Dear My Self

Dear My Self
BAB 40


__ADS_3

"Ya sudah, mendingan kalian simpan barang kalian dulu, gih. Abis itu istirahat, ya."


"Iya, tante," jawab mereka serentak.


Lalu mereka masuk ke kamar yang sudah di tunjukkan oleh Hani. Dirumah Qila hanya memiliki tiga kamar. Satunya untuk Hani, dan duanya di gunakan untuk kamar lelaki dan satunya kamar perempuan, yaitu kamar Qila.


Setelah merapikan barang mereka, akhirnya mereka tidur untuk melepas penat perjalanan tadi.


***


Paginya tampak di dapur sudah ramai dengan teman-teman Qila yang antri untuk ke kamar mandi. Karna rumah Qila hanya mempunyai dua kamar mandi,  yaitu di kamar Qila dan di dapur, maka otomatis lelaki harus mengantri di dapur untuk mandi.


Sedangkan ibu Qila tengah nemasak sarapan untuk mereka. Setelah selesai mandi, mereka akhirnya duduk di sofa tengah. Sedangkan Qila, Aca, dan dibantu Hani, menyiapkan sarapan pagi.


Setelah selesai sarapan pagi dengan penuh keramaian. Hani izin untuk bekerja, sedangkan Qila dan teman-temannya duduk di halaman depan rumahnya yang terdapat kursi panjang.


"Qila ...." panggil Aca


"Iya?" Menoleh kearah Aca.


"Ajak kita jalan-jalan, yuk!"


"Boleh, tapi disini nggak ada tempat bagus."


"Nggak papa, kita main dimana aja, yang penting seminggu ini kita dapat liburan, hehe...."


"Bang An tau, mana tempat yang bagus buat kita jalan-jalan," timpal Anjas.


"Dimana?" tanya Lina lagi.


"Pokoknya kalian siap-siap dulu.  Atau kalo nggak, pakai baju ini aja. "


"Ya udah, ayuk!" balas Lina dan Aca antusias.


"Kemana?" tanya Levin ketus.


"Kalo bang Evin nggak mau ikut, bang Evin yang jagain rumah," jelas Aca.


Mau tidak mau akhirnya mereka berjalan kesuatu tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah Qila. Dan tak lama sampai lah mereka di sebuah danau yang terdapat sebuah pohon besar.


Danau itu dulunya tempat, Qila, Anjas, dan Kayra bermain waktu kecil.


"Wow! Keren banget. Adem ayem kalo disini," ucap Aca yang terus terpukau dengan danau kecil ini.


"Kalo kita camping disini pasti keren, nih," sambung Lion.


"Bener juga tuh. Coba deh, lo tanya sama ibu lo Qila. Boleh nggak, kita camping disini?" tambah Anjas.


"Ntar gue tanyain," balas Qila.


"Huh!  Seru juga ya, kalo disini. Udaranya seger," ucap Jeki lagi.


Lalu Lion, Jeki, dan Aca duduk diatas rumput hijau, tepatnya di bawah pohon besar yang ada di danau itu. Sedangkan Qila, Anjas dan Lina, tengah asik berfoto di tepi danau. Mereka tampak terus tertawa, terutama dengan sikap Lina yang sedikit lucu.  Sedangkan Levin, hanya berdiri sembari melipat kedua tangan pada dadanya dari jauh.Ia menatap tak suka pada Anjas yang sedari tadi selalu berada di samping Qila.


Lina yang melihat Levin hanya berdiri, kemudian menghampiri Levin dengan cepat, lalu menarik tangan Levin kearah Qila dan Anjas berdiri.


"Kak Qila ... sini sini," ajak Lina sembari terus memegang tangan Levin.


Qila yang mendengar itu sontak melihat kearah Lina, lalu mendekatinya dan disusul oleh Anjas.


"Kenapa, Ina?"


"Sini, Ina fotoin kak Qila sama bang Levin," ucap Lina sembari tersenyum lebar.


"Nggak! Gue suka foto!" bantah Levin dengan cepat.


"Ck-bang Evin mah. Bentar aja yayaya...?" mohon Lina.


"Ina ... mendingan Ina dengerin kata bang Evin,  ya," jelas Qila yang tau dengan sikap Levin.


"Ya udah,  kalo gitu Ina fotoin bang An sama kak Qila aja," ucap Anjas lalu berdiri di samping Qila.

__ADS_1


Levin yang melihat itu semakin tidak suka dengan tingkah Anjas. Saat Lina sudah bersiap untuk mengambil foto Qila dan Anjas, dengan cepat pula Levin menghampiri mereka.


