Dear My Self

Dear My Self
BAB 14


__ADS_3

Setelah keluar dari ruang Direktur, Levin memilih jalan sepi agar Mahasiswi baru tidak dapat menemukannya.


'Setidaknya sebelum besok!' pikir Levin.


Trrt trrt


Suara ponsel Levin terdengar dari dalam saku jaketnya, lalu dengan perasaan yang masih kesal Levin mengangkat telpon.


"Halo!" ucap Levin ketus.


"EHH, LO DIMANA! DITUNGGUIN DARI TADI TAU NGGAK!" sambar sesorang dari sebrang telpon yang tak lain adalah Jeki.


Mendengar itu spontan Levin menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Woii, santai bisa? Kok situ ngegas, sih!"


"Udah cepetan kekantin belakang kampus. Tempat biasa! Kita tunggu ... jangan lama!"


Dan Levin langsung mematikan panggilan sepihak tampa membalas ucapan Jeki.


***


"Eh, kampret! Ngapain lo matiin telpon gue, hah!"


"Terserah gue, hp hp gue ...!" balas Levin ketus sambil duduk besama kedua sahabatnya.


"Udah udah, sekarang ceritain ke kita. Kemana aja lo? Kita udah nunggu dari tadi, tau nggak," ucap Lion lagi.


Levin membuang nafasnya kasar.


"Bener-bener gila sumpah!" balas Levin dengan muka datarnya.


"Gila kenapa?"


"Ya kali ... gue dikejer sampe setengah mati!"


"Hahaha ... rasain lo ... makan tuh akibat terlalu tampan. Emak-emak kompleks aja demen, apa lagi ABG kek gitu, " balas Jeki sambil tertawa.


"Seneng lo ya!"


"Lumayan lah ya ... Eh, tapi kalo lo mau bagi-bagi ketampanan, sini sama gue aja."


"Jangan sok jelek-jelek amet kenapa," ucap Lion pada Jeki.


"Dia mah bukan sok jelek Yon, tapi emang jelek beneran"


"Enak aja! Tadi aja para gadis-gadis minta foto sama gue. Emang kalian nggak liat, hah!"


"Kalo itu mah, kamu aja yang kegatelan," balas Lion lagi.


"Setuju!" sahut Levin lagi.


"Fix, gue emang temen tiri ...." lirih Jeki.


"Udah ah, kalo kek gini nggak bakalan kelar masalahnya," ucap Lion lagi.


"Trus, gimana tadi, Vin?" sambungnya lagi.


"Trus ... pas di jalan tadi, kalian tau, gue ketemu sama siapa?"


"Siapa?" tanya Lion.


"Dosen ...." jawab Jeki.


"Bukan."


"Nyokap?" tebak Lion lagi.


"Bukan."


"Oohh, gue tau ... Direktur," sambung Jeki.


"Ck-iya sih, tapi bukan itu."


"Trus?" tanya Lion.


"Gue ketemu sama cewek aneh!"


"Hah?"


"Siapa?"


"Masa kalian nggak tau."


"Oohh, ya ya ya ... gue tau, gue tau," sambar Lion.


"Siapa?" tanya Jeki pada Lion.


"Dedek gemes."


Dan dibalas Levin dengan membuang muka sambil mengangkat kedua alisnya.


"Bukan gemes!" bantah Levin.


"Tapi serius nih?" tanya Jeki lagi, dengan wajah penasarannya.


"Emang gue pernah bercanda?"


"Kok bisa? Emang dia kuliah di sini? "


"Mana gue tau."


"Emang lo nggak nanya apa gitu, sama dia."


"Nanya apaan, kalian tau ...? Gara-gara tu cewek, gue sampe ketahuan sembunyi!"


"Maksud lo?" tanya Lion tak paham.


Levin membuang mukanya malas, lalu menceritakan semua kejadian tadi kepada kedua sahabatnya, dengan wajah yang sedikit kesal.


