Dear My Self

Dear My Self
BAB 41


__ADS_3

Tampak gadis itu mendekatinya sambil menampilkan senyum termanis yang ia miliki, namun terlihat menjijikkan di mata Levin.


"Hay ...." sapa gadis itu yang ternyata adalah Claudia.


"Gue kangen banget sama lo," ucap gadis itu manja sambil memeluk tubuh Levin. Sedangkan Levin hanya diam tanpa berniat untuk merespon ucapan Claudia.


"Gue jauh-jauh kesini cuma pengen ketemu sama lo," sambungnya lagi sambil terus memeluk Evin dengan erat.


Melihat itu, dengan cepat Levin menyingkirkan tubuh gadis ini yang terus menempel padanya. Ia sedikit mendorong Claudia agar menjauh. Ia menatap tak suka pada Claudia. Claudia yang tau emosi Levin, akhirnya dengan cepat menetralkan sikapnya.


"Yang lain mana?" tanya Claudia untuk memecahkan kecanggungan.


Levin hanya diam tak menjawab pertanyaan Claudia. Ia masih sibuk menatap kedekatan Qila dan Anjas.


"Eh, itu mereka, ya? Kita kesana, yuk!" ajak Claudia antusias sembari menarik tangan Levin menuju tempat dimana teman-temen Levin berkumpul.


Levin yang mendapati itu hanya diam, dan mengikuti langkah Claudia. Tampak dari jauh, Qila, Aca, Lina, dan Anjas sedang menyiapkan makanan diatas tikar piknik. Sedangkan Lion dan Jeki baru selesai mendirikan tenda.


"Ehem!" Suara Claudia membuat ke enam remaja tersebut menoleh ke arah ia dan Levin berdiri. Melihat itu dengan cepat Claudia memberikan senyum terbaiknya kepada mereka, sedangkan Levin hanya diam sambil membuang mukanya.


Tampak mereka sedikit heran saat melihat kehadiran Claudia. Dari mana ia tau kalau mereka sedang berada disini? Dan mereka saling melihat satu sama lain, pertanda bahwa mereka sama-sama bingung.


"Kak Dia? Kok kakak bisa ada disini?" Lina membuka suara terlebih dahulu hingga memecahkan keheningan yang sempat terjadi. Kegiatan mereka pun tampak terhentikan sebab kedatangan Claudia.


"Iya, kakak pengen nyamperin abang kamu," balas Claudia sambil tersenyum sok ramah.


Mendengar itu tampak Lina sedikit mengerutkan dahinya. Karna selama ini yang ia tau kalau abangnya Levin sangat benci dengan Claudia. Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa Claudia bisa seramah dan selembut ini. Setaunya, dulu Claudia adalah orang yang sombong.


"Oh, ternyata bang Evin ngundang Claudia juga? Wow... emang sepupu yang the best, ya," timpal Aca sedikit meremeh.


"Nggak usah sok tau lo!" balas Levin tak suka.


"Emang iya, kan? Kalo nggak bang Evin, siapa lagi? Lina?"


"Udah udah, mending kalian berdua duduk sini, bantu siapin acara ntar malem," lerai Jeki.


Qila yang melihat itu hanya diam, lalu secepat mungkin ia membuang pandangannya dari Levin dan Claudia. Mungkin untuk kali ini ia harus lebih kuat. Mungkin untuk saat ini ia harus tunjukkan siapa ia sebenarnya, ia tidak selemah itu lagi. Dan mungkin kali ini benar-benar menunjukkan bahwa dia memang tidak ada artinya di mata Levin. Bahwa selama ini Levin sedang mempermainkannya. Bahwa selama ini ia yang terlalu berharap banyak kepada Levin.


Qila membuang nafasnya perlahan. Ia sedang berusaha menguatkan hatinya agar tidak mudah untuk terus terjebak oleh sikap Levin.


Dengan cepat ia mendongak wajah kearah Claudia sembari menampilkan senyum terbaiknya, agar untuk kali ini ia terlihat jauh lebih kuat, meskipun di dadanya masih begitu terasa nyeri.


