Dear My Self

Dear My Self
BAB 20 (Second )


__ADS_3

Apa kau pikir aku akan mencium mu hah!" Ucap Levin lalu berdiri dari ranjangnya. kemudian dengan jalan santai Levin masuk ke kamar mandi.


'Huuhh, apa apaan ini? Apa yang lo pikir kan bod*h!' batin Qila.


"Gue harus cepet keluar, sebelum ketemu sama dia lagi!" Ucap Qila.


Lalu dengan cepat Qila berdiri lalu menghampiri arah pintu kemudian membukanya. Namun ternyata pintu Levin terkunci, dan kuncinya tidak ada pada pintu tersebut.


"Pintunya di kunci lagi. Gimana gue bisa keluar?"


Tak habis akal, Qila pun mencoba mencari kunci kamar Levin. Di atas meja, di dalam laci, maupun di atas nakas. Namun Qila tak dapat menemukannya.


"Kenapa gue selalu sial kalo bareng dia!"


"Lo ngomong apa?"


Tampa Qila sadari Levin sudah keluar dari kamar mandi dan mendengar ucapannya.


"Bukan apa apa," elak Qila.


"Lo pikir gue budeg hah!"


Qila membuang nafasnya kasar.


"Terserah!! TAPI SAYA MOHON BUKA PINTU INI KARNA SAYA MAU ... Mm ..." balas Qila dengan suara yang keras namun terkesan datar. Belum sempat Qila menyudahi kalimatnya, namun lebih dulu Levin membungkam mulut Qila menggunakan bibirnya. Levin  melum*t bibir mungil milik Qila, hingga Qila di buat kaget dengan sikap tak terduga dari Levin.


Qila hanya mematung dan diam seribu bahasa. Tubuhnya begitu lemas saat mendapat perlakuan semacam ini. Namun untuk detik berikutnya, Levin melepaskan bibirnya lembut sembari menatap Qila.


"Lo pengen semua orang di rumah ini tau, kalau lo tidur di kamar gue semalam hah?" tanya Levin datar.


Qila hanya terdiam, sembari terus untuk mencoba menetralkan detak jantungnya. Detak yang terasa habis lari seratus meter.


"Nih, cepatan mandi dan jangan teriak lagi," ucap Levin sembari memberikan handuk pada Qila.


Spontan Qila mengambil handuk tersebut, lalu menatap Levin bingung.


"Dimana saya akan mandi?"


"Tentu aja dikamar mandi lamban!"


Lalu Qila menatap pintu kamar mandi di kamar Levin.


"Disitu?"


"Lo pikir?"


Dan Qila hanya diam, mematung. Setelah kejadian tadi membuatnya sedikit teledor.


"Huhh bener bener ya! Apa lo mau keluar, trus mandi di kamar Aca gitu? Bisa bisa kita langsung dinikahin. Lo mau!" bentak Levin.


Dan dengan cepat Qila menggeleng kan kepalanya.


"Nggak! Bisa bisa saya mati ditangan anda" balas Qila sambil berjalan ke arah kamar mandi, lalu menutup pintunya dengan kasar.


"Huh .. Huh.. Huh ...." Qila mengatur nafasnya yang sudah sesak sedari tadi. Lalu meraba bibirnya yang terasa basah.


"Apa apaan ini? Bahkan gue belum cuci muka sama gosok gigi! Benar benar memalukan!" ucap Qila sambil terus mengetuk kepalanya.


Dor Dor Dor


"Cepatan lamban! Mama nyuruh sarapan dibawah. Baju lo di atas ranjang. Kalo udah selesai langsung turun ke meja makan, paham! Dan nggak pake lama!" bentak Levin dari luar sambil mengedor pintu kamar mandi.


"Ck-kenapa dia begitu menyebalkan!" ucap Qila tampa menjawab sahutan dari Levin.


****


Levin menuruni anak tangga dengan santai, lalu menghampiri meja makan dengan wajah yang masih datar.


"Evin, udah bangun?" tanya ibunya sembari menyiapkan sarapan.


"Hm" jawab Levin sembari duduk di meja makan. Dengan Aca, Lina, dan Papanya yang juga sudah ikut duduk.


"Eh bang, liat Qila dimana nggak?" tanya Aca tiba tiba.


"Kenapa nanya sama gue!" balas Levin ketus tampa melihat ke arah Aca.


"Ya mana tau aja bang Evin liat. Soalnya pas di kantin kemaren, nggak lama setelah bang Evin pergi Qila juga pergi. Tapi nggak tau kemana. Semalem dia juga nggak pulang ...." ucap Aca memelas.


