
Aluna menatap Haikal dengan heran. Dia kemudian mengambil kotak kecil yang Haikal sodorkan itu. Membukanya dan membacanya.
^^^Teruntuk putri kecilku, Aluna.^^^
^^^Hai, sayang, bagaimana kabarmu? Ibu selalu berharap kau baik-baik saja. Saat ini, ibu sedang berada di ruang kerja ayahmu, jika kau tidak percaya, maka lihat foto-foto itu, ya. Saat duduk di sini, ibu jadi keinget sama janji ibu yang dulu. So, ibu sekarang udah nepatin janji, ya, cantik.^^^
^^^Ayahmu galak, masa ibu mau keluar buat ambil bunga aja gak boleh. Jadi, ibu ngasih kamu bunga seadanya aja, ya, Aluna yang cantik gak boleh marah, okeyy?^^^
^^^Gimana perasaannya pas dapet surat? Seneng, gak? Ibu harap kamu seneng. Okey, jangan lupa bales pesan ibu, ya, cantik. Byee ...!!^^^
Aluna menatap Haikal. "Tunggu sini, aku akan membalas surat ini dulu," perintahnya pada Haikal. Haikal sendiri hanya mengangguk mendengar permintaan nona mudanya itu.
Aluna membalas surat itu, tapi sebelumnya, di selipkannya sebuah bunga melati ke samping telinganya. Setelah cukup lama, akhirnya surat balasan pun selesai.
Aluna kemudian memberikannya pada Haikal. "Katakan pada ibu bahwa aku menyayanginya," ujar Aluna, Haikal mengangguk.
...****************...
Aaron menatap Annora yang terdiam dengan muka cemberut, padahal gadis itu tadi baru saja tersenyum senang karena menemukan kamera.
Annora melirik Aaron. "Aaron, kapan kau selesai? Aku sudah tak tahan," ujarnya.
"Kenapa lagi?"
"Bosenn ..." jawab Annora, dia kemudian berjalan menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh pintu itu, tapi harus terhenti karena intrupsi Aaron.
Aaron melirik ke arah Annora. "Jika kau buka pintu itu, maka kau harus menanggung akibatnya," ancamnya.
Annora membalikkan badannya. "Apa akibatnya?" tanya gadis itu.
Aaron memutar bola matanya. "Pokoknya ada," jawab Aaron.
Annora menghela nafasnya kasar, dia kemudian berjalan dengan lunglai ke sofa. "Cepetan, aku mau ke kamar," kata Annora tanpa menoleh kearah Aaron.
Aaron mengangkat sebelah alisnya. "Why? Ngantuk? Ada kasur di dalem," ujar Aaron.
Annora menatapnya heran, dia melirik sekelilingnya. Nihil, tidak ada kasur empuk di ruangan ini. Seolah tau dengan kebingungan Annora, Aaron kemudian memberi tahu gadis itu. "Rak buku baris tiga dari atas, ambil warna hitam berlogo elang, buka, ada remote kecil, tekan warna merah," intrupsi Aaron.
Annora mengikuti perintah suaminya itu. Dia berjalan menuju rak buku besar dan mengambil sebuah buku dari baris tiga. Ia lalu membuka buku tersebut, benar saja, ada sebuah remote kecil di dalamnya. Setelah itu, Annora menekan tombol warna merah.
Rak buku itu bergeser, menampilkan sebuah kamar dengan kasur king size. Annora menatap Aaron. "Pakailah jika kau mau," ujar Aaron.
__ADS_1
Annora menganggukkan kepalanya. Baru beberapa langkah mau masuk ke dalam, kakinya terhenti. Annora bukannya ingin su'uzon, tapi ... dia tidak suka. Kamar itu adalah tempat dimana Aaron mengistirahatkan tubuhnya sekaligus mencari kesenangan, mungkin (?). Entah sudah berapa banyak perempuan yang masuk, Annora tak tau.
Annora membalikkan tubuhnya, dia kemudian kembali duduk ke sofa. Matanya di pejamkan. Aaron menatapnya heran. "Tidak jadi?" tanyanya
"Tak," jawab Annora singkat. "Selesaikan pekerjaan mu cepat, aku ingin tidur di kamar," lanjutnya tanpa menatap Aaron.
Setelah beberapa saat, Aaron menyelesaikan pekerjaannya. Dilihatnya sang istri yang tengah tertidur dalam posisi duduk. Aaron menggelengkan kepalanya pelan menatap Annora. Dia berdiri menutup rak buku tersebut sebelum akhirnya menghampiri Annora.
Aaron kemudian mengendong Annora ala bridal style, dia lalu membawa gadis itu ke kamar mereka berdua. Setelah sampai, Aaron meletakkan Annora di atas ranjang king size.
Aaron menatap wajah damai Annora yang tertidur itu. Tangannya terangkat hampir menyentuh pipi Annora sebelum gadis itu mengeluarkan air mata dan terisak pelan. Aaron masih diam, hingga akhirnya dia mengusap kepala Annora agar tenang.
"Kau ... membuatku bingung, Annora," gumam Aaron.
...****************...
