Dear My Self

Dear My Self
BAB 29 (Berubah Seperti Dulu)


__ADS_3

Byuur


Qila melunjak kaget dari atas ranjangnya, saat merasa ada yang mengguyur tubuhnya menggunakan air saat Qila masih tertidur dengan begitu lelap.


"Apa-apaan ini!" sontak Qila dengan melototkan matanya.


"Cepetan bangun, kita udah telat," ucap Levin datar. Lihat? bahkan sedikit pun tidak ada rasa bersalah dari wajah Levin setelah mengguyur tubuh Qila.


"Anda! Ngapain anda masuk ke kamar saya, hah? Huuh! Ya ampun ... ini dingin banget," balas Qila sembari memeluk dirinya sendiri, menggigil kedinginan.


"Ini udah jam lima lewat, jadi mau nggak mau, lo harus gue siram pake air. Cepetan bangun! Atau mau gue siram lagi, hum?"


"Anda, benar-benar menyebalkan!" rungut Qila sambil berdiri, dan masuk kedalam kamar mandi dengan kesal.


Setelah mandi, Qila menggunakan pakaian olah raga, lalu menghampiri Levin yang sudah menunggu di halaman depan.


"Ayok!" ucap Qila kesal sembari mengambil sepeda, tampa melihat ke arah Levin. Kekesalan setelah diguyur tadi, rasanya Qila ingin sekali meremukkan wajah tampan milik Levin, agar tidak bersikap seenaknya dengan orang lain. Namun apalah daya Qila yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya mengikuti perintah dari Levin.


Melihat Qila yang sudah menaiki sepeda, Levin pun mengayuhkan sepedanya menyusuri jalan seperti biasanya. Karna sudah terbiasa dengan kegiatan ini, membuat Qila tidak terlalu lelah seperti saat pertama kali Levin mengajaknya. Selama beberapa bulan mengikuti kelas diet, membuat Qila sudah bisa menyeimbangkan makanan sehat yang diberikan Mrs.Jola.


Namun pagi tadi, Qila benar-benar mengantuk karna semalam Qila begadang untuk persiapan ujian semester yang hampir dekat.


Tampa Qila sadari, berat badannya sudah berkurang dari sebelumnya. Mrs. Jola memang sengaja untuk tidak menyuruh Qila melihat berapa berat badannya untuk beberapa bulan ini. Karna Mrs. Jola ingin Qila melihat hasilnya setelah kelas dietnya selesai.


Qila yang tidak tau akan perubahan berat badannya hanya bisa kebingungan saat melihat para lelaki yang kembali mendekatinya. Bahkan sekarang para senior sudah banyak yang mengundang Qila untuk masuk kegiatan-kegiatan yang ada di kampus. Namun karna sekarang sikap Qila yang tidak seramah dulu lagi, dan juga cuek, membuat Qila tidak menanggapi semua ucapan para lelaki tersebut.


Jangankan untuk sekedar mengucapkan terimakasih, tersenyum pada lelaki itu saja Qila tidak mau. Karna pengalaman Qila waktu masih sekolah dulu, sudah banyak memberi Qila pelajaran. Bahwa dunia berpihak pada keindahan, dan dunia tidak seramah itu! Dulu saat di sekolah Qila sering memberi contekan pada teman sekelasnya, sekarang tidak lagi. Bahkan jika ada yang bertanya pun Qila hanya menjawab seadanya. Dulu Qila sering menyapa teman-teman sekolahnya, sekarang jangankan untuk menyapa atau tersenyum. Menoleh saja tidak.


Tubuh Qila memang sudah berubah seperti dulu. Langsing, dan ideal. Bahkan Qila juga sudah bertambah cantik, dari pada saat dia masih sekolah dulu. Bagaimana tidak? Perawatan yang sering Qila lakukan setiap minggu, membuat kecantikannya sudah bertambah berkali-kali lipat. Dan tentu saja hal itu di ajak keras oleh Aca dan Lina. Tapi, meskipun sudah berubah seperti dulu, atau bahkan lebih. Bukan berarti sikap Qila juga kembali seperti dulu. Sikapnya tidaklah berubah. Jadi jangan harap dia akan menjadi gadis ramah lagi.


Qila juga tidak berteman dengan siapapun di kampus, kecuali dengan Aca, Anjas, Levin, dan kedua sahabat Levin. Hanya itu! Qila hanya berbagi ilmu bersama mereka, dan juga sering berkumpul bersama mereka. Itu pun tampa sengaja, (Karna adanya perjanjian diantara mereka).


Setelah selesai berolahraga, Qila dan Levin pun pulang, dan masuk ke dalam rumah.


"Ehem." Suara seorang wanita menghentikan langkah kedua remaja tersebut. Lalu menoleh ke arah sumber suara.


