
"Apa pentingnya buat gue!"
"Lo ngajak ribut ya, sama gue. Oke ... mulai sekarang lo dinyatakan perang sama ratu kampus! Lo lihat aja, siapa yang bisa dapetin Evin. Gue ... atau lo!"
"Kalo lo emang cantik, kenapa lo harus takut sama gue? Bukannya lo ratu kampus? Jadi kayaknya gue bukanlah saingan terberat lo. Atau ... lo ngerasa tersaingi oleh gue? Lo takut kalo bang Evin nggak suka sama cewek kayak lo lagi, hum?" tantang Qila tampa ragu.
"Berani banget lo ya!" bentak Claudia sembari ingin menampar pipi Qila. Namun untungnya tangan Claudia dengan cepat ditahan oleh seorang lelaki, lalu membanting tangan Claudia dengan kasar.
"Aaw ... brengsek lo! Siapa lo hah? Berani banget sama gue."
"Harusnya gue yang tanya sama lo. Siapa lo di kampus ini, hum? Hanya ratu kampuskan? Bukan pemilik kampus. Jadi jangan belaguk!" bentak lelaki itu yang ternyata adalah Anjas.
"Gue emang bukan pemilik kampus ini. Tapi sebentar lagi gue bakalan jadi pacar dari pemilik kampus ini, paham!"
"Kalo gitu baguslah. Sekalian lo bawa Evin pergi dan jangan pernah ganggu Qila lagi!"
"Cih! Bilang sama gadis lo ini, jangan ganggu Evin lagi!" bentak Claudia, lalu pergi dari hadapan mereka.
Melihat itu Qila hanya bisa membuang nafas sambil terus menatap kepergian Claudia. Ada rasa tak suka saat mendengar ucapan Anjas tadi. Namun itu ada benarnya juga, bahwa Qila tak pantas untuk Levin, sampai kapanpun tak pantas.
"Qila ... lo nggak papa?" tanya Anjas prihatin pada gadis pujaannya tersebut.
Dan dibalas Qila dengan mengangguk sembari sedikit tersenyum.
"Makasih ya bang An, udah bantuin kita," sambung Aca.
"Iya sama sama ... Oh ya Ca, tadi Jeki nyariin lo. Apa kalian janjian pulang bareng? Soalnya dia lagi nungguin lo. Mending lo telpon dia, atau langsung susul aja di parkir khusus."
"Oh iya ... gue sampe lupa! Abisnya gue takut sama kak Claudia, orangnya galak banget. Aneh ya, nenek sihir gitu kok dijadiin ratu kampus."
"Ya, kalo cewek modal bodi doang emang gitu Ca," jawab Anjas.
"Ya udah, gue pergi dulu ya. Bang An, titip Qila, dan sekali lagi makasih udah bantuin kita tadi."
"Iya, pasti. Dan sama-sama."
"Bye ..."
"Bye."
Setelah Aca pergi, Qila dan Anjas pun memilih untuk duduk di taman yang ada di kampus terlebih dahulu. Dan hal itu disetujui oleh Qila. Mungkin bisa sedikit untuk menenagkan pikirannya.
"Qila," panggil Anjas, saat mereka tengah duduk di kursi yang ada di taman.
"Iya ...." Menatap Anjas.
"Kenapa Qila nggak bilang sama bang An, kalo ternyata Qila tinggal serumah sama Evin ...."
Qila diam sejenak.
"Itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan."
Mendengar itu Anjas membuang nafasnya perlahan. Lalu kembali menatap Qila.
"Jadi bener, Evin adalah lelaki itu?"
"Maksud bang An?"
"Evin adalah lelaki yang udah ngebuat Qila nangis waktu pertama kali bang An pindah di sini?"
Mendengar itu Qila hanya diam, tak menjawab apapun. Karna memang begitu kenyataannya.
"Kalo mencintai Evin emang sesakit itu buat Qila, bang An janji, bang An akan buat Qila untuk melupakan Evin."
Qila menatap Anjas nanar.
"Tapi apa nggak bisa, Qila dapatin bang Evin tampa harus melupakan dia? Apa nggak bisa Qila dapatin apa yang Qila mau? Apa sebegitu tak pantasnya Qila sama bang Evin?"
Anjas seketika terdiam mendengar ucapan Qila.
'Dan apa nggak bisa, lo kasih gue satu kesempatan untuk jadi milik lo Qila? Gue cinta sama lo, gue nggak bisa liat lo terus menderita kayak gini.' batin Anjas sembari terus menatap Qila lekat.
"Bang An tau kan? Qila adalah orang yang tak mudah untuk jatuh cinta. Tapi setelah Qila udah jatuh cinta sama seseorang, tak mudah pula bagi Qila buat ngelupain orang itu."
