Dear My Self

Dear My Self
BAB 39


__ADS_3

"Papa setuju," sahut pak Herman tiba-tiba.


"Nah ... tuh Papa ngerti. Emang Papa paling the best," balas Levin lagi dengan senyum kemenangan.


"Maksud Papa, setuju kalau kalian liburan ke rumah Qila," sambung Herman lagi.


"Haha bagus tuh, Pa," timpal Lina sambil tertawa.


"Papa juga berfikir kalin butuh liburan di tempat-tempat yang segar seperti itu. Papa yakin, di kampung Qila pasti udaranya masih bersih, jadi bagus untuk kalian merefresing otak kalian," sambung Herman.


"Tapi Pa—"


"Udah, Vin! Kamu apa-apaan, sih? Pokoknya kamu harus ikut!" bantah Widia yang memutuskan ucapan Levin.


"Ck-terserah!"


"Yeey ... kita liburan ke rumah kak Qila," sahut Lina senang.


"Nggak papa, kan, Qila?" tanya Widia.


"Ya nggak papa lah, Tante. Nanti Qila kabarin bunda, pasti bunda seneng."


"Ya sudah, seminggu lagi Om akan menyuruh supir untuk mengantar kalian."


"Oke, Om."


****


Seminggu kemudian


Sekitar jam dua siang, mereka semua sudah berkumpul di depan kediaman Herman. Tampak mereka menyandang tas yang berisi pakaian mereka selama satu minggu kedepan saat di rumah Qila.


"Apa semua sudah datang?" tanya Herman pada mereka.


"Udah, Om," jawab mereka serentak.


"Ya sudah, sekarang kalian kumpulkan barang-barang kalian untuk di masukkan kedalam bagasi mobil."


"Baik, Om."


Lalu supir pribadi keluarga Herman dibantu satpam, memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil mewah mereka. Tak lama akhirnya barang mereka sudah dimasukkan.


"Kita berangkat dulu Om, Tante."


"Iya, hati-hati ya, di jalan. Ingat! Jangan ngerepotin ibu Qila. Bersikaplah yang sopan, paham?" peringat Widia.


"Oke, tante," jawab mereka serentak.


Lalu mereka masuk kedalam mobil, dengan Lion berada di samping supir. Lina, Qila, dan Levin di kursi nomor dua. Serta Anjas, Jeki dan Aca yang berada di kursi belakang.


Akhirnya supir menancap gas mobil menuju ke kampung halaman Qila yang jika menaiki kereta api bisa memakan waktu 5 jam. Karna mereka menggunakan mobil maka waktu yang mereka butuhkan adalah 4 jam. Mereka sampai disitu sekitar jam 6 sore, mobil tersebut sampai tepat di depan rumah Qila. Tampak di depan halaman sudah berdiri seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Hani, ibu Qila.


Tampak ia menyambut kedatangan Qila dan teman-temannya dengan senyum yang merekah sempurna pada wajahnya. Ia sangat senang saat mendengar kabar bahwa teman-teman Qila ingin berlibur di rumah Qila. Bagaimana tidak? Karna selama Qila melanjutkan kuliahnya di kota, Hani hanya tinggal sendiri di rumah. Maka kedatangan Qila dan teman-temannya menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Hani.


Lalu mereka turun dari mobil. Setelah menurunkan barang-barang, tampak supir pulang kembali ke kota. Sedangkan mereka masuk ke halaman rumah Qila, lalu menyalami ibu Qila secara bergantian. Kemudia mereka diajak ibu Qila masuk untuk istirahat karna perjalanan tadi.


"Kalian tunggu disini ya, Ibuk ambilkan makanan dulu."


"Eh, nggak usah repot-repot, Buk," balas Aca tak enak.


"Tidak apa-apa. Kalian tunggu, ya."


"Makasih, Buk."


"Iya ...." Lalu ibu Qila masuk kedalam dapur untuk mengambil makanan untuk Qila dan teman-temannya. Karna tidak mungkin mereka makan di meja makan rumah Qila yang hanya muat untuk enam orang, maka Hani menyuruh mereka makan di sofa tengah.


