
"Malam Tante." balas Qila sambil tersenyum, lalu menutup pintu kamarnya dan tak lupa untuk menguncinya.
Qila langsung membuka lemari bajunya dengan cepat. Secara minimnya persediaan oksigen yang ada di dalam lemari.
"Bang Evin!" Qila kaget saat melihat Levin sudah tidak sadarkan diri. Qila panik, dan tidak tau harus minta bantuan dengan siapa. Karna tidak mungkin dia meminta bantuan pada seisi rumah ini.
Lalu tampa pikir panjang, Qila mebopoh tubuh Levin menuju ranjang dengan gontai.
"Ternyata cowok berat banget ya," ucap Qila sembari meletakkan Levin di atas ranjangnya dengan pelan. Lalu membenarkan posisinya.
"Huhh ... capek banget." Duduk di tepi ranjang, samping Levin.
"Bang Evin ...." ucap Qila sembari menampar kecil pipi Levin, namun Levin masih tak sadarkan diri. Karna panik, Qila mengambil minyak angin lalu meletakkannya pada hidung Levin. Namun Levin masih tak sadarkan diri.
"Aduh ... gimana ya? Gimana kalo bang Evin mati? Ahh nggak nggak nggak! Jangan ngaco deh. Atau ... gue panggil bibi aja? Tapi gimana kalo Tante sama Om tau?" Qila terus berdebat dengan dirinya sendiri, sambil terus memikirkan cara membangunkan Levin.
Ting!
Satu ide muncul dalam kepala Qila. 'Nafas buatan!'
"Tapi ... Agghh sudah lah. Dari pada bang Evin mati di kamar gue. Mending gue kasih pertolongan pertama aja," ucap Qila mantap. Lalu mendekat ke arah Levin.
Saat berada tepat di depan wajah Levin, jantung Qila kembali berdetak hebat. Bukannya memberi pertolongan, Qila malah menatap wajah Levin lekat. Ada rasa ragu untuk lebih dekat lagi dengan Levin. Namun Qila mencoba memejamkan matanya, membuang jauh segala pikiran buruk, sambil terus mendekatkan wajahnya pada wajah Levin. Mendekat lagi, lebih dekat, dekat, dan ....
"Agghh nggak nggak! Gue nggak bisa ...." lirih Qila sambil menjauhkan wajahnya dari Levin.
"Tapi gimana kalo bang Evin bener bener mati? Aduh pusing gue!"
Qila mencoba mengambil nafasnya perlahan, lalu membuangnya perlahan pula.
"Bismillah. Semoga lo bisa Qila!" ucap Qila tegas.
Lalu Qila kembali memejamkan matanya sembari terus mendekatkan wajahnya pada wajah Levin. Namun saat beberapa senti lagi, Qila kembali diam. Lalu membuka matanya.
"Gue bener bener nggak bisa ...." lirih Qila sambil terus menatap Levin.
"Bodoh banget sih gue!" bentak Qila sambil memukul kepalanya pelan.
"Lama banget, gue keburu mati!" ucap Levin tiba tiba dengan mata yang masih terpejam.
Qila melunjak kaget saat melihat Levin yang sudah sadar. Dan sontak Qila menjauhkan dirinya dari Levin, sambil mengerjap ngerjap kebingungan.
Levin yang melihat tingkah Qila, hanya tersenyum kecil sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
Qila yang melihat Levin yang sedang tersenyum, baru menyadari bahwa Levin sedang mengerjainya.
"Apa anda pura pura pingsan?"
"Lo keliatan lucu kalo lagi malu kayak gitu," ucap Levin sambil tertawa kecil.
"Anda benar-benar menyebalkan ya! Bisa nggak sih, anda berhenti untuk mengerjai saya!" bentak Qila sambil membuang mukanya. Karna merasa malu sendiri.
Melihat rona pada wajah Qila membuat Levin semakin gemas. Lalu menarik tangan Qila hingga Qila terjatuh di atas ranjang tepat di sampingnya. Kemudian memegang Qila.
"Lepasin saya!"
Levin hanya menggeleng.
"Kalo lo pengen ngasih orang lain nafas buatan, jangan lama-lama nunggunya. Ntar orangnya keburu mati. Untung gue cuma pura-pura. Kalo pingsan beneran, udah mati gue lama-lama nunggu nafas buatan dari lo."
Mendengar itu Qila hanya berdecak malas sembari membuang mukanya ke samping.
"Tidurlah, ini udah malam."
"Nggak! Saya nggak akan tidur sebelum anda keluar dari kamar saya."
"Kalo gitu terserah. Gue mau tidur dulu. Capek," balas Levin sembari tidur di samping Qila lalu memeluk tubuh Qila dari samping.
"Lepasin saya dulu!"
