
Sedangkan di depan rumah Levin, Anjas sudah berdiri sembari menumpukan kedua tangan pada pinggangnya. Tampak Levin keluar dari pagar rumah mewah tersebut dengan santai tampa rasa takut akan apa yang Anjas lakukan padanya.
Ia menghampiri Anjas sembari meletakkan kedua tangan pada saku celana dengan santai.
Melihat Levin yang sudah keluar dari perkarangan rumah, dengan cepat Anjas menghampiri posisi Levin berdiri, dengan sorot mata tajam yang tak lepas dari wajah Levin.
Brukk!
Satu pukulan keras tampa aba-aba, Anjas layangkan pada bagian wajah Levin hingga Levin tersungkur kesamping.
"Lo pikir lo siapa, hah!?" bentak Anjas sembari terus menatap tajam kearah Levin.
"Dengan mudahnya lo nyakitin hati orang lain! Lo tau? Gue udah susah payah bikin Qila bisa bahagia untuk hari ini saja. Hari ini saja, paham! Tapi dengan gampangnya lo bikin dia sedih dengan ucapan lo itu!! Lo tau, apa yang lo lakuin itu ...."
Brukk!
Belum sempat ia menyudahi ucapannya, tiba tiba satu pukulan keras dari Levin ikut mendarat di wajah Anjas, hingga ia juga tersungkur.
"Tau apa lo tentang gue, hah!!" bentak Levin tak mau kalah, dengan posisi yang sudah berdiri.
Brukk!!
Levin memukul Anjas untuk kedua kalinya, hingga Anjas tergeletak di jalan. Lalu Levin menarik kerah baju Anjas dengan kasar, kemudian kembali memukul Anjas tampa rasa ampun. Dengan sorot mata yang penuh emosi ia terus memukul wajah Anjas yang berada dibawah kukungannya.
Tak mau kalah, Anjas menendang Levin hingga Levin tersungkur ke belakang. Kemudian Anjas memukul Levin yang telah berada di bawah kukungannya, dengan emosi yang membara. Ia memukul Levin seperti Levin memukulnya. Ia terus memukul wajah Levin hingga terjadi duel sengit antara keduanya.
Karna keadaan jalan yang sepi membuat keduanya tak ada yang melerai, sampai akhirnya perkelahian itu berhenti dengan mereka yang sudah kelelahan sendiri.
Tak ada yang kalah atau pun menang, wajah keduanya tampak sudah sama-sama memar. Mereka duduk sembari menyenderkan kepala pada pagar rumah Levin, dengan nafas yang terengah engah. Entah apa yang membuat keduanya menjadi sama-sama diam.
"Harusnya lo tau, kalo Qila itu cinta sama lo. Gue nggak tau apa yang ada dalam pikiran lo itu. Bisa bisa nya lo asal ngomong sampe bikin orang lain sakit hati," ucap Anjas yang memecahkan keheningan antara keduanya.
"Tapi emang itu kenyataannya, bukan?"
"Gue berharapnya kayak gitu, tapi nggak tau apa yang membuat Qila buta, sampe dia lebih memilih laki-laki yang terus nyakitin hati dia, kayak lo."
"Kalo gitu kenapa lo nggak kejar dia aja?"
"Gue udah coba, tapi kayaknya dia tetep suka sama lo. Dan lo tau? Gue dengan susah payahnya bikin dia ketawa seharian ini, dan lo dengan mudahnya menghancurkan senyum dari wajahnya."
"Lo yakin lo bisa bikin Qila senyum? Buktinya pulang tadi dia kelihatan gusar."
Mendengar itu Anjas terdiam sejenak, ia membuang nafasnya kasar. Kejadian tadi kembali terngiang di kepalanya. Benar benar brengsek!
"Huuh! Sebab itu gue marah pas lo bilang kita habis pacaran. Emang seharian ini dia sama gue, dan dia udah bahagia banget. Tapi brengseknya pas gue lagi beliin es criem buat Qila, tiba-tiba ada yang bawa Qila kabur. Dan pas gue cari, ternyata ...." jelas Anjas memutuskan ucapannya.
"Ternyata apa!?"
