Dear My Self

Dear My Self
BAB 43


__ADS_3

"Tapi saya suka!"


Mendengar itu Levin tertawa kecil, hingga membuat Qila sedikit bingung.


"Apa ada yang salah?" tanya Qila, dan dijawab dengan menggeleng oleh Levin.


"Gue suka denger itu," ucap Levin lalu memeluk tubuh Qila dari belakang, dengan wajah yang masih berada pada sebelah pundak Qila.


"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Qila. Dan di jawab anggukan oleh Levin.


"Kenapa selama ini anda selalu membuat saya marah?"


Mendengar pertanyaan itu Levin tampak diam sejenak. Lalu ia kembali membuka suara.


"Karna dengan cara itu gue bisa deket sama lo," jawab Levin santai.


"Maksudnya?"


"Nggak punya maksud apa-apa. Nggak usah dibahas lagi, ya."


"Bagaimana dengan hubungan anda dengan Claudia?" tanya Qila lagi.


"Gue cuman manfaatin kebodohannya dia,"


"Manfaatin untuk apa?"


"Untuk bikin lo cemburu,"


"Cuman itu?" Dan di jawab Levin dengan mengangguk lagi.


"Tapi secara tidak langsung anda sudah mempermainkan perasaannya. Apa anda sadar?"


"Cewek kayak dia emang pantas untuk dipermainkan. Dia bahkan tak ada harganya di mata gue."


"Tapi kenapa anda selalu besikap tenang saat dia memegang tangan anda?"


Mendengar pertanyaan itu Levin kembali tertawa.


"Ternyata lo cewek yang banyak tanya juga, ya." Mendengar itu Qila hanya diam.


"Sebenernya setelah dia pegang gue, gue selalu pakai anti septik atau hensenitaizer. Biar kuman murahannya nggak nempel," jawab Levin yang berhasil membuat Qila tertawa.


"Claudia itu saudara anda loh."


"Gue tau. Makanya gue nggak pernah bersyukur punya saudara sebahenol dia. Keliatan menjijikan,"


"Tapi anda suka, kan?" goda Qila.


"Gue sukanya sama lo,"jawab Levin santai lalu mengecup tengkuk Qila singkat.


Hal itu membuat Qila kembali terpaku. Dan untuk selanjutnya tampak Qila menahan senyumnya dengan cara menggembungkan kedua pipinya hingga hal itu membuat Levin menjadi gemas.


"Kenapa?" tanya Levin.


"Enggak!"


"Yaya ... Gue tau lo suka sama gue," ucap Levin santai. Mendengar itu Qila kembali memutar kedua bola matanya jengah.


"BANG EVIN ....!" panggil Lina keras dari tepi danau hingga memecahkan kegiatan mereka berdua. Melihat itu dengan cepat Qila melepaskan tangan levin dari tubuhnya. Untung mereka berada sedikit jauh, hingga tidak terlalu nampak.


"KENAPA NGGAK AJAK INA ....!" teriaknya lagi dengan kesal sembari menatap tajam.


Mereka berdua hanya bisa tertawa melihat sikap Lina.


"SINII ...!" teriak Lina lagi sambil mangangkat sebelah tangannya.


"Ya udah, yuk, kita ketepi, ntar keburu anak yang lain pada bangun," ucap Qila.

__ADS_1


Lalu Levin mengayuh perahu hingga sampai mereka pada dermaga danau. Melihat itu dengan cepat Lina menghampiri mereka dengan kesal.


"Bang Evin sama kak Qila, mah, main nggak ngajak-ngajak! Ina kan juga pengen ikut!" rungut Lina sambil memayunkan bibirnya.


"Ya udah, maafin kak Qila, ya. Kakak nggak ngajak kamu dulu, karna tadinya kak Qila pikir Ina masih tidur, makanya kak Qila nggak bangunin," ucap Qila sambil menghampiri Lina.


"Ya udah, ayok, kita naik lagi!" ajak Lina.