"Uhh! Capek juga, ya," ucap Jeki yang membuka suara diantara mereka.


"Hooamm ... Ina rasanya ngantuk banget," ucap Lina lagi lalu tidur pada pangkuan Qila. Sedangkan Qila dengan senang hati menyambutnya.


"Makanya, udah dibilang nggak usah libur, kalian masih ngepet juga pengen libur. Jadi capek, kan!?" bentak Levin.


"Dih! Biarin, ngapain juga bang Evin ikut?" tamya Aca tak suka.


"Gue disuruh Mama gara-gara kalian, tau!?"


"Tapi bang Evin juga mau,kan?" tanya Aca lagi tak mau kalah.


"Udah udah ... kalian berdua ini kerjaannya ribut terus, ya? Nggak enak tuh sama ibunya Qila," timpal Lion.


"Ya udah, sini Aca sama bang Jek aja, ya ...." sahut Jeki sambil tersenyum kearah Aca.


"Nah ... gitu dong bang Jek, romantisan dikit sama pacarnya. Biar kak Aca nggak ngambek lagi, haha ...." ucap Lina yang membuat seisi ruangan itu tertawa, kecuali Levin dan Anjas.


Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Perkelahian kemaren buktinya membuat mereka menjadi musuh bebuyutan. Masih ada rasa tak suka dengan sikap masing-masing.


"Dih! Pacar apaan! Ditembak aja nggak!"  bantah Aca dengan wajah kesalnya.


"Aduh! Jadi belum ditembak juga, nih? Yah ... kalo cowok kayak gitu mending tinggalin aja, Ca," sambung Lion sambil tersenyum jahil.

__ADS_1


"Eh, lo jangan ngomporin, ya. Dasar temen luknut, lo!"


"Bener tuh bang Lion. Mending kak Aca bareng bang Anjas aja tuh, orangnya baik," tambah Lina lagi.


"Nggak bisa gitu dong!" sangkal Jeki.


"Kenapa?" tanya Lina.


"Karna Anjas buat Qila," ucap Jeki memanasi Levin.


"Tapi kak Qila sama bang Evin."


"Ye .... Ina nggak tau aja sih, bang Evin kamu itu udah sama Claudia," sambung Aca lagi dengan wajah menyindir.


"Kak Claudia sepupu Ina yang bibirnya berdarah terus, itu?"


"Berdarah?" tanya Jeki heran.


"Iya ... bibir kak Claudia kan merah terus. Kata kak Aca, abis makan darah kambing tetangga," jelas Lina dengan polos.


"Bahaha ... abis makan darah abang Ina mungkin," ucap Jeki sambil tertawa keras.


"Bener, Bang? Bang Evin pacaran sama kak Claudia? Dih! Kalo gitu nggak mau banget Ina anggap kak Claudia jadi ipar Ina," rungut Lina pada Levin.


"Lo percaya sama omongan dia?" tanya Levin.


"Ya juga ya ... ngapain Ina percaya sama omongan bang Jek."


"Nah ... gadis seumuran Ina aja paham siapa lo Jek," tambah Lion.


"Ampun dah! Kena sembur terus gue. Nggak abang, nggak adek, bikin gue kesel terus."


"Berati pacar bang Evin kak Qila, ya kan kak?" tanya Ina sembari melihat kearah Qila.


Qila yang mendapat pertanyaan itu menjadi gelagap. Tak tau apa yang harus ia jawab. Ingin ia jawab tidak tapi takut Lina kecewa, ingin pula ia jawab iya, tapi teringat pula siapa ia di kehidupan Levin.


"Mm ... Itu. Eh, k-ka ...."


"Eh, makanan kita udah sampe tuh," potong Anjas yang memecahkan kecanggungan diantara mereka. Anjas juga tau dengan perasaan Qila, tapi ia juga tak suka saat Qila dipojokkan seperti itu.


