Dear My Self

Dear My Self
BAB 13 (Levin POV)


__ADS_3

LEVIN POV


Tampak seorang lelaki keluar dari sebuah mobil Lamborghini, dengan pakaian santai namun terkesan mahal. Yap, siapa lagi kalau bukan Levin Pernandes.


"Woi! Sini Vin," sahut seorang laki-laki dari jauh sambil mengangkat sebelah tangannya. Tak lain adalah Jeki.


Lalu dengan langkah santai Levin menghampiri temannya itu.


"Dari mana aja sih? Gue tunggu dari tadi kalian nggak nongol-nongol!" sambar Jeki dengan kesal.


"Lion mana?" tanya Levin tampa mengindahkan pertanyaan sahabatnya.


"Ya, mana gue tau. Gue aja udah sampe berlumut duduk sini nungguin kalian, belum lagi tatapan Mahasiswi baru tuh ... Kayaknya meleleh banget deh, ngeliat ketampanan gue," ucap Jeki dengan PD.


"Cih! Pede banget lo. Udah mandi?" tanya Levin ngaur.


"Wah ... lo nguji kebersihan gue nih. Jangan ditanya lagi, udah gue shampo empat kali!"


"Wih, banyak banget."


"Ya iya ... biar adek tingkat makin nempel," ucap Jeki sambil tersenyum.


"Kampret!"


"Ada apa nih? Pagi-pagi udah mau perang aja?" tanya Lion yang baru datang.


"Tau nih, temen lo," jawab Levin.


"Iihh, bukan temen gue lagi!"


"Waah ... jahat nih kalian. Mulai deh! Gue tau kalian iri sama ketampanan gue, tapi nggak gitu juga kali ya."


Ctakk


Satu sentilan dari Levin mendarat di jidat Jeki.


"Sakit woi!"


"Haha ... nggak papa Vin, tambah lagi. Biar otaknya waras dikit," ucap Lion sambil tertawa geli.


"Gue kok ngerasa kayak temen tiri ya?" ucap Jeki sambil memegang jidatnya yang sakit.


Belum sempat Levin dan Lion mengangkat suara, tiba tiba para Mahasiswi baru yang entah dari mana sudah mengerumuni mereka.


"Bang Evin, minta tanda tangan dong ...."


"Bang Evin, minta foto."


"Wiih ... ganteng banget sih."


"Waa, sumpah meleleh gue"


Suara itu terdengar jelas di telinga ketiga pria itu. Dan Levin benar-benar muak dengan wanita ganjen seperti ini. Ingin sekali rasanya Levin memberi sumpah serapah yang level pedesnya sampai tiga ribu, yang sering dia berikan dengan wanita ganjen lainnya. Namun karna mereka masih Mahasiswi baru, dan sepertinya belum tau siapa Levin, jadi diam saja.


Dan Ini adalah alasan utama Levin malas ke kampus pada saat penerimaan Mahasiswa baru. Sedangkan temannya Lion hanya diam sambil berusaha menjauhkan Levin dari kerumunan, dengan susah payah. Sedangkan Jeki dengan senyum cengingirannya, dengan senang hati melayani para gadis-gadis itu.


"Eh, iya sini sini. Mau minta foto ya?" tanya Jeki pada salah satu gadis, sambil tersenyum kearah kamera.


Cekrek


"Makasih Bang."


"Iya ... sama-sama," balasnya sambil tersenyum.


'Aahh, gue ganteng banget deh, hahaha ....' Puji batin Jeki pada dirinya sendiri.


"Woi! Jangan senyum-senyum terus. Lo harus bantu gue nih, biar Evin bisa kabur," bentak Lion pada Jeki.


"Iya ... Iya ... tenang ... kalo gue ada mah, Levin minggat."


"Udah cepetan Kicaan!!" bentak Levin yang sudah geram.


"Iya-iya sabar. Hai girls, permisi ... mau mintak tanda tangan siapa? Oohh ... gue ya? Ya udah sini sini, gratis kok, jadi kalian nggak perlu bayar ya," ucap Jeki pada gadis yang mengerumuni Levin.

__ADS_1


Dan saat sudah sedikit menjauh dari para gadis, Levin langsung kabur meninggalkan kedua sahabatnya bersama kerumunan Mahasiswi baru.


Levin berlari dengan cepat, mengeluarkan semua tenaganya, hingga kerumunan tersebut sudah tidak nampak.


"Huh ... gila banget tu Mahasiswi baru! Nggak tau dia siapa gue. Gue keluarin aja sekalian baru tau rasa mereka!!" rungut Levin sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding kampus, sembari mengatur nafasnya.


