
"Mana taukan," balas Qila sambil mengangkat kedua bahunya.
Dan Aca langsung tertawa. Bisa-bisanya dia di anggap tidak normal oleh temannya yang satu ini.
"Ehh tapi sumpah lo keren banget. Gue nggak nyangka bisa punya temen kayak lo. Langka! "
Dan dibalas senyum kecil oleh Qila
"Kalo lo?" tanya Qila datar.
"Apanya?"
"Asli sini?"
"Nggak .... " jawab Aca terputus, karna pesanan bakso mereka sudah sampai.
"Mmm ... enak banget ...." ucap Aca spontan setelah memakan satu suapan bakso.
"Kayaknya gue bakal jadi pelanggan baru bakso ini, nih," ucapnya sambil tersenyum ke arah Qila, lalu melanjutkan obrolan mereka.
"Sebenernya gue emang asli Indonesia sih ... cuman kita udah lama tinggal di Prancis, karna papa sibuk kerja di sana. Jadi ya kita tinggal di situ deh ... gue juga duduk di Indonesia baru beberapa bulan ini, dan gue tinggal di rumah tante gue. Orangnya baik, baik banget malah. Tante juga selalu ngajak gue jalan-jalan bareng, Kalo di Prancis mah, gue slalu duduk sendiri di rumah. Papa sama Mama sibuk terus. Makanya gue lebih betah duduk di sini, gue jadi punya temen ngobrol kalo di rumah. Ditambah lagi gue udah punya temen pertama lo," jelas Aca sambil tersenyum dan menghentikan makanannya.
"Kenapa lo nggak punya temen?"
"Nggak tau juga. Kata orang sih, gue anaknya nggak kekinian, terlalu manja."
"Manja? "
"Iya ... Kayak dikekang gitu ... sebenernya bukan dikekang juga sih. Lebih kayak dibatasin gitu. Kalo orang-orang kan suka main ke club malam nih, tapi gue nggak dibolehin. Ya ... pokoknya kek gitu lah intinya. Gue awalnya sebel juga sih, tapi ya mau gimana."
"Tapi justru itu baik buat lo. Lebih terjaga," ucap Qila datar tampa melihat ke arah lawan bicara.
"Kenapa gitu? Kan cuman buat seneng-seneng sama temen. Nggak ngapa-ngapain juga kan?"
Mendengar itu Qila mengangkat ujung bibirnya ke samping sambil tertawa kecil.
"Dunia nggak sepolos itu," sambungnya.
"Hah? "
"Kayaknya lo belum paham."
"Emang lo pernah main ke club malam?"
"Belum."
"Trus dari mana lo tau kalo club malam bahaya?"
Qila menghentikan makananya, lalu melihat ke arah Aca.
"Lo tau apa yang dilakuin di club malam?" tanya Qila.
"Seneng-seneng," ucap Aca tampa dosa.
"Trus mabuk? "
" mungkin ...."
"Dan lo tau, apa yang bisa orang lain lakuin ke lo saat lo lagi mabuk?"
Aca terdiam dan tampak memikirkan pertanyaan dari Qila.
"Kayaknya lo paham," sambung Qila lagi, lalu kembali pada makanannya.
"Iya juga ya," ucap Aca sambil sedikit mengangguk.
"Simpel aja. Kalo dia temen yang baik, maka dia bakalan temenan sama lo tampa syarat. Tapi kalo pake syarat, artinya bukan temen yang baik," sambung Qila sambil memakan baksonya.
"Bener juga sih ... gue kok nggak sadar ya? Bahkan selama ini gue merasa, kalo gue terlalu dimanjain gitu. Kesana nggak boleh, kesini nggak boleh. Dan gue kira gue nggak bakalan punya temen. Tapi lo keren sumpah," ucap Aca sambil tersenyum lebar ke arah Qila.
"Tante lo nggak punya anak?" tanya Qila tampa mengindahkan pernyataan dari Aca.
"Punya lah. Anaknya dua, yang pertama cowok, trus yang keduanya cewek. Nah, yang sering temenin gue ya anak nomor duanya, lebih asik. Tapi sayangnya dia jarang di rumah. Soalnya dia banyak ikut les gitu. Biasa lah masih sekolah."
"Ohh."
"Eh, udah selesai nih. Pulang yuk!"
Dibalas anggukan oleh Qila. Setelah selesai membayar makanan, mereka langsung menuju kontrakan Qila, dengan petunjuk dari Qila tentunya.
"Ini kontrakan lo?" tanya Aca saat mereka sampai di depan pagar kontrakan kecil yang sederhana.
"Iya."
"Sepi banget ya? Nggak ada tetangga?"
"Tang di samping belum ada yang ngontrakin katanya."
"Kenapa nggak ngontrak dideket kampus aja? Kan lebih deket, trus rame lagi."
