Dear My Self

Dear My Self
BAB 22 (Levin tau?)


__ADS_3

Malam ini, Qila sedang duduk di meja belajarnya yang dipenuhi pernak pernik berwarna pink, yang baru saja dia beli siang tadi bersama tante Aca.


Qila tampak diam menatap kertas kosong yang ada didepannya. Entah mengapa setelah mendapat beberapa kejadian yang tak terduga dari Levin membuat Qila menjadi teledor (Tau lah ya 😅). Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Qila tumpahkan pada kertas itu. Tapi tidak tau harus mulai dari mana. Barisan kata saja rasanya tak cukup untuk menggambarkan rasanya.


Masih dalam keadaan termenung dengan segala pikiran yang entah kemana.


Ceklek


Tiba tiba seseorang membuka pintu kamar Qila tampa salam, atau pun hanya sekedar mengetuk. Lalu menutupnya dengan kasar menggunakan kakinya, dengan tangan yang memegang buku.


Bruuk


Qila tersentak saat lelaki itu menghempas beberapa buku tebal di atas meja belajar Qila, tepat didepannya.


"Kerjain tugas gue," ucap lelaki itu datar, yang tak lain adalah Levin. Lalu langsung duduk di atas ranjang Qila dengan santai.


Melihat itu Qila hanya membuang nafas kasar. Karna untuk bersuara pun rasarnya tak berguna jika pada akhirnya kembali pada peraturan ketiga!


"Nggak pake lama! Kalo udah selesai bilang sama gue," sambung Levin lagi sembari memainkan ponselnya tampa melihat ke arah Qila.


Qila hanya diam, lalu dengan cepat dia mengerjakan tugas Levin. Meskipun berada pada perasaan yang entah apa. Tapi Qila berusaha sekuat mungkin untuk mengerjakannya dengan baik. Karna kalau tidak, siap untuk menerima mulut pedasnya Levin.


Setelah dua jam lamanya, akhirnya tugas Levin pun diselesaikan oleh Qila. Qila mencoba meregang semua ototnya. Lalu berdiri sembari membawa buku menuju ke arah Levin.


Namun saat Qila sampai. Qila malah melihat Levin yang tertidur dengan posisi duduk menyenderkan kepalanya pada ranjang Qila, sembari melipat ke dua tangan di dadanya. Melihat itu Qila mematung. Lagi dan lagi entah mengapa Qila selalu memilih untuk menatap, ketika melihat Levin memejamkan mata seperti itu. Begitu tenang.


Qila menatap nanar wajah Levin. Ada sesuatu yang tak mampu untuk di jabarkan. Dan juga tak seharusnya ada. Namun untuk detik selanjutnya Levin membuka matanya, dan spontan Qila membuang mukanya ke samping, karna telah merasa tertangkap basah.


"Lo lagi ngeliat gue?" tanya Levin dengan nada datar. Dan ternyata Levin tidak sedang tidur.


"Nggak usah pede! Saya cuma mau membangunkan anda. Tugas anda sudah saya kerjakan," ucap Qila setenang mungkin tampa melihat ke arah Levin, karna pipi yang sudah bersemu.


Levin tampak tertawa kecil sembari berdiri, lalu menghampiri Qila.


"Mengelak dari perasaan yang nyata itu susah. Karna sampai kapanpun lo nggak bakalan bisa selama orang itu selalu di deket lo. Dan gue saranin nggak usah ngelakuin sesuatu yang bertentangan dengan hati lo," ucap Levin tampa ekspresi sembari mengambil buku yang ada di tangan Qila. Lalu keluar meninggalkan Qila yang masih tertegun.


Sesaat Qila terapaku mendengar ucapan Levin. Entah pernyataan apa itu. Sebuah sindirankah? Entah lah. Namun kata itu mampu membuat butiran bening lolos dari pelupuk mata Qila. Qila terduduk lemas di tepi ranjang sempari menangkup mukanya menggunakan kedua telapak tangan.


"Kenapa bisa! Kenapa bisa gue suka sama bang Evin.Seharusnya rasa ini nggak ada Qila! Lo nggak pantes buat bang Evin! Lo jelek! Lo nggak tinggi! Lo nggak langsing! Lo nggak cantik! Lo nggak kaya! Lo buruk! Lo kekurangan Qila ... berhenti terjebak oleh sebuah rasa yang lo ciptain sendiri. Gue mohon ...."


---------------


'Aku tak suka menerima kebenaran bahwa nyatanya aku mencintai mu. Rasa yang tak seharusnya ada. Aku kekurangan! Lalu apa pantasnya aku untuk mu? Dan mungkin kenyataan yang lebih buruknya, aku hanya setitik noda yang tak berarti dalam hidup mu!'


~Aqila Liliana~


****


Siang itu Qila dan Aca tampak baru saja keluar dari dalam kelasnya, lalu berjalan santai di koridor kampus.


"Eh Qila."


"Iya."


"Tugas presentasi tadi observasinya dimana aja sih? Nggak denger gue."


"Pilihannya ada banyak. Tergantung kita mau milihnya dimana. Kayak di Kantor Camat, Kantor Kepala Desa, atau Puskesmas juga bisa. Yang penting ada struktur kerja di dalamnya."

__ADS_1


"Itu aja?"


"Iya ... tapi sekalian sama visi misi nya, kalo nggak salah."