"Hay! Lo ... yang ketemu gue beberapa minggu yang lalu, kan?" Suara Qila membuat teman-temannya sedikit kaget. Karna untuk pertama kalinya Qila bersikap biasa-biasa saja di depan Claudia. Bahkan Levin tak kalah terkejutnya. Tadinya ia pikir Qila juga akan cemburu, namun ternyata Qila malah menanyai Claudia sambil tersenyum manis.


"Ha-hay! Mm... iya. Lo masih inget ternyata," jawab Claudia gugup. Karna ia takut Qila memberitahu kejadian dulu kepada Levin.


"Pastinya gue ingat dong. Lo kan ratu kampus di Hiro Univercity, jadi wajar lah kalo gue kenal, kan?" tanya Qila dengan tenang. Bahkan sangat tenang.


Mendengar itu membuat Claudia sedikit lega.


"Haha... Seharusnya gue tau, sih. Gue kan emang terkenal," ucapnya membangga-banggakan diri.


"Ya udah, karna hari udah sore, mending kita hidupin api unggun, yuk! Ntar keburu gelap," timpal Anjas.


Lalu mereka duduk melingkari api unggun yang sudah mereka siap kan tadi. Malam itu mereka memanggang daging, untuk makan malam. Dan membuat kopi hangat karna hari sudah mulai dingin. Tak lupa mereka menggunakan jaket tebal. Setelah makan, mereka kembali duduk sambil meminum kopi dengan santai.


"Eh, kita main aja gimana? Masa diem aja, kan nggak seru," ucap Jeki tiba-tiba.


"Boleh juga tuh, gue setuju," balas Lion.


"Mau main apa?" tanya Aca.


"Menurut Qila bagusnya main apa?" tanya Anjas.


"Kalo gue ngikut aja, sih," jawab Qila.


"Gimana kalo kita main truth or dare!" timpal Claudia.

__ADS_1


"Nggak bagus!" sangkal Aca tak suka. Sebab ia masih tak suka dengan kedekatan Claudia dengan Levin yang selalu berpura-pura baik.


"Menurut gue, juga gitu. Karna tempat narok botolnya juga nggak ada. Kan kita lagi melingkari api unggun," sambung Anjas.


"Gimana kalo kita main tebak kata!" sahut Lina antusias.


"Nah, setuju!" timpal Aca.


"Oke kita bagi dua regu," tambah Lion.


"Kalo regu yang kalah, gimana?" tanya Qila.


"Kena hukum, joget. Gampang, kan?" jawab Aca.


"Oke, kita bagi regu. Cewek sama cewek, cowok sama cowok. Gimana?" tanya Anjas.


"Oke!" sahut mereka serentak.


"Regu siapa dulu, nih? cewek atau cowok?" tanya Lion.


"Cowok aja!" balas Lina.


"Ya udah, deh. Dikarenakan cewek nggak pernah salah, jadi kita duluan, ya," sambung Anjas.


"Iya, silahkan."


Lalu regu cowok diwakili oleh Anjas dan Jeki, sedangkan regu cewek diwakili oleh Qila dan Aca. Mereka sudah mengambil posisi masing-masing.


"Mulai!" teriak mereka serentak.


Kemudian Qila memberi kertas kepada Anjas yang berisi kata yang harus Anjas tebak. Setelah memegang kertas itu ia meletakkannya dibagian kepala, lalu Lion memberi tahu dengan kalimat isyarat. Sedangkan Anjas sibuk menebak-nebak tentang apa yang Lion maksud.


"Waktu 20 detik lagi!" sahut Aca.


"Apaan, Yon?"


"Yang suka nyapa,"


"Bukan. Yang sering bilang ke cewek, hay maniiis," ucap Lion sembari mencontohkan gaya ala-ala playboy.


"PLAYBOY!!"


"Bukan dodol!"