"Tapi kak Qila nggak bisa, kak Qila aja dibawa sama abang, Ina."


"Bang Evin, yuk naik lagi, ina juga pengen naik perahu," rengek Ina.


"Nggak mau, gue udah capek," balas Levin


"Iihh! Bang Evin mah gitu. Kak Qila ... bilangin sama bang Evin tolong bawain Ina, yayaya ...."


"Eh, jangan manfaatin orang lain, ya!" bentak Levin tak suka.


"Siapa yang manfaatin kak Qila. Orang aku cuman minta tolong,"


"Woi! Ngapain?" tanya Lion sambil berjalan menghampiri mereka hingga membuat mereka menoleh kearahnya.


"Udah bangun nggak ngajak-ngajak, ya, kalian," ucap Lion yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Tau tuh! Bang Evin sama kak Qila naik pera—mm!" Dengan cepat Levin membungkam mulut Lina menggunakan sebelah tangannya.


"Eh, kalian semua udah bangun?" tanya Aca lagi lalu diikuti oleh Jeki dan Anjas, yang baru saja keluar dari tenda.


"Iya, nggak tau mereka udah ribut aja pagi-pagi gini," balas Lion.


Sedangkan Lina mencoba melepaskan tangan levin dari mulutnya, lalu setelah lepas dengan cepat ia menghampiri Aca.


"Kak aca, kita naik perahu, yuk!"


"Perahu mana?"


"Serius?" tanya Aca tak percaya.


"Ck-nanya terus, sih! Ayolah kak ... kita naik perahu, yuk!" rengek Lina lagi.


"Eh, kak Aca mana bisa, Ina. Ajak bang An aja tuh," balas Aca.


"Ya udah, yuk, bang An, kita naik perahu, yayayay ...." bujuk Ina pada Anjas.


"Ya udah deh. Emang Ina berani?"


"Berani dong!" lalu Anjas menaiki perahu bersama Lina. Sedangkan mereka masih saja berdiri mematung.


"Lo mah, Vin. Naik perahu bareng nggak ngajak-ngajak, ya ...." ucap Lion menggoda Levin.


"Ya udah, sana lo naik!"


"Kalian berdua diam-diam menghanyutkan, ya. Pas kita semua lagi molor, eh, kalian malah asik main-main," sambung Jeki lagi.


"Diem lo!" bentak Levin.


"Tuh, sepupu kesayangan lo tuh," ucap Aca sambil menunjuk kearah Claudia yang baru keluar dari tenda. Lalu Aca memilih pergi meninggalkan mereka lalu di susul oleh Jeki.


"Hay ... kalian udah lama bangun, ya?" tanya claudia sambil tersenyum.


"Masih baru juga," balas Lion. Sedangkan Levin lebih memilih untuk pergi dari pada harus menyahuti ucapan Claudia.


"Evin, mau kemana? Gue ikut ...." ucapnya sembari memegang sebelah lengan Levin dengan manja.


Melihat itu Levin berdecak malas, sembari membuang mukanya ke samping.


"Lepasin tengan lo! Jangan pernah buat sentuh-sentuh gue, ngerti!" bentak Levin sembari melepas tangan Claudia dari lengannya dengan kasar. Melihat itu Claudia tampak kebingungan.

__ADS_1


"Lo kenapa sih, Vin? Akhir-akhir ini lo selalu ngehindar dari gue!" bentak claudia.


"Akhir-akhir ini? Apa lo nggak sadar, bahwa selama ini pun gue selalu menghindar dari lo. Apa lo nggak sadar, hum?" tanya Levin dengan nada mengejek.


"Trus kemaren kenapa lo kasih lampu ijo sama gue!"


"Itu karna ada cewek yang mau lewat."


"Maksud lo apa, sih!?"


"Maksud gue, gue nggak suka sama lo, jadi jangan pernah ganggu kehidupan gue lagi, paham!?"


