
"Ahhggg ... tugas lagi tugas lagi. Gila banget ya ni dosen! Dia pikir otak gue kayak batre apa? Yang kalo udah di cas langsung on. Ini otak bukan mesin!" rungut seorang lelaki yang sedang memarkirkan mobil mewahnya kedalam bagasi rumah besar dengan nuansa eropa. Lalu lelaki itu langsung masuk kedalan rumah tampa salam atau senyum sapa sedikitpun.
"Evin ... Darimana kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Buk widia yang tak lain adalah ibu Levin.
"Dari kampus!" jawab Levin ketus sambil berjalan menuju tangga.
"Evin! Mama lagi ngomong sama kamu loh"
Levin memutar kedua bola matanya jengah, lalu menghentikan langkahnya.
"Duduk!"
"Mau ngomong apa sih Ma? Kalo mau ngomong ya ngomong aja. Susah banget!"
"Mama bilang duduk!"
"Ck" balas Levin sambil duduk di sofa, depan ibunya. "Mau ngomong apa?"
"Mama tanya sekali lagi abis dari mana kamu?"
"Ya dari kampus lah."
"Dari kampus? Dengan kaos oblong kayak gini?" tanya Widia lagi sambil melihat Levin dari atas sampai bawah.
"Trus kenapa?" tanya Levin datar.
"Kamu nggak tau bahwa peraturan kampus tidak memperbolehkan menggunakan kaos oblong kayak gini?"
"Emangnya kenapa sih? Bukannya kampus itu punya papa juga? Jadi ya bebas dong kalo Evin mau pake baju kayak gimana."
Yaap ... selain merupakan anak dari pengusaha terkenal. Levin juga merupakan anak dari pemilik yayasan kampus dimana tempat dia kuliah sekarang. Kekayaan yang keluarga Levin miliki bahkan tak terhitung angkanya.
"Evin! Kamu ini yaa ... kampus Itu memang punya papa kamu. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya kuliah disitu. Ini sama aja kamu ngasih contoh yang nggak baik buat orang lain."
"Terserah ...."
"Huhh, punya anak kok susah banget diatur!"
"Trus kuliah kamu gimana?" sambung Widia lagi.
"Ya gini."
"Gini gimana?"
"Ya, gini gitu ...."
"Evin, Mama nggak lagi bercanda ya!"
"Siapa yang bercanda," balas Levin sambil memutar kedua bola matanya malas.
"Masih suka nitip absen kamu?"
Dan dibalas Levin dengan mengangkat kedua bahunya. Karna memang tidak bisa dipungkiri bahwa dia memang selalu menitip absen pada temannya.
Widia hanya bisa menggeleng saat melihat tingkah anak pertamanya itu.
"Evin ... Evin ... kapan kamu bisa berubah nak."
"Evin nggak akan berubah Ma."
"Kamu udah mau semester 5 loh Vin! Dan kamu itu adalah anak laki laki Mama dan Papa satu satunya. Artinya kamu juga pewaris dari perusahaan Papa. Jadi kamu harus lebih rajin mulai sekarang, karna sewaktu waktu kamu yang akan menggantikan Papa di perusahaan. Nggak mungkinkan nyuruh adik kamu Lina kan?"
Levin merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adik perempuannya bernama Lina Pernandes. Dimana wataknya sangat bertolak belakang dar Levin. Lina sekarang masih menduduki bangku kelas 2 smp, namun dia merupakan anak pintar dan terkenal sopan dan polos.
"Apa yang Mama kamu bilang itu benar Evin. Ini semua demi kebaikan kamu." sahut Herman Pernandes yang tak lain adalah papa Levin. Herman baru saja pulang dari kantor dan langsung duduk disamping istrinya.
"Kebaikan aku kayak gimana Pa! Jelas jelas Evin nggak suka ngelola perusahaan. Jadi apa Papa dan Mama pikir itu demi kebaikan aku? Aku pengen hidup kayak anak biasa. Bebas. Nggak bertumpuk pada berkas berkas yang membosankan itu."
"Kamu pikir hidup ini cuman buat bebas?" tanya Widia kesal.
"Ahh udah lah Ma, Evin bosan harus berdebat terus kayak gini. Evin capek, mau istirahat." ucap Levin sambil meninggalkan kedua orang tuanya, dan masuk kedalam kamar yang berada dilantai dua.
"Tuh Papa lihat... Papa itu terlalu lembut sama Levin."
"Udah lah Ma, semuanya butuh proses. Papa yakin kok nanti Levin akan paham." ucap pak Herman sambil menenangkan istrinya.
***
"Ma ... Mama ...." sahut seorang gadis cantik sambil menuruni anak tangga dengan tergesa, yang tak lain adalah Lina, adik Levin.
