Dear My Self

Dear My Self
BAB 28 (Awal Semuanya)


__ADS_3

"Levin!" jawab Levin singkat.


"Salam kenal semuanya. Btw kalian mau kemana nih?"


"Kita mau belajar sama Qila," jawab Lion.


"Wow, lo ngajar les juga Qila?"


"Nggak kok, cuman buat mereka aja."


"Tapi keren ...."


"Kerenan bang An lah. Orang Qila aja juga banyak belajar dari bang An," jawab Qila sambil tersenyum.


"Hehe ... Qila bisa aja."


"Lo baru ya di kampus ini? Solanya gue baru liat," tanya Jeki.


"Iya, baru beberapa hari pindah disini."


"Trus dari mana bang Anjas kenal sama Qila?" tanya Aca sedikit bingung.


"Karna gue sama Qila tetanggaan waktu dulu, sebelum gue dipindahin orang tua ke luar negri. Kita juga temen deket dari kecil, jadi ya pasti gue kenal lah, Qila kek gimana."


"Oh ya?"


"Iya ... tapi kita udah lama nggak ketemu. Sekitar lima atau enam tahun lah."


"Lumayan lama ya?"


"Ya gitu ... Oh ya, gue boleh ikut belajar bareng nggak nih?"


"Ya boleh lah. Malahan kita bisa belajar banyak sama bang An." jawab Qila.


"Iya tuh, mana tau, kita juga bisa jadi kayak Qila hehe ...." timpal Jeki lagi.


"Mau berangkat nggak nih? Atau mau tetep ngobrol di sini sambil dengerin omongan kalian yang nggak jelas ini, hum?"


Ucapan itu memecahkan obrolan diantar mereka. Kesan pertama yang Anjas dapatkan saat pertama kali mengenal Evin, adalah angkuh!


"Ya udah yok! Kita berangkat," ajak Aca.


Lalu keenam remaja tersebut berjalan menuju taman yang ada di kampus. Mereka memilih duduk di bawah pohon yang beralas rumput hijau di bawahnya.


Di sana, mereka belajar dengan santai dan sedikit bercanda. Bertanya pada Qila, dan sesekali juga ikut dijelaskan oleh Anjas. Mereka belajar dengan semangat sambil terus tertawa. Terutama pada tingkah Anjas dan Jeki yang lucu, membuat mereka menjadi semakin antusias untuk belajar. Sedangkan Levin hanya berdecak malas saat melihat Anjas yang selalu memperhatikan Qila. Ada rasa tak suka saat melihat Qila bisa tertawa selepas itu pada orang lain, yang bukan dia.


"Mau kemana Vin?" tanya Lion tiba-tiba, karna melihat Levin yang sudah berdiri.


"Qila, gue mau ngomong, cepet!" bentak Levin tampa mengindahkan pertanyaan Lion.


Mendengar itu ke lima remaja tersebut sontak melihat ke arah Levin, kaget.


"Tapikan kita lagi ngumpul," jawab Aca kesal.


"Ya ngumpul aja! Nggak ada yang ngelarang kan?"


"Mau kemana?" tanya Qila.


"Ikut aja tampa banyak nanya, bisa?"


"Eh, kalo Qila nggak mau kenapa lo maksa?" tanya Anjas sambil berdiri dengan suara yang sedikit di tinggikan. Memang dari awal, Anjas sudah tidak menyukai sikap Levin yang angkuh dan seenaknya itu.


Mendengar itu Levin membuang mukanya malas. Lalu kembali menatap Anjas tajam.


"Kalo gitu kenapa lo nggak tanya sama Qila aja? Dia mau, atau nggak?" tanya Levin sembari menatap kearah Qila.


"Mm ... nggak papa kok bang An, Qila ikut aja," jawab Qila karna merasa terintimidasi oleh tatapan Levin.


"Lo jangan maksa-maksa Qila ya. Selama gue ada di deket Qila, lo nggak bisa bersikap seenaknya sama Qila, ngerti!" bentak Anjas.


Mendengar itu Levin tampak diam sejenak sembari terus menatap Anjas.


"Emang lo siapa, hum?"


