
Di tempat lain tampak Jeki, Lion, dan Aca tengan duduk di dalam kantin sambil bergurau. Hal itu tentunya tak lepas dari bisikan bisikan para fans trio jomblo bajar, yang tak suka melihat Aca dekat dengan para lelaki idaman tersebut. Karna selama ini belum ada yang mampu duduk satu meja bersama jomblo bajar. Tapi memang dari awal mahasiswi tidak tau bahwa Aca adalah sepupu Levin, pemilik HIRO UNIVERCITY.
Namun ke tiga remaja tersebut tidak terlalu menghiraukan pandangan orang lain, dan asik dengan obrolan mereka masing masing.
"Eh Ca, lo tau nggak kenapa Tuhan menciptakan bang Jek?" tanya Jeki pada Aca.
"Nggak tau, emang kenapa?"
"Karna kalo bang Jek nggak diciptain, ntar Aca nikahnya sama siapa hayoo ...."
"Kan cowok masih banyak."
"Iya ... tapi yang kayak bang Jek limitid edision. Cuman ada buat Aca doang mah."
"Tapi kan bang Jek emang bukan siapa siapa Aca."
"Ya emang bukan, tapi bentar lagi akan jadi siapa siapa. Doain aja ya."
"Dasar burung sawahan! Kalo Levin ada nih, percaya lo langsung di kirim ke kutub. Mau?" sahut Lion.
"Sebenernya sih nggak mau. Tapi kalo berdua sama Aca bang Jek rela deh haha."
"Bang Jek mah bisa aja ...." balas Aca yang sudah bersemu.
"Ada lagi nih. Aca tau kenapa cewek cewek itu ngeliat sinis ke arah Aca?"
"Kenapa?"
"Karna mereka sadar, bahwa bidadari bang Jek itu cuman ada Aca."
"Iihh, bang Jek bikin Aca malu."
"Nggak usah malu, belum bang Jek cium kok"
"Apaan?"
"Awas lo kena modusnya Ca."
"Yaah ... bang Lion mah telat. Ini Aca udah kena. Gimana dong ...?"
"Tenang aja Ca ... kalo Aca udah siap, besok bang Jek lamar ya."
"Bang Jeeek!"
"Sa ae, dodol garut!"
"Wkwkwk ...."
Saat tengah asik mengobrol, tiba tiba Aca melihat Qila membawa kantong plastik dan hendak keluar kantin, dan sontak Aca memanggil Qila.
"Qila ...." teriak Aca.
"Kok lo ada disini? Bukannya ada kerjaan ya?" tanya Aca yang sudah mendekati Qila.
"Eh Aca, itu ... g-gue."
"Qila? Lo ngapain disini?" tanya Lion lagi.
"Beli makanan buat siapa tuh?" sambung Jeki lagi.
"Mm ... itu ... g-gue beli makanan buat gue sendiri."
"Kenapa nggak makan sama kita aja?" tanya Aca lagi.
"Eee ... soalnya gue ada kerjaan. Jadi gue nggak sempet makan di kantin, makanya gue bungkus." jawab Qila bohong.
"Oohh .... "
"Ya udah, gue pergi dulu ya," ucap Qila lalu menjauh dari ke tiga remaja tersebut.
"Dia punya kerjaan apa sih Ca?"
"Aca aja nggak tau"
Qila langsung menuju atap kampus dengan cepat, tanpa menghiraukan ke tiga remaja yang masih di landa kebingungan itu. Lalu menghampiri Levin dengan nafas yang terengah.
"Huh ... nih," ucap Qila sambil memberikan kotak makanan pada Levin, lalu mengatur nafasnya.
Levin hanya diam sambil mengambil kotak makanan yang ada di tangan Qila.
"Kalo nggak ada apa apa lagi, saya permisi," ucap Qila sembari membalikkan badannya.
"Tunggu!" ucap Levin tiba tiba yang menghentikan langkah Qila.
__ADS_1
Mendengar itu Qila memutar kedua bola matanya jengah.
"Apa lagi?" tanya Qila sambil menghadap arah Levin.
"Duduk."
"Hah?"
"Peraturan nomor dua. Gue nggak punya siaran ulang. Jadi apa gue harus ngingetin lo terus hum?"
" .... "
"Tunggu apa lagi?"
Qila yang tidak bisa apa apa hanya duduk di hadapan Levin dengan ribuan pertanyaan yang masih mengawang di kepalanya.
'Apa dia cuman pengen nyuruh gue liat dia makan? Benar benar nggak ada kerjaan!' batin Qila sambil terus merungut di dalam hati.
