
"Bunda tau ... tapi bersikaplah seolah Qila baik-baik saja. Qila harus percaya, bahwa Allah tidak akan memberikan beban di luar batas kemampuan hambanya. Qila harus percaya itu."
Qila diam sejenak mendengar ucapan Bundanya, lalu kembali mengapus air matanya. Dan saat Qila ingin mengatakan sesuatu, tiba tiba ponsel Qila ditarik oleh sesorang. Dan sontak membuat Qila melunjak kaget, lalu melihat ke arah orang tersebut.
"Bang Evin!" sontak Qila saat mengetahui bahwa orang itu adalah Levin.
"Siniin Hp saya!"
Levin hanya diam sembari terus menatap Qila, lalu menempelkan ponsel Qila pada telinganya.
"Halo Tante," ucap Levin dengan mata yang terus menatap Qila.
"Halo, ini siapa, ya? Qila dimana?" tanya Hani prihatin.
"Saya Levin, sepupunya Aca, temen Qila. Dan sekarang Qila lagi ada sama saya Tante, jadi Tante nggak perlu khawatir."
"Alhamdulillah ... Tante pikir kamu siapa."
"Maaf Tante."
"Iya, nggak papa. Oh ya, Levin ... tolong jaga Qila di sana ya, soalnya Qila itu anak satu satunya Tante. Tante nggak mau dia kenapa-napa."
"Iya Tante, Evin akan jaga Qila."
Qila hanya diam mendengar ucapan Levin.
'Apa mungkin bang Evin bisa jagain gue? Sedangkan setiap harinya bang Evin lah yang selalu buat gue nangis.'
"Bagus lah, Tante senang dengarnya. Ya sudah, sampaikan salam Tante pada Qila ya, dan sama orang tua kamu juga."
"Iya Tante."
"Kalo gitu Tante tutup dulu, Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam."
Levin melempar ponsel Qila di atas ranjang. Lalu kembali manatap gadis yang ada di hadapannya itu.
Sedangkan Qila hanya membuang mukanya kesamping tampa ingin membalas tatapan Levin.
"Kenapa lo nggak buka pintu?"
"Saya cuman nggak mau anda masuk ke kamar saya!"
"Tapi buktinya gue tetep bisa masuk, kan?"
Mendengar itu Qila melihat ke arah pintu. Masih tertutup dan terkunci. Lalu dari mana Levin masuk?
"Gue lewat jendela." ucap Levin seperti tau pertanyaan Qila.
"Lantai dua?"
Mendengar itu Levin mengangkat kedua alisnya, seperti pertanda iya. Karna memang setelah Qila tak membuka pintu untuknya tadi, Levin menyuruh satpam di rumahnya membawa tangga untuk mencapai jendela kamar Qila. Sampai akhirnya saat Levin tiba di atas, Levin tak sengaja mendengar percakapan antara Qila dan Hani.
"Katakan! Untuk apa anda masuk? Setelah itu anda boleh keluar."
"Lo kenapa nangis?"
Mendengar pertanyaan itu Qila melihat ke arah Levin.
'Tentu saja karna lo, batu!'
"Lo nangis karna gue marahin Anjas?"
"Terserah! Bukan urusan anda."
"Atau lo nangis karna gue bilang lo pasangan serasi sama Anjas? Tapi kalian emang serasi, kan?"
Mendengar kalimat itu, kembali lagi terasa nyeri yang menghujam pada dada Qila. Qila tak suka mendengarnya. Qila tak ingin Levin mengatakan itu! Qila menatap Levin tajam.
"Iya! Kita emang pasangan serasi. Kita emang pasangan yang cocok, kan? Bukankah begitu? Bang Anjas juga orang yang baik. Dia selalu bikin saya ketawa, jauh berbeda dengan anda yang setiap harinya hanya bikin saya nangis. Tapi anehnya entah kenapa saya bisa menyukai lelaki semacam anda. Saya harap bang Anjas memang mampu untuk membuat saya melupakan anda! Dan saya harap secepatnya!" bentak Qila.
"Dan gue bakalan bikin lo untuk nggak bisa ngelupain gue."
"Kenapa? Apa anda bahagia punya mainan? Apa anda bahagia karna bisa bikin orang lain terus nangis? Oh, saya baru sadar, lelaki batu seperti anda memang tidak punya hati!"
"Karna hati gue udah lo ambil."
