Dear My Self

Dear My Self
BAB 4


__ADS_3

Hari ini merupakan hari pertama Qila dan Kayra masuk sekolah setelah libur. Dan juga merupakan hari pertama melaksanakan UN.


Saat mereka sampai di parkir.


"Huuffhh ...." Aqila membuang nafasnya kasar, sembari memikirkan ucapan semua orang dulu.


'Akan kah mereka menetapi janji? Akankah mereka menerima keadaan ku? Hah ... sudah pasti tidak!'


"Qila .... " lirih Kayra yang meleburkan lamunan Qila. Kayra tau ini pasti berat untuk sahabatnya.


"Hm?" tanya Qila sembari melihat ke arah Kayra.


"Semuanya pasti baik baik aja okee "


"Iya ... nggak papa kok. Udah ayok kta masuk," jawab Qila berusaha tegar. Dia juga tau, semuanya pasti tidak akan baik baik saja.


Dan dibalas Kayra dengan tersenyum sambil menggenggam tangan sahabatnya Qila. Lalu mereka berjalan menuju kelas.


"Eh eh, itu bukannya Qila ya? Anak primadona


itu kan? "


"Eh iya deh. Kok dia .... "


"Kayaknya kena azab tuh. Mana tau dulu dia pake pelet buat deketin cowok,"


"Bisa jadi sih, lagian pantas juga buat dia,"


"Seneng gue lihat dia kek gitu,"


Hahaha ....


Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Qila dan Kayra.


Qila hanya bisa membuang nafas kasar. Dia tau ini pasti akan terjadi, secara mereka memang sudah lama benci dengannya. Dan perubahan Qila ini memang menjadi kemenangan tersendiri bagi kaum wanita. Hanya saja Qila tidak ingin mempermasalahkan itu.


Yap ... Qila sudah berubah. Dia bukan lagi gadis yang ideal seperti dulu. Semenjak libur satu bulan sebelum UN, berat badan Qila naik dari 45 Kg, menjadi 55 Kg, dan itu benar benar membuat Qila selalu di buli. Bahkan para lelaki yang dulu katanya mencintai Qila, sekarang entah kemana, seperti hilang tak berjejak. Namun Qila tidak mempermasalahkan itu, karna Qila merasa mungkin ini memang jalan dari Tuhan, untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Toh Qila selama ini nggak pernah cari perhatian.


Sebenarnya Qila tetap cantik. Karena dari aslinya memang begitu. Namun ya begitu lah laki laki, selalu ingin yang lebih.


Sedangkan Kayra benar benar sudah tidak tahan atas perlakuan orang terhadap sahabatnya.


"Mereka bener bener harus dikasih pelajaran!" bentak Kayra geram.


"Udah lah Kay, nggak usah diladenin. Anggap aja mereka nggak ada," yakin Qila kepada Kayra.


"Tapi mereka udah ngehina lo Qila. Gue nggak suka!"


"Udah nggak penting, yang penting sekarang kita fokus ujian aja oke."


Dan di jawab anggukan oleh Kayra. Sebenarnya dia sangat prihatin dengan sahabatnya. Dia tau bahwa Qila tidak sedang baik baik saja. Tapi apa yang dikatakan Qila juga benar. Mereka nggak penting! Toh dari dulu mereka emang selalu menjelekkan Qila, batin Kayra.


Sebelum sampai di dalam kelas, tiba tiba Qila dan Kayra bertemu dengan Rayen didepan kelas mereka sambil memegang bunga mawar berwarna merah. Namun belum menyadari kedatangan keduanya.


"Ngapain lo didepan kelas IPA ? Lo IPS kan?" tanya Kayra yang mengagetkan Rayen.


Kayra tau bahwa Rayen ingin menemui Qila dengan modus baru. Tapi Kayra hanya penasaran, apakah Rayen akan masih suka dengan Qila setelah melihat keadaan Qila yang seperti ini?


Rayen yang sedang memandang bunga spontan mendongakkan wajahnya ke arah sumber suara.


"Ha ...." belum sempat Rayen menyapa keduanya, tapi Rayen malah dibuat kaget.


'Ini bener Qila? Kok dia nggak kurus lagi sih? Idih, kalo gini ngapain juga gue capek capek kesini. Ahh sial! Gue harus pergi nih,' batin Rayen.


"Ehh, itu ... gue mau pergi dulu ya. Maaf kayaknya gue salah lokal," ucap Rayen sambil melihat sekilas ke arah Qila kemudian langsung pergi.


"Dasar cowok brengs*k!" ucap Kayra geram.


"Nah, itu yg namanya janji buaya yang gue bilang sama lo dulu Kay," ucap Qila pada Kayra sambil melihat kepergian Rayen.


