
Kepala Annora tengah di kompres seseorang. Keadaan menantu Erlangga itu menyedihkan. Bibir merah muda yang pucat, beberapa memar di bagian kepala dan lengannya, serta rambut acak-acakan. Tak hanya itu, suhu tubuh Annora juga tinggi.
Annora melenguh pelan. Dia kemudian mengerjapkan matanya, kepalanya pening bukan main. Dirinya mencoba bangun dan dibantu oleh seseorang.
Annora melihat sekelilingnya. "Ini ... dimana? Dan kau ... siapa?" tanya Annora bingung. Seingatnya, dia terjun dari sungai. Lalu, siapa wanita di depannya ini?
Wanita itu tersenyum senang. "Wahh, akhirnya kau bangun juga, ya? Oh ya, aku belum kenalan, kan? Namaku Jasmine Angraeni," ujar Jasmine.
Annora menganggukkan kepalanya meski agak sakit. Jasmine memberikan kerudung gadis itu yang sudah dicucinya.
"Pakailah, aku akan memanggil kakakku. Kau pasti tak ingin rambutmu kelihatan oleh laki-laki yang bukan mahram mu 'kan?" tanya Jasmine, dia kemudian melilitkan kerudung itu.
Annora tersenyum kecil. "Terimakasih," lirihnya, Jasmine mengangguk. Dia kemudian berjalan keluar untuk memanggil kakaknya.
Annora terdiam dan mengamati kamar bernuansa pink itu. Irisnya terpaku pada sebuah foto seorang perempuan yang Annora kenali.
Cklek
Suara pintu dibuka terdengar. Annora mengalihkan pandangannya kearah pria paruh baya yang ada di belakang Jasmine.
"Kakak, ini adalah Annora, orang yang kau selamatkan tiga hari yang lalu. Dia merupakan istri da-" ucapan Jasmine terpotong.
"Aku tau, kau berisik sekali, Jasmine." potong Jevano dengan cepat. Jasmine menatap kesal kearah kakaknya itu. "Pergilah, aku ingin bicara dengan perempuan ini," lanjutnya.
Jasmine lalu keluar, sebelum itu, dia mengatakan beberapa patah kata untuk Annora. "Jangan takut, Kakakku itu orang baik. Byee ...."
Jevano menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik. Adiknya itu memang kekanak-kanakan, padahal usianya sudah memasuki kepala dua.
Jevano menatap Annora dengan serius. "Salam, Nyonya Annora," ujarnya sembari membungkuk hormat. Annora terperanjat melihatnya. Dia menatap Jevano dengan heran. "Perkenalkan. Saya, Jevano Angraeni. Anda pasti sudah mengenal saya, bukan?"
Annora menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia kenal. Jevano Angraeni, panglima Erlangga sekaligus ayah dari Jennie, sang istri pertama Aaron. Siapapun akan tau itu. Tapi, bukankah Jevano Angraeni itu sudah meninggal? Persis setelah sebulan kepergian sang putri.
"Saya diminta oleh seseorang untuk menyelamatkan Anda. Saya tidak akan meminta uang tebusan atau balas budi untuk apapun itu. Tapi, saya hanya minta pada Anda untuk diam dan tidak memberitahukan tentang keberadaan saya."
Annora menganggukkan kepalanya. "Tapi, bukankah Anda sudah ...(?)" Annora tak melanjutkan ucapannya.
"Saya yang merekayasa itu. Setelah kepergian Jennie, pihak Erlangga selalu memburu saya. Saya bahkan hampir mati konyol, untung seseorang membatu saya untuk tetap hidup meskipun dengan menyembunyikan identitas saya," jelas Jevano.
Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Dia kembali teringat sesuatu. Ya, kematian Jennie yang janggal.
Annora menatap Jevano. "Maaf, bolehkah saya bertanya tentang putri Anda?" tanya Annora dengan hati-hati.
__ADS_1
Jevano mengangguk singkat. "Benarkah jika Jennie meninggal karena serangan jantung?" tanya Annora, hening beberapa saat.
"Tidak, maksud saya. Saya telah mondar-mandir dari rumah sakit yang pernah Jennie kunjungi untuk mengetahui bagaimana kesehatannya. Tapi ... tak ada indikasi yang menunjukkan bahwa dia memiliki serangan jantung," lanjut Annora.
"Putriku tidak pernah sakit jantung." Annora menatap Jevano. "Putriku tidak pernah sakit jantung!!" teriaknya menggelegar.
Jasmine masuk dengan terburu-buru, dia lalu membawa Jevano keluar. Annora menatap bingung keduanya. Selang beberapa menit, Jasmine kembali mendatanginya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Annora pada Jasmine.
Jasmine menghembuskan nafasnya. "Apakah kau menyinggung tentang kematian Jennie?" tanya Jennie langsung, Annora hanya mengangguk.
"Jennie adalah permata bagi kakak. Kematiannya membuat kakak terpukul. Jennie tidak pernah memiliki riwayat sakit jantung. Tidak sekalipun, dia adalah anak yang sehat. Saat aku mencoba menyelidiki tentang kematiannya, kakak malah yang dijadikan korban."