"Iya sayang ... udah rapi. Emangnya mau kemana?" tanya Widia.
"Ina mau ke sekolah Ma. Ada liga osis."
"Ohh iya, Mama lupa."
"Bang Evin mana?"
"Bang Evin kayaknya lagi istirahat deh, udah capek kayaknya. Kamu dianter sama supir aja nggak papa kan?"
"Iya nggak papa. kalo gitu Ina berangkat dula ya Ma, bye ..." ucap Lina sambil mencium kedua pipi ibunya.
"Ya udah, hati hati ya sayang."
"Oke ... Ina pergi Ma" ucap Lina sambil berlari keluar.
Hal itu tidak lepas dari pandangan Widia yang tersenyum melihat tingkah anak terakhirnya yang sangat ceria. Jauh berbeda dengan Levin yang keras kepala dan ketus.
****
"Huuffhh ... pusing gue lama lama," ucap Levin sambil membaringkan tubuhnya dengan kasar diatas ranjangnya.
"Udah tugas di kampus yang nggak kelar kelar, apa lagi gue jarang masuk, mana ngerti gue. Ehh sekarang ditambah sikap Mama yang super posesif. Lama lama jebol otak gue," ucapnya pada diri sendiri.
Trrtt trrtt
__ADS_1
Dering ponsel Levin memecahkan kekesalannya. Lalu dia mengambil Hp yang ada di saku jaketnya dengan malas, kemudian membuka layar ponsel. Nampak notif pesan Wa grup dari JOMBLO BAJAR.
KICAN (JEKI CAN)
"Woii ngumpul yuk, bosan nih dirumah terus."
YOYON (LION)
"Mau ngumpul dimana?"
KICAN
"Ya terserah."
YOYON
"Di jalan tol aja mau?"
KICAN
"Ngapain?"
YOYON
"Mulung!"
KICAN
"Kampret!"
ETAN (EVIN ANAK SULTAN)
"Brisik!!"
YOYON
"Wihh, Anak Sultan nongol nih."
ETAN
"Gue tau lo fans sama gue, tapi ya biasa aja kali ya."
YOYON
"Ogah!"
KICAN
"Ehh Vin, ngumpul yuk."
ETAN
"Tumben nih anak bener."
KICAN
ETAN
"Mau ngumpul dimana?"
YOYON
"Ngumpul di cafe gue aja gimna?"
KICAN
"Okee, tapi gratis buat kita ya."
YOYON
"Gue tau lo miskin Jek, tapi jangan dibikin susah susah amet lah ya."
KICAN
"Bangs*t! Gue beli cafe lo sekarang!"
ETAN
"Jadi ngumpul nggak?"
KICAN
"Iya iya jadi, ntar jam 7 malam okee."
****
Levin masuk kedalam sebuah cafe dengan malas. Lalu nampak lah seorang lelaki duduk disudut ruangan cafe yang biasa mereka tempati. Semacam ruang pribadi untuk mereka. Kemudia Levin mendekati lelaki itu.
"Buset, kenapa muko lo Vin? Masem amat," sahut Jeki sahabat Levin.
Jeki adalah teman Levin yang juga tak kalah tampan, sangat heboh, dan yang paling rusuh. Jeki juga suka dekat dengan banyak wanita, namun masih berstatus jomblo.
Sebenarnya namanya bukan Jeki Can, namun nama itu diambil dari nama pesilat Jepang oleh kedua sahabatnya. Begitupun dengan Yoyon. Karna nama sebenarnya adalah Lion. Namanya udah keren kok dibikin Yoyon ya? Wkwk 😆
"Mas kopi satu kayak biasa ya," ucap Levin pada kasir yang ada di cafe Lion tampa menghiraukan temannya itu.
"Ehh gue ngomong sama elo *****,"
"Dan gue lagi nggak mau ngomong sama lo," jawab Levin ketus lalu duduk bersama disamping Jeki.
"Emangnya kenapa sih Vin? Lagi ada masalah?" tanya Lion tiba tiba, yang baru datang lalu ikut gabung bersama kedua temannya.
Lion adalah teman Levin yang tampan dan manis. Meskipun ketampanan Lion dan Jeki masih tak sebanding dengan Levin, tetapi mereka bertiga cukup populer di kampus. Lion adalah tipe orang yang asik, tapi sedikit cuek dibandingkan dengan jeki. Dan Lion adalah tipe orang yang susah move on. Bahkan saat ini Lion tidak dekat dengan wanita manapun, karna Lion masih belum bisa move on dari seorang wanita yang telah menghancurkan hatinya.
Jeki dan Lion adalah teman Levin yang setia menerima keangkuhan, dan keras kepalanya levin. Mereka sudah seperti diary untuk Levin.
