
Hari ini merupakan hari terakhir Qila melaksanakan ujian. Qila benar benar sudah siap dan sangat bersemangat untuk menerima awal kelulusannya.
Qila dan Kayra berjalan menuju ruang ujian dengan sedikit obrolan.
"Eh ada cewek gemuk tuh," ucap Sintya pada teman temannya, lalu menghampiri Qila dan Kayra.
"Good morning mantan primadona ... semangat ya ujiannya hari ini. Ini ujian terakhir looh. Dan oh ya, pulang sekolah nanti jangan lupa, kita mau kasih kamu kejutan oke," ucap Sintya pada Qila dengan senyum licik penuh arti.
Sintya adalah gadis genit yang dulu sangat iri pada Qila.Dan sekarang dia sangat bahagia karna Qila sudah tidak secantik dulu lagi. Dan itu merupakan kemenangan buat Sintya. Pasalnya, dari dulu dia memang selalu merasa kalah dengan Qila.
"Ehh lo! Jangan ganggu temen gue tau nggak. Kalo lo berani ngapa ngapain dia, lo berurusan sama gue!" sambar Kayra yang tidak terima atas perilaku Sintya pada temannya.
"Uuu gue takut," ucap Sintya sembari tersenyum remeh.
"Ehh, nggak usah sok jadi jagoan lo. Lo tau sekarang temen lo ini bukan primadona lagi? Seorang Qila sekarang tak lain hanya lah cewek GEMUK yang nggak tau diri! Jadi jangan sok cantik ya ... karna sekarang, nggak ada cowok yang mau sama dia lagi PAHAM!" sambung Sintya dengan tatapan tajamnya.
"LOO YA!" ucap Kayra geram yang ingin menampar Sintya. Namun di tahan oleh Qila.
"Apa lo hah?" balas Sintya tampa rasa takut.
"Udah udah Kay" ucap Qila menenangkan sahabatnya, lalu mentap Sintya.
"Dan lo Sintya. Lo salah kalo lo ngerasa gue sok cantik. Gue tau sekarang emang gue udah gemuk dan bukan primadona lagi. Tapi ingat! Selama ini gue nggak pernah merasa kalo gue primadona. Toh emang dulu mereka kan yg suka ngejer ngejer gue dan mengabaikan lo. Karna apa? Karna cewek kayak lo udah biasa dipacarin, kayak PIALA BERGILIR! Ohh ya ... kalo masalah gue gemuk emangnya kenapa? Bukannya ini bagus buat lo? Supaya nggak ada saingan lagi kan? Dan gue nggak masalah sih kalo gue gemuk. Malahan sekarang gue bisa ngeliat, siapa yang pake topeng, dan siapa yang nggak!" bentak Qila panjang lalu beranjak pergi bersama Kayra.
"AWAS LO QILA! LO LIHAT AJA NANTI!!" balas Sintya yang sudah murka.
***
"Wihhhh keren lo tadi Qila. Nggak nyangka gue lo bakalan ngelawan Sintya kayak tadi, pedes banget," ucap Kayra kagum saat mereka sudah sampai didalam kelas.
"Ya gue capek aja harus denger nyinyiran tuh mak lampir."
***
Setelah ujian terakhir selesai, Qila dan Kayra masih setia duduk di bangku mereka.
"Huffhh ... nggak nyangka ya Qila, udah mau lulus aja kita. Gue pasti kangen banget sama lo," lirih Kayra sambil memeluk Qila dari samping.
"Ya gitu lah, gue pasti juga kangen banget sama lo. Makasih ya ... lo udah mau temenan sama gue, bantuin gue, belain gue, dan mungkin kalo nggak ada lo, gue nggak akan sekuat ini," balas Qila sambil memeluk Kayra juga.
"Jangan makasih lah ... kan emang itu gunanya temen," ucap Kayra sambil tersenyum pada Qila.
"Udah yuk kita keluar," balas Qila yang tidak mau larut.
"Didalam ini ada yang namanya Aqila Liliana nggak?" sahut seorang perempuan dari arah pintu, yang memecahkan obrolan mereka.
"Ehh iya gue ... ada apa ya?" jawab Qila karna merasa namanya dipanggil.
"Dipanggil sama Kepsek. Di suruh keruangannya sekarang,"
"Ohh okee ... makasih ya,"
"Yo-ii" balasnya sambil pergi.
