
"Kalo di tindas jangan diem," ucap Qila datar pada gadis itu, lalu melangkah pergi dengan santai. Namun dengan cepat gadis itu mengikuti langkah Qila dengan gontai.
"Mm ... h-hai," sapa gadis itu tersenyum sembari mengikuti langkah Qila.
"Hm" balas Qila tampa melihat ke arah lawan bicara.
"Makasih ya, lo udah bantuin gue tadi," ucapnya lagi sambil tersenyum hingga menampakkan barisan gigi ratanya.
Namun masih tidak ada respon dari Qila.
Qila bukan tipe yang sombong. Tapi Qila hanya sedang menjaga diri. Qila terlalu takut jika untuk terlalu mudah percaya kepada manusia lagi.
"Oh ya ... kenalin, gue Aca silvia. Lo boleh panggil gue Aca, atau Ca aja juga boleh." Masih mengikuti langkah Qila.
Aca Silvia. Adalah gadis yang manis, baik, dan juga seru, tetapi sangat susah bergaul. Dia adalah warga negara Indonesia tetapi menetap lama di Prancis, karna orang tuanya yang sibuk bekerja disana. Aca baru pindah di Indonesia beberapa bulan yang lalu, dan sekarang duduk di rumah tantenya. Aca merupakan anak rumahan yang sangat jarang keluar. Bahkan aca keluar jika ada acara penting bersama orang tuanya, jika tidak! Maka dia akan stay di rumah tampa ada kata bosan. Namun hal itu malah membuat Aca menjadi anak yang susah bergaul, dan tidak mempunyai sahabat meskipun sudah beberapa bulan duduk di Indonesia. Bahkan dia banyak di jauhi oleh gadis gadis, karna merasa Aca tidak terlalu kekinian untuk di ajak menjadi teman.
"Gue Qila," balas Qila singkat.
"Ohh, okee ... gue panggil lo Qila aja berarti ya," ucap Aca gugup. Bagaimana tidak? Jika teman yang dia ajak ngobrol, dari tadi hanya berbicara seadanya tampa melihat kearah lawan bicara.
Lalu akhirnya Aca memilih untuk masuk ke dalam kelasnya setelah berpamitan dengan Qila. Namun anehnya, dia merasa Qila mengikutinya sepenjang perjalanan menuju kelas.
"Ehh, tunggu tunggu ...." ucap Aca pada Qila saat mereka sampai di depan pintu kelas yang sama, sambil merentangkan kedua tangannya. Lalu reflek Qila berhenti dan menatap Aca bingung.
"Lo kenapa kesini?" tanya Aca
"Hm?" Menautkan alisnya heran.
"Mau belajar," sambung Qila lagi.
"Tapi ini kan ... kelas gue."
"Dan ini juga kelas gue."
"Kelas lo? Berarti ... kita satu kelas dong!" ucap Aca bersemangat sambil tersenyum ke arah Qila.
Qila hanya mengangkat kedua bahunya, lalu masuk kedalam ruang kelas, dan mengambil meja nomor tiga. Melihat itu, Aca langsung duduk di samping Qila dengan senyum yang masih terpampang di wajahnya.
Selama jam perkuliahan, Qila hanya diam dan fokus pada materi yang disampaikan oleh dosen tampa menghiraukan teman di sampingnya. Bahkan Aca yang lebih banyak memulai obrolan, dan di jawab seadanya dan secukupnya oleh Qila.
"Baiklah, mungkin sampai disini perkuliahan kita hari ini, dan insyaallah di lanjutkan minggu depan," ucap Dosen sambil merapikan bukunya.
"Baik buk," sahut Mahasiswa.
"Kalo gitu Ibuk permisi." Melangkah keluar.
Setelah dosen meninggalkan kelas, Qila memilih untuk keluar meninggalkan teman barunya, dan langsung ingin pulang. Karna hari ini hanya ada satu mata kuliah.
Qila berjalan santai di koridor kampus tampa melihat ke kanan, atau ke kiri. Namun saat Qila menuruni anak tangga, tiba tiba seorang laki laki menabrak Qila, dan spontan Qila berteriak dengan suara yang tertahan karna tubuhnya hampir saja jatuh. Untungnya laki laki itu langsung menangkap pinggang Qila hingga menepis jarak diantara keduanya.