"Jadi gitu Pertama kali ada yang selancang itu sama gue! " ucap Levin ketus.


"Serius lo, Vin? " tanya Lion.


"Hahaha ... baru kali ini gue liat ada yang seberani itu sama lo, Vin. Keren juga tu cewek," ucap Jeki sambil tertawa.


"Iya juga ya, Jek. Kok dia nggak meleleh sih, sama Levin? Kalo cewek lain yang Levin gandeng tadi mah, udah pasti kelepek-kelepek sampe ke ubun-ubun dah," ucap Lion lagi.


"Iya tuh. Eh, Vin, kenalin ke kita dong ...."


"Lo kalo tentang cewek aja, cepetnya kayak Lorenzo," sambar Lion.


"Kalo nggak tentang cewek?" tanya Levin.

__ADS_1


"Lambatnya kayak KEONG RACUN!"


"Emang keong racun dia, Yon "


"Gue lagi ... gue lagi ... Gue serius ini woi."


"Kalo lo mau kenalan, kenalan aja sendiri. Kenapa bilang sama gue!" ucap Levin ketus.


"Ya mana tau lo cemburu ...."


"OGAH!!"


"Jadi gimana?" tanya Lion.


"Apanya?" balas Levin.


"Apa yang bakal lo lakuin sama tu cewek?"


"Belum tau gue."


"Langsung tembak aja Vin, biar nggak jomblo lagi lo."


"Diem lo! Kalo masih ribut, gue jadiin makanan buaya lo, mau!" bentak Lion yang geram dengan sikap Jeki.


"Buaya kok makan buaya. Mau gue keluarin dari kampus bokap hah!"


"Becanda gue, Vin, suer dah. Galak amet, sih."


"Bikin darah tinggi aja lo," balas Lion.


"Trus?" sambung Lion lagi.


"Yaaa, pokoknya gue pastiin dia nggak bakal lepas gitu aja. Dia salah karna udah berurusan sama gue!" jawab Levin.


"Sabar Broo ...." ucap Jeki sambil menenangkan sahabatnya.


****


"Ahh, capek banget gue ...." ucap Levin sambil menidurkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.


"Gila ya! Berani banget tu cewek. Nggak tau apa, gue yang bantuin dia pas dibuli kemaren. Tapi ... awas aja dia," ucap Levin sambil tersenyum penuh arti.


Tok tok


"Bang ... Ina boleh masuk nggak?" sahut Lina, adik Levin dari arah pintu.


"Hm."


Lalu Lina membuka pintu kamar Levin perlahan, kemudian tersenyum ke arah Levin yang masih tiduran di atas ranjang.


"Kenapa?" tanya Levin datar tampa melihat ke arah Lina.


"Mm ... Ina minta tolong dong, Bang ...." bujuk Lina.


"Tolong apaan?"


"Bantuin Ina ngerjain PR, ya ...."


"Lo minta bantu sama gue?" tanya Levin sambil duduk, lalu menatap Lina.


"Ya iya lah, masa minta bantu sama dinding!"


"Ina ... Ina ... Lo pikir, Abang lo ini pinter-pinter amet, hah! Lo aja yang pinter nggak tau, apa lagi gue."


"Ck-tugas gue aja nggak gue kerjain, apa lagi pake ngerjain tugas lo," ucap Levin lalu kembali berbaring.


"Dasar! Punya Abang kok beg* banget."


"Lo bilang Abang lo apa?"


"Beg*!"


"Adik durhaka lo!"


"Bodo," balas Lina sambil ikut berbaring di samping Abangnya.


"Ngapain lo tidur sini? Keluar sana!"


"Ya elah ... sombong banget, sih! Sama Adik sendiri juga."


"Terserah gue."


"Eh Bang, Ina mau tanya dong."


"Apa?"


"Bang Evin pernah suka sama cewek nggak, sih?"


"Kenapa?"


