Dear My Self

Dear My Self
BAB 33


__ADS_3

Ditengah perjalanan, Qila tak sengaja menangkap sosok Levin. Lelaki yang sedang mengacaukan pikirannya saat ini. Dan kenyataan yang lebih buruknya lagi, Levin tampak berdua dengan seorang wanita yang ternyata adalah Claudia.


Melihat itu Qila sejenak terpaku. Tampak dari kejauhan Levin melihat kearahnya, namun ia seolah tak perduli dengan keadaan Qila. Tapi sejak kapan Levin pernah perduli dengan orang lain? Itu adalah pertanyaan yang tepat!


Anjas yang melihat langkah Qila yang terhenti, ikut melihat ke arah mata Qila menatap.  Anjas yang mengerti dengan perasaan Qila, mencoba menggenggam erat tangan Qila sembari melihat wajah Qila lekat. Berusaha memberi kekuatan yang ia punya, seolah mengatakan mari aku bantu kau melewati ini.


Qila yang mendapat genggaman dari tangan Anjas tampa aba aba sedikit kaget, lalu ia melihat kearah Anjas yang ternyata juga sedang melihat kearahnya. Tampak Anjas sedikit mengangguk sembari melemparkan senyum kepada Qila. Dan dibalas Qila dengan berusaha tersenyum.


"Yuk! Bang An anterin Qila masuk," ucap Anjas sembari berusaha meyakinkan Qila bahwa semuanya baik baik saja.


Qila membalasnya dengan mengangguk lemah, lalu mengikuti langkah Anjas dengan tangan yang masih berpegangan erat. Dengan sedikit denyutan di bagian dada, Qila mengikuti langkah Anjas yang menarik tangannya untuk melewati Levin dan Claudia. Saat sampai tepat di depan mereka,Claudia tampak begitu genit, lagi manja menggantungkan tangannya pada lengan Levin. Entah kenapa Qila tidak suka! Qila ingin memberontak! Ini tidak adil! Kenapa bukan dia saja? Namun kembali lagi. Dia siapa dalam kehidupan Levin? Dia hanya benalu.


Claudia tersenyum sinis saat Qila melewati mereka. Dan Levin ... Ahh, entah lah! Entah ekspresi apa itu, sangat datar lagi tak terbaca. Qila hanya diam tak bergeming sembari terus mengikuti langkah Anjas menuju ruang ujiannya.


Saat sampai di depan pintu, Anjas melepaskan tangannya, lalu berbalik menatap Qila. Sedangkan Qila hanya menunduk tak membalas tatapan Anjas. Dia takut Anjas bisa membaca ekspresinya.


Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam.


"Lo nggak boleh sedih, oke!" ucap Anjas tiba-tiba sembari memegang pipi Qila lembut.


"Semuanya pasti bakalan baik baik aja. Jadi jangan nangis, ya," tambah Anjas.


Qila menjawabnya dengan sedikit mengangguk.


"Kalo gitu Qila masuk, makasih udah bantuin Qila tadi."


"Iya, nggak papa, santai aja."


Lalu Qila masuk ke dalam ruang ujian sedangkan Anjas kembali ke ruang ujiannya. Qila mengikuti ujian semester akhir dengan segala pikiran yang berkecamuk itu. Bayangan Levin dan Claudia terus menghantui pikirannya. Sejak kapan Levin dekat dengan Claudia? Sejak kapan pula Levin mau di pegang seperti itu oleh orang lain? Mana mungkin. Tapi kenapa tiba tiba saja Levin berubah dengan cepat? Apa  karna ucapan Qila semalam?


Ujian hari ketiga selesai dengan segala pikiran Qila yang entah berantah. Setelah ujian, kembali lagi mereka berkumpul untuk belajar bersama. Hari yang begitu melelahkan bukan?


Dengan malas Qila mengikuti langkah Aca untuk menghampiri Anjas, Levin, dan kawan kawannya. Qila masih ragu untuk bertemu dengan Levin, dia masih tak terima melihat Levin yang begitu acuh padanya.


"Eh Qila, lo kenapa pas ujian tadi? Gue lihat kayaknya suntuk banget, nggak kayak biasanya," ucap Aca ditengah perjalanan mereka.


"Nggak papa kok, gue baik baik aja. Gue cuman sedikit ngantuk aja, terlalu lama begadang mungkin," balas Qila sambil berusa tersenyum.