"Mmm ... are you oke?"

__ADS_1


"Hah? Apaan sih, orang gue emang udah tau sifat Rayen. Jadi yaaa, biasa aja kali. Dan itu juga salah satu alasan gue dulu selalu nolak cowok. MULUTNYA BUAYA, termasuk Rayen," ucap Qila sambil tersenyum hambar.


"Gue kok kesel sendiri ya ngeliat mereka, apa lagi Rayen. Dulu aja bilangnya 'gue bakalan terima lo apa adanya, gue janji' Cihhh janji janji, janji nenek moyangnya!"


"Udah lah nggak usah dipikirin. Ayo kita masuk."


****


Ujian hari pertama dan kedua sudah selesai. Kedua gadis itu berencana ingin pulang. Namun Qila mengajak Kayra pergi ke toko buku dulu, karna dia harus belajar untuk persiapan ujian terakhir Biologi besok.


"Kay, kita berhenti di toko buku bentar yuk"


"Emang lo mau beli buku apalagi?" tanya Kayra. Lantaran buku didalam kamar Qila dia rasa sudah cukup banyak. Eehh bukan cukup, banyak banget malah.


"Buku Biologi edisi ke tiga. Besok kan ujian terakhir, dan gue harus dapet nilai bagus, supaya nggak


ngecewain," jawab Qila sambil tersenyum ke arah sahabatnya.


"Ya udah deh, benter tapi ya,"


"Iya ...."


*****


Saat sampai didepan Toko buku.


"Ehh Qila, gue tunggu diluar aja yaa. Males ngeliat buku terus," ucap Kayra.


"Beneran nggak papa?" tanya Qila memastikan.


"Iya nggak papa ... mana tau nanti ada yang bening lewatkan. Jadi sekalian cuci mata gitu" balas Kayra dengan cengiran khasnya.


Dibalas dengan senyuman oleh Qila


"Dasar! Terserah lo deh," ucap Qila sambil masuk kedalam Toko buku.


****


Bruuuk


"Aaww," sontak Qila.


Entah dari mana asalnya lelaki itu. Tapi Qila tidak sengaja menabraknya hingga buku yang dipegang Qila jatuh kelantai, dan Qila hampir saja jatuh kebelakang. Untung lelaki itu dengan segera menangkap pinggang Qila dan menepis jarak diantara keduanya, hingga kedua mata mereka bertemu.


Deg


Jantung Qila berdetak begitu hebat dan tak beraturan untuk pertama kalinya.


'Sem ... pur ... na' ucap batin Qila reflek. 'Astagfirullah! Nggak nggak Qila, apaan sih? Dia nggak pantes buat lo. Dan jangan terjebak, jadi diam!' bantah batin Qila lagi.


Bruuk


"Aww ...." sontak Qila lagi.


Tiba tiba saja lelaki itu melepas pegangannya pada pinggang Qila, hingga membuat Qila jatuh kelantai tampa aba aba.


"Ampun deh pinggang gue!" ucap Qila marah sambil menahan sakit di pinggangnya.


'Baru aja gue puji. Dasar cowok ketus!' batin Qila sambil berdiri, lalu memungut buku yang berjatuhan.


"Kalo jalan pake mata, bukan pake perasaan. Emang mata lo buat pajangan!" sambar laki laki yang menabrak Qila tadi.


"Ehh lo! Niat bantuin nggak sih? Orang sakit juga, malah di marah marahin. Dasar cowok ...."


"Cowok apaan hah?" tanya laki laki itu sambil memiringkan kepalanya, mendekati wajah Qila yang sudah bersemu, dengan jantung yang sudah berdetak begitu hebat. Spontan Qila memundurkan wajahnya.


"Cowok brengsek!" sambung Qila lagi sambil beranjak pergi, karna merasa tidak tahan jika terus dipandangi lelaki itu. Namun dengan cepat lelaki itu memegang pergelangan tangan Qila.


"Lo bilang gue cowok brengsek? Berani banget lo ya! Lo nggak tau siapa gue hah!" sambar laki laki itu sambil mengangkat satu alisnya.


"Mau gue tau atau nggak, nggak penting juga buat gue!" bentak Qila sambil melepaskan pergelangan tangannya. Namun lagi lagi lelaki itu memegang tangan Qila dan menatap wajah Qila lekat.

__ADS_1


"Tunggu tunggu tunggu. Lo ... cewek yang kemaren kan? Cewek yang super cerewet, yang nganterin gue kerumah pak Samuel trus hampir nyasar?"


Yaap dia adalah Levin. Dan Levin baru sadar kalau gadis itu adalah Qila. Sedangkan Qila sudah tau sejak awal.


