Dear My Self

Dear My Self
BAB 35


__ADS_3

Disisi lain, Levin tampak duduk pada kursi kemudi mobilnya yang terparkir di bagasi rumahnya. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang sembari memejam matanya. Ia tampak gusar dengan tangan yang memicit pelipis pelan. Bukankah semuanya terlihat serba salah?


Ia menancapkan mobilnya menuju rumah Jeki dengan kecepatan cepat mampu membelah jalan. Untuk beberapa menit, mobil Levin berhenti tepat di depan rumah Jeki.


Levin membuka ponselnya lalu menelpon Jeki untuk membuka pintu. Tak lama menunggu, terlihat Jeki yang sudah berada di ambang pintu, lalu Levin masuk ke dalam rumah Jeki dan menuju kamar Levin yang ada di lantai satu.


Levin menduduki dirinya di kepala ranjang milik Jeki dengan wajah gusarnya. Sedangkan Jeki duduk di sofa sembari terus melihat gelagat sahabatnya tersebut.


"Lo sebenernya ada masalah apa sih, Vin? Serius gue nanya," tanya Jeki dengan mata yang terus menatap Levin.


Mendengar itu, Levin melihat kearah Jeki.


"Gue nggak punya masalah apa-apa," jawab Levin datar.


"Lo sebenernya suka sama siapa?"


"Gue nggak suka sama siapa-siapa!"


"Bohong! Ayo lah, Vin. Lo udah berubah sekarang, lo bukan Levin yang gue kenal lagi. Sejak kapan Claudia deket sama lo? Bukannya selama ini lo paling benci sama Claudia? Trus sekarang kenapa tiba-tiba Claudia bisa sedeket itu sama lo?"


"Masalahnya apa? Bukannya bagus kalo gue deket sama Claudia? Dia juga cantik, kan?"


"Tapi lo tau perasaan Lion, kan? Lo tau seberapa besar perasaan Lion sama Claudia. Lo tau bahwa sampe saat ini, Lion masih belum bisa melupakan Claudia. Lo tau kan?! Apa lo nggak perduli, sama perasaan orang lain? Lo juga tau gimana perasaan Qila, kita semua tau, Vin! Lo lihat seberapa hancurnya Qila saat ngelihat lo sama Claudia? Lo sebenernya punya hati nggak sih, Vin?"


"Gue nggak punya hati, puas! Buat apa gue baik-baikin semua orang jika di otak mereka gue adalah orang yang nggak punya hati! Gue tau gimana perasaan Lion, tapi bukankah itu bagus buat Lion bisa move on dari Claudia? Dan tentang perasaan Qila, iya, gue tau. Tapi sama sekali gue nggak perduli. Gue nggak perduli sama perasaan Qila! Dia boleh pergi dari hadapan gue, karna itu yang dia mau, paham!"


Mendengar itu jeki hanya bisa membuang nafasnya kasar. Tak mudah baginya untuk berbicara dengan Levin yang keras kepala ini.


"Jadi itu, alasan lo ngelakuin semua ini? Lo marah karna Qila nyuruh lo pergi?"


"Jangan sok tau lo!"


"Tapi cara lo salah, Vin. Disini lo nggak cuman nyakitin perasaan Qila, tapi lo juga nyakitin perasaan Lion. Dan secara tak langsung lo juga nyakitin perasaan Aca sama Anjas."


"Salah gue dimana? Gue cuman melarang Qila buat deket sama Anjas, itu aja. Tapi Qila malah nyuruh gue pergi, dan oke! Sekarang gue pergi, dan nggak bakalan ganggu kehidupan dia lagi. Jadi apa itu salah? Apa salah gue ngelakuin apa yang dia katakan?"


"Tapi beri gue satu alasan, kenapa lo ngelarang Qila bareng Anjas?"


"Gue nggak suka!"


"Berarti lo cemburu? Dan secara garis besarnya lo suka sama Qila."


"Gue nggak suka sama Qila! Denger itu baik-baik. Gue cuman nggak suka dia bareng Anjas, itu aja."

__ADS_1


"Lo bener-bener keras kepala, Vin. Gue nggak bisa ngelakuin apa-apa buat bantuin lo, ini tentang perasaan lo, dan lo sendirilah yang tau persis kepada siapa hati lo akan berlabuh. Pada Qila, atau Claudia. Sebaiknya lo pikir itu baik-baik."


Levin hanya diam tak membalas ucapa Jeki.


"Tapi gue cuman mau bilang. Terkadang, yang istimewa itu akan mampu terkalahkan oleh orang yang selalu ada. Anjas adalah orang itu. Gue tau, dari gelagatnya Anjas suka sama Qila, meskipun Qila belum sadar itu. Dan lo tau? Meski pun lo adalah orang yang istimewa dalam hati Qila, tapi tak menutup kemungkinan lo akan terhapus oleh orang yang selalu ada buat Qila. Jadi lo pikir itu baik-baik."


Mendengar itu, seketika Levin terpaku. Ia tak mampu menjawab apapun. Hanya diam dengan segala bisunya.


"Sebaiknya malam ini lo tidur di rumah gue dulu. Gue mau mandi, kalo butuh apa-apa langsung panggil bibi aja."


Dijawab Levin dengan sedikit mengangguk.


***


Pagi ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian akhir semester, tampak Qila dan Aca tengah memasuki ruangan ujian. Mereka melaksanakan ujian dengan semestinya. Selama beberapa jam pelaksanaan ujian, akhirnya ujian selesai. Semua mahasiswa sudah keluar dari ruangan tersebut dan tentunya diikuti oleh Qila dan Aca. Mereka keluar ruangan menuju tempat parkiran, tampak disana sudah berdiri Anjas yang masih setia menunggu Qila. Sedangkan Aca berjalan menghampiri Jeki setelah berpamitan dengan Qila.