"Oohh, gitu? Mendingan lo nggak usah begadang lagi deh, soalnya gue lihat lo kelelahan banget."


"Iya, makasih ya."

__ADS_1


"It's oke ...."


Akhirnya mereka sampai tepat di tempat yang sudah mereka janjikan. Taman yang ada di dalam kampus. Dari kejauhan Qila dan Aca sudah dapat melihat keberadaan orang yang mereka cari. Lalu mendekatinya.


"Hay ... maaf ya, kita telat," sapa Aca sembari ikut duduk bersama mereka, begitupun Qila.


"Nggak papa kok, orang Levin juga belum dateng," jawab Lion.


"Eh, iya ya? Tumben bang Evin nggak bareng kalian."


"Mm ... nggak tau juga sih, tapi mungkin sebentar lagi dia datang," jawab Jeki lagi.


"Oohh, gitu?"


Mereka duduk dengan Qila yang berada di samping Anjas, Aca yang ada di samping Jeki, sedangkan Lion berada diantara Jeki dan Anjas, membentuk setengah lingkaran.


"Eh, gimana sama ujiannya? Susah nggak?" tanya Anjas.


"Kalo menurut gue sih, ada beberapa poin yang susah karna jalannya panjang, jadi sedikit menguras waktu. Makanya harus gesit banget. Dan selebihnya alhamdulillah mudah, kok," jawab Qila.


"Sama tuh! Gue juga kewalahan pas ngisi poin yang itu tadi. Mana gue kurang tau jalannya lagi, jadi yang itu gue isi asal, hehe ...." sambung Aca sambil tertawa kecil.


Tak lama di tengah obrolan mereka, tiba tiba suara Levin memecahkan obrolan singkat itu.


Mendengar itu sontak kelima remaja tersebut menoleh ke arah Levin yang masih berdiri. Dan mereka sedikit tersentak saat melihat Levin datang tak sendiri. Claudia berada di sisi kiri Levin, dengan tangan yang menggelayut manja pada lengan Levin.


Qila terdiam seribu bahasa saat melihat kejadian itu. Untuk sesaat Qila terpaky, bungkam, lagi bisu.Terasa ada satu hentakan maha dahsyat yang menghujam keras pada bagian dadanya. Begitu sakit lagi nyeri. Boleh dia menangis? Dengan cepat Qila melemparkan pandangannya ke segala arah, asal jangan melihat pemandangan itu! Qila menunduk seraya mengacak-acak isi dalam tasnya. Tidak tau apa yang harus dia ambil, pikirannya begitu kalut, otaknya begitu buntu.


Sedangkan Aca, Jeki, Lion, dan Anjas masih menatap bingung kearah dua remaja tersebut. Lalu tampak Levin dan Claudia duduk. Dengan Levin yang berada di samping Qila, sedangkan Claudia berada di samping Aca, hingga membentuk lingkaran.


Kedua remaja tersebut tampak tak perduli dengan tatapan dari teman-temannya. Ikut duduk lalu kembali diam. Levin masih duduk dengan tatapan datarnya, sedangkan Claudia tersenyum begitu lebar.


"Maaf ya, gue ganggu kalian," ucap Claudia sembari melihat Qila sekilas. Tatapan sekilas yang tampak begitu mengejek. Levin akan menjadi milikku, begitulah kira kira yang ingin Claudia sampaikan pada Qila.


Qila masih diam sembari menarik buku yang ada dalam tasnya keluar, lalu membukanya. Entah halaman berapa yang ingin ia baca, hanya membolak balikkan kebelakang dan kedepan. Bukan hanya Qila, Lion yang melihat itu pun hanya bisa diam sembari terus berusaha melemparkan senyum terbaiknya. Semua dapat membaca itu. Aca dan Jeki masih mematung, sedangkan Anjas yang tau gelagat Qila dengan cepat menggenggam tangan Qila erat, lalu ia sembunyikan di belakang mereka sembari melihat wajah Qila lekat, dan tak lupa pula tersenyum.


Qila yang melihat itu pun, kembali menggenggam tangan Anjas erat. Ia butuh kekuatan! Untuk beberapa saat hanya kheningan yang melanda diantara remaja tersebut, begitu kaku lagi senyap.


"Eh, karna semuanya udah ngumpul, jadi ayok kita mulai pelajarannya sekarang!" ucap Jeki sambil tersenyum, untuk memecahkan kecanggungan antara mereka. Jeki tau bagaimana perasaan Lion, pun dengan Qila. Sedangkan Aca menatap tak suka pada Levin dan Claudia, kedua sepupunya.