Mendengar itu Qila sedikit tertawa
__ADS_1
"Jadi anda enak banget ya ... bisa menjungkir balikkan perasaan orang lain. Gampang banget anda bilang sesuatu yang membuat orang lain merasa berharga, lalu setelah itu dengan gampang pula anda membuat orang lain merasa tak berguna."
"Gue nggak suka liat lo sama Anjas! Bukankah dari awal gue udah bilang, hah! Lo pikir pagi tadi gue nggak tau, Anjas jemput lo? Dan sekarang lo pulang juga diantar sama Anjas. Lo sebenernya paham atau nggak, sih?"
"Fungsinya anda ngelarang saya bareng bang Anjas itu apa? Biar penderitaan saya lebih sempurna, gitu!? Seenggaknya, saat bareng bang Anjas saya bisa ketawa dibanding saat saya bareng anda."
"Gue nggak pernah bikin lo nangis."
"Bukan nggak pernah, hanya nggak sadar!"
"Mau lo apa, sih!?"
"Mau saya? Mau saya anda pergi dan tinggalin saya sendiri. Saya capek!"
Mendengar itu Levin diam sejenak sembari terus menatap Qila.
"Oke! Kalo itu mau lo. Gue akan pergi!" bentak Levin, lalu pergi dari hadapan Qila, kemudian membanting pintu kamar Qila dengan kasar.
Qila hanya diam saat mendapati Levin yang pergi. Qila kembali terduduk lemah. Semua kata itu dusta! Tidak! Qila tidak ingin Levin pergi. Qila tidak berharap Anjas bisa membuatnya melupakan Levin. Qila masih mencintai Levin. Tapi semua kata itu mungkin cukup untuk membuat Qila terlihat lebih kuat.
-------------------
Aku sendiripun tak mengerti dengan rasa ini. Benci dan cinta datang silih berganti menghampiri hati yang tak bertuan. Rasa ingin memiliki ada. Tapi kalah dengan rasa sadar diri, bahwa seberapa pantaskah aku untuk sempurna mu.
~Aqila Liliana~
****
Pagi itu Levin sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Levin menuruni anak tangga dengan santai tampa menoleh.
"Levin ... kesini Nak, temen-temen kamu udah nunggu dari tadi, nih."
Mendengar itu Levin melihat ke arah temannya sekilas.
"Ya udah, ayok!"
"Qila sama kamu ya," ucap Widia tiba-tiba.
Mendengar itu, Qila yang duduk bersama Aca, Jeki dan Lion melunjak kaget.
"Hah? Ng-nggak usah Tante. Qila ...."
Mendengar itu Qila hanya diam. Levin tak seperti biasanya. Biasanya Levin mengiyakan atau hanya diam. Lalu sekarang apa? Apa Levin benar-benar marah karna ucapan Qila semalam?
Qila masih mematung mendengar ucapan Levin.
"Tapikan kamu juga lagi sendiri. Jadi nggak masalah dong kalo Qila ...."
"Evin nggak bisa! Kalo Evin bilang nggak bisa, ya nggak bisa! Kerjaannya cuman ngerepotin doang!" bentak Levin sembari berjalan keluar tampa menghiraukan orang di sekitarnya.
Jeki dan Lion kaget saat melihat Levin semarah itu. Tak biasanya Levin marah begitu pada Qila. Namun mereka juga tidak tau apa masalahnya. Begitu pun dengan Aca yang merasa khawatir dengan sahabatnya yang selalu dipermainkan oleh Levin.
Qila tak menyalahkan siapapun. Karna bukankah ini kehendaknya, untuk menyuruh Levin menjauh?
"Nggak papa Tante, Qila bisa naik taxi online aja."
"Lo naik sama gue aja." timpal Lion.
"Tapi lo nggak papa kan, Qila?" tanya Aca prihatin.
"Nggak papa kok." Berusaha tersenyum.
"Apa Qila tau, Evin punya masalah apa?" tanya Widia yang tak mengerti dengan sikap anaknya.
"Mm ... kalo itu Qila kurang tau, Tante. Mungkin bang Evin lagi capek aja." Bohong Qila.
"Ya sudah, kalau gitu kalian berangkat ya. Hati-hati di jalan."
"Iya, permisi Tante. Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam ...."
****
Saat di perjalanan.
"Qila," panggil Lion, saat merasa Qila yang hanya diam sembari terus menatap jalanan kota.
"Hm." Melihat ke arah Lion.
__ADS_1
"Lo sama Evin lagi ada masalah?"
"Nggak kok."
Mendengar itu Lion hanya membalasnya dengan mengangguk kecil.
