Dear My Self

Dear My Self
BAB 34


__ADS_3

"Qila belajar di rumah aja. Soalnya Qila lagi capek banget, nggak enak badan," sambung Qila dengan suara yang semakin getar. Ia sedang berusaha menyembunyikan air matanya. Agar ia terlihat lebih kuat!


"Lo yakin?" tanya Anjas kembali memastikan.


Di jawab Qila dengan mengangguk kuat sembari mengangkat ujung bibirnya yang terasa begitu berat, bahkan meski hanya untuk mengambarkan sebuah senyuman.


"Perlu bang An anter?"


"Nggak usah, Qila sendiri aja."


"Lo mau naik apa, Qila? Mendingan bang An anterin lo bentar," ucap Aca prihatin.


"Nggak usah, gue naik taxi online aja, soalnya gue mau beli buku bentar. Gue duluan ya." Lalu Qila berdiri, kemudian pergi dari kumpulan remaja itu tampa berniat untuk menatap Levin meski hanya sekilas. Sebab mungkin hal itu hanya bisa menyakitkan nantinya.


Melihat Qila yang pergi, kembali kaku keadaan enam remaja tersebut. Mereka masih diam membisu, tak ada yang membuka suara untuk beberapa menit. Semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Gue juga lagi nggak mood. Bang Jek, anterin Aca pulang, yuk! Gerah lama lama duduk disini," ucap Aca.


"Tapi kan ...."


"Kalo bang Jek nggak mau, Aca sendiri aja!" Berdiri lalu pergi dengan kesal.


"Eh, maaf ya, kayaknya hari ini gue nggak bisa ikut. Gue mau anterin Aca dulu. Kita duluan." Lalu Jeki ikut pergi menghampiri Aca.


Melihat itu Levin hanya membuang mukanya kesamping dengan tatapan datar yang tak terbaca.


"Huuffhh ... jadi gimana? Semua orang udah pada pulang, tetep mau dilanjutin?" tanya Anjas.


"Mm ... gue pikir nggak usah lah An, mungkin kita belajar di rumah masing masing aja," jawab Lion yang juga sedang berusaha kuat.


"Kalo gitu gue pergi," ucap Levin datar lalu pergi dari hadapan mereka, dan hal itu sontak diikuti oleh Claudia.


Pelajaran mereka diakhiri dengan semua perasaan yang entah berantah. Tatapan tak suka, dan kesedihan massal tergambar jelas diantara mereka.


Dengan Lion yang masih menyukai Claudia, dengan perasaan Qila yang terus dijungkir balikkan oleh Levin, anjas yang selalu berusaha melindungi Qila, sedangkan Aca yang khawatir dengan sahabatnya, dan Jeki yang berusaha menyeimbangkan sikapnya. Semua begitu rumit. Cinta begitu rumit. Entah pembodohan semacam apa ini!


***


Di tempat lain, Qila sudah menaiki taxi online yang ia pesan. Bersamaan suara deru mobil yang memecahkan jalanan kota, air mata Qila kembali tumpah. Ia kembali menangis bersama bayangan Levin dan Claudia yang masih tergambar jelas pada otaknya. Ini begitu menyakitkan! Harus Qila bawa kemana perasaan yang sudah terlanjur mekar ini? Mengapa dengan Levin? Apa maksudnya? Begitu mudah ia menjauhi Qila setelah semua sikap manis yang ia tinggalkan? Begitu mudahnya ia buat Qila terbang begitu tinggi, dan dengan mudah pula ia benturkan pada bumi.


Puas rasanya diri ingin melupakan, namun hati sepertinya masih ingin terus disakiti.


Setelah membayar taxi, Qila bergegas masuk ke dalam rumah. Tak lupa dengan air mata yang ia coba hapuskan, namun sepertinya itu bukan hal yang berhasil, karna nyatanya air mata Qila tak bisa berhenti. Ia keluar dengan begitu bebas.


"Qila? Kamu kenapa, Nak?" Tampa Qila duga pula, ternyata Widia sedang berada di rumah. Alhasil, Widia menjadi khawatir karna melihat air mata Qila yang terus luruh saat perjalanan menuju kamarnya.


Mendengar suara Widia, Qila berhenti seketika sembari terus menundukkan wajahnya, ia tak ingin Widia melihat matanya.


"Kamu kenapa, sayang? Apa ada yang menyakitimu? Cerita sama Tante," ucap Widia lagi sambil berada di hadapan Qila, lalu menatap wajah Qila lekat.

__ADS_1


Qila menggeleng kuat.


"Nggak kok, Tan, Qila cuma .... lagi sakit mata aja."


Mendengar jawaban itu, Widia tampak diam sejenak, lalu menghela nafas pelan.


"Ya udah, ayo! Tante antar kamu ke kamar." Memegang kedua bahu Qila, lalu mereka masuk ke dalam kamar Qila. Widia membawa Qila duduk di bibir ranjang pink muda milik Qila.


"Kamu kenapa ...? Kalo kamu punya masalah berat, cerita aja sama Tante," ucap Widia sambil menggenggam kedua tangan Qila.


"Nggak papa kok, Tan, Qila baik-baik aja."


"Apa karna Evin lagi? "


Pertanyaan Widia membuat Qila sedikit kaget. Bagaimana Widia bisa menebaknya dengan semudah itu? Lalu ia menatap wajah Widia yang ternyata juga sedang menatapnya.


"Aca udah ceritain semuanya sama Tante. Tante seneng kamu adalah orang yang udah merubah Levin 180 derajat. Sekarang dia mau mewarisi perusahaan Om, dan Tante lihat sekarang dia juga lebih rajin. Hanya saja keras kepala dan angkuhnya tidak dapat di hilangkan."


Qila masih diam.