"Temenin gue bentar yuk Kay,"
"Ya udah, tapi gue tunggu diluar ruangan ya,"
"sip."
*****
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Masuk" ucap seseorang dari dalam ruangan. Lalu Qila membuka pintu perlahan.
"Maaf Pak, Bapak manggil saya?" tanya Qila sopan.
"Iya, silahkan duduk,"
Qila pun duduk didepan meja Kepsek.
"Ini," ucap Kepsek sambil menyerahkan sebuah amplop putih.
"Apa ini Pak?" tanya Qila penasaran.
"Ini undangan Beasiswa dari Hiro Univercity untuk siswa berprestasi seperti kamu," balas Kepsek sambil tersenyum.
"Dan kamu juga merupakan satu satunya perwakilan dari sekolah kita tahun ini setelah tiga tahun yang lalu. Dan ini merupakan kebanggaan untuk sekolah kita. Bapak harap kamu mau menerima tawaran ini," jelas Kepsek.
"I-ini untuk saya Pak?" tanya Qila yang masih tidak percaya. Karna yang Qila tau, Universitas itu adalah yayasan Universitas elit, yang tentunya untuk masuk bukanlah hal yang mudah. Dan pastinya Mahasiswa nya adalah orang orang yang berdompet tebal.
"Iya, itu untuk kamu. Bapak yakin kamu pantas untuk menerimanya. Selamat ya," ucap Kepsek lagi.
"Ohh iya, makasih Pak. Saya janji saya akan menjaga nama baik sekolah kita. Sekali lagi terima kasih banyak Pak," balas Qila dengan tersenyum senang.
"Iya sama sama. Ya sudah nanti kamu bisa lihat di brosur kapan kamu mulai kuliahnya. Dan untuk pendaftaran sudah diuris oleh guru BK Pak Handoko. Tinggal kamu mempersiapkan kuliah mu saja," jelas Kepsek.
"Baik Pak, terimakasih banyak. Kalo gitu saya permisi dulu. Mari Pak ...." ucap Qila sambil menyalami Kepsek, lalu keluar.
****
"Kenapa Kepsek manggil lo?" tanya Kayra saat mereka ingin menuju parkir motor.
"Mm ... gue ...." ucap Qila memutuskan ucapannya yang lantas membuat Kayra bingung.
"Gue apaan?" tanya Kayra penasaran.
"Hah? Serius lo? Kampus elit itu?" tanya Kayra lagi yang masih kaget. Dan dibalas anggukan oleh Qila.
"Widih ... kuliah kampus elit nih temen gue. Semangat ya, lo emang pantes dapetin itu," ucap Kayra sambil tersenyum.
"Makasih ya. Kalo lo sendiri mau kuliah dimana?" tanya Qila lagi.
"Gue juga nggak tau sih, Bokap masih nyari katanya," lirih Kayra.
"Udah yakin aja, pasti Bokap lo nyariin kampus yang bagus buat lo. Secarakan lo anak manja," goda Qila sambil tersenyum.
"Buset dah lu, suka banget ya nyindir gue," ucap Kayra kesal.
"Ampun dah, sabar kenapa? Becanda gue,"
Plaak
"Aww! Siapa sih yang ngelempar gue?" rintih Qila sambil memegang kepalanya yang terkena lemparan telur.
"Lo nggak papa Qila?" tanya Kayra prihatin.
Bruuk
Tiba tiba seseorang dengan sengaja menabrak Qila, hingga dia terjatuh pada anak tangga. Dan yaap ... Kepala Qila terbentur pada siku anak tangga hingga jidatnya berdarah. Begitu pun tangan dan lutut nya juga ikut lecet.
"Qila!" sontak Kayra sambil berlari menghampiri Qila.
"Lo nggak papa? Mana yang sakit? Qila ... lo denger gue?" tanya Kayra beruntun, karna masih tak mendapat jawaban dari temannya.
"I-iya, gue nggak papa kok Kay," ucap Qila dengan kesadaran yang sudah menipis. Lalu dia ingin berdiri, namun benturan di kepalanya membuat kepala Qila pusing. Dan lutut yang berdarah hingga Qila tak mampu berdiri, sampai akhirnya terjatuh.
__ADS_1
"Ya ampun Qila, lo luka!!" ucap Kayra kaget.
"Nggak usah banyak drama deh," ucap seorang perempuan yang sudah menabrak Qila, yang tak lain adalah Sintya. Melihat itu Kayra benar benar geram.