"Bang An tau ... tapi jika serumit ini, maka tak usah dilanjutkan. Percayalah, masih banyak orang yang mencintai Qila."
__ADS_1
"Tapi gimana caranya buat berhenti untuk mencintai seseorang bang An. Gimana? Bang An nggak pernah ngerasain, gimana rasanya mencintai seseorang yang sama sekali tak mencintai kita. Bang An nggak pernah ngerasain, gimana rasanya terus dibuat tak berdaya atas rasa yang kita ciptain sendiri. Bang An nggak bakalan tau, kecuali bang An yang berada pada posisi itu."
Anjas hanya diam mendengar ucapan Qila.
'Bang An pernah Qila. Dan sekarang bang An sedang berada pada posisi itu. Bahkan mungkin bang An lebih sakit, saat bang An lihat Qila selalu bareng Evin, saat bang An lihat lo tinggal serumah sama Evin, dan saat bang An lihat Qila selalu nangis buat Evin. Dan bang udah ngerasain gimana mencintai tampa balas di cintai.' batin Anjas.
"Bang An tau rasanya. Bang An ngerti gimana susahnya buat ngelupain orang itu." ucap Anjas lalu mengambil nafas perlahan.
"Jika begini, mari kita sama sama berjuang. Qila berjuang buat dapatin Evin, dan bang An akan berjuang untuk gadis yang bang An suka, agar selalu tertawa."
"Apa bang An sedang menyukai seseorang?"
Dibalas Anjas dengan mengangguk sambil berusaha tersenyum.
"Boleh Qila tau, siapa gadis itu?"
"Belum saatnya Qila tau."
"Ck-bang An nggak adil! Qila selalu terbuka sama bang An, tapi giliran bang An, malas pake rahasi-rahasiaan."
"Udah, jangan marah. Ntar cantiknya nambah loh."
"Nggak lucu."
"Tapi itu Qila senyum, hayoo."
"Siapa yang senyum."
"Oke, kalo Qila nggak mau senyum, bang An cubit hidungnya nih," ucap Anjas lalu mencubit hidung Qila.
"Bang An, sakit." Elak Qila sembari tertawa, dan hal itu tentu tak lepas dari pandangan Anjas.
'Jika Evin selalu ngebuat lo nangis, maka gue adalah orang yang akan ngebuat lo selalu tertawa Qila.'
****
Akhirnya Anjas mengantar Qila pulang. Dan Anjas menghentikan motornya tepat di depan rumah Evin.
"Makasih ya, udah nganterin Qila."
"It's okey, sama sama."
"Mm ... nggak usah deh, pagi tadikan udah mampir."
"Ya udah, kalo gitu Qila masuk dulu ya."
Tit ...Tit ...
Tiba-tiba suara klakson mobil membuat kedua remaja itu melunjak kaget, dan sontak melihat arah suara.
"Woi! Jangan pacaran di jalan bisa? Gue mau lewat, jadi minggir!" bentak Levin dari jendela mobil.
"Eh, lo kalo ngomong di jaga ya!" balas Anjas.
"Emang kalian lagi pacarankan? Dam kayaknya kalian emang pasangan yang serasi. Cocok!" ucap Levin ketus sambil tersenyum remeh.
"Brengsek lo ya!" bentak Anjas yang ingin menghampiri Levin. Karna bagaimana pun dia tau bagaimana perasaan Qila. Namun dengan cepat ditahan oleh Qila.
"Bang An udah."
"Nggak bisa Qila. Orang kayak dia emang harus dikasih pelajaran!" Hendak menghampiri Levin.
"Bang An udah! Qila bilang udah! Cukup. Mendingan bang An pulang. Qila capek mau istirahat." ucap Qila sembari menahan genangan yang ada pelupuk matanya.
Mendengar itu, Anjas mengikuti kata Qila. Kemudian memegang kedua bahu Qila sembari terus menatap Qila lekat.
"Kalo lo diapa apain, bilang sama bang An ya ...." ucap Anjas lalu mengusap rambut Qila lembut.
Dan dibalas Qila dengan sedikit mengangguk sambil berusaha tersenyum.
"Bang An pulang dulu." Lalu pergi dari kediaman Herman, dengan masih menatap tak suka pada Levin.
Sedangkan Qila langsung masuk kedalam tampa ingin melihat ke arah Levin. Tampa Qila sadari, air matanya tumpah bersama langkah yang kian gontai menaiki anak tangga.
Untung di rumah kediaman Herman masih sepi, karna Lina dan Aca belum pulang. Sedangkan Widia dan Herman masih berada di luar kota untuk beberapa hari ini.
__ADS_1
Qila membanting pintu kamarnya dengan kasar, lalu menguncinya dari dalam. Qila tidak bisa menyembunyikan rasa sakit hatinya lagi. Tubuh Qila luruh di samping pintu, bersama ucapan Levin yang masih terngiang jelas di kepalanya. Qila mengatup mulutnya menggunakan kedua tangannya agar suara tangisnya tak terdengar.
