
Tiga hari Annora di rumahnya, tidak di mansion Erlangga. Sebenarnya, dia hanya ingin menenangkan pikiran saja, juga memikirkan tentang langkah selanjutnya.
Hampir delapan puluh lima persen kasus kematian Jennie akan terkuak dan mendapatkan keadilan. Dan setelah itu, dia akan melepas gelarnya sebagai istri Aaron Rama Erlangga.
Hal itu sudah dipikirkan matang-matang oleh Annora. Setelah tugasnya serta perannya selesai, dia akan kembali ke kehidupan biasa. Merelakan cintanya yang memang sudah kalah, bahkan sebelumnya.
Dering ponsel berbunyi, Annora meliriknya sebentar sebelum akhirnya mengambil benda pipih persegi itu. Membaca kata demi kata secara teliti.
Sial, mereka sudah mulai menyadari rencana yang dibuat. Annora segera mengetikkan sesuatu untuk Haikal.
...****************...
Annora merapihkan pashmina nya, dia kemudian keluar dari kamar dengan membawa tas selempang kecilnya. Annora berjalan mendekat kearah Athaya.
"Aku akan kembali ke mansion sekarang, kau jaga rumah baik-baik, ya. Jangan lupa istirahat sama makan, okey?" pamit Annora
Athaya menganggukkan kepalanya. "Iya, kau juga hati-hati, Kak. Jika ada yang macam-macam, laporkan padaku, aku akan menghajar orang itu. Tak peduli jika itu adalah Aaron sekalipun," kata Athaya.
Annora tersenyum. "Iya-iya, bye ...!!" Annora lalu melangkahkan kakinya keluar. Haikal sudah menjemputnya untuk kembali ke mansion Erlangga.
...****************...
Setelah sampai di mansion Erlangga, Annora langsung ke kamarnya. Begitu membuka pintu, dirinya dikejutkan dengan pemandangan dalam kamar yang berubah. Tidak banyak, tapi cukup membuat sang nyonya Erlangga itu terkejut.
Bola matanya bergerak dan menemukan seorang pria yang merupakan suaminya sedang tidur terlentang.
Aaron langsung berdiri begitu menyadari bahwa Annora datang. Pria itu berjalan menghampiri Annora dengan ucapan maafnya. Entah kesialan apa, tapi Aaron tanpa sengaja menyandung kakinya sendiri.
Brukk
Aaron terjatuh, tubuhnya menimpa tubuh Annora. Gadis itu segera mendorong tubuh suaminya menjauh. Dengan tatapan tajamnya dia berkata.
"Dimana matamu, hah?! Ishh, inilah akibatnya kalo kau tidak berjalan dengan baik. Lagipula, tidak bisakah kau melangkahkan kakimu dengan benar?!" omel Annora, dia kemudian berdiri yang dibantu Aaron. "Pergi sana!" usianya
Annora berjalan cepat untuk menaruh tas mininya. Aaron masih mengikutinya di belakang. Kata-kata maaf bagaikan musik pengiring.
Annora menghela nafasnya kasar. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Aaron dengan tajam. "Berhenti meminta maaf, sekarang ini pergilah karena aku ingin istirahat," ujarnya dengan nada marah yang ketara.
Akan tetapi, sepertinya itu tidak memiliki efek apapun bagi pangeran Erlangga. "Tidak sebelum kau memaafkan ku," katanya.
Annora mengambil nafasnya dalam, dia lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap Aaron dengan senyuman kecil yang dipaksakan. "Aku sudah memaafkan mu, Aaron Rama Erlangga. Jadi, bisakah kau meninggalkan kamar ku ini?"
__ADS_1
Aaron menganggukkan kepalanya. "Tidak," jawabnya kemudian. "Aku akan di sini bersamamu. Ayolah, kau baru pulang, biarkan aku menyambut kedatangan mu dulu, Annora," sambungnya.
Annora membuang nafasnya kasar. "Aku hanya dari rumah, jangan berlebihan," peringat Annora.
"Tetap saja, aku harus-"
Perkataan Aaron dipotong cepat oleh Annora. "Iya-iya, lakukan apapun itu. Tapi aku akan tidur, minggir ...."
"Baik-baik, kau mau di peluk, atau diberi kecupan selamat tidur? Atau ... kita bisa melakukan beberapa ritual dulu ....?"
"Tidak, aku hanya perlu kau diam, mengerti?!"
Aaron mengambil sebelah tangan Annora, dia lalu menciumnya. "Tentu saja, My Queen," ujarnya.
Annora menarik tangannya, tatapan tajam dilayangkannya pada sang pangeran Erlangga. Tanpa mempedulikan Aaron, dia langsung merebahkan tubuhnya dan mulai menjelajahi mimpi. Sedangkan Aaron sendiri masih menatap intens Annora yang tertidur.
"Aku berharap kau akan selalu berada di sisiku, Annora."
...****************...
Annora membuka matanya perlahan, tatapan langsung tertuju pada Aaron yang saat ini tengah memakai jas hitam nya.
Aaron menatapnya dari pantulan kaca. "Aku tau aku tampan, tapi tak perlu seperti itu, kan?" ujar Aaron dengan narsisnya.