"Brengsek! Maksud lo apa? Kenapa lo nabrak Qila hah! Apa dia punya salah sama lo? Lo sengaja ya nabrak Qila supaya dia jatoh!!" bentak Kayra yang benar benar marah sambil menghampiri Sintya.
"Kalo gue emang sengaja kenapa? Lo mau marah? Ohhh atau lo juga mau dilemparin?"
"Cewek brengsek! Kalo berani sini lo lawan gue!!" balas Kayra yang hendak melabrak Sintya. Namun dengan cepat pergelangan Kayra di pegang oleh kedua teman sintya, hingga Kayra juga tidak bisa bergerak.
"LEPASIN GUE!! JANGAN BERANINYA NGEROYOK DOANG BRENGSEK!!"
"Ck banyak omong lo. Sekarang lo yang bakalan liat kehancuran dari temen lo ini," ucap Sintya sambil menghampiri Qila yang masih terduduk. Lalu dia berjongkok kemudian memegang kedua pipi Qila kasar, hingga mengangkat wajah Qila yang sudah terkena darah untuk menatap mata tajamnya. Kaki Qila yang masih sakit serta kepalanya yang pusing, membuat Qila tak mampu berbuat apa apa. Jangankan untuk melawan, berdiri saja rasanya tak mampu.
"Lepasin temen gue anj*ng!" bentak Kayra yang masih dipegang oleh kedua sahabatnya. Namun mulut Kayra di tutup hingga tak mampu bersuara lagi.
"Cihhh ... lo pikir gue bakalan nurut sama lo?" ucap Sintya lagi. Lalu Sintya menarik rambut Qila kebelakang dalam satu hentakan.
"Aaww" ucap Qila sontak.
Lalu Sintya menampar pipi Qila dengan keras.
Plaakk.satu tamparan keras membuat bibir Qila berdarah.
"Ini belum seberapa buat lo Qila. Bahkan gue bakalan buat lebih dari ini. Gue bener bener benci sama lo!"
"Aaww Sin, udah lepasin gue plis" rintih Qila yang benar benar sudah kesakitan.
"Gue nggak akan lepasin lo beg*!" Lalu Sintya melepas rambut Qila dengan kasar hingga Qila tersungkur kesamping. Qila mencoba untuk tidak menangis. Namun rasa perih yang Qila rasakan, bukan hanya secara fisik tapi juga hati, membuat air mata Qila dengan sendirinya keluar dari pelupuk matanya.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ...." Qila benar benar tidak mampu untuk tidak menangis lagi.
Lalu Sintya menarik lengan Qila kasar, dan menyeret Qila ketengah lapangan hingga kaki Qila berdarah karna terseret lantai. Semua siswa yang tak menyukai Qil sudah berkumpul. Dan Qila berada ditengah kerumunan siswa dengan keadaan yang tersungkur, dan sudah tak berdaya.
Air mata Qila keluar dengan begitu deras tampa henti, namun tak bersuara. Tak ada kata yang mampu Qila keluarkan, bibirnya terasa kelu.
"Ehh lo! Jangan berharap ada yang kasian sama lo ya, karna disini semua orang benci sama lo. Semua orang benci sama lo karna lo dulu selalu ngambil hati cowok! Dan sekarang ... lo lihat!" ucap Sintya marah sambil memegang kedua pipi Qila dan mengangkatnya keatas dengan kasar.
"Lo lihat baik baik. Mereka udah nggak suka sama lo lagi! Karna apa? Karna lo udah gemuk bodoh! Dan lo udah nggak secantik dulu lagi, PAHAM!" sambung Sintya dan langsung menampar pipi Qila dengan keras lagi. Qila benar benar sudah tak berdaya.
Sintya tersenyum sinis melihat itu dan langsung berdiri. Kemudian ....
Plak ... Plak ... Plak ....
Orang orang melempar Qila dengan kertas, sampah, dan juga telur.
"Rasain lo cewek ganjen!"
"Nggak tau diri lo!"
"Dasar cewek gemuk!"
"Cewek sial!"
"Lemparin terus, biar tau rasa dia!"
-------------
'Mengapa sebagian orang tidak bisa menerima perubahan dalam diri kita? Karna kemungkinan orang itu sudah tak menyukai kita bahkan sebelum semuanya berubah'
~NyaiAna~
Semangaat bacanya Readers 😘😘
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ... biar Author makin semangat nulisnya hehe😊🙏