"Nih ...." Tiba tiba Levin menyodorkan makanan pada mulut Qila.
"Hm?" Qila tertegun saat mendapati Levin yang ingin menyuapnya. Bahkan Levin saja belum memakan makanan itu.
"Ck-dasar lamban! Nih makan," ucap Levin sambil terus menyodorkan makanan pada mulut Qila.
Dengan keadaan yang masih bingung, Qila membuka mulutnya lalu memakan makanan yang di beri Levin dengan mata yang masih fokus pada Levin. Lalu mengunyahnya perlahan.
"Gue tau lo lagi diet. Tapi jangan sampe nggak makan siang. Itu bahaya buat kesehatan lo," ucap Levin datar sambil terus mengaduk makanan yang ada di tangannya.
Qila terdiam saat mendengar ucapan Levin. Terpaku, dan tak mampu mengucap apapun lagi. Dimana mulut pedas level tiga ribu milik Levin? Dimana pria ketus yang selalu menyakiti hati orang lain itu? Dan dimana si kepala batu yang menyebalkan itu? Qila masih terdiam dengan mata yang tak lepas dari wajah Levin. Mengerjap ngerjap kebingungan.
Tanpa menghiraukan Qila, Levin memakan makanan tersebut menggunakan sendok yang Qila gunakan tadi. Lalu mengunyahnya. Dan hal itu tak lepas dari mata Qila.
"Jangan keseringan liat gue kayak gitu. Ntar jatuh cintanya terlalu jauh," ucap Levin dengan mata yang masih fokus pada makanan.
Mendengar itu Qila tersentak, dan spontan membuang mukanya ke samping, dengan pipi yang sudah bersemu.
"Siapa yang ngeliat anda. Saya hanya tidak percaya anda akan bersikap demikian. Itu aja kok. Jadi nggak usah pede!" elak Qila.
"Ya, gue tau ... tapi plusnya lo ngeliat gue kan?" tanya Levin sembari melihat ke arah Qila.
"Nggak usah sok tau!"
Mendengar itu Levin tampak tertawa kecil sembari meletakkan makanannya.
"Kenapa harus bilang iya, kalo kenyataannya nggak!"
"Lo yakin kalo lo nggak suka sama gue?" tanya Levin enteng.
Qila kembali bungkam atas pertanyaan Levin yang tak henti hentinya membuat Qila grogi. Namun dengan cepat Qila kembali menormalkan sikapnya.
"Terserah! Tapi saya nggak tau kenapa ya, anda begitu menyebal kan!" balas Qila sambil berdiri dengan kesal. Karna mendengar ucapan Levin yang benar adanya.
Mendengar itu Levin tertawa kecil sambil berdiri menghampiri Qila. Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Qila.
"Tapi lo suka kan?" tanya Levin datar tampa meminta jawaban sambil sedikit tersenyum. Lalu pergi dari hadapan Qila.
Deg ....
Qila bungkam mendengar ucapan Levin. Singkat dan begitu padat!
-------
'Mengapa aku terus bergulai pada sebuah rasa yang entah jadi apa. Aku ingin pergi jauh! Tapi dia yang selalu membuat ku dekat.'
~Aqila Liliana~
***
Setelah pulang dari sekolah, Qila, Lina, dan Aca duduk santai di ruang tengah sambil menonton TV.
"Hay para gadis gadis. Kok mager sih?" tanya Widia sambil ikut duduk.
"Hehe iya nih Tan. Lagi nggak pengen keluar," balas Aca
"Gitu ya ...." Lalu mereka kembali menonton film populer. Dimana spon pencuci piring mak gue, yang hidup di dalam laut.(Tau kyeun😅) Bahkan Widia hanya mengikuti saluran yang ditonton oleh gadis gadis tersebut.
Mereka hanya diam sambil terus menyimak obrolan antara kepiting gembul, dan spon yang entah mengapa bisa terdampar di laut antartika itu. (ya nggak sih? Iya-in aja kali ya)
"Eh Qila," ucap Widia tiba tiba yang memecahkan keheningan.
"Iya Tan," balas Qila sambil melihat ke arah Widia.
"Kamu punya waktu bentar nggak? Tante mau ngomong nih."
__ADS_1
"Mm ... boleh, mau ngomong apa?"
"Di taman samping rumah aja ya," balas Widia lagi.
"Emang mau ngomong apa sih Tan? Masa pake keluar segala. Aca kepo ini mah," sahut Aca tiba tiba.
"Nggak usah kepo kepo. Tuh Jeki manggil kamu di luar."
"Iihh Tante apaan sih?" Memanyunkan bibirnya.