"Tapi, Vin—"


"Mendingan lo pulang! Lo disini cuman ngerusak suasana tau nggak!"


Mendengar itu tampak emosi Claudia semakin tersulut, tak tau harus apa, dengan cepat ia menghampiri Qila yang masih berdiri menatap mereka bersama Lion di sampingnya.


"Pasti lo, kan! Yang udah nyuruh Evin pergi dari gue!" bentak Claudia sembari sedikit mendorong tubuh Qila.


"Dasar cewek kegatelan lo!!" bentak Claudia lagi.


"Tang harusnya bilang gitu, gue!" balas Qila yang juga tak kalah marahnya.


"Kalo orang lain nggak mau sama lo, jangan bisanya nyalahin orang lain terus! Terkadang nggak semua cowok mandang lo dari seberapa montoknya lo, paham!?" bentak Qila.


"Berani lo sama gue!" sambar Claudia yang hendak menampar Qila, namun dengan cepat tangan Claudia ditahan oleh Lion yang ada di sampingnya.


"Lion?" Tampak Claudia sedikit kaget saat melihat Lion yang membela Qila, karna selama ini Lion selalu berada pada posisinya.


"Gue nyesel udah pernah suka sama cewek kayak lo. Semakin kesini, gue semakin sadar siapa lo sebenernya!" bentak Lion sembari melepas tangan claudia dengan kasar.


"Eh! Lo denger nggak? Mendingan lo pergi sana!" bentak Levin.


"Nggak! Gue tau lo pasti cinta kan sama gue, Vin. Gue tau vin, gue mohon lo jujur sama gue. Lo pilih Gue ratu kampus atau dia! Gadis kampung yang cuman mengharapkan uang kampus!" bentak Claudia.


Mendengar itu tampak Levin sedikit tertawa, lalu ia berjalan menghampiri mereka.


"Apa perlu gue jawab?" tanya Levin sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.


"Perlu!" balas Claudia yang masih tak mau kalah.


Mendengar itu Levin mendekat kearah Qila berdiri.


"Gue lebih milih gadis kampung yang cuman mengandalkan uang kampus dari pada gue harus milih sampah kayak lo!"


"Jadi maksud lo selama ini, apa!? Jelasin ke gue, Vin! Gue tau lo pasti bohongkan sama gue. Gue tau lo pasti cuman bercanda kan, vin?"


Mendengar itu Levin tampak tersenyum kecil. Ia sama sekali tak perduli dengam Claudia. Lalu selanjutnya yang ia lakukan adalah memegang tengkuk Qila, kemudian mencium bibir Qila hingga hal itu membuat Claudia benar-benar kaget tak percaya. Begitu pun dengan Lion.


Lalu tak lama Levin melepaskan bibirnya dari bibir Qila, lalu kembali menatap Claudia.


"Apa masih perlu gue jawab? Atau masih perlu bukti?" tanya Levin sambil memegang pinggang Qila.


"Lo ... lo bener-bener jahat, Vin!! GUE BENCI SAMA LO!!" bentak claudia lalu dengan cepat ia menghampiri tenda untuk membersihkan peralatan bajunya. Sedangkan Levin hanya diam tek perduli.


"Apa nggak papa, kalo claudia pul—"


"Terserah! Mau dia bunuh diri sekalipun gue sama sekali nggak perduli," potong Levin.


"Ehem! Gue jadi obat nyamuknya, nih?" tanya Lion yang sedari tadi hanya menjadi penonton.


"Ya udah sana, lo cari jodoh atau gimana kek," balas Levin sembari mendorong Lion menjauh. Melihat itu, Lion hanya berdecak malas sambil berjalan menjauhi mereka.


Sedangkan dari arah tenda, tampak Claudia berjalan menghampiri mereka sembari membawa barangnya untuk pulang.


"Puas lo!!" bentak Claudia kearah Qila.

__ADS_1


"Sangat puas," balas Levin tenang sambil terus memegang pinggang Qila.


__ADS_2