"Udah kamu telpon?" tanya Herman.


"Udah Om, tapi nomornya nggak aktif."

__ADS_1


"Emang kak Aca nggak nanyain, kak Qila mau kemana gitu? " tanya Lina lagi.


Dan dibalas Aca dengan menggelengkan kepalanya lemah.


"Apa perlu kita suruh orang buat nyari aja? Mana tau dia lagi ada masalah kan" sahut Widia lagi.


"Boleh juga Tan, soalnya aku khawatir banget. Mana dia nggak ngasih kabar lagi."


"Apa sebelumnya kalian punya masalah?" tanya Herman lagi.


"Nggak kok Om, terakhir kita ketemu siang kemaren pas di kantin kampus. Sama bang Evin juga. Tapi setelah itu dia bilang ada urusan bentar."


"Udah, kamu tenang aja ya ... ntar Tante nyuruh orang suruhan Om buat nyari Qila oke." ucap Widia sambil ikut duduk.


"Jangan drama! Dia juga udah gede kali" sahut Levin enteng. Karna Levin tau dimana keberadaan Qila.


"Siapa yang drama! Emang bang Evin mah nggak ngerti. Bang Evin kan nggak punya hati!" rungut Aca.


"Udah udah ... emang kamu udah kenal sama temen Aca Vin?" tanya Widia.


"Udah Tante, Aca yang kenalin kemaren waktu dikampus, eh nggak taunya bang Evin udah kenal."


"Oh ya? Emang kamu kenal dimana Vin?"


"Cuman kebetulan" jawab Levin ketus.


"Tapi anaknya baik loh Vin, pinter, cantik lagi."


"Trus kenapa!"


"Ya mana tau aja kamu suka, kan" goda Widia pada anaknya.


"Nggak!"


"Evin ... Evin ... kamu persis kayak Papa kamu. Keras kepala."


"Kok jadi Papa sih Ma," ucap Herman.


"Ya kenyataannya emang gitu kan," balas Widia lagi.


Tak lama terdengarlah suara seseorang menuruni anak tangga dengan tergesa. Dan sontak menarik perhatian ke lima orang yang ada di meja makan.


"Lohh ... itu kak Qila," ucap Lina saat melihat ternyata orang itu adalah Qila.


"Mm ... maaf saya telat," ucap Qila sambil sedikit tersenyum.


"QILA ... lo kemana aja?" sambar Aca berdiri, lalu memeluk Qila.


"Eh ... g-gue nggak kemana mana kok Ca," ucap Qila yang kebingungan.


"Trus kemana aja lo semalem? Lo tidur dimana? Kok lo bisa ada dirumah?" sambar Aca sembari melepaskan pelukannya. Lalu menatap Qila.


"Mm ... itu, eh ... g-gue ...."


"Dia tidur di kamar atas " ucap Levin memutuskan ucapan Qila.


"Hah?"


"Kamar atas mana Vin?" tanya Widia.


"Kamar yang nggak ke pake. Samping kamar Evin," jawab Levin bohong, tanpa melihat ke arah lawan bicara.


"Kok lo tidur disitu sih Qila? Kenapa ngak tidur di kamar gue aja?" tanya Aca.


"Mm ... iya, soalnya semalem gue pulangnya agak larut. Jadi gue nggak mau bangunin lo, takutnya ganggu. Ya udah, gue tidur di kamar yang kosong itu aja. Maaf yaa."


"Trus bang Evin tau dari mana kalo Qila tidur disitu? Aca aja nggak tau."


"Ini masih satu rumah! Jadi nggak heran kan kalo gue nggak sengaja liat dia masuk!" balas Levin ketus.


"Ya udah ... sekarang kalian duduk. Kita sarapan dulu ya," ucap Widia lagi.


Lalu dibalas anggukan oleh kedua gadis tersebut.


Untuk sesaat hanya keheningan yang menemani sarapan mereka. Sampai akhirnya Widia membuka suara.


"Oh ya Qila, ada yang mau tante omongin. Sama Aca juga,"


"Mau ngomong apa tan?" jawab Aca. Sedangkan Qila hanya mendongak kan wajahnya menghadap Widia. Qila masih benar benar malu dengan kejadian pagi tadi di kamar Levin.


"Mm, jadi gini ... tadi bibi nemuin Tante. Katanya baju lemari Aca udah penuh, jadi nggak cukup buat masukin semua baju Qila. Dan kalo mau beli lemari barupun, takutnya nanti kamar Aca sempit."

