
Siang itu seperti yang sudah disepakati. Levin dengan sangat terpaksa mengikuti ke empat wanita itu untuk berbelanja. Memasuki Toko baju, selanjutnya Toko sepatu dan banyak lagi, bahkan sudah hampir dua jam Levin mengikuti mereka.
"Kalian mau beli apa lagi? " tanya Widia pada ke tiga gadis tersebut.
"Ina mau beli boneka baru Ma .... " rengek Lina.
"Kalo kalian berdua?"
"Mm ... Aca samaan kayak Ina aja deh, boneka kayaknya juga imut" ucap Aca sambil tersenyum sok imut.
"Qila ggak usah. ini aja udah cukup kok," balas Qila lagi.
"Ya udah, kalo gitu kalian beli boneka aja ya. Kita kesana sekarang"
"Kalian norak banget sih! Udah gede masih juga main boneka. Pulang aja, gue capek! Ntar gue tingalin mau?"
"Ya nggak papa dong Vin, cewek itu wajar kalo mau beli boneka. Yang nggak wajar itu kalo kamu pengen Mama beliin boneka. Mau Mama beliin juga?"
"Mama apaan sih! Pokoknya Evin nggak mau tau ini yang terakhir. Kalo nggak Levin pulang sendiri!"
"Iihh bang Evin galak banget sih! cepet tua looh," ucap Lina.
"Nggak tau nih, nggak bisa sabaran dikit apa? " balas Aca lagi.
"Sabaran sabaran. Gue udah sabar dari tadi Bod*! Udah cepetan!"
Akhirnya mereka masuk ke toko boneka yang diinginkan Lina. Membeli semua model, dari yang doraemom ,panda, hello kitty, sampai boneka bermodel hati sekalipun. Tapi dengan warna yang sama. Lina membeli semuanya berwarna biru, Aca berwarna hijau, sedangkan Qila berwarna pink. Sebenarnya Qila tidak mau, tetapi karna dipaksa oleh tante dan sahabatnya, akhirnya dia juga ikut beli.
"Mbak, tolong di bungkus ya, dan antarkan pada kediaman Herman. Tau kan? "
"Tau nyonya. Barang anda akan segara kami antar sesuai permintaan," balas penjaga toko dengan sedikit menunduk.
"Baiklah, terimakasih."
"Sama sama nyonya."
Mereka pun melangkah keluar dari Toko tersebut, dan hendak ingin pulang.
"Diskon 50% Topawer, mari mari mari ....!"
Mendengar itu sontak Widia langsung melihat ke arah sumber suara.
"Ya ampun! Lagi ada diskon tuh. Mama pengen beli dulu kalian tunggu disini ya. Nanti keburu habis."
"Nggak! Sesuai perjanjian, Evin mau pulang."
"Jangan gitu dong Vin. Percaya deh ini yang terakhir oke,bentar doang kok."
"Ma ... Ina capek, pulang aja Yok."
"Ya udah kalo gitu kalian pulang aja dulu ya. Oh ya sebelum pulang kalian makan di Resto dulu. Kaliankan belum makan siang. Mama ntar pulang di jemput sama supir aja ya."
"Aca mau ikut Tan. Mau ngeliat ibuk ibuk belanja, boleh yaa .... "
"Ya udah. Qila juga mau ikut?"
"Nggak deh Tan, Qila langsung pulang aja" tolak Qila dengan sopan. Karna jujur saja, kaki Qila benar benar sudah penat setelah dua jam berjalan mengelilingi toko, dan perutnya juga sudah terasa lapar dari tadi.
"Ya udah. Vin bawa mereka pulang ya, dan jangan lupa sebelum pulang makan dulu, paham!"
"Ck-iya!"
"Bye Ma ... Kak Aca ... Kita pulang dulu ya"
"Oke bye .... "
Lalu akhirnya Levin, Qila, dan Lina berhenti disebuah Resto yang ada di dalam Mall.
"Kak Qila, kita duduk disitu aja yuk."
"Ya udah ayok."
Dan Levin hanya mengikuti langkah ke dua gadis itu dengan malas. Setelah memesan makanan akhirnya mereka menyantap makanan dengan hening. Hanya ada suara Lina yang banyak bertanya pada Qila, dan di jawab Qila dengan baik.
Setelah makan merekapun memilih untuk pulang. Namun saat mereka sampai pada parkiran mobil, mobil Levin tidak bisa keluar, karena keadaan parkir yang penuh yang di sebabkan banyak diskon untuk emak emak.
"Yahh ... Gimana dong Bang, kita nggak bisa pulang ini."
"Mana gue tau!"
"Kita samperin Mama aja yok."
"Nggak! Tunggu di mobil aja. Gue capek"
"Iihh Abang mah."
"Ina, kita tunggu di mobil aja ya .... " pinta Qila pada Lina.
