Dear My Self

Dear My Self
BAB 1


__ADS_3

My Self


*Saya adalah kerapuhan ...


Saya kegelapan ...


Setiap kata adalah luka ...


Setiap kata adalah cibiran ...


Langkah ini adalah sesal ...


Ahhh, saya benci pribumi ...


Setiap kalimat mereka penuh dusta ...


Saya sempurna ... tapi kekurangan ...


Saya indah ... tapi buruk ...


Begitulah rekayasa!


Saya adalah orang yang terbuai oleh kata, lalu terhempas oleh nyata.


Saya pernah berada di puncak, lalu turun.


Saya adalah ribuan luka! Seperti jutaan atom yang tak terhitung. Takdir saya berjalan sesuai orbitnya, namun saya seperti tak terima. Beginikah takdir saya? Semenderita ini kah? Ahh saya lemah, tersenyum lalu ramah. Tapi sayangnya dunia tak berpihak pada orang seperti itu, dunia terlalu keras untuk menerima keramahan.


Maka saya mulai berpikir. Takdirkah yang salah? Atau saya yang terlalu polos dalam kehidupan*?


Yaap ... gadis itu bernama Aqila Liliana. Gadis remaja berumur 18 tahun, yang biasa dipanggil dengan sebutan Qila. Gadis ini sebelumnya merupakan primadona di sekolahnya, dia merupakan gadis yang di inginkan hampir semua kaum laki laki. Bagaimana tidak? Kecantikan Aqila merupakan alasan mereka untuk berlomba mendapatkan gadis itu. Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa banyak juga para wanita yang merasa iri, dan tidak suka dengan kecantikan yang Aqila miliki.


Tubuh yang langsing, rambut panjang ikal berwarna hitam lekat, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, serta bibir mungil yang terlihat seksi, dengan deretan gigi yang tak begitu rata, hingga menambah kesan manis ketika tertawa. Dan dagu yang berbelah dua merupakan perpaduan sempurna yang gadis itu miliki. Jadi tak ayal jika dia selalu menjadi nomor satu dimata lelaki, dan selalu berlomba untuk menjadi kekasih gadis remaja itu.


Namun Aqila bukan seperti gadis lain, yang selalu membanggakan kecantikan yang dia miliki. Bahkan gadis itu tak pernah meloloskan satu laki laki pun untuk menjadi kekasihnya.


'Percintaan pastinya hanya akan berakhir dengan kata kecewa, lalu menangis .... Ah begitu membosankan! Tak adakah yang lebih tulus?' Mengingat itu Qila kembali menerawang tentang kehidupannya beberapa bulan yang lalu. Akhir sekolah yang begitu mengerikan!


FLASHBACK ON


"Qila ... cepatan dong, udah mau telat nih," sahut Kayra yang tidak lain adalah teman Qila.


Kayra gadis cantik berumur 18 tahun, teman satu kos Aqila yang cerewet dan konyol. Kayra adalah anak dari seorang pengusaha. Namun Kayra tidak pernah sombong, dan selalu hidup sederhana. Hal itu yang membuat Qila merasa betah dengan Kayra.


"Iya iya bentar," jawab Qila sambil tergopoh keluar dari kamarnya sembari mengikat rambut asal.


"Lama banget sih! Lo mau dihukum?"


"Iya maaf," jawab Aqila sambil tersenyum sumbringan. "Ayok, katanya udah telat." Sambung Aqila lagi yang sudah menaiki motor.


****


Aqila dan Kayra masuk kedalam pintu gerbang dengan tergesa. Karna pintu gerbang hampir tutup.


"Huffhh ... hampir aja telat. Lain kali ogah gue nungguin lo, gue tinggalin sekalian! " rungut Kayra sambil turun dari motor dengan kesal.


"Ya elah ... nggak usah ngambek gitu dong, ntar cantiknya ilang loh," goda Aqila pada temannya.


"Nggak mempan! Udah ayok kta masuk kelas, mau gue tinggalin lagi!"


"Buset dah, cerewet bener."


Saat sampai didalam kelas, seperti biasa. Meja Qila dipenuhi dengan berbagai kado, bunga, dan surat surat yang entah berasal dari mana.