"Mahal."
Aca tampak mengangguk kecil sambil memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Mmm ... ya udah deh, gue pulang dulu ya. Bye ...." Pamit Aca sambil melambai kearah Qila. Dan dibalas senyum kecil oleh Qila.
****
LEVIN POV
Saat Levin dan kedua sahabatnya sampai di parkir khusus di kampus mereka, mereka berencana ingin nongkrong di Cafe Lion dulu sebelum pulang. Karna dosen mata kuliah mereka tidak datang.
"Eh tunggu -tunggu ...." ucap Levin tiba-tiba saat mereka ingin masuk kedalam mobil.
"Ada apa lagi?" tanya Lion.
"Kunci mobil gue kayaknya tinggal di kelas deh."
"Ya elah, kalo gitu cepetan ambil. Kita tunggu di sini," ucap Jeki
"Oke, bentar," balas Levin sambil berlari kecil.
"Jangan lama-lama!" sahut Lion dari jauh, namun masih dapat didengar oleh Levin.
Dan dibalas Levin dengan mengangkat satu jempolnya keatas.
"Huh! pake lupa lagi," ucap Levin sambil menaiki anak tangga dengan tergesa. Namun saat di pertengahan tangga, tiba tiba Levin menabrak seorang gadis, dan spontan Levin memegang pinggang gadis itu karna gadis itu hampir jatuh. Lalu Levin menatap wajah gadis itu lekat.
'Cewek aneh' ucap batin Levin refleks.
"Ka-mu." Suara gadis itu terdengar samar di telinga Levin.
'Ahh mata itu,' sambung batin Levin lagi. Namun dengan cepat dia menyadarkan dirinya.
"Ehem, kalo ini bukan tangga, lo udah gue lepesin kayak kemaren," ucap Levin datar, untuk mengelak kecanggungannya.
Dan dengan cepat Levin melepaskan tangannya pada pinggang gadis itu, lalu Levin pergi meninggalkan gadis itu yang masih mematung.
'Jadi dia kuliah di sini,' ucap batin Levin. Dan reflek bibir Levin tersenyum kecil.
****
"Woi! Cepetan," sahut Jeki saat melihat Levin dari jauh.
Namun Levin tak merespon sahutan Jeki.
"Ayok!" ucap Levin.
"Lama banget sih. Dari mana lo?" sambar Jeki dengan sedikit kesal.
Dan lagi tak ada balasan dari Levin.
"Udah-udah ayok! Jadi berangkat nggak nih?" tanya Lion tiba tiba.
"Ya udah ayok!"
Lalu ketiga remaja tersebut masuk kedalam mobil masing-masing untuk menuju Cafe Lion. Saat mereka sampai, mereka memilih duduk di tempat biasa mereka nongkrong.
"Lo kenapa Vin?" tanya Lion karna setelah mereka sampai di cafe, Levin hanya diam.
"Tau ... kesambet lo?" sambung Jeki lagi.
Dan Levin hanya mengangkat kedua bahunya, tak perduli.
"Biar gue tebak," ucap Jeki.
"Lo habis ditampol dosen?" sambungnya lagi.
"Ogah! Dosen mana yang berani nampol gue!" jawab Levin ketus.
"Oohh ... gue tau. Lo habis ngerayu adek tingkat ya ...?" tanya Lion ngaur.
"Buset ... sejak kapan gue ngerayu? Biasanya juga gue yang selalu dirayu. Jadi sory aja ya ...." balas Levin sambil membuang muka.
"Ya elah, songong banget lo," ucap Jeki.
"Jadi masalahnya apa nih?" sambung Lion.
"Ntar kalian juga tau," jawab Levin sambil tersenyum.
Dan kedua sahabatnya hanya menggeleng tak mengerti tentang pemikiran sahabatnya yang satu ini.
LEVIN POV END
"Aahh ... capek banget," ucap Qila sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu melihat langit-langit kamar kontrakannya.
"Kok bang Evin ada di kampus tadi ya? Apa bang Evin kuliah disitu juga?"
"Tapi ngapain juga gue mikirin dia," elak Qila.
"Aahgg! Kenapa harus ketemu dia lagi ... " ucap Qila memelas sambil membalikkan tubuhnya, hingga tengkurap dan menutup wajahnya pada ranjang.
"Eh tunggu! Tapi ... gue kan emang lagi nyari bang Evin buat balikin jaketnya. Iya-iya, gue harus balikin jaket bang Evin, trus bilang makasih. Dengan begitu masalah kelar, dan gue nggak mau ketemu sama tu cowok lagi. Capek gue harus olah raga jantung trus," ucap Qila sambil mendongakkan wajahnya kedepan, sampai akhirnya dia tertidur.