Anjas menancapkan gas motornya membelah jalanan kota. Karna hari ini merupakan hari terakhir ujian semester, Anjas mengajak Qila untuk berkeliling sebentar, dan hal itu tentunya disetujui oleh Qila.


Anjas menghentikan mobilnya tepat di sebuah transmart ternama yang ada di kota itu. Lalu mereka masuk.


"Ngapain kita kesini?" tanya Qila di tengah perjalanan mereka.


Mendengar itu Anjas menghentikan langkahnya, lalu menghadap ke arah Qila.


Lalu Anjas langsung menarik tangan Qila kesebuah wahana Game Zone. Anjas memulai bermain capitan boneka. Sudah beberapa kali Anjas mencoba mengambil bonekanya, namun selalu gagal, dan hal itu mengundang tawa dari wajah tirus Qila. Karna tidak dapat boneka, lalu Anjas membawa Qila menuju wahana basket, dance revolution, mesin ding dong, sampai akhirnya mereka bermain di wahana Roller Coaster mini. Awalnya Qila tidak mau, namun karna mendapat paksaan dari Anjas, akhirnya mau tidak mau mereka menaiki wahana yang cukup menantang bagi Qila.


Sudah puas bermain, lalu mereka memilih untuk membeli permen kapas. Hari ini Qila tak henti hentinya dibuat tertawa akan sikap Anjas selama bermain tadi, senyum kebahagiaan merekah indah pada wajahnya.


Setelah membeli permen kapas, mereka berhenti untuk duduk di sebuah bangku yang ada di dalam transmart tersebut untuk melepas penat.


Mereka duduk dengan permen kapas yang masih ada di tangan mereka masing-masing. Anjas melihat kearah Qila yang sudah tampak berkeringat dengan asiknya memakan permen kapas yang ada di tangannya, seperti anak kecil. Tak sengaja ujung bibir Anjas ikut terangkat saat melihat senyum yang masih melekat di wajah Qila. Ini yang ia inginkan.


Qila yang menyadari Anjas terus melihatnya, lalu dengan jahilnya ia mencubit permen kapas milik Anjas, hingga Anjas sedikit kaget. Melihat itu, Anjas pun ikut mencubit permen kapas milik Qila hingga berakhir dengan tawa yang bergema diantara keduanya. Bahkan pengunjungpun hanya melihat heran pada kedua remaja tersebut.


"Tuh, karna bang An cubit, permen kapas Qila tinggal dikit, kan, " ucap Qila sembari memanyunkan bibirnya.


Anjas terkekeh melihat ekspresi Qila yang begitu lucu.


"Haha ... kamu kok lucu banget, sih! Pengen cubit, deh." Mencubit hidung Qila gemas.


"Bang An! Jangan cubit cubit, sakit, tau!"


"Ya udah, ya udah. Bang An minta maaf, oke. Jangan ngambek gitu, ntar bang An makin sayang."

__ADS_1


"Hah?"


"Eh, mm ... itu ... Eh-kita beli es crim aja, yuk! Anggap aja sebagai ganti karna bang An udah ngambil permen kapas punya Qila, gimana?" ucap Anjas mengalihkan pembicaraan, karna sudah keceplosan pada Qila.


"Ya udah, ayuk!" jawab Qila antusias.


Lalu Anjas membawa Qila masuk kedalam salah satu area makanan food-court yang ada di dalam transmart tersebut.


"Bukannya beli es criem? Ngapain kesini?"


"Es Criem juga, tapi sebelum makan es criem ada baiknya Qila makan dulu. Kan dari tadi Qila belum makan."


"Ck-nggak adil! Tadi katanya beli es criem."


"Udah, janga marah gitu. Duduk sini," ucap Anjas sembari menarik bangku kosong untuk Qila duduki.


Akhirnya mereka makan di tempat itu dengan beberapa makanan yang sudah terhidang. Setelah makan, Anjas berencana ingin pulang, namun Qila malah mengajak Anjas untuk menonton di bioskop terlebih dahulu, dan hal itu disetujui oleh Anjas.


Karna keasikan menonton, Qila dan Anjas sampai tak sadar bahwa hari sudah larut. Mereka akhirnya keluar dan memilih untuk pulang. Saat ditengah perjalanan.


"Bang An, tunggu!" ucap Qila tiba-tiba yang menghentikan langkah Anjas.


"Iya?"


"Tadi katanya beli es criem ...."


"Masih mau?"


Dan di jawab anggukan oleh Qila.


"Ya udah, Qila tunggu disini dulu. Biar bang An yang beliin, ya."


"Oke!" Sambil tersenyum senang. Setelah Anjas pergi, Qila memilih untuk duduk sejenak sembari menunggu kedatangan Anjas. Qila memainkan ponselnya agar tidak terasa bosan, sampai akhirnya suara seorang laki-laki memecahkan kegiatannya.


"Qila?" Tampak laki-laki itu sedikit kaget saat menyebut nama Qila. Mendengar namanya di panggil, sontak Qila mendongakkan wajahnya menghadap kesumber suara.


Qila sedikit tersentak saat melihat siapa lelaki itu. Lelaki yang pernah menjadi cowok brengsek dalam hidupnya. Melihat itu Qila hanya berdecak malas sembari berdiri untuk melangkah pergi, namun dengan cepat lelaki itu menahan tangan Qila hingga langkah Qila terhenti.


"Lepasin tangan gue!" bentak Qila sembari melihat tajam kearah lelaki tersebut.


"Lo beneran Qila, kan?"


Happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2