"Mm ... ya udah deh."
Mereka pun menunggu didalam mobil. Qila dan Lina duduk di kursi belakang, sedangkan Levin duduk di kuri depan sembari memainkan ponselnya, tampa menghiraukan kedua gadis tersebut.
"Kak Qila," ucap Lina tiba tiba, yang.memecahkan keheningan.
"Iya," balas Qila sambil melihat ke arah Lina.
"Menurut kak Qila, Ina normal nggak?"
"Hm?" tanya Qila sambil menautkan alisnya.
"Kok hm sih."
"Maksud kakak, kenapa kamu nanya kayak gitu?"
"Soalnya bang Evin bilang kalo Ina nggak normal, karna Ina nggak pernah suka sama cowok."
"Bukan nggak pernah, mungkin belum aja"
"Tapi kan kak, Ina juga ngerasa gitu. Soalnya di sekolah Ina ada cowok yang mau sama Ina, tapi Ina sama sekali nggak punya rasa apa apa sama dia, jadi ya Ina tolak aja. Apa itu masih normal? Bahkan tak ada satupun yang menarik bagi Ina." jelas Ina polos.
Qila tertawa kecil mendengar ucapan polos dari Lina.
"Itu masih normal kok. Malahan bagus."
__ADS_1
"Bagus kenapa? Ina juga pengen suka sama cowok kayak temen temen Ina. Tapi nggak tau harus suka sama siapa "
"Bagus karna kamu nolak semua cowok itu."
"Hah?"
"Ina itu cantik, makanya banyak yang suka. Dan menurut kakak, dengan cara kamu nolak mereka itu udah bagus. Karna satu alasan mereka mau pacaran sama Ina."
"Apa? "
"Cantik. Dan Ina tau? Lelaki yang mencintai seseorang hanya karna dia cantik adalah lelaki brengsek. Jadi laki laki semacam itu nggak pantes dapetin Ina."
"Tapi dari mana kita tau kalo dia brengsek atau nggak? "
"Jawabannya ... BERUBAH. Kalo seandainya Lina udah nggak secantik ini lagi, dan nggak ada yang mau sama Ina lagi, berarti dia laki laki brengsek. Tapi kalo dia tetep ngejer Ina, berarti dia laki laki yang baik."
"Jadi apa Ina harus berubah? "
"Nggak usah, tetep jadi kayak gini aja. berubah itu nggak enak."
"Trus gimana Ina bisa tau? "
"Mm ... mungkin dengan cara untuk nggak mudah terkena gombalan para cowok aja lebih baik."
"Sampe kapan kak?"
"Sampai ada seseorang yang suka sama Ina, tampa harus menggunakan modus buaya"
Lina diam sejenak sembari sedikit mengangguk.
"Kak Qila jago. Apa kak Qila juga pernah merasakan hal yang sama? "
Qila hanya diam sembari menatap Lina dengan tatapan nanar.
"Apa kak Qila pernah suka sama cowok?" sambung Lina lagi.
Qila diam sejenak.
"Sebelumnya nggak pernah. Dan kakak harap sekarang juga nggak usah."
Tampa Qila dan Lina sadari, Levin diam diam mendengar obrolan mereka sedari tadi. Memang Levin tampak memainkan ponselnya, namun fokusnya pada obrolan Qila dan Lina.
Levin terdiam mendengar ucapan Qila. Seperti ada sesuatu yang terbesit, singkatnya seperti tak terima.
'sekarang nggak usah? Apa maksudnya?' batin Levin.
"Kenapa? " tanya Ina lagi.
"Jatuh cinta itu nggak enak."
"Tapi kata temen Ina, mereka seneng banget punya pacar. Bisa di perhatiin, ditanyain kabar, dan bla bla bla .... "
Qila tertawa kecil.
"Itu semuanya buaya ... percaya deh sama kakak. Perhatian itu hanya tahan untuk beberapa bulan saja. Setelah itu mereka akan mencari pengganti yang lebih cantik lagi."
"Tapi iya sih ... kadang ada juga yang suka nangis gitu, sampe sesegukan lagi."
"Kak Qila pinter, pantesan aja dapat beasiswa. Kalo gede, Ina jadi pengen kayak kak Qila ah"
Qila kembali diam mendengar ucapan polos Lina.
'Apa aku terlihat sebahagia itu?' batin Qila.
"Nggak usah ... jadi kakak tuh nggak enak. Jadi diri kamu sendiri aja," balas Qila tersenyum hambar.
Tampa mengucapkan apa apa, Levin sudah menancap gas mobilnya keluar dari area Mall tersebut. Dan sontak membuat kedua gadis itu kaget.
"Loh ... udah bisa keluar ya bang?"
"Kayak yang lo lihat."
****
Grup Wa JOMBLO BAJAR.
