
Hari ini Qila berangkat pagi sekitar jam sepuluh, sesuai dengan jadwal kuliahnya. Setelah selesai sarapan, Qila keluar rumah dan ingin memesan ojol. Namun saat sampai di depan ....
"Hai Qila ...." ucap seorang gadis yang berdiri di samping mobil, dan tak lain adalah Aca.
"Kamu ngapain di sini?"
"Jemput kamu lah. Ayok! Kita berangkat."
"Berasa punya supir pribadi," ucap Qila dengan sedikit tersenyum.
"Anggap aja gitu," jawab Aca tertawa kecil sambil masuk kedalam mobil. Lalu di ikuti oleh Qila.
Saat mereka sampai. Aca memarkirkan mobilnya sejajar dengan mobil mahasiswa lainnya, lalu mereka masuk ke kelas dengan sedikit obrolan canggung. Karna bagi Aca, Qila adalah tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara, jadi dia harus super hebat untuk mencari topik obrolan mereka. Jika tidak! Maka hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Meskipun baru kenal dengan Qila, Aca merasa Qila adalah orang yang baik, meskipun sedikit cuek.
Dan saat mereka sampai di dalam kelas ,mereka mengambil tempat duduk nomor dua. Lalu menunggu dosen.
"Eh Qila, gue mau ngomong serius nih."
Mendengar itu, Qila langsung melihat ke arah Aca untuk menyimak, kemudian mengangkat kedua alisnya seperti sebuah pertanyaan, 'Kenapa?'
"Mm ... lo sebenernya betah nggak sih, tinggal di kontrakan itu?"
"Kenapa?" tanya Qila lagi. Karna jujur saja, Qila merasa tidak nyaman dengan kontrakan itu, karna sangat sepi. Bahkan ketika malam hari, Qila sering mendengar suara suara aneh. Namun Qila tidak mau ambil pusing, karna memang tidak ada pilihan lain.
"Ya nggak papa sih. Cuman lo nggak mau pindah gitu?"
"Mm ... nggak punya pilihan lain."
Dan Aca tampak mengangguk sambil memikirkan kata yang tepat untuk mengutarakan maksudnya, agar Qila tidak tersinggung.
"Qila ...."
"Hm."
"Lo mau nggak, tinggal di rumah Tante gue?"
"Hah?"
"Lo mau nggak, tinggal dirumah Tante gue?" tanya Aca lagi.
Mendengar itu, Qila tersenyum singkat, lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah."
"Kenapa?"
"Ngerepotin."
"Tapi serius deh. Ini permintaan dari Tante gue ... Dan katanya dia juga nggak keberatan kalo lo tinggal bareng. Malah Tante seneng. Biar rame katanya."
"Makasih. Tapi gue nggak bisa."
"Mm oke ... tapi gue harap lo pikir-pikir dulu ya. Gue cuman khawatir aja sama lo. Karna kontrakan lo kayaknya sepi banget, apa lagi lo cewek, sendiri lagi. Jadi lo pikir-pikir dulu ya. Dan ini juga nggak punya maksud apa-apa kok. Anggap aja tanda terima kasih, karna lo udah bantuin gue, dan lo juga udah mau temenan sama gue."
Dan Qila tampak diam sejenak lalu sedikit mengangguk.
"Ntar gue pikir lagi."
"Oke," balas Aca sambil mengangkat tangannya, lalu melipat jari telunjuk dan jempol nya berbentuk huruf O.
"PERHATIAN SEBENTAR ...!" sahut seorang laki-laki yang memecahkan obrolan Qila dan Aca, yang sedang berdiri di depan kelas, dan tak lain adalah ketua kelas mereka. Mendengar itu, para Mahasiswa/i lantas melihat kearah sumber suara.
"Ada apa ya, Qila?" tanya Aca sambil melihat ke arah Qila.
Dan dijawab Qila dengan mengangkat kedua bahunya, sambil sedikit menggeleng.
"Ada apa ketua? " sahut Mahasiswa lainnya.
"Okee, terimakasih atas perhatiannya. Gue punya kabar baik buat kita semua. Bahwa mata kuliah pertama dosennya nggak bisa masuk. Katanya Bapak ada kepentingan, jadi Bapak nggak bisa datang. Dan insyaallah akan dilanjutkan minggu depan," jelas ketua.
