
"Nggak tau diri lo!"
"Dasar cewek gemuk!"
"Cewek sial!"
"Lemparin terus, biar tau rasa dia!"
Suara itu terdengar dengan jelas di telinga Qila. Qila tak mampu melawan, sebab dia benar benar tak berdaya. Hanya mampu menangis isak namun tak bersuara. Mulutnya bungkam, pipinya terasa perih akibat dua tamparan yang dia dapatkan. Bahkan saat itu Rayen juga menyaksikan Qila di buli oleh orang orang. Namun dia malah tersenyum remeh, sambil melipat kedua tanggannya di dada.
"Aww!" Tiba tiba kayra menggigit tangan salah seorang gadis yang menutup mulutnya, lalu dia berlari menghampiri Qila. Namun lagi lagi di tahan oleh teman teman sintya. Sehingga dia tidak mampu membantu Qila.
"QILAA ...!"teriak kayra sambil memberontak, berharap tangannya terlepas. Namun lagi lagi tangannya dipegang erat, hingga dia tidak mampu melepaskan diri. Dan kini air matanya benar benar sudah tumpah melihat keadaan sahabatnya.
"Tolong ... gue mohon, biarin gue bantuin Qila plis, hiks ... hiks ... hiks ..., LEPASIN GUE BRENGSEK!!" ucap Kayra murka. Dia benar benar tidak bisa berbuat apa apa.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Qila ... maafin gue Qila ...." lirih Kayra yang sudah berlutut. Dia benar benar sudah tidak sanggup melihat keadaan temannya. Namun, ketika dia merasa tangannya terlepas, dengan cepat Kayra berdiri dan menghampiri Rayen.
"LO! LO RAYEN! LO BILANG DULU KALO LO CINTA SAMA QILA KAN? HAH! IYA KAN? JAWAB GUE!! HIKS HIKS ... SEKARANG BUKTIIN JANJI LO DULU SAMA QILA! BUKTIIN RAYEN!!" bentak Kayra sambil memegang kedua kerah baju Rayen.
"KENAPA LO DIEM HAH! BUKTIIN SEKARANG!!"
"Cihh ... apaan sih?" ucap rayen pada Kayra, sambil melepaskan tangan Kayra dari baju nya.
"Eh, lo denger ya ... dulu gue bilang kayak gitu Karena Qila itu CANTIK! Kalo sekarang mah ... ngapain juga gue bela belain dia. Dia aja udah nggak secantik dulu lagi! Dan maaf ya ... kayaknya lo lupain aja deh, janji yang gue bilang dulu. Karna gue nggak pernah bener bener untuk melakukannya. Lo paham?" ucap rayen sambil tersenyum remeh, lalu mendorong Kayra dari hadapannya.
"Sekarang lo lihat? nggak bakalan ada yang mau bantuin temen lo ini. Jadi ... mendingan lo pulang aja, dan ngadu sama bokap lo!" ucap sintya sambil tersenyum menang.
Hahaha ... tawa siswa.
"Oh, atau lo juga mau ikut main sama temen lo ini? Oke fine ... tunggu bentar ya," sambung Sintya Lagi.
Byur
"Tuh, lo lihatkan? Temen lo udah mandi ... jadi jangan nangis lagi oke."
__ADS_1
Sintya menyiram Qila menggunakan air, hingga membuat Qila basah kuyup. Dengan di penuhi luka membuat kulit qila terasa begitu perih, bahkan lebih perih dari sebelumnya. Qila hanya bisa mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Air mata yang terus mengalir. Bahkan dia ingin sekali memberikan sumpah serapah. Namun mulutnya benar benar kelu, bungkam tak berkutik.
"Ehh, tapi kayaknya ada yang kurang deh. Bentar bentar...." ucap Sintya lagi sambil mengambil sesuatu didalam tasnya.
"Nahh ... kalo di tarok telur pasti enak nih," ucap Sintya lagi sambil berjongkok dihadapan qila.
