
"Tunggu!" Tiba-tiba suara Levin membuat mereka berhenti, dan serentak melihat ke arah Levin.
"Kamu ...! Nggak usah ikut bersihin toilet," ucap Levin datar sambil menunjuk ke arah Qila menggunakan wajahnya.
'Saya? Ini serius?' batin Qila.
"Kenapa?" tanya Direktur.
"Nggak papa."
"Baiklah."
Lalu mereka semua keluar dari ruang itu.
"Kok bang Evin nggak ngehukum gue, ya? Apa dia nggak marah? Ahh, terserah, gue nggak mau ambil pusing. Sekarang hanya satu. Gue harus kuat! Dan gue nggak boleh suka sama bang Evin, bagaimanapun caranya! Ingat Qila, lo harus sadar diri!" ucap Qila tegas pada dirinya sendiri sambil melangkah pergi
****
Saat mereka sedang duduk di dalam kamar Levin. Dengan Lion yang main game online, Jeki yang chatingan dengan cewek, sedangkan Levin hanya duduk sembari memikirkan sesuatu.
"Ehh, Vin. Kok lo nggak ngehukum cewek tadi, sih?" Tanya Lion sambil meletakkan Hp nya, karna melihat Levin yang hanya diam.
"Nggak papa."
"Nggak percaya gue. Lo suka sama tu cewek, ya?" goda Jeki, yang juga sudah menyimpan Hp nya.
"Ya enggak lah! Sejak kapan gue pernah suka sama cewek duluan, hah! Biasanya juga mereka yang suka sama gue."
"Ya mana tau lo jatuh cinta pada pandangan pertama kan. Orangnya juga cantik, lucu lagi."
"Emangnya lo kenal cewek tadi, Vin?" tanya Lion.
"Trus ngapain tadi lo lepasin dia dari hukuman? Bukannya lo nggak suka sama cewek ganjen, ya?" sambung Lion lagi.
"Tapi kayaknya cewek tadi orangnya pendiem gitu deh, nggak ada tampang ganjen-ganjennya," balas Jeki jujur.
"Iya juga sih, Jek. Gue juga ngerasa kek gitu. Tapi kok dia bisa ikut ngejer Evin juga, ya?" balas Lion yang juga ikut bingung.
"Emang dia nggak ngejer gue kok," balas Levin datar.
"Hah! Trus tapi tadi kenapa lo bilang iya?"
Dan Levin hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya
"Eh, tunggu tunggu tunggu ... Jangan bilang kalo ituuuu ... DEDEK GEMES!" Tebak Jeki.
"Menurut kalian?"
"Serius, Vin?" sahut Lion yang tak kalah kagetnya.
"Biasa aja, bisa?!"
"Oohh, jadi ini alasan lo lepasin tu cewek? Yayaya ... gue paham lah broo ...." sambung Jeki sambil tersenyum jahil ke arah Levin.
"Paham apaan?" tanya Levin sok polos.
"Ehem, ya, lo tau juga lah ya ...."
"Ehh, jangan mikir yang aneh lo, ya!"
"Udah ... kalo beneran suka juga nggak papa kok, Vin. Orangnya juga lucu, gemesin gitu. Dan kayaknya nggak ganjen juga. Jadi cocok lah, ya."
"Gue setuju! Pas banget Jek, kita bikin namanya Dedek Gemes. Ehh, ternyata emang gemes orangnya, hehe ...." balas Lion lagi.
"Bener tuh. Pantesan aja kepala batu meleleh, ya nggak Yon."
"Yoo-i ...."
"Ehh, kalian jangan ngaco, ya. Jangan sok tau! Gue itu nggak suka sama dia, paham!"
"Yang sebenernya nggak paham itu lo, Vin," jawab Lion.
"Udah Yon, biasa ... inikan pertama kali Levin suka sama cewek, jadi belum ngerti dia," sambung Jeki.
"Kalian ngomong apa, sih!?"
"Ntar lo juga sadar dengan sendirinya, Vin," sambung Lion lagi.
"Eh, gue tegesin sekali lagi ya. KALO GUE NGGAK SUKA SAMA DIA!"
"Trus ngapain lo lepesin dia dari hukuman tadi, hayooo," ucap Jeki sambil tersenyum jahil.
"Siapa bilang gue lepesin dia!"
"Jadi?"
"Gue sendiri yang akan kasih hukuman buat dia! Kesalahan dia lebih fatal."
"Emang lo mau kasih dia hukuman apa?"
Dan Levin hanya membalasnya dengan senyuman yang penuh arti.
"Udah ... jangan marah terus, ntar jatuh cinta beneran loh," ucap Lion jahil.
"Kampret!"
****
Qila baru saja sampai di kontrakannya, lalu mengambil posisi yang pas untuk melepas penat.
"Ahh... hari yang melelahkan," ucap Qila sembari melempar dirinya di atas ranjang dengan kasar.