"Waah ... pas banget Ina lagi laper, hehe ...." sahut Ina sambil duduk dengan antusias, karna perutnya memang sudah lapar.


"Ina ... jaga ucapan!" bentak Aca.


"Sudah, tak apa, Nak. Pantas saja dia bilang sudah lapar, karna habis perjalanan yang cukup jauh tadi, kan. Ayoo, silahkan di makan. Kalo butuh apa-apa panggil Ibuk aja, ya."


"Iya, Buk, makasih ...."


"Bun ...." lirih Qila yang sudah memeluk tubuh ibunya dari belakang. Melihat anaknya, tampak Hani tersenyum lebar lalu menghadap kearah Qila.


"Kamu sudah kurus sekali, Nak. Apa ibu teman mu membari kamu makanan yang baik? Atau dia tidak memberi kamu makan sampai kamu sekurus ini?"


"Eh, enggak kok, buk. Tante Widia baik banget sama aku, malah sangat teramat baik. Qila sampe nggak tau dengan cara apa Qila bisa membalas kebaikan mereka sama Qila."


"Jadi, kenapa kamu bisa sekurus ini? Apa kamu pusing mikirin tugas?"


"Bukan, Bun ... Tapi emang di sana Qila lagi diet, dibantuin sama bang Evin juga. Makanya Qila bisa kurus lagi kayak gini."


Mendengar itu tampak senyum tergambar jelas di wajah Hani.


"Kamu sangat cantik sekarang, Nak. Sudah lama ibu tak bertemu dengan mu. Ibu benar benar rindu, Sayang." Mengelus rambut ikal Qila dengan lembut.


"Qila juga sangat teramat merindukan Bunda," balas Qila lalu memeluk ibunya dengan erat.


"Apa kamu bahagia disana?"


"Bahagia kok, Bun. Tante Widia sama om Herman juga baik banget sama Qila. Aca temen Qila dan Lina ponakannya juga orang yang seru dan perhatian sama Qila. Jadi Bunda nggak usah khawatir, ya."


"Bunda seneng dengarnya."


"Ya udah, yuk Qila kenalin temen-temen Qila. Pasti Bunda belum tau, kan, nama mereka?"


"Nah, itu yang pengen bunda tanyain tadi. Tapi takutnya ganggu obrolan kalian."


"Ya udah, yuk!"


"Bentar. Tolong bantu bunda bawa ini keluar." Hani memberikan beberapa toples yang berisi makanan ringan.


"Siap!" ucap Qila sambil menyambut toples dari tangan ibunya.


Lalu setelah teman-temannya selesai makan, Qila meletakkan makanan ringan diatas meja. Di bantu Aca, Qila membawa piring kotor kedapur, lalu kembali duduk dengan semua yang juga sudah berkumpul.


"Jadi kalian semua ini, teman-teman Qila, ya?" tanya Hani.


"Iya, Tante," jawab mereka serentak.


"Panggil Tante aja, biar akrab," jelas Hani, lalu di jawab anggukan olrh mereka.


"Nggak nyangka Tante, Qila bisa punya teman sebanyak ini. Dulu waktu masih sekolah, temennya cuman Kayra doang," sambung Hani lagi.

__ADS_1


"Duh! Aku dilupain nih, ya," timpal Anjas tiba-tiba. Qila yang melihat itu dengan cepat memperkenalkan Anjas pada bundanya.


"Oh, ya, Bun. Coba Bunda tebak, dia siapa?" tanya Qila sambil tersenyum antusias. Hani yang mendapat pertanyaan itu mengerutkan dahinya sembari menatap wajah Anjas lekat.


"Pasti Tante nggak kenal lagi, nih, sama aku," ucap Anjas memelas.


"Maaf, tapi Tante bener-bener nggak ingat."


"Ya ampun tante. Aku juga temen Qila waktu kecil. Yang biasa tante panggil dengan sebutan, Jas. Masa nggak inget, aku pernah jadi tetangga tante loh."