"Ya nggak papa ... tapi kata Mama, Mama takut kalo Bang Evin nggak normal. Soalnya Bang Evin nggak pernah bawa pacarnya ke rumah, trus ketus lagi sama cewek," ucap Lina polos.


"Mama bilang gitu?"


"Iya ... dan Ina juga mulai berpikir kayak gitu."


"Hah! Lo bilang gue nggak normal?"


"Iya ...."


Mendengar itu, terbesit di otak Levin untuk mengerjai Adiknya.


"Emang lo normal?"


"Hah?"


"Lo pernah suka sama cowok nggak?"


"Iihh, bang Evin apaan, sih! Ina kan masih sekolah."


"Nah ... berarti Ina juga nggak normal."


"Kok gitu?"


"Ya kan, Ina juga nggak pernah suka sama cowok."


"Itu beda. Kalo Ina mah masih sekolah. Tapi kalo Abangkan udah gede ...." elak Lina.


"Emang Mama bilang, kalo orang yang nggak normal itu tergantung gede atau nggak?"


Lina tampak berpikir.


"Nggak, kan?" sambung Levin.

__ADS_1


Dan dibalas Lina dengan menggelengkan kepalanya.


"Nah ... berarti Ina juga nggak normal."


"Iya juga ya ...." balas Lina polos.


"Ina mau nanya sama Mama dulu deh," ucap Lina, lalu langsung melangkah keluar dari kamar Levin.


"Itu polos atau bodoh, sih?"


***


Hari ini Qila datang ke kampus karna mendapat telpon dari salah satu dosen, bahwa Direktur menyuruh Qila untuk ke ruangannya hari ini. Dengan malas Qila berangkat ke kampus, karna sebenarnya hari ini Qila tidak ada jadwal kuliah.


Tok tok tok


Qila mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan Direktur.


"Masuk," sahut seseorang dari dalam.


Saat Qila masuk satu hal yang dapat Qila tangkap.


'Kenapa rame?' Yaa, karna saat Qila masuk, ruangan Direktur sudah dipenuhi para Mahasiswi sekitar 15 sampai 20 orang, dan sepertinya Qila pernah melihat para gadis itu.


'Mereka kan cewek yang ngejer bang Evin kemaren,' ucap batin Qila lagi.


"Maaf, apa Bapak manggil saya?" tanya Qila sopan.


"Iya."


"Ada apa ya, Pak."


"Apa ini kamu?" tanya Direktur sambil memperlihatkan sebuah video rekaman CCTV dari laptopnya.


"Iya Pak," jawab Qila jujur.


Karna memang di dalam video itu, terdapat Qila yang sedang berbicara dengan para kerumunan Mahasiswi yang mengejar Levin kemaren.


"Baiklah ... kalo begitu kamu juga akan dihukum bersama mereka," jelas Direktur sambil menunjuk kearah para Mahasiswi lainnya.


"Salah saya apa ya, Pak?" tanya Qila tak paham.


"Salah kamu karna udah berani mengejar Levin Pernandes kemaren."


"Hah? Tapi saya nggak ikut ngejer kok Pak. Kalo di video itu emang kebetulan saya ketemu sama mereka. Dan itu pun mereka cuman nanya doang kok, sama saya."


"Kamu jelaskan saja sama Levin nanti."


'Emang dia siapa? Sampe Direktur segitunya belain dia,' batin Qila sedikit kesal.


Tak lama masuk lah seorang lelaki bersama kedua sahabatnya yang tak lain adalah  Levin, Lion dan Jeki, yang memecahkan lamunan seisi ruangan. Namun mereka malah langsung menghampiri Direktur di mejanya, tampa berniat melihat kearah Mahasiswi baru, termasuk Qila.


Melihat hal itu Qila tampak mengerutkan dahinya.


'Seberani itu, bang Evin sama Direktur?' batin Qila.