Namun belum sempat Levin istirahat, tiba-tiba kerumunan itu berlari ke arah Levin dengan masih berteriak histeris.


"Itu bang Evin! Cepetaaaan ...." sahut mereka.


"MATI GUE!!" ucap Levin yang melihat kerumunan tersebut yang berlari kearahnya, seperti zombie yang sedang kelaparan. Lalu Levin langsung berlari dengan cepat, untuk menjauh dari mereka tersebut.


Dan dengan nafas yang sudah terengah-engah, Levin berbelok ke arah lorong yang agak sepi sambil melihat ke arah belakang, untuk memastikan kerumunan mahasiswi tadi tidak mengikutinya lagi.


"Huh ... huh ... huh ... kayaknya mereka udah pergi deh," ucap Levin sambil mengatur nafasnya.


Levin memilih untuk berhenti, lalu menumpukan tangan pada kedua lututnya sambil mengatur nafas.


"Kalo kek gini, putus urat kaki gue," ucapnya yang masih berjongkok.


Namun tak lama, suara keramaian itu kembali terdengar semakin dekat dari posisi Levin. Mendengar suara itu, Levin mendongakkan wajahnya demi memastikan pendengarannya benar, atau tidak. Namun mata Levin malah bertemu dengan sepasang mata gadis yang tak asing. Untuk beberapa detik hanya keheningan yang terjadi diantara keduanya.


Hingga saat suara keramaian itu terdengar semakin dekat, reflek Levin kabur sambil menarik tangan Qila. Membawa Qila berlari sepanjang lorong dengan nafas yang terengah.


Lalu menarik Qila ke samping tepat di belakang tangga, kemudian menyenderkan tubuh Qila pada dinding, dan mengunci Qila menggunakan sebelah tangannya. Tampa sengaja, Levin menatap wajah Qila yang juga sedang menatapnya. Keheningan itu kembali terjadi untuk beberapa saat di antara keduanya.


'Ahh, mata itu ... ' batin Levin sambil melihat manik hitam milik Qila. Lalu Levin melihat kebawahnya.


'Bibir itu ... ' sambung batin Levin lagi.


'Sial! Kenapa dengan bibirnya? Nggak nggak. Lo udah gila Vin, sejak kapan lo semesum ini!" umpat batin Levin.


Dengan keadaan yang masih bergulat dengan diri sendiri, tiba-tiba Qila mendorong tubuh Levin, dan sontak membuat Levin kaget. Namun karna tenaga Levin yang jauh lebih kuat dari Qila, membuat Levin kembali menyenderkan Qila pada dinding, lalu menutup mulut Qila menggunakan sebelah telapak tangannya. Tapi Qila malah semakin memberontak.


"Sstt ... BISA DIEM NGGAK SIH!?" bentak Levin pada Qila. Dan tak lama terdengarlah suara keramaian yang tepat terdengar di depan tangga.


Levin dengan perasaan yang masih was-was, takut kerumunan akan menemukannya. Tiba-tiba Qila malah memberontak semakin keras. Melihat itu, Levin berusaha untuk membuat Qila diam.


"OKE OKE! Gue bakalan lepasin lo. Tapi dengan syarat lo harus bilang sama mereka, kalo lo nggak ketemu sama gue, PAHAM!"  Dan Levin langsung melepaskan Qila, dan mendorong tubuh Qila kedepan tangga, lalu menatap Qila dengan tatapan tajamnya.


"Cepetan kedepan!" ucap Levin samar. Bahkan suaranya tak dapat di dengar oleh Qila. Dan Levin melihat Qila langsung berjalan kearah kerumunan para gadis.


"Eehem," suara Qila yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Meskipun duduk di belakang tangga, Levin masih bisa mendengar percakapan mereka.


"Ada yang salah?"


"Oohh, nggak kok. Tadi lo lihat cowok lewat sini nggak?" tanya salah satu dari mereka.


"Cowok banyak."


"Em ... maksud kita orangnya itu, ganteng, putih, hidungnya mancung, dan ...."


"Levin Pernandes?" tanya Qila yang memotong ucapan gadis tersebut.


"Hah? Kenapa pake bilang nama gue lagi sih!? Aagghh!!" umpat Levin dari arah belakang, karna mendengar Qila menyebut namanya.


"Iya iya, itu. Lo tau nggak dia dimana?" sambung mereka lagi.


"Jangan bilang, jangan bilang, jangan bilaaang .... " bisik Levin sambil memejamkan matanya keras.


"Tuh, di belakang."


Mendengar itu Levin membuka matanya lebar-lebar.


