Dear My Self

Dear My Self
BAB 25 (Anjas Saputra)


__ADS_3

"Sesuai dengan apa yang telah anda ajarkan pada saya selama ini. Bahwa, kembali pada peraturan pertama! Anda dilarang ngebantah," balas Qila tampa ragu sembari membalikkan badannya hendak pergi. Namun baru beberapa langkah, Levin berdiri, kemudian menarik pergelangan tangan Qila hingga Qila menghadap ke arahnya.


"Lo lupa, apa yang lo bilang ke gue kemaren?" tanya Levin sambil mengangkat satu alisnya.


"Hm?"


"Peraturan itu berlaku saat jam pelajaran kita dimulai! Dan artinya ... saat ini hukuman lo nggak berlaku. Jadi sekarang siapa yang udah melanggar perjanjian kita hah? Lo, atau gue?" tanya Levin sambil menatap Qila tajam.


'Agghh, mati gue! kok bisa lupa sih.'


"Sekarang, gue mau lo pesen makanan buat gue dan temen gue. Cepetan dan nggak pake lama, paham!"


"Eh, nggak usah Vin. Orang kita bisa panggil pelayan kesini" sahut Lion tiba tiba.


"Tapi gue mau nya dia yang bawa!" ucap Levin sambil  mengangkat sebelah telunjuknya ke wajah Qila.


"Bang Evin apaan sih! Kenapa harus Qila coba? Nggak usah mau disuruh suruh sama dia Qila." ucap Aca lagi dengan kesal.


"Lo diem! Kalo lo nggak tau apa apa nggak usah ngomong."


"Udah lah Vin. Kenapa harus marah segala sih? Bener kata Lion, kita bisa panggil pelayan ke sini kok." balas Jeki lagi.


"Ya terserah gue dong mau apa. Kalian nggak berhak buat ngatur gue!"


"Dan lo! Tugas lo cuman nurut perintah gue! Karna lo nggak bakalan bisa apa apa tampa keluarga gue. Lo tinggal di rumah gue, kuliah dapet beasiswa dari bokap gue, dan kampus milik keluarga gue. Jadi lo nggak usah belaguk. Paham!"


Qila terpaku mendengar ucapan Levin. Terasa ada satu hentakan yang menghujam di dadanya, terasa begitu nyeri. Qila mengatup ke dua bibirnya sembari berusaha tersenyum. Meskipun rasanya ada genangan yang akan tumpah pada satu kedipan.


Apa? Apa maksud semua ini? Kenapa saat berdua Levin selalu bersikap manis padanya. Lalu sekarang apa?


"Bang Evin! Bang Evin apaan sih? Bang Evin tuh bener bener nggak punya hati tau nggak!!" bentak Aca.


"Anda benar." ucap Qila menatap Levin sembari memutuskan ucapan Aca.


"Selama ini saya sudah banyak membebani keluarga anda. Tapi anda tenang saja. Saya akan pergi dari kehidupan anda dan keluarga anda. Secepatnya." ucap Qila lalu pergi dari ke empat remaja tersebut.


Saat merasa sudah sedikit jauh, Qila berlari menjauhi tempat tersebut. Berlari sekuat kuatnya, sembari mengatup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Air mata Qila luruh bersamaan dengan ucapan Levin yang masih terngiang jelas di kepalanya. Lalu Qila berhenti di sebuah taman yang ada di kampus, berdiri dengan pandangan gusar. Qila mencoba menghapus air mata yang kian gencar. Namun tetap saja, air mata itu seperti enggan untuk bersembunyi.


Tampa Qila sadari tiba tiba seorang lelaki menarik tangan Qila kebelakang hingga berada pada pelukan lelaki tersebut. Qila kaget saat mengetahui bahwa Levin adalah lelaki tersebut. Sejak kapan Levin mengikutinya? Namun dengan cepat Qila melepaskan pelukan Levin dari tubuhnya. Bukannya melepaskan, Levin malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Qila. Seperti tak ingin Qila pergi.