Qila hanya mampu menggeleng lemah. Menggigil sembari menahan sakitnya. Berharap akan ada kebaikan dari diri Sintya, dan mau melepaskannya. Namun nyatanya tidak! Sintya malah sangat bersemangat untuk terus membuli Qila.
Lagi dan lagi, air mata Qila keluar sangat deras tampa suara. Sesak yang dia rasakan di dadanya semakin perih, bercampur dengan rasa perih pada kulitnya yang luka. Dia ingin berlari sejauh jauhnya ... ingin teriak sekeras kerasnya ... dan ingin marah semarah marahnya ..., namun keadaan membuatnya bungkam. Menangis seperti gadis bodoh. Tak mampu memberi perlawanan, meskipun sangat ingin.
'Kenapa begini Tuhan? Salahkah jika aku gemuk? Salahkah aku tidak sempurna lagi? Jika ujian ini membuat aku sehina ini. Maka aku mohon ... bawa aku pergi jauh. Kemanapun. Karena aku tak ingin disini,' batin Qila dalam tangisnya.
"Sintya plis ... tolong jangan lakuin itu sama Qila. Gue mohon, hiks ... hiks ...." mohon Kayra lagi yang berada disamping, dan tidak bisa bergerak.
"Kalo gue nggak mau kenapa?" balas Sintya yang sudah berdiri didepan Qila, tampa melihat kearah Kayra.
"Hm ... kalo gue oles di muka mulusnya aja, enak kali ya," ucap Sintya.
Lalu menarik lengan Qila dan memaksa tubuh Qila untuk berdiri. Namun sebelum Qila benar benar berdiri, tiba tiba tubuh Qila lemas. Kemudian terjatuh. Namun tiba tiba Qila merasa ada seseorang yang menangkap tubuhnya. Mata Qila yang sayu, menatap manik lelaki tersebut. Sampai akhirnya benar benar pingsan.
"BA-BANG EVIN!!" ucap Sintya sontak.
Bukan hanya Sintya. Semua siswa yang ada disanapun tak kalah terkejutnya karna kedatangan Levin. Pria kaya dan tampan, yang merupakan idola semua siswi termasuk Sintya.
Levin mendongakkan wajahnya keatas. Lalu meletakkan Aqila perlahan, kemudian berdiri menghampiri Sintya yang masih ternganga. Dengan telur yang masih di genggam. Kemudian di tarik kasar oleh Levin.
Plaak
Satu bijir telur pecah diatas kepala Sintya tampa aba aba. Hingga membuat semua orang menjadi kaget dan takut.
Plaak!
Satu tamparan keras dari Levin lolos di pipi Sintya.
"Aaww," rintih Sintya.
__ADS_1
"Lo denger ucapan gue!" ucap Levin sambil memegang kedua pipi Sintya kasar.
"Jangan lo pikir karna lo cewek. Gue nggak berani nampar lo! Karna cewek murahan kayak lo, emang pantas di giniin. Dan lo bilang kalo gadis ini ganjen? Ck-nggak salah denger gue? Lo tau? Kalo gadis ini jauh lebih dari pada lo dalam segala hal. Dan cewek kayak lo, nggak bakalan bisa untuk nandingin dia!" bentak Levin sambil menghempas pipi Sintya kasar, hingga membuat Sintya tersungkur.
"DAN KALO LO BERANI GANGGU DIA LAGI. JANGAN HARAP LO BISA HIDUP DI PERMUKAAN BUMI INI. PAHAM!" bentak Levin yang sontak membuat Sintya kaget, dan langsung mengangguk.
"Dan untuk kalian semua yang ada disini. GUE ... LEVIN PERNANDES tegasin sekali lagi! Jangan pernah ada yang gangguin gadis ini! Karna kalo nggak. Kalian akan rata bersama tanah yang gue injek sekarang. PAHAM!"