"Tante juga seneng jika Qila adalah orang yang berada di samping Evin. Dan Tante yakin, kalo Qila adalah orang yang mampu mereda keangkuhan Evin."


Mendengar penuturan itu seketika Qila tertawa hambar.


"Qila tidak bisa Tante, karna Qila bukan siapa siapa jika harus bareng bang Evin, Qila nggak pantas buat bang Evin dibandingkan Claudia."


Widia tampak menautkan kedua alisnya bingung.


"Iya ...."


"Tapi setau Tante, selama ini Evin sangat benci dengan Claudia. Pernah dulu, satu malam kita makan malam keluarga besar, nah kebetulan juga ada Claudia. Pas Evin ngeliat Claudia ada, Levin langsung pergi. Katanya mood makannya udah hilang setelah lihat cewek genit. Tapi kok ini dia bisa deket sama Claudia lagi?"


"Mungkin aja saat itu mereka lagi ada masalah pribadi."


"Nggak, nggak. Tante yakin kok, kalo Evin itu bener-bener nggak suka sama Claudia. Mm ... Apa sebelumnya Qila ngomong sesuatu, sama Evin?"


Mendengar pertanyaan itu Qila tampak terdiam. Memang iya, sebelum Levin bersama Claudia, Qila sempat menyuruh Levin untuk pergi dari kehidupannya.


"Kalo kalian punya masalah, mending selesain dengan cara baik-baik. Tante tau Evin sering bikin Qila nangis, Levin selalu angkuh, dan keras kepala. Tapi Qila ngak boleh nyerah. Qila udah berusaha sejauh ini, masa Qila mau mundur dari Claudia."


"Tapi Qila sama Claudia nggak sebanding Tante. Tante lihat, kan? Qila nggak punya kaki jenjang, Qila nggak sexy, Qila nggak punya dada yang besar, Qila bukan ratu kampus, dan Qila bukan orang kaya raya."


"Tapi cinta nggak selalu didasari dengan semua itu, sayang. Kalo itu adalah dasar kita mencintai seseorang, Tante yakin Qila nggak bakalan suka sama Evin. Lihat, kan? Evin itu keras kepala, angkuh, sukanya nyuruh-nyuruh terus, nggak bisa romantis, nggak bisa lembut. Tapi buktinya Qila suka sama dia, bukan? Jadi intinya, cinta itu bisa datang sama siapa saja. Bahkan tampa dada yang besar atau sexy sekalipun."


"Tapi apa bang Evin suka sama Qila dengan semua kekurangan Qila ini?"


"Buktinya Levin mau bantuin Qila hingga Qila mencapai hasil yang sempurna ini. Buktinya Levin dengan setia membantu Qila jadi sekurus ini. Levin lakuin itu semua karna Levin nggak suka lihat Qila membanding-bandingkan diri Qila dengan orang lain. Jadi secara logikanya, untuk apa dia bela-belain itu semua? Bahkan Tante sendiri belum pernah ngeliat Levin melakukan hal itu pada orang lain. Dan mungkin jawabannya karna dia suka sama Qila."


"Tapi kenapa dia selalu nyakitin Qila?"

__ADS_1


"Tante yakin, bukan maksud Evin buat nyakitin Qila, hanya saja Evin tidak tau bagaimana cara untuk membuat Qila tersenyum. Levin masih terlalu angkuh untuk membuat Qila bahagia. Tapi perlahan pasti dia bisa kok."


Mendengar itu tampak Qila diam sejenak sembari terus menatap Widia lekat.


"Udah ... jangan sedih lagi," sambung Widia sembari memegang sebelah pipi Qila lembut.


"Makasih Tante."


"Iya ... sama sama." Memeluk tubuh mungil Qila.


"Sekarang mendingan Qila mandi, habis itu makan, oke."


"Iya, Tante."


Akhirnya Qila membersihkan dirinya, mencoba membuang jauh-jauh kejadian tadi. Lalu Qila belajar di rumah untuk persiapan ujian besok.


'Hari-hari pahit telah ku jalani. Ada dua rasa yang setia mengiringi langkah hati. Cinta dan Benci! Mengapa kedua itu harus ada? Harusnya tak perlu ada kata cinta, agar tak perlu pula aku menjadi insan selemah ini. Dan agar hanya ada benci yang menyelimuti jiwa saat harus bersamanya. Agar aku tak selalu harus merasakan terbang tinggi, lalu di bentur ke bumi.'


~Aqila Liliana~


***


"Assalamualaikum ... Tante ... Tante ...."


"Waalaikumsalam ... ada apa, Ca? Kok teriak-teriak gitu?" balas Widia sambil menghampiri Aca yang berkeliling di penjuru rumah, seperti sedang mencari seseorang.


"Qila udah pulang belum, Tan?"


"Udah ... dia di kamarnya."


"Aca harus ketemu sama Qila," ucap Aca sembari hendak menaiki anak tangga.


"Aca ...."


"Iya, Tan ...."


"Biarin Qila istirahat dulu ya ... kayaknya dia udah capek."


"Tapi Qila nangis, Ta—"


"Tante tau ...." balas Widia memutuskan ucapan Aca.


"Tapi sekarang biarin dia istirahat dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Jadi mendingan Aca nggak usah gangguin dia dulu, sampai keadaannya stabil lagi, ya ...."


Mendengar itu Aca mengangguk lemah. Tampak wajahnya sedikit kecewa karna tidak bisa bertemu sahabatnya Qila.


"Udah ... Qila pasti baik-baik aja kok. Jadi mendingan kamu mandi, abis itu makan, oke," sambung Widia.


"Huuffh ... ya udah, kalo gitu Aca ke kamar dulu ya, Tan."

__ADS_1


"Iya ...."


Happy reading😘😘


__ADS_2