesai makan. "Apakah Ibumu itu suka berteriak padamu?"


Aluna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ibu sangat lembut, sepertinya dia hanya berlaku seperti itu hanya untuk Paman," bisik Aluna yang masih dapat didengar Annora.


"Kenapa gak jadi?" tanya Annora penasaran


Athaya memutar bola matanya jengah. "Aku tak ingin kau menghirup aroma bunga star jasmine ketika merindukanku, lagian, aku juga akan bisa mengawasi mu dari keledai dungu itu," jawab Athaya malas.


Aaron menatap tajam dirinya. "Dasar rakyat rendahan," ujarnya dengan nada rendah.


Athaya mendecih tak terima. "Kau hanya tau aku yang sekarang, jika kau tau siapa kami sebenarnya, maka akan ku pastikan kau berlutut dihadapan Kakak," tutur Athaya.


"Sudah, ada anak kecil juga, cildrish banget," komentar Annora.


Bunga star jasmine memiliki kisah untuk di sebaliknya. Selain cantik dan suci, bunga ini juga menggambarkan tentang hubungan kakak-adik.


Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang dipenuhi dengan keindahan alam, hiduplah dua bersaudara yang sangat dekat satu sama lain, yaitu Lila dan Rama. Mereka adalah adik dan kakak yang tak terpisahkan, selalu berbagi cerita, tawa, dan dukungan dalam setiap langkah kehidupan mereka.


Suatu hari, nasib yang tak terduga datang mengetuk pintu mereka. Rama mendapat kesempatan untuk mengejar mimpinya dan harus meninggalkan desa kecil mereka untuk memulai perjalanan yang jauh. Lila, sebagai adiknya, merasa cemas dan takut akan kehilangan ikatan yang kuat antara mereka. Dia tidak ingin berpisah dengan sang kakak, yang selama ini telah menjadi sosok penuntun dan sumber inspirasi dalam hidupnya.


Melihat kegelisahan Lila, seorang tetua bijak dari desa itu memberikan nasihat padanya. Dia memberi Lila seikat bunga star jasmine yang indah, sambil berkata, "Lila, lihatlah keindahan bunga ini. Seperti hubunganmu dengan Rama, star jasmine tumbuh dengan kuat dan indah, namun tetap mengikuti jejaknya sendiri. Bunga ini mengajarkan kita tentang cinta yang kuat dan keberanian untuk melepaskan."


Lila, dengan hati yang berat, mengerti makna kata-kata bijak itu. Dia menyadari bahwa meskipun Rama harus pergi, ikatan mereka tidak akan pernah pudar. Sebaliknya, mereka akan tumbuh seperti star jasmine, dengan cinta yang kuat dan penghargaan yang saling memberi ruang untuk berkembang.


Setiap kali Lila merasa rindu akan kehadiran Rama, dia akan menghirup aroma harum bunga star jasmine. Aroma itu akan membawa kembali kenangan indah mereka bersama dan mengingatkannya akan cinta dan keberanian yang dia pelajari dari bunga tersebut.


Saat Rama pergi menjalani perjalanannya, Lila menjaga kebun di dekat rumah mereka dan menanam bunga star jasmine di sana. Setiap kali bunga itu mekar, Lila merasa bahwa Rama masih ada di sampingnya, mengawasinya dengan kebanggaan dan memberinya dukungan dari jauh.

__ADS_1


Dan setiap kali Rama kembali dari perjalanannya, dia akan melihat kebun yang dipenuhi dengan bunga star jasmine yang berbunga indah. Dia akan tahu bahwa meskipun Lila enggan melepaskan, dia memberikan kebebasan dan memberikan dukungan sepenuh hati.


__ADS_2