"Ciee ... kak Aca pacaran ya, sama bang Jeki," sahut Lina sambil terus menggoda Aca.
"Naah ... Kan jadi malu sendiri," balas Widia lagi.
"Iihh, Tante sama Lina mah nggak asik!"
"Ya karna bagi kamu yang asik itu Jeki. Tante sama Lina bisa apa Ca ...." goda Widia.
"Qila ... bantuin gue dong ... orang Aca nggak pacaran sama bang Jeki. Boro boro pacaran, di tembak aja nggak!"
"Ceritanya ngarep nih ...?" Qila ikut menggoda temannya.
"Siapa yang ngarep?"
"Ya elah, kak Aca mah ke banyakan ngeles, kayak tukang pager."
"Kok pager?"
"Ya kan tukang las, jadi tukang pager dong."
"Bodo!"
"Tuh kan ... pipinya aja udah merah bata gitu hayoo ...."
"Iihh ... kok pada mojokin Aca sih? Bikin kesel deh. Itu apa lagi merah bata? Kagak ada manis manisnya."
Ketiga orang itu hanya bisa tertawa melihat tingkah Aca yang begitu manja dan sudah bersemu.
"Udah udah Ma, ntar kalo kak Aca marah. Pacarnya ngelabrak kita lagi, wkwkwk."
"Ya udah, yok Qila kita ke samping."
"Iya Tante," balas Qila sambil mengikuti langkah Widia menuju taman yang ada di samping rumah. Lalu duduk di sebuah kursi yang ada di taman tersebut.
"Mau ngomong apa Tan?"
"Mm ... Tante jadi nggak enak nih ngomong sama Qila."
"Ngomong aja Tan, nggak papa kok."
"Jadi Tante itu, mau minta tolong sama Qila."
"Minta tolong apa ya Tan?"
"Tapi apa kamu mau?"
"Selama Qila bisa bantu, insyaallah Qila bakal bantu kok."
"Ya udah deh ... jadi sebenernya, Tante sama Om itu mau minta tolong sama kamu buat jadi guru les private nya Levin."
"Hah?"
"Kami tau ... Levin itu keras kepala. Tapi kami nggak tau harus minta tolong sama siapa lagi Qila. Semua nilai semester Levin yang kemaren nilainya C. Bayangin aja, mau tarok dimana itu nilai? Tante sama Om udah nyari tempat les yang bagus, tapi nyatanya dia nggak pernah ikut kelas les. Kita juga udah cari guru les private yang handal, tapi nyatanya nggak ada yang tahan sama sikap Evin. Maka dari itu, kami minta tolong sama kamu Qila."
Qila tertegun mendengar ucapan Widia. Mengajar Levin? Menjalankan hukuman bersama Levin saja rasanya jantung Qila sudah tak tahan. Bagaimana jika harus mengajar Levin lagi? ~ Ngelupain seseorang itu susahnya minta ampun ya. Ada aja jalan buat ngedeketin. Bukannya malah lupa, eh malah tambah suka. (Auto curhat ini mah)
"Ta-tapi saya nggak terlalau pinter buat jadi guru les bang Evin Tan. Saya juga belum lulus sarjana."
"Tante tau ... tapi kali ini Levin nggak cukup untuk di ajarin sama yang jenius aja. Tapi sama orang kayak kamu juga perlu Nak."
"Hah?"
"Lina banyak cerita tentang kamu sama Om dan Tante. Tante yakin, mungkin dengan cara kamu yang mengajar Levin, Levin akan sedikit lebih lunak di bandingkan sebelumnya."
Qila kembali diam dan bungkam. Sebenarnya Qila tak mau mengajar Levin. Terus berada di dekat Levin juga tidak baik untuk kesehatan jantung dan hatinya. Tapi Qila merasa tidak enak dengan keluarga Herman, karna selama ini sudah banyak membantunya. Memberi fasilitas yang mewah, dan tempat tinggal yang sangat layak. Rasanya terlalu khianat jika menolak untuk membantu mereka. Karna mungkin hanya dengan cara ini, Qila bisa menebus kebaikan keluarga Herman selama ini.
"Baik lah. Qila akan coba bantuin Tante sama Om buat ngajar bang Evin. Tapi ini semampu Qila aja ya ... Dan Qila juga nggak janji bisa melunakkan keangkuhan bang Evin. Maaf ya Tan ...."
"Iya ... nggak papa sayang. Kamu udah mau ngajarin Levin aja Tante udah seneng. Makasih ya ...."
"Iya sama sama Tan."
Happy reading😘
__ADS_1