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Annora
"Aku menghentikan penyelidikan itu. Tidak ada yang akan bisa melawan Erlangga. Dan aku tau itu," lanjut Jasmine.
Annora menggelengkan kepalanya. "Tidak, pasti ada cara untuk mengungkap misteri ini."
Jasmine menatap bingung Annora. "Kenapa kau sangat mengotot sekali?" tanya Jasmine
"Seseorang yang aku sayangi memintaku untuk membuka kembali kasus ini. Dia memintaku agar Jennie mendapat keadilan."
Gubuk kecil yang lumayan. Itulah tempat tinggal Annora sementara. Dia menuliskan sebuah surat permintaan maaf karena merepotkan mereka dan terimakasih sebab mereka mau menolong juga menampung Annora. Di samping surat itu ada bunga anyelir putih.
Bunga anyelir sering digunakan sebagai hadiah sebagai tanda terima kasih karena mereka melambangkan keberanian, cinta, kepercayaan, dan penghargaan. Karena itu, memberikan bunga anyelir sebagai hadiah bisa menjadi cara yang baik untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada seseorang yang telah membantu atau memberikan bantuan.
Annora kemudian keluar dari gubuk itu dan berjalan menuju mansion Erlangga. Meskipun jaraknya sangat jauh. Annora jelas tak bisa menghubungi siapapun, karena ponselnya masih dibawa oleh Aaron.
Sekarang ini, Annora sudah berada di pinggir jalan raya. Hahh, ingin sekali dirinya beristirahat.
Tinn
Suara klakson motor terdengar, Annora menolehkan kepalanya menatap si pengendara itu. Laki-laki yang mengendarai motor tersebut membuka helm nya. Annora membulatkan matanya kaget.
"Athaya ....?"
"Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Athaya, jalanan sepi, wajar saja jika Athaya berhenti dan menghampiri kakaknya.
Annora memutar keras otaknya untuk mencari jawaban yang tepat dari pertanyaan Athaya. "Ah, aku ... umm, ya, kau tau, lah," kata Annora tak jelas.
__ADS_1
Athaya memutar bola matanya malas. "Bicaralah yang jelas, Kak," perintah Athaya.
"Kau tau, aku sebenarnya ingin jalan-jalan, tapi ... ya, aku tersesat sampai sini," bohong Annora, dia hanya berharap sang adik percaya dengan omong kosongnya yang tak masuk akal itu.
Athaya menganggukkan kepalanya mengerti. "Sudah berapa lama?" tanyanya kembali
Annora heran, kenapa adiknya yang tertampan ini tidak segera membawanya pergi ke rumah untuk beristirahat dan malah memberondongi dirinya dengan pertanyaan.
Annora menghembuskan nafasnya pasrah. Dia menatap Athaya dengan senyum yang dipaksakan. "Athaya Bima Atmadja, Adekku tersayang, yang paling tampan, kenapa kau tak membiarkan Kakakmu yang cantik jelita ini duduk di jok motormu itu?"
Athaya tersenyum cengengesan. "Iya-iya, maaf. Cepet naik, keburu pegel, loh, nanti kakinya," ujar Athaya.
"Gak dari tadi, kek," dengusnya. Athaya hanya tertawa kecil mendengarnya. Annora lalu naik keatas motor. Setelah itu, Athaya mulai menghidupkan mesin motornya dan menarik gas nya.
"Sudah berapa lama kau tersesat?" tanya Athaya
"Baru empat hari," jawab Annora santai.
Athaya mengerem motornya mendadak. Membuat Annora memukul kepalanya. "Kau gila?! Aku hampir mati jantungan, nih," kata Annora dengan nada tinggi.
"Justru aku yang kaget. Kau tersesat empat hari?! Tersesat apa liburan?!"
Annora tertawa kecil. "Udahlah, anterin pulang ... Mau tidur ..." rengek Annora seperti anak kecil.
Athaya menghela nafas. "Iya-iya, dasar maniak coklat," ejek Athaya.
"Berisik, bocil!" balas Annora, dia kemudian menyadari sesuatu. "Darimana kau mendapatkan motor ini?" tanya Annora
"Aku menang-"
"Judi?" potong Annora cepat.
Athaya memutar bola matanya jengah. "Bisakah kau, sekali saja ber-husnuzon kepadaku? Aku ini mendapat beasiswa dan memenangkan lomba puisi, uang nya ku gunakan untuk membeli motor ini," jelas Athaya, Annora menganggukkan kepalanya mengerti.
"Lalu, sedang apa kau tadi?" tanya Annora
"Aku menjadi kurir, lumayan, bisa buat makan sehari-hari," jawab Athaya.
Annora tersenyum mendengarnya. "Bagus, lalu ... bagaimana dengan anak-anak yang lain?" tanya Annora, pasalnya, Athaya sudah jarang memberinya kabar tentang mereka.
"Tenang saja, Kak. Semua aman. Hanya saja ... aku masih bingung bagaimana cara membiayai mereka semua. Tak mungkin jika aku terus meminta uang Kakak terus," keluh Athaya.
__ADS_1
Annora terdiam sejenak. "Kau bisa mengajari mereka untuk membuat kerajinan dan dijual," usul Annora, Athaya menganggukkan kepalanya mengerti.