
"Lo beneran Qila, kan?"
Qila tak membalas pertanyaan lelaki itu, ia hanya membuang mukanya kesamping dengan malas.
"Wow ... lo udah cantik banget sekarang. Lo bener-bener udah berubah, ya. Lebih cantik dari dulu," ucap lelaki itu yang melihat penampilan Qila dari atas sampai bawah.
"Lo masih ingat sama gue, kan? Masa iya lo lupa, sih," sambungnya lagi tampa merasa bersalah sedikitpun.
"Tentu aja gue ingat. Rayen, lelaki brengsek yang nggak pernah benar-benar untuk mengatakan janjinya, bukan begitu? Dan gue nggak mungkin ngelupain lo. Lo masih terpampang jelas diingatan gue dengan segala kebusukan yang lo miliki!" Menatap tajam kearah Rayen.
Yap! Lelaki itu adalah Rayen. Lelaki yang pernah memberi janji buaya kepada Qila saat SMA dulu. Rayen sempat hilang dari hadapan Qila setelah pembulian dulu, namun entah darimana lagi asalnya hingga Qila bisa bertemu dengan lelaki ini lagi.
"Lo jangan marah gitu, dong ... Gue dulu bener bener khilaf. Setelah lo nggak ada dalam kehidupan gue, gue baru sadar, ternyata gue beneran suka sama lo. Gue nggak bisa hidup tanpa lo, Qila."
"Cih! Berani banget lo, ya! Masih berani-beraninya lo bilang suka sama gue. Bener bener nggak punya rasa malu! Gue ingetin sama lo. Jangan pernah gangguin kehidupan gue lagi, paham!!" bentak Qila lalu malangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, Rayen menarik tangan Qila kuat hingga menjauhi keramaian, lalu membawa Qila pada lorong kamar mandi yang agak sepi. Qila memberontak dengan kuat, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rayen, hingga tangannya terasa sakit.
Rayen menghempas tubuh Qila ke dinding bangunan dengan kasar, lalu tampa Qila duga pula, ia membungkam paksa bibir Qila menggunakan bibirnya. Qila yang mendapat perlakuan itu dengan sekuat tenaga melepaskan bibirnya dari bibir Rayen. Namun sayang, Rayen sudah mengunci tubuhnya hingga ia tak dapat bergerak.
Qila terus berusaha memukul tubuh Rayen, hingga tampa Qila sadari air matanya mengalir dengan deras. Ini lebih sakit dari pada mendapatkan perlakuan buruk dari Levin. Qila tak rela bibirnya di nodai oleh laki-laki brengsek seperti Rayen. Qila terus menangis, tapi Rayen tak perduli, ia malah semakin melancarkan ciumannya secara brutal.
Tidak tau kenapa Qila menjadi teringat dengan Levin. Levin tak pernah mencium bibir Qila secar brutal seperti ini, Levin selalu melakukannya dengan lembut, dan Qila tidak merasa sejengkel ini saat Levin menciumnya. Qila benar-benar tak rela! Ia terus memberontak meski tampa hasil.
Brukk!!
Tanpa Rayen duga, disela aksi tak senonohnya, seorang memukul wajah ia dengan keras hingga melepaskan ciumannya pada bibir Qila.
Brukk!!
Belum sempat ia melihat siapa yang memukulnya, tiba-tiba satu pukulan keras kembali mendarat lagi pada bagian wajahnya, hingga ia tersungkur pada lantai. Lalu tampak lelaki itu memegang kedua kerah baju Rayen dengan kasar, dan ternyata lelaki itu adalah Anjas. Tampak dari sorot mata Anjas sudah memerah dan sangat tajam. Seperti sudah siap untuk menerkam.
Kemudian tampa belas kasihan, Anjas kembali memukul wajah Rayen tampa ampun, ia seperti sudah kehilangan kendali. Ia terus memukul wajah Rayen meskipun darah segar sudah keluar dari wajah lelaki tersebut.
Qila hanya diam melihat aksi itu. Ia hanya diam sambil terus menghapus bekas bibir Rayen dari bibirnya dengan kasar, ia menggosokkan bibirnya kuat menggunakan bajunya hingga bibirnya terasa sedikit perih. Namun itu lebih baik, dari pada meninggalkan bekas bibir lelaki brengsek seperti Rayen.
Sedangkan Anjas masih semangat memukul wajah Rayen tanpa ampun. Ia benar-benar marah saat melihat gadis yang ia cintai diperlakukan seperti itu. Kali ini ia benar-benar tidak bisa mengampuni lelaki yang ia pukuli sekarang. Bahkan ia tak ingin mengetahui siapa lelaki ini, tapi ia benar-benar sangat bersemangat untuk menghancurkan wajah lelaki brengsek yang sudah membuat gadis pujaannya menangis. Yang sudah melum*t bibir gadis pujaannya. Ia tidak rela!!
__ADS_1
Sampai aksi Anjas dihentikan oleh orang yang kebetulan baru saja keluar dari kamar mandi. Orang-orang membantu Rayen berdiri dengan wajahnya yang sudah mengeluarkan darah segar, sedangkan Anjas dipegang oleh dua orang lelaki hingga Anjas tak dapat memukul Rayen lagi. Anjas mencoba melepaskan tangannya, ia masih ingin meremukkan wajah lelaki itu.
"Lepasin gue! Gue mau kasih dia pelajaran, paham!!" Anjas benar benar marah. Bahkan Qila tak pernah melihat Anjas semarah ini.
"Sudah, sudah. Kalo kamu melanjuti aksi mu, kamu mau dilapor ke polisi?" ucap seorang lelaki di sampingnya.