"Ohh ... iya iya, tante ingat. Jadi kamu toh, Jas? Ya allah, sudah besar kamu ya, tampan lagi, Tante aja sampai nggak ingat wajah kamu. Maafin Tante, ya, soalnya setelah dari luar negri, kayaknya udah makin tampan, nih, tetangga Tante."


"Ahh, Tante bisa aja."


"Gimana kabar ayah dan ibu kamu?"


"Alhamdulillah sehat, Tante."


"Kamu disini tinggal sama siapa?"


"Saya tinggal di apartemen sendiri, Tan."


"Gitu? Titip salam ya, buat ibu sama ayah kamu. Bilang, dari buk Hani mantan tetangga kalian."


"Hehe, siap, Tan!"


"Kalo yang manis ini, namanya siapa?" tanya Hani sambil melihat kearah Aca.


"Saya Aca Tante, temen Qila."


"Ohh ... jadi ini yang namanya, Aca? Orangnya manis dan baik juga, ya."


"Terima kasih, Tante."


"Saya saya ...." potong Lina, belum sempat Hani membalas ucapan Aca. Mendengar itu, sontak Hani melihat kearah Lina sembari tersenyum ramah.


"Nama saya Lina tante. Tante boleh panggil saya Ina. Kata orang, ina anaknya imut," ucap Lina dengan percaya diri.


"Cih! Muji diri sendiri," ejek Levin.


"Biarin, wek!"


"Kamu kelas berapa?" tanya Hani ramah.


"Saya naik kelas tiga smp Tan. Dan Tante, tau? Saya juga adik ipar kak Qila, loh. Ya kan, kak Qila?" Levin yang mendengar itu tersenyum menang kearah Anjas. Sedangkan Anjas hanya menatap tak suka kearah Levin.


"Hah? Mm ... itu, ee ...." Mendapat pertanyaan itu, kembali Qila dibuat bingung.


"Dan ini abang Ina. Namanya bang Evin," sambung Lina yang memotong ucapan Qila.


"Saya Levin, Tante,"


"Jadi kamu yang namanya Levin? Ternyata sangat tampan, ya. Kamu sangat pintar cari pacar, Qila," puji Hani sambil tersenyum kearah Qila dan Levin.


"Ha? Eh, ki—"


"Ahh, Tante bisa aja. Terimakasih tante," potong Levin.


"Kamu yang Tante suruh jaga Qila waktu itu,kan?"


"Bener banget, Tante."


"Baguslah. Tante jadi tidak perlu khawatir lagi."


"Kapan Tante telpon dia?" tanya Jeki tiba-tiba.


"Hm?" tanya Hani sambil.melihat kearah Jeki.


"Ma-maaf saya menyela Tante," jelas Jeki tak enak.


"Tidak apa-apa. Lumayan udah lama, waktu itu Tante sempat ngomong sama dia bentar. Dan nama kamu siapa, nak?" tanya Hani pada Jeki lagi.


"Saya Jeki, Tante. Temen Levin, sekaligus ...." Melihat kearah Aca.


"Apa!?" bentak Aca sembari melototkan matanya.


"Eh, anu ... sekaligus temen Qila juga, Tante."


"Ohh, kalo satunya lagi? Dari tadi cuman diem? Tidak usah sungkan ya ngomong sama Tante, anggap ibu sendiri aja," jelas Hani pada Lion yang hanya menyimak sedari tadi.


"Iya, Tan. Saya Lion, temen Qila juga, Tan."


"Ohh ... Tante jadi bingung, anak muda sekarang makannya apa, ya? Orangnya pada ganten-ganteng dan cantik-cantik semua."


"Haha, tante bisa aja."


Melihat rumahnya yang ramai, Hani menjadi tersenyum senang. Sudah lama ia duduk sendiri, dan sekarang dia sangat bahagia melihat rumahnya penuh dengan tawa dari teman-teman Qila.


"Ya sudah, mendingan kalian simpan barang kalian dulu, gih. Abis itu istirahat, ya," sambung Hani.

__ADS_1


"Iya, Tante," jawab mereka serentak.


__ADS_2