"Tante?" ucap Qila kaget saat mengetahui Widia yang sudah duduk santai di sofa tengah. Biasanya jam sepagi ini Widia belum keluar dari kamarnya. Sedangkan Levin hanya bersikap santai sembari melipatkan kedua tangannya pada dada.


"Kalian abis dari mana nih? Pagi-pagi banget?" tanya Widia sambil tersenyum penuh arti.


"Mm ... itu ... kita cuman olahraga kok Tan, dan pas di jalan Qila nggak sengaja ketemu bang Evin. Makanya kita pulang bareng," ucap Qila bohong sembari menunduk.


"Bohong!" ucap Levin tiba tiba.


"Bukannya pagi tadi lo yang bangunin gue pas gue lagi tidur? Dan lo juga yang ngajak gue olah raga sangat pagi. Kalo bukan karna gue kasian sama lo, gue nggak bakalan mau nemenin lo olah raga sepagi itu. Mendingan gue tidur," sambung Levin enteng tampa melihat lawan bicara.


Mendengar ucapan Levin, Qila keget dan juga bingung.


'Hah? Apa-apaan ini! Bukannya dia yang bangunin gue sepagi itu!? Dan dia jugakan yang ngajak gue buat olah raga bareng selama ini!? Haah! Benar benar menyebalkan!' rungut batin Qila.


Levin yang mengetahui kekesalan pada wajah Qila. hanya menanggapinya dengan tersenyum puas.


"Benarkah? Kalo gitu bagus dong Vin, kamu udah mau nemenin Qila. Sekarang Qila juga udah kurusan kayaknya. Tante doain yang terbaik buat kalian," ucap Widia tersenyum senang, saat melihat kedekatan anaknya dan Qila. Lalu pergi dari hadapan kedua remaja tersebut.


Melihat Widia yang sudah pergi, Qila mendekati Levin dengan memasangkan wajah kesalnya.


"Maksud anda apa sih? Bukannya anda yang bangunin saya sangat pagi? Sampai rela buat ngeguyur saya pake air. Kasur saya aja sampe basah. Sekarang saya nggak mau tau, anda harus ganti seprai kasur saya. Sekarang!" bentak Qila tampa ragu.


"Waw ... kok lo marah-marah sih? Harusnya lo berterimakasih dong sama gue, karna lo udah kurus kayak yang Mama bilang. Itu semua juga karna gue kan? Kalo nggak pasti lo terus-terusan merasa buruk kayak dulu. Emang lo mau, hum? Makanya sekarang gue rasa, nggak masalahlah kalo lo sekali-kali belain gue, ya kan?" tanya Levin sembari sedikit tersenyum.


Mendengar itu Qila hanya diam sembari terus menahan emosinya yang membara.


"Dan lo tenang aja. Kasur lo udah di ganti sama bibi. Apa lo lupa, Levin Pernandes siapa?" Mengacak rambut Qila, lalu pergi dari hadapan Qila dengan tersenyum puas, karna melihat Qila yang tak bisa apa apa.

__ADS_1


'Ya Tuhan, kuat kan gueee!'


*****


Hari ini merupakan hari pertama ujian semester untuk Qila, Levin dan juga Aca. Sebelum ujian dimulai pun, mereka sudah belajar bersama untuk persiapan ujiannya. Dan pastinya juga tidak lupa Lion, Jeki, dan Anjas yang juga ikut belajar bersama mereka.


"Evin ... sini kita sarapan bareng," sahut Widia dari arah dapur sembari menyiapkan sarapan yang dibantu Qila dan juga Aca. Sedangkan di meja makan sudah duduk Herman dan anak perempuannya, Lina.


"Nggak usah, diluar udah ada Lion sama Jeki yang nungguin Evin."


"Kalo gitu ajak masuk dong. Kita sarapan bareng," ucap Widia.


"Kita bisa makan di kampus."


"Pokoknya nggak boleh. Kalian harus sarapan di rumah, Mama udah masaka banyak nih."


"Udahlah Vin, sebaiknya kamu dengarkan apa kata Mama kamu," timpa Herman.


"Ya udah, biar Ina panggil bang Jeki sama bang Lion ya Ma," sahut Lina.


"Ya udah, cepetan ya sayang."


"Iya Ma." Berlari keluar.


Sedangkan Levin mau tidak mau akhirnya duduk di meja makan dengan malas.


"Assalamualaikum ...." sahut Lion dan Jeki sembari berjalan ke arah meja makan bersama Lina.


"Waalaikumsalam ...."


"Eh, selamat pagi Om, Tante. Makasih loh udah ngajak kita sarapan bareng hehe ...." ucap Jeki tersenyum aumbringan.


"Selamat pagi juga. Ayok! Duduk sama Levin." balas Widia ramah, begitu lun dengan Herman.


