Dear My Self

Dear My Self
BAB 26 (Cup, Cup, Cup )


__ADS_3

"Sebenernya ... Qila lagi suka sama seseorang ...." lirih Qila sambil menunduk.


Anjas seketika bungkam saat mendengar pernyataan dari Qila. Karna sebenarnya Anjas sudah menaruh hati pada gadis itu sejak Anjas kelas tiga SMP, sedangkan saat itu Qila masih kelas satu SMP. Hingga sampai sekarangpun, Anjas masih menyukai Qila, namun Anjas tak berani untuk menyatakannya. Anjas takut pertemanan mereka hancur hanya karna perasaannya pada Qila. Sebenarnya Anjas pindah ke Indonesia juga ingin bertemu dengan Qila, dan kembali mencoba untuk mendekati Qila. Tapi sayangnya Qila sudah menyukai lelaki lain.


Anjas kembali mencoba bersikap normal, lalu tersenyum.


"Benarkah? Katakan, siapa lelaki yang sudah membuat gadis ini sampai jatuh hati begini hum?"


Qila kembali menatap Anjas. Tapi tatapan Qila seketika berubah menjadi nanar. Qila benar benar tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Anjas yang melihat perubahan pada sorot mata Qila pun, menjadi bingung.


"Hey ... Why? Please don't cry okey. Apa lelaki itu sudah memiliki kekasih?"


Qila menggeleng lemah.


"Tidak. Mungkin bahkan lebih buruk dari itu."


"Dia sudah menikah?"


Qila kembali menggeleng.


"Qila mencintai orang yang salah bang An ...." ucap Qila dengan air mata yang kembali tumpah. Anjas hanya diam tak berkutik saat mendapati gadis yang ia cintai menangis seperti ini.


"Qila nggak tau gimana perasaannya sama Qila. Tapi dia seneng banget ngebuat Qila sakit hati. Namun seketika dia kembali membuat Qila luluh dengan segala sikap manisnya pada Qila. Qila nggak tau harus gimana ... Saat Qila mulai mencoba untuk membencinya, saat itu pula dia mencoba untuk membuat Qila kembali mencintainya. Bang An ... Qila nggak suka jatuh cinta ...." lirih Qila dengan air mata yang terus meluncur pada kedua pipinya.


Anjas terpaku saat mendengar ucapan gadis itu. Anjas menahan amarahnya setelah melihat gadis yang ia sayangi menangis seperti itu. Lalu Anjas menarik Qila dalam pelukannya.


"Maafin bang An ya ... bang An nggak bisa jaga kamu. Tapi asal Qila tau, lelaki seperti itu nggak pantas buat Qila. Qila tak perlu mencintainya lagi okee ...." Mengusap rambut Qila lembut.


"Tapi Qila nggak bisa ngelupain dia bang An. Qila udah terlanjur suka sama dia."


"Bang An akan bantu Qila buat ngelupain dia. Jadi Qila jangan nangis lagi ya," balas Anjas sambil melonggarkan pelukannya, lalu menghapus air mata Qila.


"Tapi gimana kalo Qila nggak bisa ngelupain dia? Jika setiap harinya Qila harus ketemu sama dia."


"Tapi ...."


"Udahlah, biarin semuanya berjalan sesuai takdirnya bang. Karna Qila nggak yakin Qila bisa melupakan lelaki itu."


Mendengar hal itu Anjas hanya diam dan terus menatap Qila. Lalu Anjas membuang mukanya ke samping sembari mengusap wajahnya kasar. Nyatanya tak ada celah untuk Anjas masuk ke dalam hati Qila. Lalu Anjas kembali menatap Qila lekat, sembari berusaha tersenyum.


"Bang An anterin Qila pulang yuk! Ini udah mau sore."


Dan dibalas Qila dengan mengangguk.


"Udah ... Jangan sedih lagi. Senyuuuum ...." ucap Anjas sembari menarik kedua ujung bibir Qila hingga berbentuk senyum.


Qila tertawa saat mendapati wajah lucu dari Anjas. Dan hal itu tentu tak lepas dari mata Anjas.


'Setidaknya gue bisa ngebuat lo kembali tertawa Qila,' batin Anjas sembari terus menatap Qila. Tawa yang sudah lama ia rindukan.


"Nah ... gitu dong, jangan sedih terus. Ayok! Kita pulang."


Anjas pun mengantar Qila pulang menggunakan motor miliknya. Setelah beberapa menit motor Anjas berhenti tepat di depan pagar rumah milik ibu Levin.