__ADS_1
"Yuhuu ... nongkrong kita .... " sorak Mahasiswa/i dengan heboh.
"Tapi untuk mata kuliah kedua, kita masuk lagi,"sambung ketua.
"Yaaaah ...." lirih Mahasiswa/i yang kecewa.
Melihat tingkah Mahasiswa di kelasnya, Qila benar-benar tak habis pikir.
'Masuk di kampus elit, dengan biaya yang super waah, cuman buat nongkrong aja? Dasar orang kaya,' ucap batin Qila. Lalu Qila memilih untuk keluar kelas sambil menunggu jam perkuliahan kedua. Dan hal itu langsung di ikuti oleh Aca.
"Lo mau kemana Qila?" tanya Aca sambil menyeimbangkan langkahnya bersama Qila.
"Ke Perpus," jawab Qila sambil melihat ke arah Aca sekilas.
"Gue ikut lo ya ...."
Dan di jawab anggukan oleh Qila.
Namun belum sempat mereka masuk ke dalam perpus. Tiba-tiba langkah Qila terhenti.
"Ada apa?" tanya Aca.
Qila tampak diam sejenak.
"Mm ... lo duluan aja, ntar gue nyusul."
"Emang lo mau kemana?"
"Gue ada kerjaan bentar," ucap Qila lalu melangkah pergi.
"JANGAN LAMA-LAMA ...." sahut Aca dari jauh.
Dan Qila hanya diam sambil melanjutkan langkahnya mencari seseorang. Berharap bahwa dia akan dapat menemukan orang itu, meskipun kampus ini cukup besar. Tapi setidaknya waktu dua jam cukup bagi Qila untuk mencarinya. Yaa ... meskipun tidak tau dimana.
Dan saat Qila berada di lorong kampus. Tiba-tiba Qila mendengar suara keramaian, dan lantas Qila mencari arah suara itu. Namun, belum sempat Qila menemukan titik keramaian itu, tiba tiba seorang lelaki berlari dari arah suara sambil melihat ke arah belakang. Seperti takut seseorang akan menemukannya.
Dan dengan keringat yang bercucuran, laki-laki itu berhenti tepat di depan Qila dengan nafas yang terengah-engah, sambil membungkuk kan badannya. Menumpukan kedua tangan pada lututnya sembari mengatur nafas. Melihat itu Qila terdiam dan mematung. Sedangkan laki-laki itu tidak menyadari keberadaan Qila.
Deg ....
Lagi dan lagi, jantung Qila berdetak begitu hebat saat mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Levin. Dan dengan cepat Qila membuang mukanya. Namun tiba-tiba Levin menarik tangan Qila, dan langsung membawa Qila berlari menjauhi kerumunan sambil terus memegang tangan Qila.
Qila yang masih dengan perasaan yang entah apa, hanya mengikuti langkah cepat Levin dengan gontai, dan terengah engah tampa tau kemana mereka akan berhenti.
Levin menarik Qila menuju kesamping, tepat di belakang tangga. Levin menyenderkan tubuh Qila pada dinding, lalu di kunci oleh sebelah tangannya. Bahkan Levin seperti sedang bersembunyi.
Dengan nafas yang terengah, Qila mematung saat wajahnya tepat berada sejengkal di depan Levin. Qila melihat wajah levin yang dipenuhi keringat. Tetapi malah menambah ketampanannya bagi Qila.
'Aahh, apaan ini!' bentak batin Qila. Dan dengan cepat Qila mendorong tubuh Levin untuk menjauh. Namun karna kekuatan Levin yang jauh lebih kuat, menahan Qila hingga ia tersandar di dinding lalu menutup mulut Qila menggunakan tangannya. Melihat itu spontan Qila memberontak.
"Sstt ... BISA DIEM NGGAK SIH!" bentak Levin sedikit berbisik, dengan tangan yang masih menutup mulut Qila. Dan tak lama terdengar suara keramaian dari arah depan tangga.
"Kemana ya?"
"Yaah ... kita kehilangan jejak lagi."
"Trus mau nyari dimana nih?"
"Nggak tau gue ...."
Suara itu terdengar jelas di telinga Qila. Satu hal yang dapat Qila tebak, bahwa Levin lari dari kejaran Mahasiswi baru di kampus. Qila tidak tau harus apa, berusaha kaburpun rasanya tidak mungkin. Belum lagi jantung Qila yang terus berdetak hingga dua kali lebih cepat, dan dengan keadaan lelah karna habis berlari. Namun ... satu hal yang dapat Qila lakukan. Memberontak! Agar orang-orang dapat mendengarnya.