Kata kata Levin mampu menciut nyali semua siswa yang ada di lapangan tersebut. Karna siapa yang tidak tau Levin? Lelaki yang berasal dari keturunan kaya raya, yang tidak pernah main main dengan kata katanya. Apapun bisa dia lakukan. Dan semua siswa hanya menunduk, karna tidak ada yang berani menatap kemurkaan Levin. Levin memang cowok yang keras kepala dan ketus. Tapi Levin sangat benci dengan namanya pembulian.
Kemudian Levin menghampiri Qila. Lalu membuka jaket yang ia kenakan, kemudian di tutupnya pada tubuh Qila yang sudah basah.
"Dan kamu! Lepasin temennya sekarang, kalo masih mau tenang bernafas," ucap Levin pada kedua sahabat Sintya, yang sedari tadi memegang Kayra. Lalu reflek mereka langsung melepaskan tangan Kayra karna takut dengan tatapan mematikan dari Levin.
Levin menyeka rambut yang menutupi wajah Qila. Ada sesuatu yang tak mampu di jelaskan dari sorot mata Levin. Kemudian Levin langsung mengangkat tubuh Qila, dan membawa Qila pergi. Saat melewati Rayen, Levin pun berhenti.
"Dan lo! Laki laki seperti lo, kayaknya nggak pantes hidup di bumi. Cowok caper nggak di hitung sebagai laki laki! Jadi mendingan lo pilih loncat dari lantai 50. Atau pake rok aja sekalian!" bentak Levin dengan nada datar, dan langsung membawa Qila menuju mobil yang Levin bawa. Dengan Kayra yang berada di belakangnya, dengan mata yang sembab akibat menangis tadi.
Lalu Levin langsung menancap gas mobil menuju kos Qila, dengan arahan dari Kayra. Kemudian dia angkat Qila dan meletakkan Qila diatas ranjangnya, dengan keadaan yang entah disebut dengan apa. Badan yang basah, muka yang lebam akibat tamparan, jidat yang luka, mata yang sembab akibat menangis, siku dan lutut yang lecet, serta kaki yang luka akibat terseret di lantai, dan tubuh yang dipenuhi dengan telur. Membuat Qila seperti mayat yang terlantar.
Sedangkan Kayra langsung duduk ditepi ranjang sambil menatap Qila, dengan tatapan sendu.
"Lo bersihin temen lo tuh. Dan sebaiknya, lukanya langsung di obatin juga. Karna kalo nggak, lukanya bisa infeksi" ucap Levin datar pada Kayra.
"I-iya, makasih banyak. Kalo nggak ada bang Evin, aku nggak tau Qila bisa selamat atau nggak. Sekali lagi makasih," ucap Kayra pada Levin sambil menunduk.
"Hm," balas Levin dengan satu anggukan. Lalu langsung keluar dari kos kecil itu.
FLASHBACK OFF
Qila mengambil nafas, lalu dibuang kasar. Mengingat kejadian itu membuat air mata Qila kian gencar untuk membasahi kedua pipinya. Akhir sekolah yang begitu pahit, hingga membuat Qila menjadi sosok yang tertutup. Senyum ramah yang dulu sering dia tampak kan, sekarang hilang dari garis wajahnya. Qila benci jika harus mengingat itu lagi. Tapi kejadian itu tak bisa lepas dari ingatan Qila begitu saja. Lalu Qila duduk dan menyembunyikan kedua muka pada lututnya.
"Tuhan ... ujian apa ini? Kuatkah pundak ku untuk memikulnya? Kuatkah hati ku untuk mengikhlaskannya? Dan kuatkah diri ini untuk melewatinya? Tuhan, kumohon cabut ujian ini, hiks hiks hiks ... sungguh aku tidak terlalu kuat untuk menjalaninya," lirih Qila dalam tangisnya.
"Qila ...."
__ADS_1
Halloo Readers ... jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, hihi ... 😁 Maaf kalo kurang greget🙏🙏