Qila terus memberontak hingga seketika Levin mencium paksa bibir mungil milik Qila. Jika biasanya Qila diam tak bergerak. Tapi sekarang Qila tak diam! Dia mencoba melepaskan bibirnya sembari mendorong tubuh Levin, namun Levin kembali memegang tengkuk Qila. Levin mengecup bibir Qila, hingga perlahan menjadi lum*tan. Qila tak dapat bergerak, dan hanya diam dengan air mata yang terus luruh. Keheningan sempat terjadi di antara keduanya. Hingga saat merasa nafas Qila yang mulai sesak, Levin melepas bibirnya pada bibir Qila dengan lembut, sembari menatap Qila nanar.


Qila langsung menjauhkan tubuhnya dari pelukan Levin, menunduk sembari menangis, lalu menghapus bekas bibir Levin pada bibirnya dengan kasar, menggunakan punggung tangannya.


Levin melihat kekesalan pada wajah Qila. Menatap Qila dalam. Seperti ada sesuatu yang juga ikut terasa sesak di dadanya, saat melihat gadis di depannya itu menangis.


Levin kembali mencoba menarik Qila untuk berada pada pelukannya, namun dengan sigap Qila mendorong tubuh Levin dengan kasar. Lalu menatap tajam ke arah Levin. Levin hanya diam terpaku saat mendapati mata gadis itu yang tampak menyedihkan.


"Mau anda apa? Apa anda tidak sadar saya siapa? Saya hanya lah orang yang tidak bisa apa apa tampa keluarga anda. Jadi untuk apa anda mengejar orang yang tak berguna seperti saya, lalu memeluk saya dan lalu anda mencium saya sesuka anda!" bentak Qila sambil terus menatap Levin. Air mata Qila kian gencar untuk keluar dari persembunyiannya. Dengan suara gemetar, Qila kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Saya nggak ngerti anda anggap saya ini apa." ucap Qila sambil menunduk dan terisak. Lalu menatap Levin kembali.


"Apa anda pikir saya hanya mainan hum? " suara Qila kian getar.


"Apa anda pikir saya hanya mainan yang bisa anda marahi, lalu seketika anda datang seolah olah anda benar benar peduli!? Saya nggak tau kenapa saya bisa mencintai lelaki seperti anda! Saya benci anda! Dan saya pikir mencintai anda adalah sebuah kesalahan besar dalam hidup saya! Saya gemuk, dan saya sadar saya tidak pantas untuk anda! Dan saya pastikan saya tidak akan mencintai anda lagi! " bentak Qila dengan air mata yang terus luruh.


Levin hanya diam terpaku sembari menatap Qila lekat. Ada sesuatu yang tak mampu di jabarkan dari tatapan Levin. Namun nyatanya Levin masih terlalu angkuh meskipun hanya sekedar untuk menyeka air mata Qila.  Qila membuang mukanya kesamping sembari menghapus air matanya kasar. Menatap Levin sekilas, lalu pergi dari hadapan Levin.


-----------------------


'Jika mencintai mu adalah sebuah kesalahan besar. Lalu kenapa aku terus larut pada cinta yang masih tak bertuan?  Mengapa aku terus hanyut dalam singgasana hitam? Dan terus luruh dalam pekatnya temaram? Ahh, sebenarnya aku tak perduli! Tapi kenyataannya kau sudah terlanjur berharga bagi ku. Bahkan meski ada banyak luka yang kau datangkan silih berganti."


~Aqila Liliana~


*****


Qila menangis sesegukan saat ia berada pada sebuah danau yang agak sepi. Duduk dengan memeluk kedua lututnya sembari menumpukan kepala pada kedua lututnya. Air mata Qila terus berjatuhan tampa henti.


Ucapan Levin terus terngiang di kepala Qila. Tapi bukankah memang kenyataannya begitu? Qila selama ini hanya tinggal di rumah Levin. Semua yang Levin katakan benar. Tapi tidak!! Qila tidak menangis hanya karna kata itu. Tapi Qila menangis karna, mengapa Levin senang sekali mempermainkannya. Levin selalu bertindak ketus, semaunya, marah marah tak jelas. Tapi disisi lain Levin selalu bertindak seolah dia perduli, menyuapi Qila makan siang, bahkan Levin sudah beberapa kali mencium bibirnya. Sebenarnya perasaan Levin pada Qila itu apa? Atau Levin tak menyukai Qila? Kalo benar begitu, tapi kenapa Levin selalu bersikap manis saat mereka berdua? Atau dia hanya sedang mempermainkan perasaan Qila? Karna bukankah mudah, untuk mempermainkan perasaan seseorang? Qila terus bertanya pada dirinya sendiri. Hingga tiba tiba suara seorang lelaki memecahkan perdebatannya.