"Ca, akhirnya kita bisa belajar bareng juga ya. Udah lama nggak ngumpul sama lo," ucap Claudia sok ramah.

__ADS_1


"Hm, gue sebenernya sih, nggak terlalu berharap ketemu sama nenek sihir kayak lo. Kecuali sepupu cowok lo itu, mungkin," sindir Aca tak suka. Karna kemaren Claudia sudah melabrak Qila, dan ia juga ada saat itu.


"Eh, udah udah ... Ya udah yuk! Kita mulai pelajarannya. Mari kita buka buku untuk jadwal ujian besok. Dan kita coba menyelesaikan permasalahannya bareng," jelas Anjas sembari membuka bukunya, dan diikuti oleh keenam remaja tersebut.


"Tapi gue nggak punya buku kayak kalian nih, gimana dong? Mm ... Yon, gue bisa pinjem buku punya lo, nggak?" tanya Claudia manja.


Lion yang mendengar itu tampak diam sejenak.


"Ya-ya udah nih," jawab Lion yang hendak memeberikan pukunya pada Claudia. Bagaimana pun ia tak mungkin menolak permintaan Claudia, gadis pujaannya, gadis yang membuat statusnya masih jomblo sampai saat ini. Meski sekarang gadis itu sedang bersama Levin. Entah ada hubungan apa antara mereka berdua. Tak ada yang tau.


"Nggak usah, bang Yon! Ntar bang Yon nggak punya buku. Eh Claudia, kalo lo nggak punya buku, nggak usah belajar aja lo. Bisanya manfaatin orang," sahut Aca tak suka.


Sebenarnya ingin sekali Claudia memberi sumpah serapah pada sepupunya Aca. Namun bagaimana pun dia harus berpura pura baik di depan mereka, karna ada Levin di sampingnya.


"Udah udah, ini pake punya gue aja. Gue bisa barengan sama Qila," jawab Anjas lagi. Anjas juga tak suka pada Claudia atas kejadian kemren. Tapi lebih tak suka melihat Qila yang sedih begini.


"Kenapa nggak sama sepupu cowok lo itu aja? Biar lebih romantis!" Sambung Aca.


"Kalian bisa diem nggak, sih! Lo kenapa, Ca!? Marah? Emang kenapa lo marah sama kita, hah!? Sedikitpun nggak ada urusan sama lo, paham!" bentak Levin yang sudah muak dengan sindiran Aca.


"Ngapain gue marah? Urusan sama kita apa? Lagian kalian juga cocok banget kalo jalan bareng. Gue DUKUNG!!" bentak Aca yang tak mau kalah.


"Udah udah Ca, mendingan kita mulai, kalo debat terus kapan kita belajarnya," lera Anjas.


Qila hanya diam tak ingin masuk dalam obrolan mereka yang semakin menyakitkan itu. Qila masih menatap buku pada tangannya, tak ingin mendongak kedepan, meski untuk melihat perdebatan yang sempat terjadi. Levin tampak melihat kearah Qila, namun sepertinya tak perduli. Mereka seperti tak pernah mengenal, dan seperti tak pernah melakukan apapun.


Entah mengapa rasanya mata Qila begitu berat, dan penuh dengan bendungan yang kapan saja siap untuk tumpah. Bahkan meski sekuat mungkin Qila mencoba untuk menahannya, namun sepertinya air mata Qila tak bisa diajak kompromi untuk berpura-pura kuat.


Qila yang sudah tidak tahan, akhirnya mengangkat wajahnya, lalu menatap Anjas.


"Bang An ...." panggil Qila dengan suara yang sedikit getar.


"Iya ...." jawab Anjas sembari menatap wajah Qila. Tampak begitu menyedihkan dengan mata yang sudah memerah.


"Hari ini Qila nggak ikut belajar, ya ...." sambung Qila getar sembari sedikit tersenyum.


Mendengar itu, Anjas hanya diam terpaku, dengan mata yang terus menangkap wajah gusar gadis pujaannya.


"Qila belajar di rumah aja. Soalnya Qila lagi capek banget, nggak enak badan," sambung Qila dengan suara yang semakin getar. Ia sedang berusaha menyembunyikan air matanya. Agar ia terlihat lebih kuat!


Bersambung ....

__ADS_1


Happy reading😘😘


__ADS_2