"Gue masih penasaran ... kenapa bang Evin bebasin gue dari hukuman? Apa bang Evin nggak marah sama gue soal kemaren? Tapi ya sudah lah, gue nggak ngerti apa yang bang Evin pikirin. Tapi yang harus gue lakuin, yaitu kembaliin jaket bang Evin yang nggak kelar-kelar!" ucap Qila sambil melihat langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Gue nggak boleh suka sama bang Evin apapun yang terjadi. Dan buat jantung gue. Plis ... jangan nakal kalo ketemu bang Evin. Lo nggak boleh suka sama dia, ingat! Kita itu beda, bang Evin mah langit, kalo kita cuman bumi. Jadi nggak usah ngarep!" ucap Qila lagi sambil memegang dadanya.
Ting
Suara ponsel Qila memecahkan lamunannya, lalu Qila membuka Hp nya dari tas yang dia gunakan. Nampak notif pesan dari Aca.
Aca
"Qila ... besok pulang dari kampus lo ada kerjaan, nggak?"
Qila
"Kayaknya enggak, ada apa?"
Aca
"Besok mampir ke rumah Tante gue, yaah ... Tante gue pengen ketemu lo kayaknya."
Qila
"Oke ... Insyaallah ya, gue nggak janji."
Aca
"Sip. Oh ya, besok gue jemput, ya."
Qila
"Oke."
***
Setelah jam perkuliahan hari ini selesai, Qila dengan langkah santai ingin keluar dari area kampus.
"Qila ...." panggil Aca dari jauh. Dan spontan langkah Qila terhenti sembari menoleh ke sumber suara, lalu tampak Aca mendekat ke arah Qila.
"Lo pagi tadi kemana? Pas gue jemput kayaknya kontrakan lo udah kosong."
"Em ... maaf ya, gue nggak nungguin lo jemput. Dan gue nggak kemana mana kok."
"Iya, nggak papa kok, lo udah pindah?"
"Hm."
"Kok nggak bilang sih, kan gue bisa bantu."
"Nggak papa."
"Ya udah deh, kontrakan baru lo dimana? Biar gue anter pulang."
"Eh, itu ... nggak usah Ca, gue pulang sendiri aja."
"Nggak papa kok, nanti kan gue bisa main di kontrakan lo."
"Qila kenapa ya?"
Sikap Qila yang sedikit berubah membuat Aca curiga, dan terbesit di pikirannya untuk mengikuti kemana Qila pergi. Aca mengikuti Qila yang sedang berjalan menggunakan mobilnya dari arah belakang dengan jarak yang sedikit jauh. Dan tiba tiba langkah Qila tampak berhenti di tempat Aca dan Qila pernah makan bakso, dan anehnya lagi Qila seperti mengambil koper dari tukang bakso tersebut. Berbicara sebentar, lalu Qila pergi membawa Koper tersebut.
"Loh ... kok Qila berhenti di situ sih? Trus ngapain dia ngambil koper dari tukang baksonya?"
Tampa pikir panjang lagi Aca menghampiri tukang bakso tersebut.
"Permisi ...." sapa Aca dengan ramah.
"Iya neng, mau pesan bakso?" tanya tukang bakso.
"Eh, nggak Pak. Saya cuman mau nanya, tadi cewek yang seumuran saya ngambil koper sama Bapak itu kenapa, ya?"
"Ohh itu .. tadi pagi sih dia nitip koper sama Bapak. Katanya ntar kalo dia pulang dari kampus, dia ambil balik. Gitu neng ...."
"Emangnya dia mau kemana, Pak? "
"Wah, kalo itu kurang tau saya Neng. Tapi pas Bapak tanya, katanya diusir."
"Diusir?"
"Iya Neng."
'Kenapa Qila nggak ngomong sama gue?' batin Aca.
"Ya udah, kalo gitu makasih ya Pak. Saya permisi dulu, mari ...." ucap Aca sambil sedikit menunduk.
Setelah mengetahui Qila diusir dari kontrakan, Aca kembali mencari Qila.
"Pasti dia belum jauh."
Tak lama Aca mengemudi mobilnya mengikuti trotoar. Aca melihat Qila yang tengah duduk disebuah taman yang agak sepi. Seperti sedang istirahat. Lalu Aca langsung menghentikan mobilnya, kemudian menghampiri Qila.
"Qila."
Mendengar namanya dipanggil, Qila mendongakkan wajahnya menghadap sumber suara.
"Aca? Kok lo ada di sini?"
"Lo harus jelasin sama gue."
"Maksud lo?"
"Kenapa lo nggak bilang sama gue, kalo lo diusir dari kontrakan, hah?"
Mendengar itu Qila hanya diam.
"Qila ... gue temen lo. Jadi kalo ada apa-apa cerita dong." lirih Aca sambil menatap Qila lekat.
__ADS_1
"Gue nggak papa kok Ca, gue cuman pindah kontrakan aja."
"Bohong! Gue udah tau Qila. Sekarang cerita sama gue kenapa lo bisa diusir? Bukannya uang beasiswa lo banyak ?"
Qila tampak diam sejenak. Dan mungkin memang dia tidak bisa mengelak lagi, karna sebenarnya Qila malas jika harus merepotkan orang lain. Sesuai pesan Bundanya bahwa dia harus mandiri. Tapi ya mau bagaiman.