"Iya kenapa? Kaget? Pengen ketawa? Pengen nyaci? Ohh ... atau mau bilang gue jelek, gemuk, atau cewek sial!! Hah? Kenapa? Silahkan dicaci, SI-LAH-KAN. Gue udah biasa! Dan gue udah muak sama orang yang cuman mandang fisik. Satu lagi! Nggak usah bantuin orang lain kalo nggak ikhlas. SEKARANG LEPASIN GUE!" sambar Qila sambil menarik tangannya, lalu melangkah pergi meninggalkan Levin yang masih mematung.


"Hah? Emang gue pernah nyaci dia apa? Yang ditabrak siapa, yang marah siapa," ucap Levin bingung.


"Tapi sekarang dia makin lucu" sambung Levin. Dan reflek bibirnya terangkat hingga menampakkan senyum langka di wajah datarnya.


****


"Kenapa lo? Muka lo kayak martabak tau nggak," ucap Kayra saat melihat Qila keluar dengan muka yang di tekuk.


"Ck-gue kesel aja sama cowok yang ada didalem tadi. Masa dia jatohin gue kelantai sih, kan sakit pinggang gue. Emang ya, semua cowok sama. Kalo lihat yang jelek kayak gini boro boro bantuin, bilang maaf aja kagak. Coba aja kalo yang kurus bening, beeehhh ... langsung dah. Jatoh dikit langsung di elus elus," ucap Qila panjang dengan wajah yang kesal.


"Buset dah, emang kucing dielus elus?"


"Tapi emang cowoknya siapa sih? Lo kenal?" tanya Kayra lagi.


"Ya kenal lah, siapa lagi kalo bukan bang Evin. Cowok super duper ketus! Gue yakin, pasti dia seneng banget liat perubahan gue. Aagghh, jadi males lihat muka cowok!" ucap Qila kesal.


Entah kesal karna jatuh, atau kesal karna Qila tak suka jantungnya berdetak jika bertemu dengan Levin. Karna Qila tak mau jatuh cinta pada siapapun. Qila takut jika tak akan ada yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Serius lo? Waah, kayaknya kalian jodoh nih," goda Kayra pada sahabatnya.


"Ck Jodoh bapak lu! Udah deh, males bahasnya,"


"Ya elah gitu aja marah, bukannya di aminin. Doa baik itu woii,"


"Nggak usah kasih kasih harapan deh" ucap Qila memelas.


"Becanda gue, udah ayok."


Di jawab anggukan oleh Qila. Dan saat Qila menaiki motor, tiba tiba ....


"EH CEWEK ANEH! SINI LO" sahut Levin pada Qila dari arah pintu toko buku tadi.


"Dia manggil gue? Ngapain lagi sih tu orang? Udah Kay ayo cepetan ngebut, keburu dia nyampe sini!"


"Kenapa? Gue pengen liat Abang ganteng du_"


"Udah cepetan ayok!" Dan reflek Kayra menancap gas motornya, hingga menjauhi toko itu.


***


"Haduhh ... capek gue ngebut di jalan. Untung nggak di kejer Polisi. Tapi emangnya kenapa sih lo kabur dari bang Evin? Orang ganteng gitu" ucap Kayra yang langsung duduk di sofa tengah.


"Ya nggak papa ... gue males aja ketemu sama tu orang. Mulutnya pedes banget, takut gue nggak tahan


dengernya,"


"Takut sama mulut pedesnya, atau takut sama ketampanannya hayooo" goda Kayra.


"Hah? Apaan sih lo! Ngaco deh. Gini-gini gue cukup sadar diri kali!" elak Qila.


"Ck-ngeles aja lo," ucap Kayra yang langsung pergi menuju kamarnya.


Sedangkan Qila masih mematung sembari mencerna ucapan Kayra.


"Apa bener gue suka sama bang Evin? Nggak nggak


ngak ... nggak mungkin! sejak kapan gue pernah suka sama cowok? Lagi pun orang ganteng kayak gitu mana pantes sama lo yang kayak gini. Lo masih cantik aja dia ketus, apalagi gemuk kayak gini. Jangan mimpi deh" ucap Qila pada diri sendiri.


"Tapi jantung gue ...." ucap Qila memelas sembari memegang dadanya.


---------------


'Bukan aku tak ingin dimilik, bukan pula tak ingin memiliki. Namun hanya sedang menguatkan hati. Takut untuk memulai sebuah pengharapan yang entah berakhir dengan kata apa. Bahagia ... atau kecewa .... Dan takut untuk memulai sebuah rasa yang mungkin akan ada dua nyata. Tulus ... atau dusta ..., apa adanya ... atau ada apanya .... '


~Aqila Liliana~

__ADS_1


__ADS_2