
Tok tok tok
"Nak ...."
Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari luar ruang kamar kecil yang bernuansa warna pink.
"Boleh Bunda masuk ...." sahut Hani yang tak lain adalah ibu Qila.
Buk Hani merupakan seorang janda yang telah membesarkan dan menyekolahkan Qila selama mendiang suami meninggal akibat serangan jantung, pada saat Qila baru lulus SMP. Setelah suaminya meninggal, Hani merupakan Ibu dan juga Bapak bagi sosok Qila. Yang mempunyai usaha ketring kecil kecilan untuk kelangsungan hidup mereka.
"Masuk aja Bun, nggak dikunci kok," jawab Qila dari dalam.
Hani membuka pintu perlahan. Nampak anak satu satunya itu tengah bersandar pada kepala ranjang miliknya, lalu Hani masuk dan duduk ditepi ranjang, samping Qila.
"Belum tidur?"
"Belum ngantuk Bun ...." balas Qila sambil tersenyum.
"Bisa Bunda ngomong bentar?"
Dan dibalas anggukan oleh Qila.
"Apa Qila punya masalah lagi?"
Qila menggeleng.
"Nggak kok Bun, Qila baik baik aja," jawab Qila sambil berusaha tersenyum.
Entah bisa disebut baik baik saja atau tidak. Besok Qila akan memulai kehidupannya di perkotaan lagi. Mengingatnya saja sudah menakutkan, ditambah perjalanan kali ini tampa seorang sahabatnya Kayra. Apa mungkin Qila bisa bertahan? Entahlah. Meninggalkan Bundanya saja rasanya enggan. Baru beberapa bulan ini Qila bisa berada dekat dengan Bundanya, namun besok dia harus kembali menyendiri lagi. Dan benar benar sendiri, tampa sahabatnya.
"Nak ...." lirih Hani sambil mendekati sang anak.
"Bunda adalah orang yang udah membawa janin kamu selama sembilan bulan. Bunda juga yang melahirkan kamu dengan semua tenaga yang bunda punya, lalu Bunda dan Ayah membesarkan kamu dengan kasih sayang yang kami punya. Kamu adalah sesuatu yang paling berharga yang kami miliki di bumi. Tuhan menitipkan mu kepada Bunda dan Ayah agar kami merawatmu dengan baik. Dan sekarang setelah Ayah mu meninggal, hanya kamu satu satunya yang bunda punya. Dan kamu tau? Bunda sudah mengenal dirimu jauh sebelum kamu mengenal dirimu sendiri sayang ... Bunda tau kamu punya banyak masalah. Kamu tidak sedang baik baik saja ...tapi asal kamu tau Nak ... masalah itu nggak bisa kamu selesain sendiri. Bahkan itu hanya akan membuat kamu makin terpuruk. Kamu harus cerita sama orang lain, kalo kamu nggak mau cerita sama Bunda seenggaknya cerita sama Kayra temen kamu. Jangan di pendem. Bunda nggak suka ngeliat anak bunda yang ramah ini sekarang jadi pendiem."
"Qila udah cerita sama Kayra Bun ...." lirih Qila sambil menunduk.
"Lalu?"
"Tapi katanya, Kayra mau kuliah di Prancis."
"Ya bagus dong ...."
"Tapi kalo Kayra kuliah di Prancis, nanti temen Qila di kampus siapa?" ucap Qila sambil melihat ke arah bundanya.
Hani tersenyum mendengar ucapan anak semata wayangnya.
"Qila ...." ucapnya sambil mengelus rambut ikal milik Qila.