__ADS_1
"Lagi mikirin dedek gemes ya ...." goda Jeki lagi.
"Siapa ?" tanya Levin.
"Cewek yang lo bantu pas dibuli itu," jawab Lion
"Siapa yang mikirin dia!" bantah Levin.
"elah ngeles lo. Jadi gimana?" tanya Jeki lagi.
"Apanya?"
"Kabarnya. Kabarnya gimana? Pernah ketemu lagi nggak?"
"Nggak ngarep juga sih."
"Ciihh nggak ngarep. Tapi kemaren ngebet banget pengen bantuin dia. Sampe ngeluarin si siapa tuu ...."
"Sintya" jawab Lion.
"Naah, sampe rela ngeluarin si Sintya end the geng lagi. Padahal merekakan udah mau lulus. Kasian banget dah."
"Ya gue kasian aja sama tu cewek aneh," ucap Levin datar.
"Sejak kapan lo punya hati? Sampe kasian sama orang lain segala. Setau gue lo kan biasanya suka nyakitin hati cewek dengan mulut super pedes lo itu. Naah, sekarang lo bilang kasian? Bohong banget!"
"Kasian apa perhatiaan ...." goda Lion lagi.
"Apaan sih kalian!"
"Eh, tapi dia cantik nggak Vin?" tanya Jeki lagi.
"Mmm biasa aja." sangkal Levin
"Masa sih? Tapi kok sampe bikin seorang Levin meleleh gitu."
"Siapa yang meleleh? Gue bantuin dia cuman karna gue kasian!!"
"Udah lah ... cintanya Levin mah tampa alasan ya nggak Jek" ucap Lion lagi.
"yo-ii brooo." balas Jeki sambil tertawa.
"Bodo amat!"
"Udah udah. Sekarang masalah lo apa kalo bukan cewek itu? Sama Mama lo lagi?" tanya Lion.
"Ya gitu lah, Mama nyuruh gue gantiin Papa terus. Ya mana gue mau"
"Emangnya kenapa sih lo nggak mau Vin? Kan bagus tuh, 'seorang Levin Pernandes. CEO termuda dan tertampan di perusahaan besar' kan keren ... makin kelepek kelepek dah cewek sama lo," ucap Jeki lagi.
"Gue mah nggak jadi CEO juga udah banyak yang kelepek kelepek kali!" bantah Levin lagi.
"Sombong banget dah Etan."
"Ehh tapi serius Vin. Kenapa sih lo nggak mau?" tanya Lion lagi.
"Ya karna gue mau bebas lah!" jawab Levin ketus.
"Terus mau sampai kapan?" tanya Lion.
"Mana gue tau," balas Levin sambil mengangkat kedua bahunya, lalu meminum kopi yang sudah diantar. Dan kedua temannya hanya menggeleng saat melihat tingkah Levin yang keras kepala ini.
"Udah lah Yon, kepala batu ini mah," ucap Jeki pada Lion.
"Udah udah, lupain masalah itu. Sekarang kalian tau nggak? Bentar lagi penerimaan Mahasiswi baru Loh ...." ucap Lion sambil tersenyum.
"Trus?" tanya Levin.
"Trus kita bisa ngeliat adek tingkat yang bening bening gitu," sahut Jeki sambil tertawa.
"Pinter ...." balas Lion sambil mengangkat satu jempolnya ke arah Jeki.
"Iya iyaa, gue tau gue pinter, jadi biasa aja kali yaaa," balas Jeki dengan nada sok bijak.
"Idih, nyesel gue ngomong lo pinter. GUE RALAT!" bantah Lion lagi.
"Ya ampun, nih temen SBMS nih," ucap Jeki sambil menunjuk ke arah Lion.
"Apaan tuh?" tanya Levin.
"Susah Banget Melihat Temennya Senang."
"Ya elah, tinggal bilang aja DODOL!"
"Sejak kapan lo mau ngeliat yang bening bening?" tanya Levin pada Lion tiba tiba.
"Hah?"
"Udah move on lo?"
"Ya ini lagi usaha ...."
"Udah Yon, lo harus semangat. Cewek masih banyak broo," ucap jeki.
"Nggak yakin gue," balas Levin.
"Elah lu Vin! Nggak ada kasian kasiannya ya, lo sama temen kita yang satu ini. Masa harus cinta bertepuk sebelah tangan terus."
"Jangan jujur amat kenapa!" sahut Lion sambil menampar lemah kepala Jeki.
"Buset, salah lagi dah."
Happy reading😘😘
Jangan lupa tinggalin jempolnya yaaa ... Eh ralat! Jejak jempolnya hehe😅
__ADS_1