"Nggak bisa! Sama gue aja!" bentak Levin sembari mendorong Anjas untuk menjauhi Qila. Kemudian ia berdiri tepat disamping Qila.  


Qila yang melihat itu menjadi sedikit kaget dan tetap diam sembari menatap Levin bingung. Sedangkan Anjas yang melihat itu,  hanya berdecak malas sembari menumpukan kedua tangan pada pinggangnya.


"Tadi katanya nggak suka di foto... Gimana,  sih," ucap Lina.


"Udah cepetan foto!" timpal Levin.


Tampak Lina mengangkat kamera ponselnya, lalu ia mengambil beberapa pose Qila dan Levin. Qila yang merasa canggung hanya tersenyum kearah kamera.


"Woi! Kalo foto ajak-ajak dong!" sahut Jeki sembari menghampiri mereka, dan di belakangnya di ikuti oleh Aca dan Lion.


Lalu saat Lina masih asik mengambil gambat Qila dan Levin, tiba-tiba saja Jeki langsung mengambil pose tepat di samping Levin, hal itu tentu di ikuti oleh Aca yang berdiri di samping Qila dan Lion di samping Jeki. Melihat semua orang sudah mengambil pose, Anjaspun tak mau kalah, lalu ia mendorong Aca kesamping hingga ia yang berada disamping Qila dan Aca menjadi berada disampingnya.


"Ya ampun!  Nggak usah dorong-dorong juga kali, ya!" ledek Aca.


"Hehe ... santai, Ca.  Namanya juga usaha."


"Cih! Santai palak bang An!" rungut Aca.


"Udah-udah, mau foto nggak nih? Malah ribut dulu," timpal Lion.


"Iya, iya. Ina cepetan foto. Dihitung ya," sambung Aca.


Lalu tampak Lina memotret mereka beberapa kali. Semua pose telah mereka abadikan sampai akhirnya Lina tersadar.


"Tunggu tunggu!" ucap Lina sembari menghentikan kegiatannya. Hal itu membuat mereka semua sedikit kesal.


"Ada apa lagi?" tanya Anjas.


"Ina kok jadi tukang foto, sih?  Ina juga mau foto...." rengek Lina yang akhirnya mengundang tawa diantara remaja tersebut.


"Haha ... ya udah, sini kita foto selfie aja," tambah Lion.


Mendengar itu dengan senang hati Lina berjalan menghampiri mereka, lalu mereka berfoto dengan Anjas yang memegang kamera di depan.


Puas berfoto dengan segala pose, akhirnya mereka memilih untuk pulang, karna hari sudah mulai panas.


Para lelaki tengah sibuk memasang tenda, sedangkan Qila tengah asik menikmati pemandangan danau yang tampak memukau. Di sela lamunan Qila, tiba-tiba Aca menghampirinya.


"Ngapain?" tanya Aca sambil ikut duduk di samping Qila.


"Nggak lagi ngapa-ngapain kok," jawab Qila sambil tersenyum kearah Aca.


Tampak Aca sedikit mengangguk. Lalu selanjutnya ia membuka obrolan.


"Jadi cewek susah ya, Qila," sambung Aca sambil melihat kosong kedepan.


Qila yang mendengar itu hanya diam. Karna ia juga merasakan hal yang sama.


"Kalo nembak duluan dibilang cewek apaan. Kalo nggak dibilang, kita ngerasa di gantung. Kebayang nggak, sih? Disaat kita ngerasa punya pacar tapi statusnya nggak jelas gitu."


"Iya juga, sih. Seharusnya kita nggak boleh nyalahin cowok juga. Tapi yang perlu kita salahin itu, ya diri kita sendiri. Siapa suruh terlalu jauh mencintai mereka, kan?"


"Tapi sikap mereka suka bikin kita melayang, Qila. Gue yakin siapapun nggak bakalan ada yang tahan jika udah diperlakukan manis sama cowok."


"Gue tau, Ca. Karna cewek itu emang mudah tergoda perasaan. Satu kalimat aja udah bisa bikin kita ngerasa berharga. 'Gue nggak suka lo bareng dia' atau kalo nggak, 'Gue nggak suka lo nangis.' Kalimat kayak gitu udah mampu bikin perasaan kita tergoda."


"Setuju! Nggak tau deh, pokoknya jadi serba salah kalo kita udah jatuh cinta sama seseorang yang belum ada hubungan apa-apa. Mau cemburu kita ini siapa, mau dilupain, eh masih sayang."


Mendengar itu Qila hanya bisa tersenyum kecut. Iya, semuanya tampak serba salah.


Tak lama di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Jeki datang hingga membuat mereka senyap seketika.