"Wow ... Ini rumah Qila? Bagus banget," ucap Anjas kagum, sambil terus melihat rumah Levin dari luar.


"Nggak lah, ini rumah temen Qila. Karna sekarang Qila tinggal disini sama temen Qila."


"Temen lo baik ya."


Dan Qila hanya membalas dengan sedikit tersenyum.


"Bang An nggak mau masuk nih?"


"Mm ... mggak deh, langsun pulang aja. Mungkin lain kali bang An mampir."


"Ohh, oke. Kalo gitu Qila masuk dulu ya. Bye ...." balas Qila sembari membalikkan badannya.


"Bye ... ingat, jangan sedih lagi."


"Iya ...."


Qila masuk ke dalam kamarnya, istirahat sejenak lalu mandi. Kemudian setelah mandi, Qila kembali membaringkan badannya di atas ranjang dengan posisi terlentang. Qila memejamkan matanya, sembari melepas segala beban yang ada pada pikirannya, sampai akhirnya ia benar benar tertidur.


****


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan itu kembali membuat Qila terbangun dari alam mimpinya. Qila melihat jam yang ada pada dinding kamarnya menujukkan angka 10 malam.


Dengan malas Qila bangun sembari menghampiri pintu untuk melihat siapa yang mengetuk.


Ceklek.


Qila membuka pintu perlahan. Dan orang pertama yang Qila lihat adalah Levin.


"Maaf, saya mau tidur. Belajarnya kita ganti siang besok aja." ucap Qila datar lalu menutup pintu kamarnya. Namun dengan cepat segel pintu Qila ditahan oleh Levin. Lalu Levin masuk, kemudian menutup pintu Qila, lalu menguncinya.


"Mau apa anda masuk? Saya bilang saya nggak bisa ngajarin anda untuk malam i ...." Dengan cepat Levin meletakkan jari telunjuknya pada bibir Qila, hingga menghentikan ucapan Qila.


"Jangan marah terus." ucap Levin datar sembari terus menatap Qila lekat.


"Gue nggak suka ngeliat lo sama cowok tadi." Memeluk Qila.


Deg


Jantung Qila kembali berdetak hebat saat mendengar kata itu.


'Apa bang Evin cemburu?' tanya batin Qila.


"Berhentilah buat marah kayak tadi. Karna gue nggak suka liat nya." ucap Levin melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Qila sembari menyeka rambut Qila ke samping.


Qila kembali tertegun saat mendapati sikap seperti itu dari Levin. Jantung Qila terus berdetak dengan mata yang tak lepas dari Levin.


Lalu Levin duduk di sofa yang ada di kamar Qila sembari menarik Qila pada pangkuannya. Qila melunjak kaget saat Levin menariknya.


"Turunin saya!" bentak Qila yang berusaha lepas dari pangkuan Levin. Tapi Levin malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Qila, hingga Qila tidak bisa bergerak.


"Tetaplah seperti ini. Sebentar saja." ucap Levin menutup mata sembari menyenderkan jidatnya pada bahu Qila. Qila hanya diam tak berkutik.


"Lelaki tadi siapa?" tanya Levin lirih dengan posisi masih menyenderka jidatnya pada bahu Qila.


Qila masih diam tak menjawab. Hanya menatap rambut Levin yang ada pada bahunya.


"Maafin gue ...." lirih Levin lagi sembari mengangkat wajahnya kembali menatap Qila. Lalu mengecup bibir Qila singkat. Qila kaget saat Levin kembali menciumnya Namun Qila mencoba bersikap setenang mungkin. Karna bisa jadi Levin hanya sedang mempermainkannya.


"Anda tidak perlu minta maaf. Karna anda benar, bahwa saya hanya gadis yang tidak bisa apa apa tam ...." Mengecup bibir Qila singkat.


Qila kembali tertegun saat mendapati sikap Levin yang berubah. Qila hanya mengerjap ngerjap kebingungan.


"Tapi saya memang tidak pantas untuk anda!"


"Ssttt ...." ucap Levin sembari meletakkan telunjuknya pada bibir Qila.


"Jangan pernah bilang itu lagi, paham! Sekarang biar gue tanya, berapa berat badan lo?"


"Hm? Apa anda ingin mengejek saya lagi?"


"Ck- cepetan jawab. Saya tidak terima bantahan!"


"Li-lima puluh lima," jawab Qila sambil menunduk lesu.


Levin tertawa kecil mendengar jawaban Qila.