"Gue temen Qila. Dan gue yang akan ngejagain Qila dari cowok kayak lo!"

__ADS_1


Mendengar itu, Levin menarik ujung bibirnya sembari tersenyum remeh.


"Tapi apa lo yakin, Qila mau dijagain dari orang kayak gue?"


Anjas menautkan kedua alisnya tak mengerti. Melihat itu, Levin mendekatkan wajahnya pada telinga Anjas sembari berbisik.


"Kayaknya lo suka sama Qila. Tapi sayangnya Qila lagi suka sama gue. Apa lo cemburu?" bisik Levin sambil tersenyum kecil.


Mendengar itu Anjas seketika bungkam.


'Berarti lo adalah saingan gue!' batin Anjas, lalu mengepal kedua tangannya sembari membuang mukanya menahan amarah.


Melihat itu Levin tampak tersenyum puas. Lalu mendekati Qila, kemudian menarik tangan Qila hingga menjauh dari keempat remaja tersebut.


Qila yang tidak bisa apa-apa hanya mengikuti langkah Levin, sembari terus menunduk tampa berani untuk bertanya. Namun tiba tiba, tampa Qila sadari Levin berhenti dan sontak Qila tertabrak dada Levin.


"Aaw! Ma-maaf, saya nggak sengaja," ucap Qila sembari menunduk, malu.


Levin diam sejenak sembari terus menatap Qila yang masih menunduk. Lalu Levin mengangkat dagu Qila hingga menatap wajahnya.


"Kenapa lo nunduk gitu sih? Lo takut sama gue?"


'Gue takut terlalu jauh mencintai lo! Apa lo nggak paham, hah!!" batin Qila.


"Sekarang cepatan masuk."


"Mau kemana?"


"Gue nggak suka banyak nanya, jadi masuk aja!"


Mendengar itu Qila hanya diam lalu masuk ke dalam mobil Levin dengan malas. Levin membelah jalan kota dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan hingga dalam waktu lima belas menit, mobil Levin berhenti pada sebuah tempat.


"Turun."


"Hm?"


"Cepetan turun!"


Mendengar itu Qila turun dari mobil dengan perasaan yang masih bingung. Kemudian Levin mengajak Qila masuk pada sebuah tempat yang tidak Qila ketahui. Qila hanya diam sembari terus mengikuti Levin.


Lalu Levin tampak berbicara dengan seorang wanita sembari sesekali melihat ke arah Qila. Lalu tampak wanita itu menghampiri Qila.


"Hay ... kamu Aqila?" tanya wanita itu.


Lalu dibalas Qila dengan tersenyum.


"Iya kak," jawab Qila.


"Bagaimana?" tanya Levin pada wanita itu. Dan Qila hanya diam tak mengerti.


"Mm ... kalo ini sih gampang."


Lalu dibalas Levin dengan sedikit mengangguk.


"Oh ya, kenalin saya Mrs. Jola. Kamu boleh panggil saya Mrs. aja oke," ucap wanita itu pada Qila sambil tersenyum.


"Iya Mrs."


"Sip. Apa kamu udah siap?"


"Hm?"


"Tugas lo ikutin intruksi dari dia. Karna untuk beberapa bulan ini lo bakalan ikut kelas diet bareng Mrs. Jola." balas Levin.


Mendengar itu Qila sedikit kaget.


'Benarkah ini? Apa ini akan menjadi awal untuk hari selanjutnya? Gue harap ini awal dari kehidupan gue yang baik,' batin Qila.


"Dan ini list jadwal kegiatan kamu selama di rumah. Trus ikutin makanan yang boleh, dan nggak boleh kamu makan oke. Nanti kamu juga akan di bantu sama Levin. Dan untuk seminggu empat kali, kamu datang ke tempat Mrs. Jola untuk latihan, oke cantik."


"I-iya Mrs."


"Ya sudah, sekarang ayok ikut Mrs. kita pemanasan dulu."


Lalu Qila mengikuti wanita itu masuk kedalam ruangan yang didesain khusus untuk kelas diet. Sedangkan Levin, menunggu di luar. Setelah setengah jam, akhirnya Qila keluar dari ruangan itu dengan dipenuhi keringat.