Karna Qila melihat cara Levin berbicara pada Direktur, bahkan tidak menggambarkan percakapan antara Dosen dan Mahasiswa. Tetapi malah seperti atasan kepada asistennya.


"Baik ... apa ini udah semuanya?" tanya Levin pada Direktur sambil mendekati Mahasiswi yang hanya bisa menunduk tak berdaya.


"Kalo kalian masih berani gangguin gue, siap-siap untuk angkat kaki dari kampus elit ini, paham!"


Mendengar itu nyali Mahasiswi menjadi ciut.


'Ah, pantesan aja kakak tinggkat bilang hati-hati kemaren,' bisik salah satu Mahasiswi pada temannya.


Namun Qila dengan santai menyenderkan tubuhnya pada dinding, berdiri di belakang kerumunan, sambil melihat kearah Levin.


"Sudah, cuman ada satu Mahasiswi yang katanya tidak ikut mengejar nak Levin. Tapi di dalam video rekaman CCTV dia tampak berbicara bersama Mahasisiwi lainnya. Jadi gimana menurut nak Levin?"


Mendengar itu Levin tampak mengerutkan dahinya, lalu diam sejenak.


"Yang mana satu?" tanya Levin datar


'Huh! Semoga aja bang Evin nggak balas dendam sama gue,' batin Qila saat Direktur memanggil namanya. Lalu Qila berjalan kedepan mendekati Direktur dan Levin, sedangkan Lion dan Jeki duduk di sofa sambil trus melihat ke arah Qila.


"Nah, yang ini. Namanya Aqila Liliana, Mahasiswi beasiswa di kampus ini. Katanya dia tidak ikut mengejar nak Levin."


Lalu Levin hanya diam sambil tetap fokus menatap manik Qila. Sedikit tersenyum sinis, seperti ... senyum yang penuh arti.


'Emang ya, kalo jodoh nggak kemana. Nggak perlu gue cari, ternyata dia nongol sendiri. Lihat aja lo!' batin Levin.


Entah lah, Qila pun tidak tau apa yang akan Levin lakukan padanya.


'Huhff ... kenapa bang Evin ngeliat gue kek gitu?' batin Qila


"Bagaimana? Apa dia juga ikut mengejar nak Levin?"


Levin tampak diam sejenak.


'Nggak, gue mohoon ....' lirih batin Qila.


"Iya! Dia juga ikut kemaren," ucap Levin tampa memutuskan pandangannya dari mata Qila.


Mendengar itu Qila sontak mendongakkan wajahnya, menatap manik tajam milik Levin.


'Apa-apaan ini! Bukannya dia yang nyeret gue?'


"Baiklah, kalau begitu kalian semua silahkan mengikuti petugas untuk menunjukkan apa saja tugas yang harus kalian kerjakan nanti di toilet."


"Ngapain di toilet, Pak?" tanya salah satu Mahasiswi dengan berani.


"Menurut kalin?"


Lalu mereka hanya diam sambil menunduk.


"Tentu saja mau dihukum! Kalian dihukum membersihkan toilet selama satu bulan."


"Apa?!" Serentak Mahasiswi kaget mendengar hukuman yang mereka terima.


"Kenapa? Apa kalian tidak suka?"


Dan lagi hanya dibalas Mahasiswi dengan menunduk.


"Seharusnya kalian tau kalo Levin ini siapa, supaya nggak terjadi hal seperti ini lagi," jelas Direktur.


'Emang bang Evin siapa, sih?' ucap batin Qila penasaran.


"Sudah sana, kalian lakukan tugas kalian setelah jadwal perkuliahan, dan jangan pernah ada yang main-main. karna kalian akan diawasi!"


"Baik Pak " sahut Mahasiswi dengan malas. Lalu berjalan keluar.


"Tunggu!" tiba-tiba suara Levin membuat mereka berhenti, dan serentak melirik ke arah Levin.

__ADS_1


Happy reading😘😘


__ADS_2