"Lo lihat? Lima puluh lima itu berat badan yang ideal. Apa orang pintar kayak lo nggak paham itu hum?"


"Tapi itu lebih gemuk dari berat badan saya yang dulu."


Melihat Qila yang masih menunduk lesu, Levin tampak diam sejenak.


"Kalo gitu, ayo kita buat perjanjian," ucap Levin lagi.


"Perjanjian?"


"Aku akan mengikuti pelajaranmu, dengan syarat kau mau mengikuti pelajaranku."


"Pelajaran anda?"


Dibalas Levin dengan sedikit mengangguk.


"Gue akan bantu lo, ngembaliin kepercayaan lo lagi. Gue nggak mau lo terus terusan bilang kata gemuk! Atau kata tidak sempurna! Atau apa lah itu. Apa kau tidak ingin hum?"


Mendengar itu Qila hanya diam sembari mencerna kata kata dari Levin.


"Besok kita akan mulai semuanya oke."

__ADS_1


"Ma-maksud anda?"


"Maksud gue ... Gue nggak suka ngeliat lo merasa buruk terus. Nggak bisakah lo tersenyum kayak dulu lagi, hum?"


"Tapi itu tidak akan mungkin terjadi."


"Kenapa? Apa kau lupa siapa Levin Pernandes hah?"


Mendengar itu Qila tampak tertawa kecil saat mendengar ucapan Levin. Dan hal itu tentunya tidak lepas dari pandangan Levin. Untuk pertama kalinya Qila tertawa setulus itu pada Levin. Levin hanya diam sembari terus menatap wajah Qila lekat.


Cup


Satu kecupan mendarat di atas bibir Qila, hingga membuat Qila kembali melunjak kebingungan.


Cup


Satu kecupan lagi. Dan Qila masih mengerjap ngerjap kebingungan, sambil terus menatap Levin, dengan jantung yang semakin berdetak begitu hebat.


Melihat ekspresi Qila, Levin menarik ujung bibirnya sembari tertawa kecil. Ekspresi yang begitu menggemaskan. Lalu Levin kembali mengecup bibir Qila. Namun kecupan yang ketiga bukan lagi kecupan sekilas, tapi kecupan yang berubah menjadi lum*tan. Qila hanya diam terpaku. Tak menolak, pun tak membalas. Sesaat hanya keheningan yang ada diantara keduanya.


Hening


Hening


Hening


Tok tok tok 💨


Tiba tiba pintu kamar Qila di ketuk oleh seseorang.


"Qila ... Kamu udah tidur? Ini Tante sayang ...." suara itu terdengar oleh Qila dan Levin. Dan sontak Qila menarik bibirnya dari bibir Levin sembari mendorong tubuh Levin, lalu berdiri dengan cepat.


"Tante ... gimana ini?" tanya Qila cemas dengan suara yang dipelankan.


"Gue ngumpet di kamar mandi aja."


"Nggak nggak, ntar bisa ketahuan. Anda ngumpet di ...."


Tok tok tok


"Qila ...." suara itu kembali terdengar.


"I-iya Tan, bentar." ucap Qila spontan.


"Aduh, gimana ini?"


"Gue ngumpet di lemari lo aja. Dan jangan pernah mancing Mama buat buka lemari oke."


Dan di balas anggukan oleh Qila. Saat Levin sudah masuk ke dalam Lemari baju Qila. Lalu Qila bergegas menghampiri pintu, sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.


Ceklek


Qila membuka pintu perlahan.


"Maaf Tan, Qila agak lama bukaknya. Soalnya Qila abis dari kamar mandi," ucap Qila bohong.


"Iya nggak papa. Tante tadi ngeliat Evin masuk kamar kamu. Apa dia masih ada di sini?"


Mendengar itu Qila tersentak, ' Bagaimana tante bisa tau?' batin Qila. Namun Qila kembali bersikap normal.


"Mm ... nggak Tan. Tadi emang sempet bang Evin kesini bentar buat nanyain tugas yang Qila kasih. Tapi setelah itu bang Evin keluar."


"Oohh gitu ya? Evin bilang sama kamu nggak, dia mau kemana?"


"Nggak."


"Ya udah deh, mungkin dia nginep di rumah Lion atau Jeki. Maaf ya, Tante ganggu."


"Iya nggak papa Tan. Nggak mau masuk dulu?"


"Nggak usah deh, Tante mau tidur. Tante pergi dulu ya, selamat malam."


"Malam Tante," balas yang langsung menutup pintunya lega.


'Huhh ... hampir aja!'


Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2