Deg
Qila pernah merasakan degupan semacam ini sebelumnya. Rasanya sama persis dan ternyata dengan orang yang sama juga. Yaap ... Qila tak sengaja menatap manik tajam laki laki itu, yang ternyata adalah Levin.
"L-lo," ucap Qila reflek dengan suara yang samar, namun dapat di dengar oleh Levin.
Levin mengangkat kedua alisnya.
"Kalo ini bukan tangga ... lo udah gue lepasin kayak kemaren," ucap Levin datar lalu melepaskan pegangannya, hingga membuat Qila berdiri. Dan langsung pergi meninggalkan Qila yang masih mematung menatap punggungnya.
"Itu bener bang Evin? Dia kuliah disini? Huhh jantung ...." ucap Qila memelas sambil memegang dadanya.
"Nggak nggak! Apaan sih? Lo udah janji untuk berubah Qila!" ucapnya tegas lalu beranjak pergi.
Saat sampai di depan pagar kampus, dengan perasaan yang masih tak tertebak Qila berniat untuk memesan ojol. Namun sebuah mobil mewah berwarna hitam tampak berhenti tepat di depan Qila. Dan keluarlah seorang gadis manis yang tak lain adalah Aca.
"Hai ...." sapa Aca sambil tersenyum lalu mendekati Qila.
"Hm," balas Qila tersenyum singkat.
"Pulang bareng gue yuk!"
"Nggak usah."
__ADS_1
"Pliis ... gue cuman mau nganterin lo kok. Ya ya ...." bujuk Aca sambil mengangkat kedua tangannya dan menyatukan sembari memohon.
"Gue bareng ojol aja."
"Yaah ... rugi loh kamu. Masa tumpangan gratis ada, tapi kamu malah milih yang berbayar," ucap Aca memelas.
Melihat itu Qila tampak berpikir sejenak, sambil menatap ke arah Aca
"Huh ... ya udah deh, ayok!"
Mendengar itu spontan Aca langsung mengangkat wajahnya menatap Qila.
"Serius?" tanya Aca tersenyum.
"Berangkat nggak nih?"
"Ohh, oke oke. Ayok!" ajak Aca semangat.
***
Saat di perjalanan
"Are you oke Qila?" tanya Aca yang memecahkan lamunan Qila. Karna sepanjang perjalanan, Qila tampak memikirkan sesuatu. Bayangan Levin masih terngiang di otaknya. Dan dibalas anggukan singkat oleh Qila.
"Kalo lo punya masalah, cerita aja. Karna mulai tadi kita adalah temen," ucap Aca sambil tersenyum.
Mendengar itu Qila melihat nanar ke arah Aca.
"Gue nggak asik buat jadi temen," ucap Qila lalu kembali melihat luar jendela.
"Tapi aku suka kok. Kamu apa adanya. Dan menurut aku ... kamu nggak perlu jadi orang lain," ucap Aca yang membuat Qila tertegun. Qila tak percaya, ternyata masih ada yang menerima Qila apa adanya. Bahkan Qila berpikir, dia tidak akan menemukan teman seperti itu lagi setelah Kayra pergi ke Prancis.
Qila tersenyum singkat mendengar ucapan Qila.
"Ohh ya, kita mau kemana dulu nih?" tanya Aca.
"Pulang aja."
"Mm ... nggak mau kemana dulu gitu? Ke Mall misalnya."
"Yaa, shopping," balas Aca sambil melihat kearah Qila lalu kembali fokus pada kemudinya.
Qila hanya diam tampa merespon ucapan Aca.
"Lo nggak suka shopping?" sambung Aca lagi.
"Nggak ada cewek yang nggak suka shopping."
"Trus?"
"Trus apa?"
"Kenapa lo nggak mau shopping?"
Dan Qila hanya mengangkat kedua bahunya, dengan mata yang tetap fokus pada jalanan kota.
"Dulu ... gue orangnya nggak suka shopping. Gue orangnya duduk di rumah terus, jarang keluar, sampe-sampe nggak ada yang mau temenan sama gue. Namun setelah gue tinggal di rumah tante. Gue selalu di ajak shopping. Kata tante ... 'uang itu, di cari untuk di habiskan,' makanya setelah itu aku jadi suka shopping gitu. Tapi masih nggak ada yang mau temenan sama gue. Dan lo ... adalah temen gue pertama di Indonesia. Gue seneng banget, akhirnya gue punya temen," sambung Aca sambil tersenyum.