****
ACA SILVIA POV
__ADS_1
Tampak sebuah mobil berwarna hitam terparkir disebuah bagasi rumah mewah. Dan keluarlah seorang gadis dari dalam mobil tersebut, yang tak lain adalah Aca. Lalu gadis itu memasuki rumah tersebut dengan sedikit berlari.
"Assalamualaikum Tan ...." sahut Aca saat melihat tidak ada orang diruang tengah. Yaap, ini adalah rumah tante Aca yang dia tempati selama duduk di Indonesia.
"Waalaikumsalam ...." sahut tante Aca dari arah dapur.
Lalu Aca menghampiri Tantenya dan mencium kedua pipi tantenya bak seorang anak pada ibunya. Karna tante Aca sudah seperti ibu bagi Aca.
"Udah pulang Ca?"
"Udah, yang lain belum pulang ya Tan?"
"Belum, tapi kayaknya bentar lagi deh."
Dan dibalas anggukan oleh Aca.
"Duduk di situ yuk!" ajak tante Qila sambil menuju ke ruang tengah. Dan di ikuti oleh Aca.
"Gimana hari pertama kamu kuliah?"
"Baik ...." jawab Aca sambil tersenyum lebar.
"Baik banget malah," sambungnya lagi.
"Oh ya?" tanya tantenya antusias.
"Hm, tapi tadi awalnya Aca hampir mau dibuli sama kakak tingkat gitu ...."
"Hah? Trus kamu diapain aja sama mereka? Atau ada yang luka? Bilang sama Tante, biar Tante bikin perhitungan sama mereka!" sambar tante Aca dengan wajah yang khawatir.
"Ehh nggak usah Tan. Aca nggak mau orang lain tau kalo Aca ponakannya Tante. Bisa-bisa mereka manfaatin Aca lagi."
"Tapi kamu nggak papa kan?"
"Nggak papa kok Tan, soalnya tadi ada yang bantuin Aca. "
"Sungguh?"
"Iya, dia orangnya baik banget Tan. Tadi aja dia ngelawan kakak tingkat gitu demi belain Aca. Bahkan kayaknya kakak tingkat itu marah banget sama dia, tapi dia nggak takut gitu. Malah Aca yang jadi takut."
"Cewek, cowok?"
"Cewek Tan ... Namanya Qila, dan yang lebih hebatnya lagi, dia dapet beasiswa di kampus. Pasti dia pinter banget. Katanya ... dia juga dari kampung dengan hidup yang sederhana gitu. Aca seneng banget lah pokoknya."
"Hebat dong. Tapi sikapnya gimana? Sombong? Cerewet? Atau sok-sok an gitu?"
Dan Aca menggeleng.
"Nggak Tan, Tante salah besar. Dia itu orangnya pendiem malah, ngomong seadanya tapi padet. Dan dia agak cuek gitu, malah banyakan Aca yang ngomong duluan. Tapi Aca seneng banget akhirnya Aca punya temen. Apalagi temennya hebat kayak Qila."
"Ohh ya? Kok bisa cuek gitu ya? Biasanya tuh, kalo di kampus elit kayak gitu, pasti Mahasiswa yang dapet beasiswa sombongnya mintak ampun. Tapi Tante juga seneng, kamu punya temen baru. Kapan kapan ajak main kerumah ya."
"Oke Tan."
"Eh, kamu bilang dia dari kampungkan? Trus dia di sini tinggal sama siapa?"
"Ituu masalahnya ... Dia tinggal sendiri Tan. Dan yang lebih parahnya lagi, dia ngontrak di tempat yang sepi gitu. Mana lumayan jauh lagi dari kampus."
"Jamu udah ke kontrakannya?"
"Udah ... sepi gitu lah kontrakannya. Kalo Aca mah, mana berani."
"Kenapa dia nggak ngontrak di deket kampus aja?"
"Mm ... katanya sih mahal."
"Oohh ... Gitu ya?" Berpikir sejenak.
"Gimana kalo dia tinggal di rumah Tante aja," sambung tante Aca dengan semangat.
"Hah?"
"Iya ... kan seru tuh, kalo di rumah banyak orang. Jadi kita punya temen ngobrol kalo di rumah. Dan kamu juga punya temen main. Gimana?"
"Emang boleh Tan?"
"Ya boleh lah ...."
"Emangnya Om ngizinin? Apa nggak ngerepotin Om, kalo harus ngasih makan temen Aca lagi?"
Mendengar itu tante Aca tersenyum.
"Uang Om nggak bakalan habis, kalo cuman buat ngasih makan temen Aca doang," ucap tante Aca sambil mencubit hidung Aca gemas.
"Seriously?"
"Sure Baby."
"Makasih Tante. Aca sayang Tante," ucap Aca sambil memeluk tubuh tantenya.
"Sama-sama ... " balas tante Aca sambil ikut memeluk ponakannya.
Happy reading😘😘
__ADS_1