"Gue nggak perduli! Gue bilang lepasin gue!!"
Melihat itu dengan cepat Qila menghampiri Anjas agar ia bisa tenang.
"Bang An, udah kita pulang aja, yuk! Qila nggak mau bang An sampe dibawa ke kantor polisi. Qila mohon bang An ...." bujuk Qila dengan wajah gusarnya.
Anjas yang melihat wajah Qila akhirnya luluh, ia tak kuasa untuk menolak permintaan gadis yang ia cintai ini. Sampai mereka memilih untuk pergi dari situ.
"Ingat lo! Kalo lo berani gangguin Qila lagi, wajah lo bakal gue remukin, paham!! Dasar brengsek!!" bentak Anjas sembari menunjuk tajam kearah Rayen, sedangkan Rayen hanya diam sembari terus memegang wajahnya yang sudah berdarah dan lebam.
Akhirnya Anjas mengantar Qila pulang ke rumah. Qila tampak begitu bahagia hari ini, tapi sayangnya kebahagian Qila seolah lenyap setelah kejadian tadi. Anjas hanya bisa diam sembari terus melihat wajah sayu Qila dari kaca spion motornya. Ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri, karna tidak bisa menjaga Qila. Ada resa kesal dalam diri Anjas, ia tak rela melihat Qila menangis. Namun Anjas juga masih enggan untuk bertanya pada Qila tentang siapa lelaki tadi. Ia takut membuat Qila marah.
Tak lama motor Anjas berhenti di depan rumah Levin. Qila turun dari motornya dengan wajah yang masih menunduk. Ia dapat melihat raut wajah Qila yang kesal dan begitu gusar. Ahh, dia benar-benar kecewa dengan dirinya! Bagaimana bisa Qila diganggu lelaki lain, saat bersamanya.
"Maafin bang An ...." lirihnya dalam pelukan Qila.
"Maafin bang An nggak bisa jagain Qila ... Maafin bang An karna bang An datang terlambat. Bang An benar benar minta maaf,Qila ...."
Qila melepaskan pelukan Anjas, lalu melihat wajah Anjas sembari mencoba tersenyum, meskipun rasanya sangat hambar.
"Qila nggak papa, kok. Bang An nggak usah nyalahin diri bang An kayak gitu. Qila seneng karna bnag An udah dateng tadi, kalo nggak, Qila nggak tau Qila bakal diapain sama dia. Makasih, ya ...."
"Tapi lo ...."
"Udah ... nggak usah dibahas lagi. Qila nggak mau denger kejadian tadi lagi."
Mendengar itu Anjas membuang nafasnya kasar.
"Bang An anterin Qila masuk, yuk! Ini udah malem, mungkin aja Tante sama Om udah tidur."
__ADS_1
Dan dibalas Qila dengan mengangguk. Lalu Anjas membawa Qila masuk, namun tampa mereka sadari ternyata Levin sudah berdiri di teras rumah sambil melipat kedua tangan pada dadanya. Ia tampak melihat tajam kearah dua remaja tersebut.
Qila yang melihat itu tampak sedikit menunduk. Lalu mereka berjalan mendekati Levin.
"Emang anak perempuan pulangnya jam segini, ya?" tanya Levin santai namun penuh penekanan.
Qila hanya diam tak menjawab. Anjas yang melihat Qila tampak diam akhirnya mengangkat suara.
"Kita abis dari ...."
"Kalo pacaran jangan bawa anak orang pulang malem! Lo tau ini jam berapa, hah!? Kalian bener-bener nggak punya rasa malu, ya. Masih berani-beraninya kalian pulang meski udah selarut ini!" bentak Levin sambil terus melihat tajam kearah mereka.
"Kenapa nggak bawa pacar lo ini tidur di apartemen lo aja!?" sambung Levin.
Mendengar itu Qila kembali tersentak. Benar benar perkataan yang mampu menghujam dada orang lain dengan satu hentakan. Terasa begitu nyeri. Anjas yang melihat ekspresi Qila kembali merasa tak suka. Belum habis emosinya pada lelaki yang mencium bibir Qila tadi, sekarang sudah harus berhadapan dengan mulut pedas Levin. Dan alhasil, membuat gadis pujaannya kembali sedih. Bahkan ia dengan susah payahnya membuat Qila tertawa, namun dengan mudahnya mereka mengambil kebahagiaan itu dari wajah Qila.
"Lo jangan asal ngomong kalo lo nggak tau apa-apa!"
"Kenapa? Emang kenyataannya gitu, kan?"
Anjas benar-benar tak mampu menahan emosinya. Ingin sekali ia memukul sesuatu, emosinya sudah tersulut dan siap untuk meledak. Namun sekuat mungkin ia menahan diri. Ia tak ingin Qila melihat sisi buruknya.
Tampa membalas ucaoan Levin, Anjas kembali menatap Qila.
"Qila ... lo masuk ke kamar, ya. Jangan sedih lagi, bang An nggak suka liatnya. Dan jangan lupa istirahat, oke!" Memegang sebelah bahu Qila sembari tersenyum.
Dan dibalas Qila dengan sedikit mengangguk.
"Gue tunggu lo didepan!" bantak Anjas pada Levin dengan tajam.
Sedangkan Levin menanggapinya dengan tersenyum remeh. Ia merasa tertantang dengan ajakan Anjas. Ia juga sudah ingin meluapkan emosinya yang sudah membara sedari tadi. Dan mungkin ini waktu yang tepat!
Qila yang melihat itu hanya diam, lalu masuk kedalam kamarnya tampa ingin memperdulikan kedua lelaki tersebut. Ia benar-benar lelah.
Happy reading 😘😘
__ADS_1