Dear My Self

Dear My Self
BAB 19 ( Kamar Levin )


__ADS_3

(Gue tunggu di parkir, nggak pake lama!!)


'Siapa? ' batin Qila.


Ting


Pesan dari nomor yang sama.


(Perlu gue jemput, hah! )


'Ya ampun! Gue harus cepet kalo nggak mau punya masalah baru ' sambung batin Qila lagi.


"Eh, gue pergi dulu ya " ucap Qila tiba tiba.


"Mau kemana?" tanya Aca heran.


"Mm ... Gue ada kerjaan bentar, lo nggak papa kan gue tinggal? "


"Udah nggak papa Qila, titip sama bang Jek aja hehe " jawab Jeki sambil tertawa sumbringan.


"Iya Qila, nggak papa kok, kan bang Jek sama bang Lion ada. Tapi kalo lo ada apa apa, telpon Aca aja ya " jawab Aca lagi.


"Ya udah deh, gue pergi dulu ya. Permisi " ucap Qila, lalu dengan cepat dia berlari ke arah parkir.


"Huhh ... Mana sih? Katanya diparkir "


Qila mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan pada nomor tadi.


(Parkir mana? Kok nggak ada! ) Send


Ting


(Bukan parkir kampus, tapi parkir khusus lamban! )


"Ck-dasar orang kaya " rungut Qila, lalu berlari ke arah parkir yang dimaksud Levin.


"Lama banget, lo tau gue nggak suka nunggu? "


Qila hanya diam sambil membuang mukanya, karna kalau Qila menjawab, siap siap untuk menerima mulut pedasnya Levin.


"Masuk! "


"Mau kemana? "


"Terserah gue mau kemana, tugas lo cuman nurut! "


Dengan malas Qila memasuki mobil Levin.


Levin menyusuri jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Qila hanya diam tak berkutik, hanya mengikuti kemana arah mobil membawanya, sembari melihat ke arah luar jendela. Tampak begitu membosankan memang, sebab sudah hampir satu jam perjalanan hanya keheningan yang menemani keduanya, tak ada yang ingin mulai membuka suara.


Tak lama, Levin menghentikan mobilnya pada suatu tempat yang tak pernah Qila kunjungi sebelumnya. Levin tampak keluar dari mobil, lalu duduk didepan bagasi mobil, melihat itu sontak Qila juga ikut keluar dari mobil. Sesaat Qila tertegun saat dia keluar, ternyata didepannya sudah terpampang pemandangan kota yang begitu menakjubkan. Qila menyusuri setiap pemandangan tanpa mengedip kan mata, untuk pertama kali Qila berada di tempat seperti ini, karna biasanya Qila hanya main dirumah atau sekedar santai di taman.


Selanjutnya Qila memilih mendekati Levin, lalu menyenderkan bokongnya pada bagasi mobil tepat disamping Levin, dengan mata yang masih tersirat pada keindahan yang ada didepannya.


"Ini tempat biasa gue sama Lion dan Jeki nongkrong " Ucap Levin membuka suara tanpa melihat ke arah Qila.


Mendengar itu Qila mendongakkan wajahnya meghadap ke arah Levin,  namun tetap saja tak ada satu kata pun yang lolos dari mulut Qila. Qila hanya diam sembari menatap Levin lekat.


"Kita biasanya main disini kalo lagi ada masalah sama keluarga " sambung Levin lagi sembari ikut melihat ke arah Qila.


"Masalah keluarga? "


Levin hanya diam lalu kembali menatap ke arah pemandangan kota.

__ADS_1


"Orang kaya juga punya masalah ya "


Tampak Levin tertawa kecil.


"Hidup nggak seenak itu. Kadang suka capek aja kalo disuruh kerja gantiin Papa terus, kayak hidup ini cuman buat kerja kerja dan kerja. Nggak bisa bebas "


Qila tampak diam sejenak.


"Tapi emang nggak bisa di pungkiri, kalo kita hidup emang buat kerja " ucap Qila sambil melepaskan pandangannya dari Levin, lalu ikut melihat pemandangan kota yang ada didepannya.


Mendengar itu Levin melihat ke arah Qila.