"Iya ... tapi masalahnya bukan gue belum bayar kontrakan."
"Trus?"
FLASBACK ON
Pagi tadi sebelum berangkat ke kampus, Qila memilih untuk jalan santai di depan kontrakannya,
"Eh, tunggu-tunggu ...." panggil seorang gadis saat melewati Qila. Spontan Qila berhenti, lalu melihat ke sumber suara. Dan Qila merasa pernah melihat gadis di depannya.
"Kayaknya gue kenal deh sama lo," sambung gadis itu dengan tatapan mengintimidasi, yang ternyata juga mengenali Qila.
"Oh, iya-iya ... gue inget! Lo Mahasiswi baru yang berani ngelawan gue dulu, kan? Ngapain lo disini!?" sambungnya lagi.
Ya ... gadis itu adalah Clara. Kakak tingkat yang dulu hampir saja membuli Aca saat mereka pertama kali masuk ke area kampus.
"Bukan urusan lo," balas Qila datar lalu melangkah pergi. Namun ditahan oleh Clara.
"Eh, gue lagi ngomong sama lo, paham!"
Qila memutar kedua bola matanya jengah, lalu melipat kedua tangan di dadanya sembari menghadap Clara.
"Gue nggak punya banyak waktu cepetan."
"Cih! Sombong banget lo, ya. Lo tau urusan kita belum selesai!"
"Gue nggak suka basa-basi. Gue masuk, permisi," balas Qila yang hendak melangkah.
"Jadi lo tinggal di kontrakan ini?" tanya Clara yang menghentikan langkah Qila.
"Kalo iya, kenapa?"
"Ooo ... jadi lo tinggal di sini? Lo tau, lo lagi berurusan sama siapa?"
"Nggak penting!"
"Ck-asal lo tau aja. Kontrakan yang lo tinggalin sekarang ini, milik nyokap gue! Jadi kayaknya lo salah cari musuh," ucapnya sambil tersenyum licik.
"Dan gue, bakalan nyuruh lo untuk pergi dari kontrakan gue!" sambungnya lagi.
"Tapi sayangnya gue nggak ngontrak sama lo, tapi sama nyokap lo, ngerti!" balas Qila, lalu langsung masuk kedalam kontrakannya. Membersihkan diri, lalu sarapan. Namun ....
Tok tok tok
Suara ketukan dari arah pintu membuat Qila menghentikan sarapannya, lalu membuka pintu.
Ceklek
Nampak seorang wanita paruh baya bersama seorang gadis berada di depan pintu, dengan tatapan tajam ke arah Qila. Yang tak lain adalah Clara dan Ibunya.
"Ada apa ya." tanya Qila datar.
"Ini Ma, orangnya."
"Oohh ... jadi kamu yang udah berani ngelawan anak saya? Eh, Asal kamu tau ya, dia ini anak kesayangan saya. Jadi kamu jangan macem macem ya, sama dia!" bentak wanita paruh baya itu pada Qila.
"Sekarang saya mau kamu angkat kaki dari kontrakan saya! Dan bawa semua barang kamu dari sini!"
Mendengar itu Clara tampak tersenyum menang sambil menatap sinis ke arah Qila.
"Cepatan!!"sambungnya lagi.
Mendengar itu Qila langsung masuk ke dalam kamarnya tampa perlawanan, lebih tepatnya malas. Dengan muka yang masih datar. Bahkan tak ada sedikitpun rasa takut dari wajah Qila. Kemudian Qila membereskan semua barang barangnya, lalu keluar.
"Makanya jangan sok jadi jagoan!" bentak Clara saat Qila berjalan keluar. Mendengar itu langkah Qila terhenti, lalu menatap Clara.
"Bagi gue, nggak masalah kalo kalian ngusir gue. Karna untungnya kontrakan bukan lah barang limited edition. Jadi nggak usah sebangga itu," ucap Qila dengan muka yang masih datar, lalu beranjak pergi meninggalkan kontrakan itu menggunakan taksi online.
FLASBACK OFF
"Yaah ... ini semua salah gue Qila, kalo lo nggak bantuin gue kemaren pasti semuanya nggak bakalan jadi kayak gini ...." lirih Aca.
"Santai aja."
"Ya udah! Lo ikut gue ...."
"Kemana?"
"Lo tinggal di rumah Tante gue aja."
"Mm ... gue nggak bisa, Ca."
"Kenapa?"
"Gue nggak mau ngerepotin lo sama Tante lo."
"Tapi ini permintaan dari Tante gue, Qila. Plis ... ikut gue ya. Lo diusir dari kontrakan kan juga karna gue, jadi gue mohon, biarin gue nebus kesalahan gue."
Qila tampak diam sejenak sambil melihat Aca.
"Gue mohon Qila ...." bujuk Aca.
"Huh ... ya udah deh."
"OKE! Kalo gitu ayo kita berangkat," ucap Aca antusias.
Happy reading😘😘
__ADS_1