"Aduuh ... banyak banget sih! Pusing gue sumpah."


Qila hanya diam sembari sedikit tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya. Lalu mereka berjalan di koridor kampus sambil terus bercerita tentang tugas yang belum Aca pahami.


Namun seketika tubuh Qila kembali menegang saat dari arah berlawanan, tampak Levin dan kedua sahabatnya yang juga sedang berjalan di koridor kampus.


Qila berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Saat Qila melewati Levin, tampak Levin menatap Qila. Entah tatapan apa itu. Namun Qila langsung membuang prasangkanya jauh jauh.


"Hay adek adek gemes," sapa Jeki dengan tersenyum cengengesan, sembari berhenti didepan Qila dan Aca.


"Hay juga ... mau kemana nih abang abang ganteng hehe " balas Aca lagi.


"Kita mau ...."


"Pergi!" balas Levin memutuskan ucapan Jeki.


"Kok pergi sih? Bukannya tadi lo bilang ke kantin ya?"


"Lo sendiri aja, gue nggak jadi!" ucap Levin lalu langsung pergi meninggalkan ke empat remaja tersebut. Melihat ke arah Qila Sekilas, lalu pergi.


Qila tak tau apa itu. Apa yang akan Levin lakukan padanya ketika Levin tau bahwa dia telah mencintai Levin. Qila hanya berusaha untuk bersikap sebaik mungkin.


"Huh ... aneh aja tuh orang," ucap Jeki sambil melihat kepergian Levin.


"Jadi ke kantin nggak nih?" tanya Lion lagi.


"Ya udah ayok. Eh Aca sama Qila ikut yok! Seru nih kalo rame."


"Ya elah, kampusnya aja punya Om lo. Jadi kami bisa apa Ca?"


Aca hanya tertawa mendengar ucapan dari Jeki.


Ting


Suara ponsel Qila berbunyi.


Bang Batu


"Gue tunggu di atap kampus dalam waktu 10 menit. Cepetan!"


Qila berdecak malas saat menerima pesan itu. Lebih tepatnya malu. Karna bagaiman dia tidak tau bahwa dia sudah menyukai Levin. Sedangkan Levin sendiri sudah tau.  Namun bagaimana pun Qila tak bisa bersembunyi lagi. Karna memang nyatanya dia sudah mencintai Levin bahkan sebelum dia menolak.


"Ca" ucap Qila memecahkan obrolan mereka.


"Iya ...." balas Aca sembari menatap Qila.


"Gue ada kerjaan bentar. Lo ke kantin duluan aja ya."


"Mau kemana? Aca ikut ya."


"Mm ... nggak usah, gue bentar doang kok."


"Tapi kemaren lo juga bilangnya bentar." balas Aca sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ca, ikut sama bang Jek aja yuk!"


"Emang nggak papa nih Aca ganggu kalian lagi?"


"Ya pastinya nggak papa lah Ca. Kayak lo nggak tau abang Jek lo ini aja," balas Lion lagi.


"Diem lo!"


"Ya nggak papa dong Ca, malah kita seneng. Kan jadi rame hehe." balas Jeki lagi. Aca yang tidak tau apa apa hanya mengangguk.


"Ya udah deh. Tapi Qila janji jangan pulang larut lagi oke" sambung Aca.


"Iya .... gue duluan ya," ucap Qila pada ketiga remaja tersebut. Dan dengan cepat dia menuju lift untuk menuju atap kampus.


Saat sampai diatas, tampak Levin tangah tidur di atas kursi dengan tas menjadi bantalannya. Qila hanya diam sambil mendekati Levin.


"Lo telat 5 detik!"


"Hm?"


"Peraturan pertama. Lo harus on time. Apa lo lupa?" ucap Levin lagi sambil mengubah posisinya menjadi duduk lalu menatap Qila.


'Cuman 30 detik. Apa dia benar benar gila?'


"Lo lagi nyumpahin gue, hum?"


'Hah? Apa dia bisa ngebaca pikiran?'


"Kenapa diem!"


"Jangan sok tau! Cepat katakan kenapa anda manggil saya?"


"Gue mau lo beli makan siang buat gue. Cepetan dan nggak pake lama, paham!"


"Hah?"


"Peraturan ke dua! Gue nggak punya siaran ulang, jadi lo nggak boleh lamban, dan pasang telinga lo baik baik."


'Ya ampun! Gila gue lama lama,' batin Qila.


"Tunggu apa lagi?"


"Kenapa anda nggak langsung ke kantin aja bareng bang Jeki sama bang Lion tadi?"


"Ya itu terserah gue. Tugas lo cuman nurut!"


"Apa anda ingin mengerjai saya?"


"Lo susah banget ya dibilang. Gue hitung sampe satu, kalo lo nggak beliin gue makanan, lo bakalan tau apa akibatnya!"


"Hm?"


"Sa ...."


"Oke! Gue beli sekarang." ucap Qila memutuskan ucapan Levin. Lalu pergi dari hadapan Levin dengan kesal.


"Lo cuman punya waktu lima menit, jadi cepet!" sahut Levin dari jauh.

__ADS_1


'Aagghh! Dasar batu!' batin Qila sambil terus berjalan tampa menghiraukan ucapan Levin, dengan sumpah serapah pastinya.


Happy reading😊😘


__ADS_2