"Saya pikir anda punya pilihan yang baik. Kerja di tempat yang terhormat, ruang ber AC, baju yang rapi, kedudukan yang tinggi, dan pastinya berada dalam ruangan bersama berkas berkas, lalu menandatanganinya. Memang sedikit membosankan mungkin ... Tapi lebih baik dari pada bekerja di tempat kumuh, baju seadanya, kotor, panas, dan pastinya nggak bisa cuman duduk santai seperti yang di tawarkan Papa anda. "


Levin tertegun mendengar ucapan Qila.


"Manusia selalu gitu, ketika di beri kemudahan, pengennya yang susah. Bahkan diluar sana, saya rasa masih banyak sekali orang yang ingin menjadi seperti anda"


"Tapi gue rasa, berada pada kedudukan yang tinggi nggak ngejamin kita buat bahagia bukan? "


"Emang iya. Tapi lebih nggak terjamin jika kita nggak punya kedudukan itu. Saya pikir nggak ada salahnya jika anda memikirkan tawaran Papa anda kembali"


Levin tampak diam sejenak.


"Gue nggak suka di panggil anda. Apa seasing itu? "


"Hm? " tanya Qila sambil melihat ke arah Levin.


"Apa untuk beberapa tahun lo kenal gue, masih terasa seasing itu? "  tanya Levin lagi.


"Itu bukan lah hal yang harus di perdebat kan "


Levin hanya diam terpaku mendengar ucapan Qila. Levin merasa ada yang berubah dalam diri Qila dari beberapa tahun yang lalu. Kini rasanya ada benteng yang tak bisa lagi membuat Qila untuk mengeluarkan sumpah serapahnya pada sosok Levin. Terbesit rasa tak suka saat pertama kali mendengar kata ANDA. Memang hanya panggilan yang singkat, tetapi rasanya begitu jauh meskipun mereka sedang dekat.


Mendengar itu, Qila mendongakkan wajahnya ke arah Levin.


"Gue nggak suka nulis, jadi perjanjian ini hanya gue sampein secara lisan. Peraturan yang pertama, gue nggak suka nunggu, jadi lo harus on time. Kedua, gue nggak punya siaran ulang, jadi lo nggak boleh lamban. Dan ketiga, gue nggak suka penolakan, jadi lo nggak boleh ngebantah "


"Tapi saya juga punya kegiatan sendiri  "


"Kembali pada peraturan ketiga, lo nggak boleh ngebantah "


Qila membuang mukanya kesamping lalu mebuang nafasnya perlahan. Karna mulai sekarang mungkin dia harus lebih banyak sabar dari sebelumnya.


"Udah malem, saya mau pulang " ucap Qila lagi.


Levin melihat ke arah Qila sebentar, lalu melangkah pergi menuju mobilnya, dan sontak di ikuti oleh Qila yang juga masuk ke dalam mobil.


Lalu Levin mengemudi mobil menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan antara Qila maupun Levin, hanya terdengar suara halus mesin mobil Levin, bersama deru angin yang kian menyengat. Waktu yang larut dan perjalanan yang cukup jauh, membuat Qila tampa sadar tertidur didalam mobil Levin.


Tak lama, Levin menghentikan mobilnya tepat di depan rumah milik ibunya. Lalu tampak penjaga menghampiri mobil Levin.


"Maaf tuan, perlu saya bangunkan bibi untuk membawa non Qila masuk? "


"Nggak perlu. Apa Papa sama Mama udah tidur? "


"Kemungkinan udah Tuan, soalnya tadi mereka nanyain keberadaan Tuan, tapi karna saya juga tidak tau, jadi mereka cuman bilang kalo Tuan pulang, kasih kabar aja. Tadi mereka juga sibuk nyari non Qila, tapi saya tidak tau kalo non Qila lagi sama Tuan "


Levin tampak diam sejenak sembari mengangguk.


"Ya udah, jangan bilang ke siapa siapa kalo gue pulang bareng Qila. Dan tolong parkirkan mobil gue ke dalam bagasi "


"Baik Tuan "

__ADS_1


***


Paginya sinar sang surya perlahan mulai menyongsong, hingga menyilaukan mata gadis cabi, yang masih setia di atas ranjang yang terasa begitu empuk. Dengan malas Qila membuka sedikit matanya yang masih terasa mengantuk, lalu menutupnya kembali guna untuk mengumpulkan kesadarannya. Kemudian dengan mata yang masih tertutup Qila mengubah posisinya menghadap ke samping, lalu diam sejenak.