"Ingat... di bumi ini masih banyak orang yang mau nerima Qila apa adanya. Kayra milih kuliah di Prancis itu mungkin demi kebaikannya. Dia punya kehidupan baru yang harus dia jalani, begitupun dengan Qila. Qila mungkin boleh berubah, tapi Qila nggak boleh terpuruk. Karna semakin Qila terpuruk, maka orang orang yang benci sama Qila semakin menang! Tunjukkan pada mereka semua kalo Qila itu kuat. Qila itu bukanlah gadis lemah. Qila adalah gadis mandiri dan bukan gadis cengeng. Kalo perlu ... buat mereka menarik kembali kata kata yang pernah mereka ucapkan sama Qila. Mereka bilang Qila bodoh? Tapi kita lihat sekarang ... buktinya Qila dapet beasiswa di Universitas elit. Jadi disini siapa yang bodoh? Qila atau mereka? Maka dari itu Qila nggak boleh gampang nangis. Qila harus bangkit okee," ucap Bunda Qila tersenyum sembari memberi semangat kepada anaknya.
__ADS_1
Qila mengangguk sambil tersenyum kearah Bundanya.
"Makasih ya Bun ... Qila sayang Bunda. Qila janji! Qila bakal buktiin kesemua orang, siapa Qila sebenernya. Qila bakal bangkit, Qila janji Bun ...." lirih Qila sambil memeluk Bundanya.
"Iya sayang ... Bunda percaya sama kamu," balas Hani sambil ikut memeluk putrinya.
"Ohh ya ... besok kamu mau berangkatkan?"
"Iya Bun ...." jawab Qila sambil melepaskan pelukannya.
"Udah siapin semuanya?"
Dibalas anggukan oleh Qila
"Baju? Alat kuliah? Baju tidur? Trus ...."
"Udah semuanya Bunda ...." ucap Qila memutuskan ucapan Bundanya lalu langsung memeluk Bundanya dengan erat lagi. Karna besok mereka akan berpisah untuk beberapa tahun.
"Jaga diri baik baik ya disana ... ingat! Kamu harus kuat dan mandiri."
"Iya Bunda ...."
"Ya udah, sekarang kamu tidur ya, besok pagi kamu udah harus berangkat," ucap Hani sambil melepaskan pelukannya.
"Hm ... selamat malam Bunda."
***
Paginya sekitar jam 9. Setelah Qila berpamitan dengan ibunya, Qila langsung berangkat ke stasiun kereta api menuju ke kontrakannya yang ada di kota tempatnya kuliah. Perjalanan tersebut memakan waktu tiga jam. Letak kontrakan menuju kampusnya sekitar tiga puluh menit. Cukup jauh memang.Tapi kontrakan itu lebih murah dibandingkan kontrakan yang ada disekitar kampusnya.
Setelah sampai di kontrakannya pada jam dua belas siang, Qila langsung membereskan pakaiannya. Dan karna kontrakan itu peralatannya sudah cukup lengkap, maka Qila tak perlu lagi untuk membawa banyak barang dari kampungnya. Setelah selesai memasukkan pakaiannya ke dalam lemari, Qila langsung berbaring di atas ranjang sederhananya, sembari melepas penat perjalanan yang di tempuh tadi.
"Ahh capek ...." lirihnya.
Akhirnya tampa sadar Qila tertidur sampai jam tiga sore. Perjalanan yang lumayan jauh, sedikit menguras tenaganya. Dan Setelah bangun Qila langsung membersihkan diri, lalu bersiap untuk pergi kedokter meminta surat keterangan sakit dari dokter.
Untuk apa? Tentu saja surat itu digunakan Qila untuk terbebas dari ospek penerimaan mahasiswa baru selama tiga hari. Qila sangat malas jika harus menghabiskan waktu yang tidak penting semacam itu.
'Lebih baik tidur,' pikirnya. Maka satu satunya cara, yaitu dengan meminta surat keterangan sakit dari dokter.
****
Tak terasa sudah satu minggu Qila berada disini. Dan hari ini merupakan hari pertama Qila melaksanakan perkuliahan.
Qila sudah sampai di depan kampus dengan menggunakan ojol. Karna Qila sendiri tidak punya motor. Motor dulu yang sering dia gunakan waktu sekolah pun juga merupakan motor Kayra sahabatnya. Jadi sekarang ya beginilah keadaannya.
Qila membuang nafas perlahan.