Mendengar itu Qila diam sejenak.
"Tapi, bunda gue ngajarin gue untuk tidak menyukai shopping" balas Qila datar.
"Kenapa?"
"Karna kami tidak punya cukup uang untuk di habiskan," balas Qila tampa melihat ke arah Aca.
"Ohh, mm ... ya udah. Kita makan aja yuk!" ajak Aca untuk memecahkan kecanggungannya.
"Gue yang traktir. Gimana? Anggap aja ini perayaan awal pertemanan kita," sambungnya lagi.
"Terserah," ucap Qila singkat. Karna jujur saja, perutnya sudah sangat lapar dari tadi.
"Okee ... kita mau makan di cafe mana?"
__ADS_1
"Disitu aja." Menunjuk ke arah tukang bakso yang ada di pinggir jalan.
"D-disitu?" tanya Aca memastikan.
"Kenapa? Lo nggak suka?"
Bukannya tidak suka. Tapi seumur-umur, Aca tidak pernah makan di pinggir jalan seperti itu. Karna Aca biasa makan di cafe atau resto bintang lima.
"Ehh, nggak kok. Gue sih oke aja," ucapnya lagi sembari memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dan kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Pak, baksonya dua. Makan disini ya," ucap Qila pada tukang bakso, lalu duduk disamping Aca.
"Lo udah sering makan disini ya?" tanya Aca
"Hm."
"Lo tinggal disini sama siapa?"
"Sendiri."
"Mama sama papa lo dimana?"
"Ayah udah meninggal sejak gue lulus smp. kalo bunda di kampung"
"Ohh, maaf ya ... gue nggak tau."
"Biasa aja."
"Lo bukan asli kota ini ya?"
"Hm ... gue dari kampung."
"Ohh ... terus yang masak siapa? Yang bersih bersih, atau yang nyuci gitu."
"Kalo buat cewek kampung kayak gue, urusan gitu-gitu nggak terlalu sulit kayaknya," jawab Qila datar.
"Yaah ... gue merasa gagal jadi cewek." Memanyunkan bibirnya.
Qila tersenyum kecil mendengar ucapan Aca. Sangat kecil, namun dapat di lihat oleh Aca.
"Lo cantik," ucap Aca tiba tiba.
Mendengar itu Qila langsung melihat ke arah Aca dengan sirat mata yang tak dapat di artikan.
"Nggak ada definisi kalo cewek gemuk itu cantik!"
"Tapi gue pikir lo nggak terlalu gemuk kok. Malahan kamu keliatan imut gitu," ucap Aca jujur.
Qila hanya diam tampa merespon ucapan Ac. Aca yang melihat perubahan pada wajah Qila pun langsung mangalihkan pembicaraan mereka.
"Ehh BTW ... lo kok bisa kuliah disini?" tanya Aca.
"Karna gue miskin?"
"Ehh, bukan ... bukan gitu maksud gue. Gue cuman ...."
"Udah santai aja," balas Qila memutuskan ucapan Aca.
"Emang sih, di kampus elit itu mayoritas mahasiswanya orang orang kaya kayak lo. Yang kalo punya uang itu untuk di habiskan. Beda sama kehidupan gue. Cukup buat hidup aja alhamdulillah. Dan kenapa gue bisa kuliah disini? Mungkin gue emang nggak punya cukup uang untuk membiayai kampus sebagus itu. Tapi seenggaknya gue punya otak yang bisa gue andalin," jelas Qila panjang untuk pertama kalinya pada Aca dengan wajah yang masih datar.
"Lo anak beasiswa?" tanya Aca tak menyangka.
"Hm"
"Wow! Lo keren banget sumpah, gue makin kagum sama lo," ucap Aca sambil tersenyum kagum ke arah Qila.
Melihat itu Qila memicingkan matanya menatap Aca.
"Eitt ... jangan mikir yang aneh aneh ya. Gue masih normal," jelas Aca saat di tatap oleh Qila.
"Mana tau lo homosexual kan," balas Qila enteng sambil mengangkat kedua bahunya.
'Buset! Dia ngeraguin ke cewekan gue nih!'
__ADS_1
Happy reading😘😘