Dear My Self

Dear My Self
BAB 30 (Kedatangan Claudia)


__ADS_3

Akhirnya mereka berangkat bersama menuju kampus, kecuali Lion yang harus mengantar Lina terlebih dahulu. Saat mereka sampai di kampus, Qila langsung memilih untuk jalan duluan menuju kelasnya. Begitupun Levin. Sedangkan Aca dan Jeki memilih untuk duduk di taman kampus dulu sembari terus mengobrol.


Saat Qila berjalan menuju ruang ujiannya, tiba tiba seorang perempuan menghalangi langkah Qila. Melihat itu Qila langsung berhenti sembari menatap heran pada gadis di depannya tersebut.


"Gue pengen lewat. Jadi minggir," ucap Qila datar.


"Untuk beberapa bulan ini gue sering liat lo deket sama Evin. Punya hubungan apa lo, sama Evin!?"


"Bukan urusan lo."


"Ya urusan gue lah! Karna gue adalah temen Evin, paham!"


"Jadi apa urusannya sama gue?"


"Gue minta lo untuk ngejauhin Evin! Karna sampai kapanpun gue nggak bakalan biarain Evin jadi milik lo, ngerti!"


"Terserah gue dong, mau apa."


"Heh! Asal lo tau ya. Lelaki itu sukanya sama cewek kayak gue, bukan kayak lo. Emang sih, sekarang lo udah berubah dari dulu. Tapi inget ya, cowok itu sukanya sama cewek yang bohay kayak gue. Jadi jangan pernah berharap Evin suka sama lo! Lihat aja bodi lo ...." ucap gadis itu melihat penampilan Qila dari atas sampai bawah.


"Tipis banget. Mana mau cowok sama bodi tipis kayak gini. Jadi mendingan lo buang jauh-jauh Evin dari hidup lo. Karna bisa aja Evin deketin lo karna dia mau manfaatin otak lo, kan? Secara lo orang miskin yang terdampar di kampus elit. Dan dari segi manapun lo itu nggak pantas buat Evin, udahlah lo miskin, bodi tipis, trus matre lagi. Dasar cewek nggak tau diri!"


Lalu perempuan itu pergi dari hadapan Qila. Qila hanya membuang nafasnya kasar sembari menatap kepergian gadis itu, lalu melihat tubuhnya. Yaah ... benar benar tipis tampa bodi. Berbeda dengan gadis itu yang memiliki dada besar, baju yang sexy, dan pastinya make up yang super wah!. Sedangkan Qila, hanya menggunakan pelembab seadanya, dengan polesan lipstik pink muda yang terkesan natural, namun terlihat begitu manis.


Tapi pantas saja jika perempuan itu berucap seperti itu. Karna secara gadis itu adalah ratu kampus Hiro Univercity, yang merupakan primadona kampus selama beberapa tahun ini.


Gadis itu bernama Claudia. Yang memiliki tubuh langsing, tinggi semampai, bodi yang sexy, make up yang wah, dan pastinya bibir yang tak kalah sexy bagi kaum adam, dengan polesan lipstik merah yang begitu menggoda. Dan juga merupakan anak pengusaha kaya raya. Jadi pantas saja dia menyombongkan diri, bukan?


Dia juga merupakan sepupu, sekaligus teman sekelas Levin. Claudia memang menyukai Levin, dan selalu terobsesi untuk menjadi kekasihnya. Namun sikap Levin yang angkuh dan keras kepala, membuat Claudia untuk tidak mudah mendekatinya, meskipun mereka sepupu sekalipun. Dan itu juga alasan Claudia tidak menyukai Qila, karna Qila dengan mudahnya duduk, dan dekat bersama Levin.


Akhirnya Qila memilih masuk kedalam ruang ujiannya, dengan mengesampingkan masalah hati yang kian rumit itu. Lalu saat ujian selesai, Qila, Aca, dan para jomblo bajar langsung ke rumah Anjas untuk belajar bersama mengenai materi besok. Begini lah kegiatan mereka selama beberapa bulan belakangan ini. Sering berkumpul untuk belajar bersama.


Tapi jangan harap Levin akan bersikap ramah, lalu ikut bercanda gurau bersama mereka. Tidak! Karna kegiatan Levin setelah belajar membawa Qila kabur seperti biasa. Dan Qila hanya bisa mengikuti perintah Levin, tampa boleh membantah. Dan tetap saja, sikap keras kepala dan bersikap seenaknya masih lekat dalam diri Levin. Hanya saja, sekarang dalam bidang akademik, Qila sudah jauh kalah dari Levin. Makanya sekarang Anjas yang mengajar mereka, bukan lagi Qila. Bahkan saat belajar, Levin seringkali menyangkal materi yang diberikan Anjas, hingga berakhir dengan perdebatan sengit diantara keduanya.