KICAN
"Assalamualaikum kaum jomblo."
YOYON
"Walaikumsalam. Lo juga jomblo!"
KICAN
"Bentar lagi enggak."
YOYON
"Emang siapa yang mau sama lo? Kalo pun ada, gue orang yang pertama merasa kasian sama tu cewek."
KICAN
"Ngiri aja lo!"
YOYON
"Nggak banget!"
ETAN
"Nggak usah ribut disini. Di grup tetangga aja bisa!"
KICAN
"Nggak mau ... kita maunya sama kamyuu😚"
ETAN
"Jijik!!"
KICAN
__ADS_1
"Calon sepupu yang baik ... jangan marah ya. Gue becanda doang kok."
YOYON
"Nggak usah mau Vin. Ntar sepupu lo kena kegatelannya loh."
KICAN
"Eh situ yang belum bisa move on. Bisa diem nggak?"
ETAN
"Ogah banget sepupuan sama lo!"
KICAN
"Ya elah, punya temen nggak ada baik baiknya ya. Kalo lo nggak merestui gue jadi calon sepupu lo. Gue bawa kawin lari aja, haha ...."
ETAN
"Rumah lo langsung gue bom nuklir, mau!"
YOYON
"Haha rasain lo Jek. Enak ya debat sama calon sepupu."
KICAN
"Diem lo!"
KICAN
"Eh Yon, main dirumah Evin yuk!"
YOYON
"Nggak mau!"
ETAN
"Nggak boleh!"
KICAN
"Ya Allah ... gini banget ya hidup gue."
Levin tertawa sendiri saat melihat pesan dari sahabat sahabatnya. Yang kalo di kampus terkenal calm, tapi saat kumpul hebohnya nggak ketulungan. Kecuali Jeki. Karna kalo di kampus Jeki terkenal ramah dengan cewek.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut Levin dari dalam. Karna merasa ada yang mengetuk pintunya.
Lalu pintu terbuka, dan nampak lah wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Levin.
"Mama mau ngomong sama kamu!"
"Ngomong apa?" ucap Levin datar sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Tolong kamu jelasin sama Mama, apa ini!" bentak Widia sambil melemparkan selembar kertas ke arah Levin. Dan sontak Levin kengambil kertas itu.
"Kenapa nilai kamu bisa C semua!"
Levin diam sejenak sambil terus melihat nilainya.
"Mama dapet dari mana?"
"Nggak penting! Sekarang kamu jawab, kenapa nilai kamu bisa C semua hah? Ini alasan kamu nggak mau ngasih Mama sama Papa lihat nilai semester kamu kemaren, iya? "
"Udah lah Ma, Evin mau istirahat!"
"Nggak bisa! Besok Mama akan panggil guru les private buat ngajarin kamu."
"Nggak! Ya kali Evin disuruh les. Evin bukan anak sekolahan lagi!"
"Tapi kamu bahkan lebih buruk dari anak sekolahan, kamu tau itu!"
"Ya terserah Evin dong. Pokoknya Evin nggak mau!"
"Mau nggak mau Mama akan tetep bawa guru les kamu. Dan besok kamu siapin diri kamu untuk belajar. Paham!! " bentak Widia, lalu langsung keluar dari kamar Levin.
"Aagghh!! Pusing gue lama lama!"
***
"Huhh ... punya anak cowok kok keras kepalanya mintak ampun. Ngidam apa aku dulu sampe punya anak kepala batu kayak gitu," rungut Widia sambil berjalan ke sofa tengah.
"Gimana Ma? Bang Evin mau? " tanya Lina yang sudah duduk di sofa bersama Herman.
"Mau nggak mau sih. Mama akan tetep maksa!"
"Mama tenang aja, Papa akan cari guru les yang bagus untuk Evin," balas Herman.
"Tapi siapa Pa? Bahkan kita udah sering banget bawa guru les kerumah. Tapi semuanya nggak tahan sama sikap Evin. Mau ditarok di tempat les, eh dianya nggak pernah masuk. Mama jadi pusing ngeliatnya."
"Kalo gitu kita suruh bodyguard buat ngejagain Evin aja saat les. Biar dia nggak bisa apa apa."
"Percuma Pa ... bodyguard nya yang jadi takut sendiri, bukan Evin."
"Trus gimana? Atau Papa cari guru les yang sangar aja? Biar Evin takut dikit gitu."
"Ya masalahnya, emang  ada guru yang sangar? Papa ada ada aja sih!"
"Ina punya ide!"
"Apa?" tanya Widia.
Dan Lina tampak membisikkan sesuatu pada Widia dan Herman. Kemudian nampak kedua pasangan tersebut mengangguk sembari tersenyum.
"Anak pinter."
"Hehe ... iya dong."
Happy reading😘
__ADS_1