"Levin itu emang gitu. Orangnya angkuh, jadi kalo dia ngomong kasar sama lo, mending nggak usah dianggap serius. Soalnya Levin nggak bisa bersikap manis kayak sikap Anjas sama lo, apa lagi kayak sikap Jeki."
"Mm ... iya, aku paham kok. Lagi pun aku udah biasa diperlakukan kayak gitu," ucap Qila sembari tertawa hambar.
"Emang kenapa tadi Evin marah banget, sih?"
Mendengar itu Qila terdiam.
'Itu bukan salahnya. Bang Evin benar! Bukannya gue yang nyuruh bang Evin buat pergi? Jadi pantas kan, kalo dia marah kayak tadi,' batin Qila.
"Qila!"
"I-iya?"
"Kok malah bengong sih?"
"Eh, nggak papa kok. Oh ya, denger dari cerita bang Jek, bang Lion belum bisa move on ya? Emang bang Lion suka sama siapa?" tanya Qila mengalihkan pembicaraan.
Mendengar itu Lion tampak diam sejenak.
"Claudia," jawabnya datar.
"Hah? Claudia?"
"Iya ... lo kenal?"
"Mm ... itu, ratu kampus, kan? Jadi gue kenal lah." Padahal Qila mengenal Claudia karna kejadian Claudia melabraknya kemaren.
"Nah itu, jadi dulu aku sempet pacaran sama Claudia, tapi nggak tau nya dia cuman manfaatin gue buat deket sama Evin. Karna waktu dia pacaran sama gue, dia sering ikut nongkrong bareng sama kita."
"Tapi bukannya Claudia itu sepupu bang Evin, ya? Berarti sama kayak Aca juga dong? Tapi kok bisa Claudia nggak akrab sama Levin, kayak Aca?"
"Iya ... Aca itu sepupu dari Tante, sedangkan Claudia itu sepupu dari Om. Sebenernya Om itu anak tunggal, tapi denger cerita sih, Papanya Claudia itu cuman saudara tiri Om Herman, yang ada karna perselingkuhan gitu."
"Jadi Evin marah karna Claudia itu cuman sepupu tiri?"
"Sebenarnya sih, bukan itu masalahnya. Tapi karna papa Claudia itu membunuh orang tuanya sendiri, cuman untuk mendapatkan aset perusahaan."
"Lah? Jadi perusahaan Om Herman punya siapa?"
"Perusahaan itu emang punya Om Herman. Om Herman udah membangun perusahaan itu dari nol, sampai akhirnya menjadi maju kayak sekarang. Tapi kalo kampus Hiro Univercity itu, baru warisan dari kakeknya Evin. Karna papa Claudia yang licik itu memberikan dua puluh lima persen untuk Om Herman, dari kekayaan yang kakek Levin miliki."
"Oohh ... gitu? Jadi perusahaan Claudia itu warisan? Kenapa Om nggak nuntuk aja, ya?"
"Mungkin karna saudara. Lagipun sekarang perusahaan Om Herman jauh lebih maju dari pada perusahaan Claudia."
"Iya juga sih."
Setelah mereka sampai, tampak Anjas tengah berbincang dengan Jeki dan Aca yang sudah sampai terlebih dahulu, di tempat parkir.
Kemudian Lion memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Jeki.
"Eh, kok Qila perginya bareng Lion? Tumben," tanya Anjas bingung. Tapi di hatinya begitu bahagia jika Qila tidak pergi bersama Levin.
"Iya, soalnya mobil gue lagi kosong juga. Jadi gue ajak Qila bareng aja," jawab Lion.
"Oohh, gitu?"
"Ya udah, Qila mau masuk nih. Kalian belum pengen masuk?" tanya Qila.
"Mm ... lo duluan aja ya," ucap Aca.
"Ya udah deh. Kalo gitu gue duluan, ya."
"Gue bareng lo Qila." tukas Anjas.
Dijawab anggukan oleh Qila.
Qila berjalan menuju ruang ujiannya bersama Anjas. Sedikit obrolan menemani kekalutan yang ada dalam pikiran Qila. kejadian pagi tadi cukup untuk menghancurkan semangatnya pagi ini.
Belum habis perdebatannya tentang sikap Levin pagi tadi. Di tengah perjalanan Qila malah tak sengaja menangkap sosok Levin. Lelaki yang sedang mengacaukan pikirannya. Dan kenyataan yang lebih buruknya lagi, Levin tampak berdua dengan seorang wanita yang ternyata adalah Claudia.
Happy reading😘😘
__ADS_1