"Sstt ... lo bisa diem nggak sih? Lo mau Mama kesini lagi hum?"
Mendengar itu Qila terdiam. Memang benar. Jika Qila terus memberontak, bisa bisa suaranya terdengar oleh orang lain. Jadi mau tidak mau, Qila pun tidur di atas ranjang sambali mengubah posisinya menjadi memunggungi Levin.
__ADS_1
Namun anehnya Qila tidak bisa tidur, karena merasa risih dengan tangan Levin yang masih berada pada pinggangnya. Saat merasa hembusan nafas Levin yang mulai teratur, Qila mengangkat tangan Levin perlahan agar tidak membangunkan si empunya. Namun nyatanya Levin belum tidur, dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Qila.
"Tidurlah, ini udah malam. Besok kita harus ke kampus lagi."
Mendengar itu, Qila hanya diam. Lalu Levin mendekatkan wajahnya pada tengkuk Qila. Cup, Levin mengecup tengkuk Qila sekilas. Qila kembali diam sembari terus mencoba memejamkan matanya.
"Selamat malam," ucap Levin lagi.
Dan tampa Qila sadari kedua ujung bibirnya tertarik ke atas mendengar ucapan Levin. Tersenyum lalu memejamkan matanya.
****
"Huuaam ...." Qila menggeliat saat baru bangun tidur. Diam sejenak, sembari mengumpulkan kesadarannya. Lalu Qila membuka matanya perlahan.
"Cepatan bangun." Tiba tiba suara seorang lelaki membuat Qila melunjak kaget.
"Anda? Ngapain disini?" tanya Qila sembari mengerjap ngerjap kebingungan saat melihat Levin yang sudah berjongkok di samping ranjangnya.
"Apa kau lupa hum? Pelajaran kita dimulai hari ini. Jadi cepat lah bangun, lalu ganti pakaian mu. Jangan malas!"
'Jadi yang semalem bukan mimpi?' batin Qila.
"Tunggu apa lagi?"
Mendengar itu Qila langsung melihat ke arah jam yang ada pada dindingnya.
"Baru jam lima? Sepagi ini?"
"Lo bisa nggak sih, nurut tampa harus banyak nanya? Gue bilang cepetan! Gue tunggu sepuluh menit." Lalu keluar dari kamar Qila.
Mendengar itu, dengan cepat Qila masuk ke kamar mandinya. Lalu mengganti pakaian olah raga yang tidak terlalu minim. Kemudian Qila keluar menuju halaman rumah, dan tampak Levin yang sudah berdiri dengan dua buah sepeda di sampingnya. Lalu Qila mendekati arah Levin perlahan.
"Udah selesai?" tanya Levin dengan mata yang masih fokus pada ponselnya.
"Hm," balas Qila singkat.
"Ya udah, ayok!" ucap Levin lagi sambil menaiki sepeda.
Namun Qila masih diam tak bergerak.
"Pake sepeda?"
"Lo pikir jalan kaki? Gue nggak suka! Jadi mendingan lo cepet, karna gue ada kuliah pagi."
Mendengar itu Qila pun langsung menaiki sepeda yang ada di samping Levin. Lalu mengikuti arah sepeda Levin.
Mereka bersepeda mengelilingi kompleks perumahan elit yang ada disekitar rumah mereka saja. Sepanjang perjalanan hanya kebisuan yang menemani mereka. Qila yang hanya mengikuti arah Levin, tampak sudah terengah dengan keringat yang sudah bercucuran. Bagaiman tidak? Karna mereka sudah mengelilingi kompleks ini selama satu jam lebih.
Levin yang melihat Qila tampak kewalahan, akhirnya memilih berhenti disebuah taman. Lalu duduk di kursi panjang yang ada di taman tersebut.
"Lo tunggu sini bentar, gue beli minum."
Dan dibalas Qila dengan sedikit mengangguk. Kemudian duduk di atas kursi tersebut sambil meluruskan kakinya yang sudah terasa pegal. Tak lama, Levin pun datang dengan dua buah air mineral di tangannya.
"Nih," ucap Levin sembari menyodorkan air mineral di hadapan Qila.
"Makasih," ucap Qila singkat, lalu mengambil air tersebut dari tangan Levin. Kemudian meminumnya.
Saat merasa nafas yang sudah mulai teratur, Qila melihat ke arah Levin yang sedang mencuci muka menggunakan air mineral yang ada di tangannya.
Untuk sejenak Qila terpaku melihat Levin. Dengan rambut yang bercucuran air, menambah nilai plus untuk ketampanannya. Entah kenapa Qila bisa jatuh hati pada lelaki batu ini. Bahkan setiap harinya lelaki ini hanya menambah masalah bagi Qila. Qila terus menatap Levin lekat, hingga tampa Qila sadari, Levin juga sedang melihatnya.