"SIAL!! DASAR GADIS ANEH! AWAS AJA LO! AAGGHH!! GUE HARUS KABUR CEPET NIH," umpat Levin sambil melihat ke arah depan tangga. TAMPAK para kerumunan Mahasiswi melihat kearah tangga, tepat di tempatnya berdiri.


"Mati gue! Gue harus pergi nih. Oke ... satu ... dua ... Tiga ...!" ucap Levin, lalu pada hitungan ketiga, Levin langsung berlari dengan cepat melewati kerumunan. Dan saat melihat Qila, Levin membulatkan matanya tajam, seperti ingin memakan Qila hidup-hidup. Lalu langsung beranjak pergi. Melihat keberadaan Levin, dengan cepat para Mahasiswi baru mengejar Levin kembali.


"Bang Evin ...." sahut mereka sambil terus mengejar Levin dengan semangat.


"Sial sial sial! Huh ... bisa mati gue kalo harus lari terus" ucap Levin sambil terus berlari menghindari mereka.


"Gue harus ke ruang Direktur. Gue bakalan bikin perhitungan!" rungut Levin lagi, dan langsung berlari menuju ruang Direktur.

__ADS_1


Saat sampai di depan ruang Direktur, Levin langsung menerobos masuk tampa ada pamit sedikitpun, kemudian menutup pintu dengan kasar, lalu menguncinya dari dalam. Dan hal itu sontak membuat Direktur kaget.


"Huh ... huh ... huh ...." suara nafas Levin sambil menyender tubuhnya pada pintu.


"Eh, Levin? Ada apa?" tanya Direktur saat mengetahui bahwa orang itu adalah Levin. Anak dari pemilik kampus yang dia kelola saat ini.


Tampak Levin mengatur nafasnya, lalu duduk tepat di depan meja Direktur.


"Gini pak ... " ucap Levin terputus dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Gue ... mau bikin perhitungan!"


"Perhitungan apa ya, Nak? Apa Bapak pernah salah sama nak Levin?"


"Bukan gitu Pak ... " ucap Levin sambil menetralkan nafasnya lagi.


"Jadi?"


"Gue, Eh maksud saya, saya mau bikin perhitungan sama Mahasisiwi baru Pak!"


"Loh, kenapa?"


"Mereka berani-beraninya ngejer saya sampe saya hampir mati berdiri Pak. Kalo aja saya nggak masuk ke ruang Bapak, saya pastiin ke ujung dunia juga mereka nggak bakalan kapok ngejer saya kayak gitu."


Mendengar itu Direktur tampak tersenyum geli.


"Loh ... kok Bapak malah senyum senyum sih? Saya serius Pak."


"Iya ... iya ... jadi kamu maunya seperti apa?"


Lalu Levin tampak diam sejenak sambil berpikir.


"Saya mau mereka dihukum!"


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"


"Ya enggak lah Pak! Berlebihan mana dibandingkan saya yang dikejer-kejer sampe hampir mati kayak gini? Pokoknya saya mau mereka dihukum. Dan saya tidak terima alasan!" sambung Levin lagi tak mau dibantah.


"Baiklah ... Hukuman apa yang nak Levin ingin berikan sama mereka?"


"Saya mau mereka bersihin toilet kampus selama satu bulan," ucap Oevin enteng.


"Hah?"


"Kenapa? Nggak salahkan Pak? Malahan itu bagus, biar kampus Papa saya makin bersih."


"Ya sudah kalo itu maunya nak Levin. Apa perlu saya beritahu tuan Herman?"


"Nggak perlu bilang sama Papa."


"Baiklah kalo gitu."


Tampak Levin mengangguk puas dengan pernyataan Direktur.


"Tapi masalahnya ... memang nak Levin tau, siapa saja yang mengejar nak Levin?"


"Nggak."


"Jadi?"


"Iya ya ...." ucap Levin sambil berpikir.


"Oohhh ... CCTV kan ada. Jadi bisa tinggal liat CCTV aja. Nanti, siapa aja mukanya yang keliatan ngejer-ngejer saya, atau yang berada dalam kerumunan tersebut, yaa tinggal dipanggil. Gampang kan?"


"Mm ... baik lah. Nanti saya akan menyuruh penjaga untuk mengeceknya."


"Oke, dan Bapak pastikan, besok mereka udah dipanggil. Karna saya juga mau ngasih mereka pelajaran!"


"Iya ... nak Levin tenang saja."


"Oke, kalo gitu saya permisi dulu," ucap Levin, lalu langsung berjalan keluar tampa bersalaman.


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2