"Apa lo pengen terus nangis kayak gitu hum?" Mendengar itu Qila dengan cepat menghapus air matanya tampa melihat siapa sebenarnya orang itu.


Lelaki itu mendekati Qila perlahan, lalu duduk disamping Qila. Ia dapat melihat sorot mata Qila yang tampak menyedihkan. Lelaki itu kemudian mengambil ke dua tangan Qila, hingga Qila menghadap ke arah lelaki itu.


"Bang An?" Qila tersentak saat mengetahui siapa pemilik suara itu.


"Bang An nggak pernah liat Qila nangis sesegukan kayak gini. Apa Qila punya masalah besar?" tanya lelaki itu lembut yang ternyata adalah Anjas saputra. Tetangga, sekaligus teman Qila waktu kecil. Namun saat Anjas sudah lulus dari SMP, Anjas dipindahkan oleh orang tuanya di luar negri, karna orang tuanya bekerja disana.


"Bang An kok ada disini?"


Lelaki itu tersenyum, sembari menatap Qila lekat.


"Emang Qila nggak kangen sama bang An?"


Mendengar itu Qila spontan mengangguk.


"Tentu saja ...." balas Qila sembari berusaha tersenyum, lalu memeluk Anjas.


Anjas hanya diam tampa membalas pelukan Qila, lalu melonggarkan pelukan Qila dari tubuhnya. Kemudian menatap wajah Qila lekat.


"Qila belum jawab pertanyaan bang An looh."


Mendengar itu Qila hanya diam, lalu kembali untuk berusaha tersenyum seolah olah tidak ada yang terjadi. Qila tampak menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada apa apa kok. Qila cuman pusing mikirin tugas aja," jawab Qila bohong.


"Sungguh?"


Qila hanya mengangguk sembari terus berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Tapi sejak kapan Qila yang cantik ini bisa pusing saat mendapatkan tugas, hum?"


Anjas adala lelaki yang pintar. Bahkan saat Qila masih SMP, Qila sangat sering meminta bantuan pada Anjas bila Qila tak bisa mengerjakan tugasnya. Anjas juga lelaki yang ceria, dan ramah.


Mendengar itu Qila tampak diam sejenak, lalu menunduk.


"Cantik? Rasanya Qila terlalu miris untuk mendapat gelar itu lagi," ucap Qila tertawa hambar.


"Tapi tetap aja. Qila tetap cantik kok. Nggak ada yang berubah."


Qila kembali diam.


"Bang An kapan pulang ke Indonesia? Kok nggak bilang?" tanya Qila tampa mengindahkan pernyataan Anjas.


"Baru lusa kemaren. Dan hari ini bang An lagi ngurus kepindahan bang An di kampus yang ada di Indonesia. Maaf ya, nggak bilang bilang. Soalnya bang An nggak punya nomor Qila sih."


"Iya nggak papa. Eh, emang bang An mau pindah di mana?"


"Kampus yang sama kayak kampus Qila." balas Anjas tersenyum sembari mencubit hidung Qila gemas.


"Hiro Univercity?"


"Iya ...."


"Berarti kita satu kampus?"


"Iya ... Jadi sekarang bang An bisa ketemu Qila kapan aja."


"Tapi orang tua bang An?"


"Orang tua bang An masih di luar negri. Lagipun bang An kan udah gede, jadi bisalah tinggal sendiri hehe," balas Anjas sambil tertawa ke arah Qila.


Qila hanya tersenyum mendengar ucapan Anjas. Lalu mereka kembali hening, tak bersuara.


"Qila," panggil Anjas tiba tiba yang memecahkan lamunan Qila.


"Hm?" Sambil melihat ke arah Anjas.


"Qila udah punya pacar ya?"


Dan Qila hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Trus kenapa Qila nangis? Bilang sama bang An, siapa yang udah buat Qila menangis kayak gini?"


Mendengar itu Qila menatap Anjas lekat. Lalu membuang nafasnya kasar.


"Sebenernya ... Qila lagi suka sama seseorang ...." lirih Qila sambil menunduk.


Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2