"Ada hal yang harus aku selesaikan di luar kota, kau tak papa 'kan bila ku tinggal?"
"Oh," jawab Annora singkat.
Aaron mengernyitkan keningnya. "Hanya 'oh' saja respon mu?"
Annora menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, memangnya mau apa. Toh kau akan bersenang-senang bersama para wanita mu, jadi ... apa masalahnya?" tanya Annora tak paham.
Aaron membalikkan badannya menghadap Annora. "Aku ada tugas di luar kota, bukan bermain dengan para jal*ng itu," kata Aaron yang mencoba menjelaskan.
"Lalu? Apakah aku harus percaya? Tidak 'kan? Lagian, bukankah itu adalah kata-kata yang sama yang kau lontarkan saat pergi berlibur menggunakan kapal bersama Sherly?"
Aaron membelalakkan matanya kaget. "Bagaimana kau bisa tau tentang kejadian itu?
"Haiss, aku hanya tak sengaja mengetahui."
"Tapi kali ini aku benar-benar ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaanku," tutur Aaron meyakinkan.
__ADS_1
Annora memutar bola matanya. "Yayaya, anggap saja aku percaya," katanya dengan nada main-main. Annora lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Aaron. Gadis itu merapikan jas hitam milik sang suami.
"Aku hanya berharap kau baik-baik saja, meskipun aku tau bahwa tidak ada seorangpun yang ingin mencari masalah dengan Tuan Muda Erlangga ini karena dia tidak ingin mati secara mengenaskan," tutur Annora lembut sekaligus menyindir.
Aaron membelai lembut pipi Annora. "Tentu saja," jawabnya seolah bangga. "Dan aku berharap kau bisa menjaga dirimu selama aku pergi."
"Tanpa kau minta, aku pun akan melakukannya."
...****************...
Aaron berjalan menuju ruangan sang ibunda. Dia menunduk hormat untuk ibunya dan duduk didepan perempuan yang telah melahirkannya.
Adelia menatap putranya itu dengan senyumannya. "Selesaikan tugas itu dengan segera agar kau bisa cepat pulang ke Erlangga," kata Adelia.
Aaron menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Ibu," jawabnya singkat.
"Aaron, ibu peringatkan lagi padamu agar kau selalu berhati-hati dengan Annora. Dia sudah mulai bergerak lagi untuk menghancurkan mu."
Aaron menghela nafasnya panjang. Ini adalah topik yang paling Aaron hindari. Ia tau jika Annora memang sudah mulai bergerak dan hampir mendapatkan bukti-bukti yang cukup kuat. Namun, dia akan tetap diam. Jangan tanyakan kenapa, karena sebenarnya dia juga ingin tau tentang kebenaran itu.
Aaron akan melindungi Annora dalam misi pencarian itu, baik dari gangguan orang lain maupun ibunya sendiri.
Aaron menatap sang ibunda dengan tatapan intens miliknya. "Ibu ... jika aku menjadi tersangka, bagaimana?" tanya Aaron
"Kau adalah pemimpin di negeri ini, Aaron. Ketika dinasti Erlangga sedang terancam, maka orang yang paling harus bertanggungjawab adalah pemimpinnya, yaitu kau, Aaron."
"Dan dari pertanyaan mu tadi, dapat kau simpulkan bahwa itu bukan suatu masalah yang besar, Nak. Anggap saja kau sedang berjalan-jalan di hotel prodeo, mereka pasti akan memberikan pelayanan yang baik untukmu. Setelah itu, kau minta maaf saja pada publik, selesai 'kan?"
Adelia menggenggam tangan putra sematawayangnya itu. "Kau adalah pemimpin, jadi kau harus berkorban untuk dinasti ini dah juga ibumu, Aaron," sambung Adelia sambil menatap lurus wajah Aaron.
Aaron tersenyum simpul, meskipun dia sedikit kecewa dengan jawaban yang dilontarkan ibunya. Ibunya seolah-olah mengatakan bahwa Aaron lah yang paling bersalah dalam hal ini sehingga dia harus bertanggungjawab. Ya, meskipun itu tak sepenuhnya salah, sih.
"Baiklah, Ibu, aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik," pamit Aaron.
Adelia mengangguk. "Tentu, hati-hati di jalan, Putraku."
...****************...
Annora menyodorkan bunga flamingo lily pada Aaron yang dibalas oleh tatapan tanya.
"Bunga itu melambangkan keberuntungan, aku selalu berharap agar kau selalu mendapatkan keberuntungan," jelas Annora menjelaskan.
__ADS_1
Aaron tersenyum mendengarnya. "Terimakasih, aku berharap hal yang sama terjadi padamu," balas Aaron, untuk sepersekian detik, Annora terbius oleh tatapan netra obsidian itu. Aaron memutus kontak mata mereka, dia menatap jam tangannya. "Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik," tuturnya sembari mencium pipi Annora.
Annora terdiam cukup lama, dia sedikit tak menyangka bahwa Aaron akan meresponnya seperti itu. Annora tersenyum simpul kemudian. "Ya ...."