"Aduh ... pagi-pagi gini udah disiapin sarapan sama calon istri, rasanya giman gitu ya Tan," ucap Jeki pada Widia sambil tersenyum, dengan mata yang terus menatap Aca yang sedang menyiapkan sarapan bersama Qila.


"Bang Jeek! Apaan sih?" rungut Aca malu-malu.


Widia dan Herman hanya tersenyum geli melihat tingkah ponakannya yang sudah bersemu.


"Makanya, kamu harus rajin-rajin belajar, supaya bisa cepet-cepet ngelamar Aca. Kasian tuh Aca," balas Widia.


"Iihh, Tante! Aca malu ini."


"Nggak usah malu Ca, bang Jek kan ada," tambah Jeki lagi.


"Tau nih kak Aca, padahal dalam hatinya udah berbunga-bunga. Liat liat liat ... bentar lagi terbang tuh, wkwk," timpal Lina yang tidak mau kalah untuk menggoda Aca.


"Udah Ca, semangat aja buat siapin sarapan buat calon suaminya," sambung Lion lagi.


"Jangan lupa belajar masak juga. Nanti Jeki pulang dari kerja, kamu malah masak sayur garam lagi buat dia," tambah Herman.


"Eh, nggak papa Om. Kalo Aca yang buat mah, jangankan sayur garem, sayur gosong aja Jeki makan, wkwkwk."


"Kok semua pada mojokin Aca sih? Qila, bantuin gue dong ...."


"Ya udah, ntar Qila bantuin pilih-pilih gaun pengantinnya ya," jawab Qila sambil tersenyum.


"Haha ... bagus Qila. Makasih loh," ucap Jeki sambil tertawa.


"Ck- punya temen sama aja. Bang Evin! Bantuin Aca nih ...."


"Bodo!"

__ADS_1


"Dasar Batu!!"


Mendengar itu, semua yang ada di meja makan tertawa saat melihat tingkah Aca yang sudah malu. Sikap Jeki yang lucu dan heboh pun, juga menambah keramaian pada meja makan kediaman Herman Pernandes pagi ini. Kecuali Levin, yang memilih untuk tetap diam sembari terus memakan sarapannya dengan cuek.


Sarapan merekapun diakhiri dengan kelucuan Jeki yang selalu menghibur.


"Eh Ca, berangkat bareng aja yuk!" ajak Jeki.


"Mm ... nggak usak, Aca bawa mobil kok hari ini."


"Kalo gitu, Aca nggak usah bawa mobil aja, ya ...." ucap Jeki sembari memohon.


Aca tampak diam sejenak.


"Ya udah, tapi Qila ikut juga ya."


"Siap deh."


"Kalo gitu kenapa Qila nggak bareng Levin aja?" timpa Widia tiba tiba.


Mendengar itu Qila melunjak kaget.


"Hah? Mm ... Nggak usah Tante, saya bisa bareng taksi online aja."


"Udah kak Qila, bareng bang Evin aja. Mana tau ntar jodohkan, hehe. Soalnya Ina pengen banget nih, kak Qila jadi iparnya Ina. Bang Evin, tembak kak Qila dong ... biar Ina bisa pamerin kakak ipar Ina, sama temen-temen," ucap Lina polos.


Mendengar itu Qila tersedak.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Lalu meminum air dengan cepat.


"Pelan-pelan Qila," ucap Widia sembari mengelus punggung Qila.


"Ma-maaf Tante, Qila nggak sengaja," ucap Qila yang sudah bersemu. Sedangkan Levin hanya menanggapi ucapan Lina dengan santai.


"Iya nggak papa, sekarang kamu minum lagi ya."


"Makasih Tante."


"Jadi lo bareng gue sama bang Jek, atau bareng bang Evin nih?"


"Mm ... gue ...."


"Bareng gue aja!" balas Levin ketus sambil memutuskan ucapan Qila.


"Hm?"


"Ya udah kalo gitu."


"Oke, gue sendiri lagi," ucap Lion pasrah.


"Haha ... ngenes banget hidup lo ya, Yon. Udah lah jomblo, susah move on, eh taunya nggak laku lagi. Haha ... Gue jadi curiga, jangan jangan lo yang temen tiri, bukan gue, wkwkwk," ucap Jeki yang tidak henti-hentinya tertawa.


"Diem lo!"


"Kalo gitu bang Lion bareng Ina aja ya, sekalian anterin Ina sekolah, hehe," ucap Lina sembari cengingiran pada Lion.


"Huuffh ... ya udah, kayaknya lebih baik dari pada gue sendiri terus," balas Lion.


"Ya udah, kalo gitu kalian berangkat gih, ntar keburu telat," timpa Widia.


"Ya udah, kita permisi Om, Tante. Assalamualaikum ...."


"Waalaikumsalam ...."

__ADS_1


Setelah bersalaman dengan Herman dan Widia, akhirnya mereka berangkat menuju kampus.


__ADS_2