Tik Tik Tik


Untuk beberapa detik hanya terdengar suara dentungan jam yang menemani pagi Qila. Lalu perlahan Qila mulai membuka matanya, mengerjap ngerjap ....


"ASTAGFIRULLAH!!!! "


spontan Qila menarik wajahnya kebelakang, saat mengetahui bahwa tepat satu jengkal didepan wajahnya, sudah ada seorang lelaki yang juga menghadap ke arahnya, dengan mata yang tertutup dan terlihat begitu tenang.


Qila diam mematung saat mengetahui bahwa laki laki itu adalah Levin. Lalu entah kenapa detik selanjutnya, Qila malah memilih untuk menatap wajah Levin. Melihat setiap inci lekukan wajahnya, hidungnya, matanya dan ... Bibirnya.


'Ahh bibir itu, bibir yang sudah mengambil ciuman pertama ku ' batin Qila sembari memejamkan matanya, mencoba membuang jauh semua rasa yang masih terasa nyata.


Lalu Qila kembali membuka matanya. Namun dibuat kaget saat menyadari bahwa Levin juga sedang menatapnya. Dan sontak Qila mundur kebelakang dengan cepat, kemudian mengubah posisinya menjadi terlentang lalu dengan cepat dia duduk, karna merasa telah tertangkap basah.


"Kenapa lo kaget? " tanya Levin datar.


"Kenapa anda bisa tidur di kamar ini!! " ucap Qila untuk mengelak kecanggungannya, tampa melihat ke arah Levin.


Levin tampak tertawa kecil sembari mengubah posisi nya menjadi duduk, lalu menghadap ke arah Qila.


"Kamar ini? Lo pikir ini kamar siapa? "


Dan dengan cepat mata Qila menyusuri setiap sudut ruangan di kamar itu, yang tampak berbeda dari kamar Aca.


'Ya ampun, ini bukan kamar Aca! Kok bisa? '


"Lo lihat ini kamar siapa? Jelas jelas lo yang udah tidur dikamar gue! "


"Saya nggak mungkin tidur dikamar anda, pasti anda kan yang bawa saya kesini! "


"Lo pikir gue cowok apaan hah! Jelas jelas lo yang jalan kesini. Gue juga udah usir lo, tapi lo nya aja yang ngeyel " bohong Levin.


Tapi seingat Qila, semalam dia pulang bersama Levin, dan tertidur didalam mobil Levin. Namun setelah itu Qila sudah tak ingat apa apa.


'Sejak kapan gue mulai jalan tanpa sadar? Kalo bener kayak gitu, bisa malu gue! '


"Kenapa! Apa lo udah sadar akan kesalahan lo itu? " tanya Levin mengintimidasi sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Qila. Dan spontan Qila menjauhkan wajahnya kebelakang, namun Levin malah semakin ke depan, lalu Qila kembali mundur kebelekang, lalu kebelakang lagi, lagi dan lagi, hingga tampa Qila sadari dia sudah berada di ujung ranjang. Lalu tubuh Qila terjatuh dari ranjang, namun untungnya Levin dengan sigap memegang punggung Qila dengan posisi masik terduduk.


Deg


Jantung Qila kembali berdetak hebat, Qila mematung menatap Levin yang juga sedang menatapnya.


Hening


Hening


Namun selanjutnya tampak Levin mendekatkan wajahnya pada wajah Qila, dengan posisi yang masih memegang punggung Qila, kemudian lebih dekat lagi, lebih dekat ... Dan spontan Qila memejamkan matanya,  Qila dapat merasakan wajah Levin yang semakin dekat.


Badan Qila mulai panas dingin dengan jantung yang tak beraturan, Qila menelan slavina nya kasar sambil terus menutup mata. Dan detik selanjutnya, jantung Qila semakin berdetak, saat nafas Levin terasa begitu dekat dari wajahnya.


Deg Deg Deg


Qila terus memejamkan matanya.


"Hhuuuffffffhh"


Qila kaget saat merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, dan spontan Qila membuka mata, mengerjap ngerjap kebingungan.


Levin menarik ujung bibirnya kesamping sambil menjauhkan wajahnya. Lalu melepaskan tangan dari punggung Qila.

__ADS_1


" Apa kau pikir aku akan mencium mu hah! "


__ADS_2