"Ya ampun. Mau dagang lo Qila?" tanya Kayra sambil tertawa.


"Kamu ya, ngeledek terus," ucap Qila sambil tersenyum kecil. Karna dia memang sudah biasa mendapatkan hal seperti ini.


"Nih ... ambil buat kamu. Dan jangat cerewet lagi," ucap Qila sambil menyerahkan beberapa coklat, dan kado pada temannya yg slalu usil itu, agar mau diam.


"Buat gue nih?"


"Nggak! Buat tukang kebun sekolah sono,"


"Yaah ... kirain buat gue," lirih Kayra.


"Ya ampun, YA BUAT ELU LAH DODOL! " bentak Qila. Sebab temannya yang satu ini memang terlalu lama konek.


"Buset, jangan marah kenapa? Becanda doang gue." balas Kayra sambil tertawa khas sumbringannya.


****

__ADS_1


Setelah 2 jam pelajaran, bel istirahat berbunyi. Dan dengan senang hati kedua gadis remaja itu keluar kelas sambil menuju kantin. Sebab cacing di perut mereka sudah minta jatah makan.


Namun saat di jalan menuju kantin, tiba tiba seorang guru memanggil Qila.


"Eh nak Qila. Sini bentar," sahut Pak Handoko guru BK.


"Iya, ada apa pak?" tanya Qila setengah bingung. Lalu langsung menghampiri Pak Handoko yang sedang bersama seorang laki laki tampan disampingnya.


"Kamu tau rumah pak Samuel kan?" tanya pak Handoko lagi.


"Iya tau Pak."


"Nah ... sekarang Bapak minta tolong antarin dia ke rumah Pak Samuel ya," ucap Pak Handoko sambil menunjuk ke arah lelaki disampingnya.


"Dan oh ya. Nak Levin, perkenalkan ini Aqila salah satu siswi terbaik disini. Dan Aqila, ini Levin alumni dari sekolah ini, " jelas Pak Handoko. Dan dibalas senyum ramah oleh Qila. Tetapi hanya dibalas satu anggukan oleh Levin tampa senyum ramah sedikitpun.


'Dih songong banget nih cowok,' batin Qila.


Levin Pernandes. Lelaki tampan yang merupakan incaran semua kaum wanita. Bagaimana tidak? Hidung yang mancung, sorot mata yang tajam, serta senyum langka yang mematikan. Dan hampir semua wanita mengenalinya, bahkan di tempat asal Sekolah Aqila sekalipun dia juga sangat populer. Karena dia sendiri merupakan alumni dari sekolah tersebut. Tapi sikapnya yang keras kepala, dan sangat ketus terhadap wanita, membuat para wanita untuk tidak gampang mendekatinya. Bahkan sampai saat ini belum ada yang mampu menaklukan hati seorang Levin.


"Dan sekarang, tolong antarkan dia ke rumah pak Samuel ya. Soalnya dia mau ngambil Ijazah katanya," sambung Pak Handoko pada Qila.


"Tapi ... setelah ini saya masih ada jam pelajaran Pak," balas Aqila jujur.


"Nggak papa. Nanti Bapak yang minta izin sama guru yang mengajar," jelas Pak Handoko lagi.


"Baik pak."


"Ya sudah .... Nak Levin, Aqila goncengnya sama kamu aja ya. Soalnya motor nak Qila pasti gak bisa keluar, ini masih jam pelajaran. Nggak papa, kan?" tanya Pak Handoko.


Dan lagi dibalas satu anggukan oleh Levin.


"Ya sudah, silahkan kalian berangkat." ucap Pak Pandoko sambil meninggalkan mereka.


Belum sempat Qila membuka suara, lelaki itu sudah jalan duluan tampa menghiraukan Qila. Melihat itu refleks Qila langsung mengikuti langkah lelaki itu, lalu pamit pada Kayra.


"Semangat Qila. Titip salam sama bang Evin, dia ganteng banget soalnya. Dan kalo lo nggak mau, kasih gue aja ya," bisik Kayra.


"Buset lu g*tel banget. Udah udah, ntar lo yang bawa motor ya. Byee." ucap Qila langsung menghampiri Levin.