__ADS_1


"Jadi?"


"Jadi menurut tante. Qila tidur di kamar semalem aja gimana?"


"Kamar semalem?" tanya Qila kaget. Karna semalam dia tidur di kamar Levin.


"Iya ... kamar yang ada di samping kamar Levin. Emang nggak ada yang ngehuni, tapi selalu bibi bersihin kok. Atau kita bisa renovasi ulang sesuai warna kesukaan kamu. Gimana?"


"Kalo menurut Om, kamu juga bagus tidur di kamar itu Qila. Jadi nanti biar Om bikin ruang salin khusus. Supaya kamu nggak ngantri terus kalo di kamar Aca."


"Kalo menurut lo gimana Qila?" tanya Aca.


"Mm, gue sih terserah. Mana bagusnya aja," balas Qila sambil sedikit tersenyum.


"Gue kira kalian nggak mau di pisahin kayak Upin Ipin!" sahut Levin ketus, dengan mata yang masih fokus pada makanannya.


"Evin, jaga omongan kamu!" balas Widia.


"Qila ... nggak usah di dengerin omongan bang Evin ya. Dia orangnya emang gitu," sambungnya lagi.


"Iya nggak papa kok Tan. Qila udah biasa."


"Emang kamu udah biasa sama Evin?"


"Maksud Qila udah biasa di caci." jawab Qila sembari tersenyum. Tepatnya senyum hambar.


'Hah, apa gue barusan nyaci dia?' batin Levin.


Tidak tau kenapa, mendengar ucapan itu Levin tertegun. Terasa ada sesuatu yang tak pernah Levin rasakan selama ini. Sesuatu yang membuat sudut hatinya menjadi merasa bersalah, dan tak terima.


"Nggak tau nih bang Evin. Mulutnya pedes banget! Nggak dapet jodoh ntar baru tau rasa," sambung Aca.


"Emang nggak normal bang Evin nya kak" balas Lina lagi.


"Udah udah, lanjutin aja makannya," ucap Widia.


"Dan nanti biar Tante nyuruh orang buat renovasi kamar kamu ya Qila."


"Iya Tan."


"Kamu sukanya warna apa?"


"Mm ... warna apa aja juga nggak papa Tante."


"Nggak boleh dong, harus sesuai warna kesukaan kamu. Karna ruangan itu akan jadi Private Room buat kamu sayang. Makanya kita harus bikin kamar yang bikin kamu betah. Jadi kamu sukanya warna apa?"


"Mm ... warna pink aja tante."


"Ya udah, kemungkinan siang nanti mereka akan merenovasi kamar kamu. Jadi karna kalian nggak ke kampus hari ini, kita shopping aja sambil nunggu kamar kamu selesai oke."


"Ina pengen ikuut ...." rengek Lina.


"Iya, kita pergi bareng kok. Sama kak Aca juga."


"Yuhuu ...."


Melihat itu Levin memutar bola matanya jengah.


"Dasar, kerjaannya shoping terus!"


"Biarin week" balas Lina sambil menjulurkan lidahnya ke arah Levin.


"Ya sudah, kalo kalian mau shopping nanti bawa kartu kredit unlimited aja ya. Sekalian buat menuhin baju Qila nantinya. Soalnya kemungkinan lemari yang di pake, lemari yang sama kayak punya Aca dan Lina. Jadi nggak bagus kalo lemarinya ada yang kosong," ucap Herman.


"Iya Pa ... oh ya, Vin kamu ikut juga ya." ucap Widia.


"Nggak! Pergi sendiri aja."


"Pokoknya kamu harus ikut. Nanti siapa yang bawa barang belanjaan kita?"


"Ya kali Evin disuruh bawa barang belanjaan. Bodyguard kan banyak, kenapa harus Evin!"


"Ya sudah, Mama akan bawa Bodyguard. Tapi kamu tetep ikut!"


"Kenapa harus Evin ikut sih Ma! Bawa Papa aja tu."


"Eh, Papa kan kerja. Kamu aja. Atau kamu mau gantiin Papa kerja? " elak Herman, karna dia tau bagaimana istrinya kalau sudah shopping.


"Ck-apes banget kalo duduk di rumah!"


"Semangat bag Evin ...." sahut Lina sambil tersenyum senang.

__ADS_1


Halo Readers ... udah lama nggak nyapa nih. Aku tunggu krisan nya yaa😊 maaf kalo masih banyak typo. Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya hehe😄


Jempol aja nggak papa kok😘


__ADS_2