__ADS_1


"Udah selesai?" tanya Levin datar.


"Udah," jawab Qila.


"Ya udah, ayok kita pulang." balas Levin sembari berjalan menuju mobilnya.


Setelah mereka sampai, Qila membersihkan badannya yang sudah di penuhi keringat. Kemudian Qila melihat jadwal yang diberikan Mrs. Jola tadi. Membaca satu persatu sembari memahaminya.


Lalu Qila membaringkan tubuhnya di atas ranjang berwarna pink tersebut, sambil terus melihat jadwal kegiatannya.


"Gue pikir bang Evin cuman bercanda pengen bantuin gue diet," ucap Qila pada dirinya sendiri.


"Tapi kenapa bang Evin mau ya?"


Ceklek


Tiba tiba pintu kamar Qila terbuka, hingga memecahkan kebingungan Qila. Dan tampak orang itu adalah Aca, lalu berjalan mendekati Qila.


"Hay ... gue ganggu nggak nih?"


"Nggak kok, sini duduk," jawab Qila sembari mengubah posisinya menjadi duduk.


Aca duduk di samping Qila.


"Lo tadi kemana sama bang Evin?"


"Hm? Nggak kemana mana kok."


"Lo sama bang Evin punya hubungan apa sih?"


"Hah? Gue cuman sekedar guru lesnya kok."


"Lo suka sama bang Evin?"


Qila seketika diam saat mendengar pertanyaan Aca.


"Qila, jawab pertanyaan gue."


"N-nggak kok."


"Qila, gue temen lo. Kalo ada apa-apa cerita dong sama gue. Gue tau lo lagi sukakan sama bang Evin?"


Mendengar itu Qila kembali bungkam, diam membisu.


"Gue yakin bang Evin juga suka sama lo," ucap Aca sembari memegang bahu Qila.


"Lo jangan ngaco! Bang Evin mana pantas buat gue Ca," balas Qila tersenyum hambar.


"Tapi buktinya bang Evin cemburu waktu bang Anjas deket sama lo tadi."


"Dia nggak cemburu. Tapi bang Evin nggak seneng aja liat gue bahagia. Bang Evin emang selalu gitu Ca ...."


"Tapi ngapain bang Evin selalu ngajak lo pergi nggak jelas?"


Qila menggeleng lemah.


"Gue nggak tau Ca ... tapi kayaknya bang Evin seneng banget ngeliat gue menderita atas rasa yang gue ciptain sendiri." Tersenyum hambar.


"Lo sabar aja ya ... Gue yakin. Selama bang Anjas ada di sini, bang Anjas pasti akan jagain lo."


Dibalas Qila dengan mengangguk sembari berusaha tersenyum.


"Gue juga nggak ngerti gimana sama perasaan bang Evin ke gue. Kadang bang Evin baik, tapi kadang juga suka jahat nggak jelas. Gue jadi takut untuk menerka sendiri tentang perasaan bang Evin sama gue."


"Udah ... pokoknya lo berusaha aja, dan jangan ngeluh kayak gini, oke ...."


Qila membalas dengan mengangguk sembari tersenyum.


***


Malam ini Qila kembali mengajar Levin, memberi beberapa materi lalu memecahkan beberapa soal yang dianggap susah. Tampa Qila duga pula, ternyata Levin paham lebih cepat dari yang Qila pikirkan. Untuk beberapa bulan Qila mengajar Levin. Levin sudah bisa memahami materi tersebut.


Dan Qila juga baru tau, bahwa sebenarnya Levin adalah orang yang sangat pintar. Tapi hanya saja sikap keras kepala Levin membuatnya untuk susah di atur, dan bersikap seenaknya. Namun rasanya Qila lebih bahagia saat melihat Levin yang sudah banyak berubah dari sebelumnya.


Sekarang Levin masuk lebih rajin, memahami materi dari dosen, mengerjakan tugas, dan Levin juga lebih rajin belajar. Levin bahkan mampu membagi waktu belajar, dan waktu berkumpul dengan teman temannya. Ya, meskipun sikap keras kepalanya tidak bisa hilang dari hidup Levin. Tapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Happy reading😘😘


__ADS_2