'Jangan pacaran di jalan!'
'Kalian adalah pasangan yang serasi. Cocok!'
Semua kata itu terngiang jelas di kepala Qila. Qila menangis sembari memukul dirinya kasar. Ada rasa yang begitu tak mampu untuk diungkapkan. Begitu nyeri terasa menghujam di bagian dadanya.
Rasa benci dan cinta yang datang secara bersamaan, membuat Qila tak berdaya.
"Kenapa mencintai bang Evin harus sesakit ini ...." lirih Qila dengan air mata yang kian luruh.
Tok tok tok
"Buka pintunya," sahut seorang laki-laki dari arah luar pintu.
Mendengar itu Qila menjauhkan dirinya dari samping pintu, sembari menghapus air matanya kasar.
"Lo denger nggak, sih!" sambungnya lagi. Lelaki itu tak lain adalah Levin.
"Qila!"
Qila hanya diam saat mendengar suara Levin. Dia tak ingin membuka pintu untuk Levin. Tidak! Untuk kali ini dia tidak mau mengikuti perintah Levin. Rasa sakit tadi masih terasa jelas. Dan ia tak mau lagi untuk mendengarkan apapun yang dikatakan Levin. Untuk kali ini, untuk kali ini biarlah dia bersikap egois.
Tok Tok Tok
"Qila! Lo denger gue nggak sih!"
"Saya mau istirahat. Jadi mendingan anda pergi!" balas Qila.
"Ini perintah, jadi buka pintunya cepet! Gue nggak terima bantahan!"
Dan Qila hanya diam sembari terus menghapus air matanya yang terus luruh, bahkan tampa Qila pintapun dia keluar dengan begitu derasnya. Qila menggigit bibirnya, menahan sesak yang kian membara. Entah apa yang diinginkan Levin, Qila tak perduli. Untuk kali ini Qila tak perduli!
Saat mendengar suara Levin yang menghilang dari ambang pintu, Qila kembali terduduk di samping ranjangnya. Air matanya kembali luruh. Ahh, entah kenapa Qila bisa menjadi selemah ini. Dimana Qila yang dulu katanya tidak akan menangis lagi? Dimana Qila yang dulu katanya akan menjadi gadis yang kuat? Tapi pada kenyataannya ia tidak lah sekuat itu.
Qila kembali menghapus air matanya, lalu mengambil ponsel yang ada dalam tasnya. Dia tidak tau kepada siapa harus ia mengadu, dan mungkin berbicara dengan bundanya akan sedikit membuatnya tenang. Qila lalu menelpon Bundanya.
"Halo, assalamualaikum ...." ucap Hani, ibu Qila dari sebrang telpon.
"Waalaikumsalam, Bun ...."
"Kenapa nak? Bukannya semalam habis nelpon ya?"
"Nggak papa ... Qila kangen sama Bunda ...." ucap Qila getar sambil menahan air matanya.
"Qila kenapa sayang? Qila nangis?"
"... Nggak kok Bun, Qila cuman lagi kangen aja sama Bunda ...." Menggigit bibir bawahnya.
"Tapi suara kamu beda loh. Bunda tau kamu lagi nangis. Sekarang cerita sama Bunda, kamu punya masalah apa?"
Qila tersenyum hambar mendengar ucapan ibunya.
"Qila nggak papa ... Qila nangis karna Qila kangen sama Bunda ...."
"Nak ...."
"Qila pengen pulang, Bun .... Qila kangen .... Qila pengen peluk sama Bunda ...." lirih Qila dengan suara yang kian getar. Air mata Qila terus luruh membasahi pipi tirusnya. Qila menangis.
Mendengar itu, Hani tak mampu menahan tangisnya saat mendengar anak semata wayangnya menangis seperti itu. Hani menahan suaranya agar tak terdengar oleh Qila.
"Bunda ... Qila pengen pulang ...."
Air mata Hani semakin deras saat mendapati anak kesayangannya menderita seperti itu. Namun dengan cepat Hani bersikap senormal mungkin.
"Bunda juga kangen sama kamu sayang ... Bunda juga ingin memeluk Qila."
" ..." Hanya ada suara tangis Qila, yang Hani dengar.
"Nak ... kamu nggak boleh lemah sayang. Kamu harus kuat buat ngadepin semuanya."
"Tapi nyatanya Qila nggak sekuat itu Bun ... Qila masih manusia biasa, Qila punya perasaan. Qila ...."
"Bunda tau ... tapi bersikaplah seolah Qila baik-baik saja. Qila harus percaya, bahwa Allah tidak akan memberikan beban di luar batas kemampuan hambanya. Qila harus percaya itu."
__ADS_1
Bersambung ....
Happy reading 😘😘