"Lama banget, gue nggak suka nunggu!" ucap Levin ketus saat Qila datang.


"Alasan lo, cepetan naik! Mau gue tinggalin!"


"Ehh lo lagi PMS ya? Gue yang keganggu jam pelajaran kok lo yang marah marah? Dasar cowok nggak tau terima kasih. Kalo lo mau tinggalin gue ya silahkan. Toh lo kan yang butuh gue!" ucap Qila yang sudah geram pada cowok ketus ini.


"Berani banget lo ya. Emangnya lo siapa? Penting banget? Dan gue nggak perduli sama pelajaran lo. JADI CEPETAN!!" Balas Levin tak mau kalah.


"Iihh sombong banget, OGAH! Nggak mau gue nganterin lo. Sono cari sendiri, nyasar sekalian!" ucap Qila murka lalu melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, tangannya langsung ditarik oleh Levin.


"Lo ya, bener bener ngeselin. GUE BILANG CEPETAN! ATAU MAU GUE LAPORIN SAMA PAK HANDOKO HAH!" bentak Levin.


"Aww ... lepasin tangan gue. Sakit tau," rintih Qila yang kesakitan.


"Ini yang Pak Handoko bilang siswi terbaik?" ucap Levin sambil tersenyum remeh.


"Emangnya kenapa hah? MASALAH BUAT LO!"


"Nggak penting juga sih," balas Levin yang masih tersenyum remeh sembari mengangkat satu alisnya keatas sambil menaiki motor. Melihat itu Qila hanya bisa membuang nafas kasar. Karna dia tidak bisa berbuat apa apa.


"Cepetan naik!"bentak Levin lagi.


'Aagghh persetanan! Brengsek lo kampret. Kalo bukan karna Pak Handoko, boro boro gue mau satu motor sama nih cowok. Pedes banget! Untung ganteng, kalo kagak udeh gue jadiin lempeng nih orang.' rungut batin Qila sambil menaiki motor Levin dengan sumpah serapah.


****


"Ehhh Qila, mau duduk dimana nih?" tanya Kayra saat mereka sampai di kantin sekolah.


"Mmm disana aja," ucap Qila sambil menunjuk bangku kosong di pojok kantin. Kantin yang cukup penuh membuat mereka agak sedikit susah untuk menemukan tempat duduk.


"Okee ... kamu kesana aja. Aku pesen makanan dulu."


"Siip," balas Qila sambil mengangkat jempolnya keatas.


Setelah memesan Mie Ayam langganan mereka, Kayra pun ikut duduk di samping Qila, sambil menunggu pesanan datang.


"Ehh Qila, gimana kemaren?" tanya Kayra antusias.


"Apanya?" jawab Qila bingung.


"Enak nggak di boncengin cogan? Idih, sumpah gue ngiri banget sama lo kemaren Qila. Dan tau nggak? Bang Evin itu terkenal nggak pernah deket cewek gitu. Jadi lo beruntung banget bisa satu motor sama dia. Uwuu ... aku juga pengeen," rengek Kayra dengan jahil.

__ADS_1


"Apaan sih! Tampan sih tampan, ketusnya minta ampun. Mana mulutnya pedes banget kayak sambel level 3000! Kalo gue sih mendingan nggak usah ketemu sekalian. Yang ada bikin kesel mulu kalo sama dia," rungut Qila.


"Ya elah, nggak papa ... orangnya juga ganteng gitu. Kalo gue sih syukur banget bisa satu motor sama bang Evin," ucap Kayra sambil menghayal.


"Buset, g*blok banget deh" ucap Qila sampil menyentil kening temannya itu.


Tak lama pesanan mereka pun datang. Dan tak butuh waktu lama pula, mereka menghabiskan makanan tersebut. Karna mereka memang sudah lapar.


"Ahh akhirnya kenyang juga," ucap Kayra saat Mie Ayam nya sudah habis.


"Hati hati ... jangan sampe kentut lo. Ntar gue pingsan lagi!"


"Ehh jangan ngeremehin ya. Kalo gue kentut tu yang keluar bukan angin biasa tau,"


"Trus?"