"Apa lo masih belum puas ngeliat gue hum?"
Mendengar itu Qila tersentak, dan sontak langsung membuang mukanya ke samping dengan pipi yang sudah bersemu.
Levin tertawa kecil saat melihat tingkah Qila.
"Kau menggemaskan," ucap Levin sembari mengacak rambut Qila.
Qila hanya diam dan kembali melihat ke arah Levin dengan kebingungan. Mendapatkan perlakuan manis itu, rasanya membuat Qila semakin sulit untuk melupakan Levin.
"Ayo! Kita pulang," ucap Levin sambil berdiri, lalu menaiki sepedanya. Dan hal itu tentu diikuti oleh Qila.
__ADS_1
***
Pagi itu, setelah sampai di kampus. Levin langsung masuk ke dalam kelasnya, sembari mencoba memahami materi yang diberikan oleh Qila selama ini.
"Wiih ... tumben nih, pagi pagi udah belajar," ucap Jeki tiba-tiba yang baru masuk bersama Lion.
"Tau tuh. Kesambet petir kali Jek," sambung Lion lagi.
Mendengar itu, Levin berdecak malas sambil terus melanjutkan kegiatannya, tampa menghiraukan kedua sahabatnya tersebut.
"Kayaknya lagi serius dia Yon."
"Lo baca dari tadi, emang paham Vin?" tanya Lion sambil duduk.
Levin mengangkat kedua bahunya, lalu melihat ke arah Lion.
"Sebenernya sih nggak. Cuman, ntar tinggal gue tanya aja sama Qila."
"Makin serius kayaknya nih," goda Jeki.
"Ck-ini juga sesuai perjanjian bodo!" sangkal Levin.
Ditengah obrolan mereka. Tiba-tiba dosen masuk, hingga menghentikan percakapan antara mereka.
Setelah pelajaran selesai, Levin dan ke dua sahabatnya memilih untuk keluar dari kelas. Lalu sesuai permintaan Levin, mereka menghampiri kelas Qila untuk menggantikan pelajaran yang sempat ditunda semalam. Dan hal itu tentu saja disetujui oleh Jeki dengan cepat. Karna sebenarnya Jeki juga ingin melihat Aca.
"Eh, bang jomblo ngapain ke sini?" tanya Aca pada ketiga lelaki tersebut.
"Kita mau nganterin Evin ketemu sama Qila, Ca," jawab Jeki antusias.
"Ouh ... emang ada masalah apa nih?" tanya Aca meminta penjelasan dari Jeki. Namun Jeki malah menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau. Begitupun dengan Lion.
"Mau ngajarin les," jawab Qila.
"Ooh, gitu ... kita ikut boleh nggak nih?"
"Boleh," jawab Qila dengan cepat.
Mendengar jawaban Qila, Levin berdecak malas sembari membuang mukanya ke samping.
"Yeeyy ... kita belajar bareng ...."
"Wah ... kalo gini sory aja Vin, kita nggak jadi nyontek sama lo. Soalnya kita juga mau pinter ini hehe ...." sambung Lion lagi.
Saat ke lima remaja tersebut ingin pergi untuk belajar, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri mereka sembari memanggil nama Qila.
"Qila ...." sahut lelaki itu sambil mendekat ke arah Qila.
Mendengar itu, sontak ke lima remaja tersebut menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, bang An!" balas Qila saat mengetahui bahwa orang itu adalah Anjas.
"Kenapa bang?" tanya Qila lagi.
Sedangkan ke tiga remaja tersebut hanya menatap bingung ke arah Anjas, kecuali Levin. Karna Levin sudah pernah melihat Anjas sore kemaren, waktu Anjas mengantar Qila pulang. Levin yang melihat itu, hanya menatap Anjas dengan malas, lalu membuang mukanya ke samping.
"Nggak papa sih, cuman pengen nyari Qila aja," balas Anjas sambil tersenyum.
"Oh ya! Kenalin nih, temen temen Qila," sambung Qila lagi, lalu memperkenalkan ke empat remaja tersebut kepada Anjas.
"Hay ... gue Anjas, temen Qila."
"Gue Jeki, panggil Jek aja."
"Hay bang Anjas ... kenalin, gue Aca. Panggil Aca aja, atau Ca juga boleh."
"Gue Lion."
Anjas tersenyum menanggapi mereka. Namun tidak dengan Levin, Levin sama sekali tak berucap apapun, seperti tidak ada minat sedikitpun untuk memperkenalkan dirinya pada Anjas.
"... Kalo yang itu?" tanya Anjas sembari menunjuk ke arah Levin, karna melihat Levin yang masih tak bersuara.
"Levin!" jawab Levin ketus tampa melihat lawan bicara.
__ADS_1
Happy reading😘😘