****


Setelah pulang dari belajar Qila melempar badannya di atas ranjang dengan kasar.


"Huffhh ... kenapa ucapan Claudia tadi selalu terngiang jelas di kepala gue ya? Ternyata jadi kurus kayak dulu aja nggak cukup untuk modal jatuh cinta. Apa emang serumit ini, untuk memberi imbalan atas rasa yang kita ciptain sendiri?" tanya Qila pada dirinya sendiri sembari terus menatap langit kamarnya.


"Semakin kesini ... kok hidup gue makin rumit," sambung Qila sembari memejamkan matanya perlahan.


Trrt trrt


Ponsel Qila bergetar dari dalam tasnya hingga membuyarkan lamunannya. Kemudian Qila melihat notif telpon dari Kayra, dan dengan cepat Qila menekan tombol hijau untuk menerima telpon.


"Halo ...."


"Halo Qila ... lo lagi ngapain, nih? Maaf ya gue udah lama nggak telpon. Gue tau lo pasti kangenkan, sama gue? Nah makanya gue telpon lo sekarang. Semoga lo sehat terus ya, dan jangan lupa buat titip salam sama bang Evin, hehe ... dan, oh ya! Gimana sama perasaan lo sama bang Evin? Udah ada kemajuan belum?" tanya Kayra beruntun. Dan hal itu selalu berhasil membuat Qila tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang super cerewet itu. Meskipun senyumannya tidak di lihat oleh Kayra.


"Woii! Jangan molor."


"Siapa yang molor?"


"Jadi gimana? Ada kemajuan nggak?"


"Kemajuan apanya! Orang gue yang ngerasa makin kalah." jawab Qila sedikit murung.


"Kalah kenapa?"


"Ya, lo tau lah. Gue itu nggak sexy, gue nggak tinggi semampai, gue nggak bohay, dan pastinya gue orang miskin. Jadi mana pantes gue sama bang Evin. Dari segimana pun, aku sama bang Evin tu nggak pantes."


"Lo jangan ngomong gitu dong! Cantik itu punya versi beda beda loh. Cantik itu nggak harus selalu bohay, atau make up sampe satu kilo. Mana tau aja bang Evin punya versinya sendiri."

__ADS_1


"Tapi gimana kalo seandainya bang Evin berada pada versi gadis sexy? Gimana kalo cantik versi bang Evin tu adalah gadis bohay, plus kaya raya? Gue bisa apa? Gue bisa apa, Kay? Gue kalah ...."


"Lo nggak bakalan tau kenyataan yang sebenarnya, kecuali lo yang ngeliat sendiri kebenaran itu. Buktinya bang Evim sering bersikap manis sama lo. Itu artinya apa coba?"


"Huuh ... awalnya gue pikir itu karna bang Evin suka sama gue juga, Kay ... tapi ternyata gue baru sadar, bahwa bisa jadi itu hanya cara bang Evin buat ngelabuhi hati gue. Bisa aja bang Evin manfaatin gue buat ngajarin dia selama ini, kan? Hhhh ... gue Mahasiswi beasiswa di kampus elit, tapi rasanya entah mengapa gue terlalu bodoh, Kay ...."


"Lo nggak boleh ngomong gitu, Qila. Lo nggak boleh berpendapat terlalu jauh tentang bang Evin. Karna, kalian jodoh atau nggak itu udah ada yang ngatur. Lagi pun, tentang perasaan lo sama bang Evin nggak ada ngerencanain juga, kan? Semuanya mengalir sesuai arahnya Qila. Jadi lo harus yakin sama diri lo sendiri, bahwa lo berhak buat dapetin apa yang lo mau! Jangan melow kayak gini dong."


Qila menganbil nafas sejenak.


"Semoga aja gue punya hati yang kuat buat ngadepin sikap bang Evin ya, Kay."


"Aamiin ... gue doain yang terbaik buat lo. Semangat!"


"Makasih ya ...."


"It's okey ... Oh ya! BTW bang Evin punya temen yang jomblo nggak, nih? Kalo punya kasih gue satu dong, hehe ...."


"Ya elah, masih nggak berubah lo ya! Orang temennya semua jomblo, termasuk bang Evin nya sendiri."


"Waah, serius? Kalo gitu, wajib kasih gue satu, nih. Eh, tapi ganteng-ganteng kok jomblo? Jangan-jangan ... mereka nggak tulen!"


"Jangan asal ngomong lo! Ntar apartemen lo di Prancis kena bom sama keluarga Pernandes, mau?"


"Ya Allah! Jangan sampe deh. Masa kita disini jadi pengemis. Kan aneh. Tapi serius nanya, kok mereka jomblo sih?"