"Kalian kenapa? Canggung banget?" tanya Jeki sambil duduk di samping Aca.


Bagaimana tidak canggung jika orang yang dibicarakan tiba-tiba datang tampa diundang.


"Nggak papa," jawab Aca singkat.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu. Oh ya, Ca, kamu mau makan mie nggak? Kita bikin, yuk!" ajak Jeki tampa dosa.


"Gue masih belum laper, bang Jek duluan aja."


Qila yang merasa menjadi obat nyamuk diantara mereka,  akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan kedua remaja tersebut.


Ia memilih untuk jalan-jalan disekitar danau sembari menghirup udara segar. Melepas semua beban yang selama ini ia rasakan.


"Ngapain?" Tiba-tiba suara itu membuat Qila menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap sumber suara yang tepat berada di belakangnya.


"Bang An? Nggak lagi ngapa-ngapain kok. Cuman cari udara seger aja," jepas Qila saat mengetahui bahwa Anjas lah pemilik suara itu.


"Bang An boleh nanya?" tanya Anjas sembari berjalan mendekati Qila.


"Mau nanya apa?"


Tak langsung menjawab, Levin tampak diam terlebih dahulu, lalu ia kembali membuka suara.


"Hati lo apa cuman ada Levin doang?"


Mendengar itu Qila tampak diam sejenak lalu membuang nafasnya berat.


"Qila lagi nggak mau bahas masalah itu bang An. Gimana sama luka bang An? Ada yang parah?" tanya Qila mengalihkan pembicaraan.


"Kamu tau dari mana?"


"Aku liat muka bang Evin juga udah lebam. Makanya aku tau."


"Ooh, soal itu nggak ada yang serius kok."


"Emang kalian punya masalah apa, sih? Perasaan kalian ngomong aja jarang, nggak taunya udah berantem."


"Ini soal perasaan seseorang, Qila. Kamu nggak bakalan paham." Tersenyum kearah Qila.


Mendengar itu Qila tampak sedikit mengangguk meski sebenarnya ia tak mengerti maksud Anjas.


"Eh, kita ketempak anak ngumpul, yuk! Nggak enak juga kita tinggal disini," ajak Anjas lagi.


"Ya udah, yuk!"


Saat hampir saja sampai di tempat mereka mendirikan tenda, tidak tau ada hujan atau badai, tiba-tiba saja Levin menarik tangan Qila menjauhi Anjas. Dan sontak hal itu membuat Anjas sedikit kaget.


"Eh, lo mau bawa Qila kemana?" teriak Anjas.


Tanpa membalas ucapan Anjas, ia kembali menarik tangan Qila. Qila yang melihat itu dengan cepat melepas tangannya dari genggaman Levin. Hal itu sontak membuat levin menoleh kebingungan kearahnya.


"Jangan paksain saya lagi!" bentak Qila dengan berani.


"Kamu lupa dengan perjanjian kita selama ini, hum?" bisiknya di telinga Qila.


"Woi, Vin! Lepasin Qila. Kalo nggak—"


"Kalo nggak, apa?" potong Levin.


"Gue yang akan berusaha lepasin Qila dari lo!" bentak Anjas.


Mendengar itu Levin hanya tertawa kecil. Lalu mendekat pada telinga Qila.


"Lo lihat? Ternyata ada, ya, temen yang sebegitu perhatiannya. Atau jangan-jangan—"


"Jangan asal ngomong!" potong Qila dengan cepat.


"Terserah. Tapi lo pasti tau apa yang bakalan terjadi kalo lo berani ngebantah gue, kan?"


"Saya sama sekali nggak takut!" jawab Qila lalu dengan cepat menghampiri Anjas.


Melihat itu emosi Levin tampak semakin tersulut. Sejak kapan Qila mulai seberani itu kepadanya? Padahal niatnya hanya untuk mengajak Qila jalan-jalan disekitar danau.


"Bang An, kita ngumpul sama anak yang lain, yuk!" ajak Qila pada Anjas. Dan dengan senang hati Anjas menerima ajakan itu. Ia menyungging senyum kemenangannya pada Levin, lalu menggandeng tangan Qila untuk menghampiri teman yang lain.


Sedangkan Levin tampak benar-benar sudah emosi. Berani sekali gadis itu menyangkal perintahnya. Namun ia pun tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa memandang kegiatan mereka dari jauh tanpa berniat untuk mendekat.  

__ADS_1


"Evin...!" Suara teriakan seorang gadis memecahkan lamunan Levin, lalu sontak ia membalikkan badannya menoleh kearah sumber suara.


Ia mengerutkan dahinya bingung saat melihat siapa sebenarnya gadis itu.


__ADS_2