Jevano membaca berkas-berkas itu. Irisnya membulat sempurna kala melihat biodata milik Annora. Dia kemudian mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Untuk menghubungi Annora itu sebenarnya tidak sulit, hanya perlu datang ke mansion Erlangga. Tapi jika datang langsung, maka masalah akan tambah banyak.
Setelah selesai, Jevano meminta Jasmine untuk ke mansion Erlangga dengan menyamar sebagai pelayan. Ya, mereka bekerja sama. Annora meminta mereka untuk mengumpulkan informasi yang mereka ketahui tentang kematian Jennie, apapun itu.
"Jasmine ...!! Jasmine ...!!" panggil Jevano pada adiknya itu.
Jevano menyodorkan sebuah surat, Jasmine mengernyit keheranan. "Ambil ini dan berikan pada nyonya besar Annora," perintah Jevano.
Jasmine menerimanya. "Tapi, bagaimana caranya aku memberikan surat mu ini, Kak?" tanya Jasmine
"Berpura-pura lah menjadi pelayannya. Kau pasti tau maksudku, kan, Adekku tersayang?" Jasmine menganggukkan kepalanya cepat. "Bagus, pergilah ...."
"Jika benar itu adalah dia, aku akan mencium kakinya untuk memohon maaf," lirihnya pada udara hampa.
...****************...
Annora membuka matanya perlahan. Dirinya menatap kaget Aaron yang tertidur di samping dengan memeluk tubuh ramping miliknya.
Annora menggoyangkan tubuh Aaron, mencoba membangunkan pria itu dari tidurnya. Karena geram tak bangun-bangun, Annora kemudian menendang tubuh Aaron yang membuat sang empu jatuh dengan tidak elitnya.
Aaron terbangun dari tidurnya, dia bangkit, dan menatap tajam Annora. Annora meliriknya sekilas. "Maaf-maaf, aku tak sengaja," katanya dengan enteng.
Aaron mendecih. Dia kemudian pergi berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Annora sendiri tak ambil pusing, toh bukan urusannya.
Niat hati ingin tidur kembali, tapi diurungkannya karena mendengar suara ketukan pintu. Annora dengan malas bangkit dari ranjang kesayangan itu.
__ADS_1
Pintu dibuka, menampilkan Haikal. Laki-laki itu memberinya sebuah amplop. "Dari nona muda, Nyonya," ujar Haikal.
Annora menganggukkan kepalanya mengerti. Dia kemudian mengambil surat tersebut dan membacanya. Senyuman manis mengembang di bibirnya. "Dasar," gumamnya.
Annora menatap Haikal dengan serius. "Ada berita apa?" tanyanya
Haikal menggelengkan kepalanya. "Maaf, Nyonya," ujarnya.
Annora menghela nafasnya. "Ah, tak apa," katanya. Haikal lalu pamit untuk diri. Annora menutup pintu kamarnya.
Ini semua terasa abu-abu. Dia, tidak tau lawan sebenarnya. Jika seperti ini, sangat sulit. Ibaratkan berjalan dengan mata tertutup. Ugh, jika boleh, Annora ingin menyerah saja.
...****************...
"Udah dapet bukti?" tanya No Name, laki-laki itu tengah duduk bersama di ruangan gelap bersama seorang perempuan.
No Body menggelengkan kepalanya. "Susah. Kita gak pernah tau dimana, apa, dan siapa aja yang terlibat," ujar No Body frustasi.
No Name mencoba mengingat-ingat. Ah, Belinda dan Daffa adalah salah satu orang terdekat Jennie. Bahkan dia diisukan selingkuh dengan Daffa. Hoax, jelas itu. Pada akhirnya, Aaron menuduh Haikal sebagai selingkuhan Jennie, tapi sekali lagi, Haikal itu adik Haidar. Aaron tidak berani kepadanya. So, dia limpahkan itu kepada Daffa, sopir pribadi Jennie.
"Daffa Rahman, sopir pribadi Jennie. Coba lo cari, siapa tau ada, karena semenjak kematian Jennie, dia menghilang bak ditelan bumi," usul No Name.
No Body segera mengutak-atik komputernya. Dia tersenyum. "Ketemu, mereka belum hapus datanya. Bentar, gue salin dulu," ujarnya.
No Body menekan beberapa tombol di keyboard nya itu, proses download dimulai. Setelah hampir seratus persen, gagal. Data itu sudah dihapus dari sana.
"F*ck! Datanya dihapus!" seru No Body dengan nada marah.
"Sial." desis No Name. "Info yang lo inget apa?" tanyanya
No Body terdiam sejenak. "Rumah sakit jiwa. Ya, seinget gue, tempat terakhir dia ada di sana," jawabnya.
"Nama rumah sakit?"
"Gak tau"
No Name menatap tajam No Body. "Lo gila?! Rumah sakit jiwa di sini banyak banget," katanya dengan nada tinggi.
"Namanya juga lupa. Lo juga liat 'kan tadi? Napa gak lo inget-inget aja sendiri," sahut No Body ngegas.
No Name terdiam sejenak memikirkan sesuatu, begitupula dengan No Body.
__ADS_1