"Ternyata Qila lagi dicium paksa sama laki-laki yang nggak gue kenal, sampe Qila nangis kayak tadi. Brengsek!!"
"Apa!!" Levin memegang kerah baju Anjas dengan kasar.
__ADS_1
"Lo bisa jagain dia nggak, sih?" tanya Levin.Tatapannya begitu tajam.
"Gue tau gue salah. Harusnya gue nggak perlu ninggalin Qila. Tapi gue pikir selama ini di kampus nggak pernah ada yang berani deketin Qila. Tapi nggak tau kenapa lelaki ini dengan brengseknya ngambil ciuman pertama Qila. Agghh!! Dia bener bener bikin gue emosi, kalo aja nggak ada orang negur tadi, dia udah gue hancurin!"
Mendengar itu Levin hanya diam sembari melepaskan kerah baju Anjas. Mengambil ciuman pertama Qila? Dia rasa tidak. Tapi tetap saja rasanya ia tidak rela bibir Qila disentuh oleh laki laki lain.
"Lo tau siapa laki laki itu?" tanya Levin.
"Gue nggak tau, tapi kayaknya dia bukan mahasiswa dari kampus."
"Lo bener-bener bodoh tau nggak! Bisa bisanya Qila disentuh sama laki-laki lain. Kalo lo nggak bisa jagain dia, mendingan nggak usah sok jadi pahlawan dalam hidup Qila!!" bentak Levin, lalu berdiri meninggalkan Anjas dengan wajah yang memerah dan kesal.
Levin masuk ke dalam rumahnya dengan sorot mata tajam, dan wajah yang sudah tampak begitu kesal dan emosi. Kedua tangannya terus ia kepal sembari menaiki anak tangga.
Ia benar benar tak bisa membayangkan bagaimana bisa bibir Qila di sentuh laki-laki lain. Ada sesuatu yang membuatnya benar benar terbakar emosi, jika dia tau siapa laki-laki itu, ingin sekali dia menghancurkan wajahnya agar tak nampak lagi dari permukaan bumi ini.
Saat sampai di depan pintu kamarnya, ia tak langsung masuk. Namun ia malah melihat pintu kamar Qila yang berada di sebelahnya. Entah apa yang membuat ia senekat ini, ia membuka pintu kamar Qila yang ternyata tidak dikunci.
Ceklek
Qila sedikit kaget saat melihat Levin membuka pintu kamarnya, dengan cepat ia menghapuskan air matanya sembari membuang pandangannya ke segala arah. Ia tak ingin menatap wajah Levin yang sudah membuat hatinya semakin hancur.
Levin masuk kedalam kamar Qila yang ternyata belum tidur. Ia mendekati Qila. Dapat ia lihat mata gadis itu yang tampak sayu dengan wajah gusarnya. Ia benar-benar tidak tau kalau gadis itu baru saja dicium oleh laki-laki lain. Kalau saja dia tau dari awal, mungkin dia tidak akan mengatakan sesuatu yang membuat Qila sakit hati seperti tadi.
"Ngapain anda kesini? Ini udah malam, saya mau tidur. Jadi silahkan anda keluar!" bentak Qila tampa ingin melihat kearah Levin.
Bukannya pergi Levin malah mendekati Qila, dan duduk di sebelahnya. Tampa Qila duga pula, Levin langsung mencium bibirnya. Ia melunjak kaget saat mendapat perlakuan itu. Namun untuk waktu selanjutnya ia mencoba memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir Levin, hingga hanya keheningan yang melanda keduanya.
Levin terus mencium bibir Qila, lalu perlahan ia melum*tnya. Tampak Levin memberikan intruksi agar Qila membuka sedikit bibirnya, agar ia dengan mudah melancarkan aksinya.
Qila membuka sedikit bibirnya untuk memberi celah agar lidah Levin bisa masuk kedalam mulutnya, lalu Levin melilitkan lidahnya pada lidah Qila, lalu mencium setiap senti bibir Qila. Ia melum*t bibir atas Qila, lalu bergantian di bawahnya. Keduanya sama-sama ikut kedalam kenikmatan itu.