"Langsung keluar Berlian Eropa," ucap Kayra yang langsung membuat kedua gadis itu tertawa tampa menghiraukan pandangan orang lain.


"Hay," sapa seorang lelaki bersama 2 orang sahabatnya. Yang mengguyar tawa kedua gadis itu.


"Boleh duduk disini?" ucapnya lagi sambil tersenyum.


"Oh bole boleh. Duduk aja," ucap Kayra antusias sambil tersenyum manis. Dan Aqila hanya tersenyum ramah.


"Terimakasih," ucapnya sambil duduk dihadapan kedua gadis tersebut.


"Oh ya. Kenalin nama gue Rayen, anak XI IPS 4."


Rayen. Cowok yang sok tampan di sekolah mereka. Dengan sikapnya yang suka gonta ganti pacar dan juga nakal. Sedikit pun tak membuat Qila kagum dengan sosok Rayen, yang terlalu caper menurutnya. Meskipun Qila tidak kenal, tapi Qila sudah biasa melihat Rayen yang super gila cewek di sekolahnya. Namun Qila tetap tersenyum ramah khasnya. Berbeda dg Kayra yang menyukai ketampanan Rayen dan kedua sabahat Rayen meskipun mereka terkenal playboy.


"Hay ... gue Jino teman Rayen," ucapnya sambil duduk disamping Rayen.


"Dan gue Dion, temennya Rayen sama Jino."


"Oh hay ... gue Kayra." sambungnya sambil tersenyum. Lalu memperhati kan Rayen yang masih melirik Qila.


"Dan ini temen gue, namanya Aqila," ucap Kayra lagi yang memecahkan lamunan Rayen.


"Aqila Liliana. Panggil Qila aja," ucap Qila sambil tersenyum ramah.


"Eh i-iya," ucap Rayen sedikit malu karna tertangkap basah.


"Kamu Qila anak XI ipa 2 kan?" tanya Rayen mengelak.Tampa memperdulikan Kayra.


Karna niatnya dari awal hanya untuk mendekati Qila demi taruhan bersama teman satu gengnya. Sebab dia tidak mau diremehkan.


'Masa playboy setampan gue nggak bisa deketin seorang Aqila. Itu mah gampang ... pegeng omongan gue. Kalo gue orang pertama yang akan menjadi kekasih Qila.' ucapnya tadi waktu bersama teman temannya.


Sedangkan Qila hanya membalas dengan senyum khasnya. Karna dia tau Rayen sama seperti lelaki lain, yang punya modus dengan segala cara.


"Oh ya, gue bisa pinjem Hp lo bentar nggak? " tanya Rayen pada Qila.


"Buat apa?" tanya Aqila sembari memberikan Hpnya pada Rayen.


"Mau minta nomor lo," ucap rayen lagi sambil tersenyum.


"Buat apa?"


Tampa membalas, Rayen mengotak atik Hp Qila.


"Nih. Simpan aja, mana tau pentingkan. Makasih ya." Sambil mengembalikan Hp Qila. Dan disambut oleh Qila dengan pikiran yang masih bingung. Belum sempat Qila bertanya ....


"Ya udah, klo gitu kita pergi dulu ya. Bye Qila ...." ucapnya sambil tersenyum manis, lalu beranjak pergi.


"Apaan sih? gaje," ucap Qila sambil melihat kepergian Rayen.


"Sumpah, ganteng dia Qila. Meleleh adek bang," ucap Kayra memelas.


"Apaan sih? Lebay banget sumpah."


"Siapa yang lebay? Dia emang ganteng kok," bantah kayra yang tak mau disalahkan.


"Sok ganteng dia mah."


"Nggak papa deh. Jadi bini ke duabelas nya pun Adek rela," balas Kayra ngelantur.


"Jadi lo mau siapa nih? Bang Evin atau Rayen?"


"Eh iya yaa, lupa gue. Nggak jadi deh, gue sama bang Evin aja. Ketampanan Rayen masih jauh kalah dari bang Evin. Bang Eviiiinn .... maaf kan adek bang," sahut Kayra.


"Goblek!"

__ADS_1


__ADS_2