"Waktu 10 menit lagi!" sahut Aca lagi.


"Cepetan An!" teriak Jeki.


"Apaan ya? Manusia?"


"Bukan. tebak lagi, tebak lagi!" sahut Lion antusias karna waktu sudah hampir habis.


"Lima! Empat! Tiga!"


"Hewan!" tebak Anjas lagi.


"Dua!"


"Iya! cepetan!"


"Satu!"


"Buaya!"


"Waktu habis! Kalian dinyatakan kalah, bahaha...." sahut Aca sambil tertawa girang, dan hal itu tentu diikuti oleh wanita lainnya.


"Yah ... Lo sih, An! Masa nebak buaya aja nggak bisa," rungut Jeki.

__ADS_1


"Ya maaf. Lion juga, mah. Tinggal bilang aja, hewan, sikapnya kayak Jeki. Gitukan gampang gue jawabnya BUAYA! Nggak usah repot-repot lagi."


"Eh, songong lu! Enak aja bilang gue buaya. Gue cowok setia, Men ...." ucapnya sembari memukul dadanya dengan percaya diri.


"Udah udah. Sekarang giliran kita lagi," lerai Qila.


Lalu selanjutnya Anjas memberi kertas yang berisi gambar yang harus Qila tebak. Lalu Qila menghadap kearah Aca, kemudian Aca mulai memberi tahu dengan bahasa isyarat.


"Yang bentuknya comel," ucap Aca.


"Manusia?" tanya Qila.


"Bukan!"


"Hewan?"


"Waktu 20 menit lagi!" teriak Jeki


"Iya, iya! Cepetan, Qila!"


"Kucing?"


"Bukan! Bentuknya kecil!"


"Apaan?"


"Waktu tinggal 10 menit lagi!"


"Kecil, nggak punya kaki, trus suka bikin gatel!" teriak Aca panjang bin lebar.


"Lima! Empat!"


"Ulat bulu!"


"Beneeer! Yuhu ... kita menang ...." teriak Lina spontan dan hal itu diikuti oleh regu cewek lainnya.


"Haha ... sekarang karna kalian rego cowok yang kalah, maka kalian harus joget. Setuju?"


"Setuju!" sahut regu cewek serentak sambil terus tertawa girang.


"Ganti aja, deh hukumannya. Masa cowok keren kayak kita disuruh joget," sanggah Jeki.


"Iya, bener tuh! Gimana kalo hukumannya ngegombal aja?" tanya Jeki lagi.


"Gombal pala lu! Buaya emang hobinya ngegombal, ya," timpal Lion.


"Enak aja bilang gue buaya. Ini juga demi kebaikan kita kaum cowok, kali!" elak Jeki.


"Udah, udah! Pokoknya kalian harus joget. Jadi cowok yang konsisten dong! Masa joget aja nggak bisa," sambung Aca.


"Ya udah deh. Mau joget apa?"


"Goyang patah-patah aja!" sahut Lina.


"Bagus tuh!" sambung Claudia lagi.


"Goyang patah-patah? Hilang dah ke gantengan gue sebagai cowok," lirih Jeki.


"Udah cepetan!"


Lalu keempat lelaki itu berjoget sambil diiringi musik. Mereka mrlakukan goyang patah-patah yang hal itu berhasil membuat regu cewek tertawa terpingkal pingkal.


Bagaiman tidak? Mereka yang terkenal dengan Jomblo Bajar yang calm dan cool di kampus sekarang malah melakukan goyang patah-patah yang hasilnya lebih mirip goyang robot-robot.


Setelah puas berjoget dan puas tertawa hingga perut mereka sakit, akhirnya mereka memilih untuk tidur karna malam sudah larut.


Malam itu diakhiri dengan suasana yang riuh akibat kelucuan yang di timbulkan oleh regu cowok.

__ADS_1


Meski tetap tak mengubah keadaan, namun setidaknya hal itu bisa membuat Qila untuk melupakan masalahnya.


SETIDAKNYA ...


__ADS_2