"Mmm ...!! Mmm ....!!" Bentak Qila, karna mulutnya masih ditutup.
"GUE BILANG DIEM!!" bentak Levin sedikit berbisik, sambil terus memegang Qila. Namun Qila malah semakin memberontak.
"OKE OKE! Gue bakalan lepasin lo ... tapi dengan syarat, lo harus bilang sama mereka kalo lo nggak ketemu sama gue, PAHAM!" bisik Levin lagi dengan sedikit membentak. Lalu melepaskan tangannya pada mulut Qila, dan mendorong Qila kedepan.
"Ck-apaan sih? Nggak harus dorong juga!" ucap Qila samar sambil melihat ke arah Levin.
__ADS_1
Sedangkan Levin hanya melihat tajam ke arah Qila, seperti sedang mengatakan sesuatu, tapi entah apa. Bahkan matanya lebih tajam dari mata elang, pikir Qila. Melihat itu, Qila langsung kedepan, arah keramaian.
"Ehem."
Mendengar suara itu, lantas semua Mahasiswi melihat ke arah Qila. Dan Qila ... sangat malas saat menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Ada yang salah?" tanya Qila datar.
"Oohh, nggak kok. Lo lihat cowok lewat sini nggak?" tanya salah satu dari mereka.
"Cowok banyak."
"Emm ... maksud kita orang nya itu, ganteng, putih, hidungnya mancung, dan ...."
"Levin Pernandes?" tanya Qila memutuskan ucapan mereka.
"Iya-iya, itu ... lo tau nggak dia dimana?"
Qila tampak diam sejenak.
"Tuh ... di belakang," ucap Qila sambil mendongakkan wajahnya kebelakang tangga.
Dan serentak semua Mahasiswi melihat ke arah yang ditunjuk Qila. Namun belum sempat mereka melangkah tiba-tiba Levin langsung keluar dari belakang tangga, dan berlari menjauhi mereka sambil melihat ke arah Qila dengan tatapan yang mematikan. Melihat itu, para Mahasiswi kembali mengejar Levin.
"MAKASIH ...." sahut mereka dari jauh pada Qila.
Dan melihat itu Qila tampak tersenyum.
"Hal konyol yang pernah gue lihat," ucap Qila sambil melangkah pergi.
****
"Kenapa lo?" tanya Aca pada Qila, yang tampak berkeringat saat masuk kedalam Perpustakaan.
"Hm? Nggak papa," jawab Qila.
"Nggak papa? tapi kayaknya ada apa-apa," ucap Aca mengintimidasi.
"Nggak penting juga."
"Huh ... terserah lo deh. Eh Qila, lo harus tau, tadi tu ada adegan yang super bucin banget deh pokoknya. Lucu habis sumpah."
Dan dibalas Qila dengan mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Lo tau nggak sih? Tadi itu, para Mahasiswi baru ngejer-ngejer cowok ganteng tau nggak. Bahkan cowok yang dikejer aja sampe capek banget kayaknya. Kasian gue liatnya. Haha ... kayak rentenir nagih utang," ucap Aca sambil tertawa.
Mendengar itu Qila tampak diam.
'Apa yang Aca maksud, Bang Evin tadi ya?' batin Qila.
"Woi!" sahut Aca sambil memegang bahu Qila, hingga membuat Qila sedikit kaget.
"Kok malah bengong sih? Gimana kerjaan lo tadi, udah selesai belum?" sambung Aca.
Mendengar itu Qila tiba-tiba kaget.
"Ya ampun! Gue lupa."
"Hah? Lupa? Kok bisa sih?"
Dan Qila hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala
'Aduh ... mati gue! Dasar bodoh! Lo kan mau ngasih jaket Qila. Kok bisa lupa sih? Ini pasti gara-gara jantung gue tadi. Aahh, sial!!' umpat batin Qila.
"Yaah ... dia bengong lagi," ucap Aca yang memecahkan lamunan Qila.
"Hah, apa?" tanya Qila dengan sedikit bingung.
"Nggak jadi. Udah ayo kita ke kelas, mata kuliah kedua udah mau masuk nih."
__ADS_1
"Hm."
Happy reading😘😘