Sampai saat merasa nafas Qila yang sudah sesak, dengan cepat Levin melepaskan bibirnya dari bibir Qila dengan lembut. Kemudian ia menyenderkan jidatnya pada jidat Qila hingga hidung mereka bersatu. Mereka sama sama diam sembari mengatur nafas.
Dapat Qila lihat wajah Levin dengan jelas. Tampak Levin memejamkan matanya, dan Qila hanya diam tak bergeming.
"Gue akan hapus bekas bibir lelaki itu dari bibir lo Qila. Gue nggak bakalan biarin ada bekas bibir orang lain dari bibir lo ini, ngerti?" tanya Levin sembari membuka matanya menatap Qila lekat.
Mendengar itu Qila hanya diam tak menjawab ucapan Levin. Lalu Levin menjauhkan wajahnya dari wajah Qila, kemudian memegang sebelah pipi Qila lembut menggunakan sebelah telapak tangannya.
Cup
Levin mengecup bibir Qila singkat.
"Bagian mana lagi dia menyentuh lo?"
Mendapat pertanyaan itu Qila hanya menggeleng, karna memang hanya dibagian bibir Rayen menyentuhnya.
"Tangan lo?"
"Dia cuman megang pergelangan tangan."
__ADS_1
"Mana lagi? Pasti tengkuk lo juga ada, kan? Trus bahu lo?"
Mendapat pertanyaan itu Qila hanya diam. Mana mungkin dia ingat, jika tadi saja ia hanya menangis.
"Mendingan lo mandi aja. Bersihin tuh semua yang udah dia sentuh. Kalo perlu, gosok kuat kuat, jangan sampe ada yang ketinggalan."
Mendengar itu Qila diam sejenak. Apa dia perduli?
"Saya udah mandi. Juga udah gosok gigi sampe tiga kali. Tanpa disuruh pun saya bakalan ngelakuin hal yang sama," balas Qila lalu menunduk.
"Gue cuma nggak mau lo disentuh kayak gitu ...." lirih Levin sembari mengelus rambut Qila lembut.
"Tapi anda juga ngelakuin hal yang sama. Lalu apa bedanya?"
"Ya beda lah. Siapapun nggak boleh kecuali gue, paham."
"Nggak! Kenapa anda tidak melakukannya dengan kekasih anda saja, bukankah dia lebih cantik dan sexy?"
"Claudia?"
"Menurut anda?"
Mendengar itu Levin tampak diam sejenak, kemudian tampak ia membuang wajahnya ke samping. Lalu kembali menatap wajah Qila.
"Lo kenal siapa laki-laki itu?" tanya Levin mengalihkan pembicaraan.
Mendapat pertanyaan itu Qila hanya diam, dia benar-benar malas menyebutkan nama lelaki brengsek itu.
"Kenapa lo diem? Lo pasti kenal, kan? Nggak mungkin orang nggak dikenal, bisa seberani itu nyeret lo pergi sampe beraninya nyium lo."
"Rayen! Rayen yang udah ngelakuin itu," ucap Qila dengan wajah yang sudah memerah. Ia benar-benar benci dengan lelaki itu.
"Rayen yang gue temuin pas di sekolah lo dulu?"
Qila menjawabnya dengan mengangguk. Melihay itu Levin hanya diam sembari menahan emosinya. Berani beraninya lelaki menyentuh Qila, bahkan setelah ia membiarkan Qila di buli dulu.
"Ya udah, sekarang mendingan lo tidur, oke. Lo pasti udah capek habis jalan-jalan seharian ini."
"Iya."
"Ingat! Langsung tidur, paham? Kalo nggak, apa perlu gue yang tidurin?"
Dan dengan cepat dibalas Qila dengan menggeleng kuat. Mana mungkin dia bisa tidur jika Levin terus berada di sampingnya.
"Makanya, langsung tidur. Nggak pake nangis lagi, karna bibir lo udah bersih dari noda cowok brengsek itu."
'Cih! Apa bedanya dengan dia!?' batin Qila.
"Gue keluar dulu. Selamat malam," ucap Levin lalu keluar dari kamar Qila.
"Tunggu!"
__ADS_1
Happy reading 😘😘