"Gue ... bukan Qila yang dulu lagi!" ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Lalu langsung memasuki halaman kampus yang luas, di penuhi tumbuhan hijau dan suasana yang begitu asri dan bersih. Begitulah kesan pertama saat Qila melihat kampus elit itu. Sungguh kampus idaman. Bahkan di bawah pohon terdapat kursi tempat mahasiswa duduk santai, ataupun untuk sekedar berkumpul dengan teman temannya.
Dan anehnya lagi, ternyata sikap mahasiswa disini tidak terlalu menonjol seperti saat Qila sekolah dulu. Bahkan sangat jauh dari yang Qila pikirkan. Disini lebih dominan seperti, lo lo ... gue gue ... meskipun tidak semuanya.
'Namun sedikit lebih baik,' pikir Qila.
Yap, memang tidak semuanya. Karna pada saat Qila ingin memasuki rektorat, terdengar suara bentakan dari arah samping. Lalu Qila langsung mendekati arah suara.
"Lo kayaknya anak baru ya?" ucap seorang perempuan bersama satu orang sahabatnya.
"I-iya kak," jawab gadis itu sambil menunduk dan tampak wajahnya sedikit takut.
Melihat itu Qila rasanya benar benar muak. Teringat akan kenangan buruknya.
'Kenapa di kampus elit ini bisa nerima mahasiswa yang nggak beradap?' pikir Qila.
"Oohh, pantesan aja ... lain kali, kalo mau parkir kendaraan itu jangan disitu lagi! Karna itu udah jadi parkiran kita berdua, kamu paham?"
"Pa-paham Kak,"ucap gadis itu gagap sambil mengangguk ketakutan.
"Kalo gitu saya permisi dulu Kak. Sekali lagi maaf," sambung gadis itu. Lalu ketika dia ingin melangkah pergi, gadis itu dihadang oleh kedua perempuan yang ada didepannya.
"Tunggu dulu! Lo nggak bisa pergi gitu aja dong. Karna lo mahasiswi baru ... maka lo harus dapet hukuman dari kita. Anggap aja itu sebagai salam perkenalan dari kita oke," ucap perempuan itu sambil tersenyum sinis.
"Tapi Kak saya ada kelas ...."
"Dan gue nggak perduli!"
"Kenapa anda tidak peduli?"
Tiba tiba dengan keberanian penuh, Qila yang dari tadi hanya menonton dari samping akhirnya mendekati mereka. Lalu menyandarkan dirinya di dinding bangunan sembari melipat kedua tangannya di dada. Qila benar benar sudah muak dengan penindasan semacam ini. Qila sudah berjanji untuk bangkit, dan qila berjanji untuk tidak ditindas lagi. Tapi bukan berarti dia hanya akan menjadi penonton saat ada adegan semacam ini. Karna Qila pun sudah merasakan bagaimana rasanya di bentak dan di tindas seperti itu. Cukup untuk membuatnya terpuruk! Dan Qila tak ingin itu terjadi lagi pada siapapun.
"Ini bukan urusan lo, jadi sebaiknya lo nggak usah ikut campur!" bentak temannya lagi pada Qila.
"Kalo gitu gue juga nggak peduli," ucap Qila datar lalu menghampiri gadis yang sedang tertunduk itu. Menarik lengannya lalu membawanya pergi. Namun ditahan oleh kedua perempuan tersebut.
"Eh, kalian itu anak baru ya disini! jadi jangan pernah macem macem sama kita!"
"Kalo kita macem macem, lo mau apa?" tantang Qila sambil mengangkat kedua alisnya dengan muka datarnya.
"Lo berani banget ya! Lo nggak tau siapa kita hah?"
"Nggak penting juga," ucap Qila lalu langsung pergi tampa menghiraukan kedua perempuan itu, dengan amarah yang masih memuncak.
Lalu ketika sudah sedikit jauh dari kedua perempuan tadi, Qila melepas lengan gadis itu.
"Kalo di tindas jangan diem!"
Happy reading😘
__ADS_1