"Ya soalnya, mereka itu jomblo bajar itu."


"Apaan tuh?"


"Katanya sih, jomblo tapi banyak yang ngejar."


"Hahaha ... keren juga tuh. Baru denger gue."


"Haha, kreatif banget sih! Jadi makin sayang, wkwk. Kasih gue satu pokoknya, lah."


"Emang di Prancis nggak laku lo? Ngenes amat!"


"Siapa bilang! Laris manis mah kalo di sini."


"Trus ngapain lo masih ngepet nyari yang Indo."


"Ya bedalah ... kalo cowok Prancis mah, mana bisa gue suruh jadi calon imam yang baik, makin parah malah. Makanya, cari yang sama-sama islam aja. Biar indah gitu kalo sholatnya di imamin, aseeek ... kan enak."


"Ngayal aja lo!"


"Nggak papa lah sekali-sekali,wkwkwk."


"Udah ah, gue tidur dulu ya, bye ...."


Lalu Qila mematikan ponselnya sepihak, tampa menghiraukan tanggapan Kayra. Setelah berbicara dengan Kayra, membuat Qila sedikit merasa tenang. Rasanya ada beban yang sempat ia lepaskan dari pundaknya.


Lalu tampa sadar, Qila pun tertidur di atas ranjang, karna sudah terlalu kelelahan.


***


Pagi ini tampak Anjas memarkirkan motornya di depan pagar sebuah rumah mewah, lalu menekan bel rumah tersebut.


Ting Tong


"Assalamualaikum ...."


Ceklek

__ADS_1


"Waalaikumsalam ...." sahut wanita paruh baya sambil tersenyum ramah dari ambang pintu.


"Cari siapa?"


"Saya kesini mau jemput Qila, Tante."


"Kamu ...."


"Saya Anjas, temen Qila Tante."


"Ohh ... iy iya, Tante pernah denger tentang kamu dari temen Evin. Ayok masuk, tunggu di dalam dulu."


"Iya Tante."


Lalu mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Bi ... Bibi ...."


"Iya Nyonya."


"Tolong panggil Qila ya. Bilang temennya Anjas udah jemput."


"Baik, Nyonya."


Lalu Bibi itu pergi memanggil Qila yang berada di lantai dua.


"Oh ya Tan, tadi kalo nggak salah, Tante bilang nama Evin ya? Emang Tante kenal Evin?"


"Hm? Ya kenal lah. Evin itu anak Tante, jadi pastinya Tante kenal dong."


"Hah? Evin anak Tante?" tanya Anjas kaget


"Iya ...."


'Jadi Levin adalah anak dari pemilik dari Hiro Univercity? Pantesan aja sikapnya kayak gitu,' batin Evin.


"Memangnya kenapa?" sambung Widia.


"Eh, nggak papa kok Tan. Cuman aneh aja, Qila bilang dia tinggal sama Aca?"


"Dia emang tinggal sama Aca, tapi Aca itu ponakan Tante, dan kebetulan Aca juga tinggal di rumah Tante. Makanya mereka bisa satu rumah."


"Oohh ... gitu ya, Tan? Maaf kalo banyak nanya."


"Nggak papa."


Lalu tak lama, Qila pun datang. Mereka berangkat ke kampus bersama. Saat sampai di kampus, Anjas pun mengantar Qila masuk ke dalam ruang ujiannya. meskipun awalnya Qila sempat menolak, tapi akhirnya tetap diantarkan oleh Anjas.


Setelah ujian selesai, Qila dan Aca keluar dari ruang ujian. Namun saat sampai di depan ruang ujian, Claudia dan seorang temannya menghampiri Qila dengan tatapan tak sukanya.


Melihat itu Qila hanya berdecak malas, sambil membuang mukanya kesamping.


"Eh, kemaren gue udah bilang sama lo buat ngejauhin Evin! Apa lo nggak ngerti, hah!"


"Gue pusing, dan gue lagi nggak mau cari masalah sama lo. Jadi mending lo pergi aja," jawab Qila datar, tampa ragu. Meskipun sebenarnya ada rasa tak suka mendengar ucapan Claudia, namun dengan sekuat mungkin Qila berusaha untuk bersikap seolah dia baik-baik saja.


"Seenaknya jidat lo ya, ngusir ngusir gue! Lo pikir lo siapa, hah!?" bentak Claudia lagi.


Namun tak ada rasa takut sedikit pun dari wajah Qila. Pengalaman waktu di buli, dan saat-saat kebersamaannya dengan Levin, sudah cukup untuk membuatnya sedikit mempelajari kata angkuh! Sedangkan Aca, hanya diam di belakang Qila sembari terus menggenggam tangan Qila erat.


"Apa pentingnya buat gue!"


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2