Dear My Self

Dear My Self
BAB 24


__ADS_3

"Qila ...." sahut Aca dari arah luar pintu kamar Qila.


"Iya, pintunya nggak di kunci kok."


Ceklek


"Boleh gue masuk nggak nih?"


Qila melihat ke arah pintu, lalu diam sejenak.


"Kalo gue nggak bolehin, lo tetep bakalan masukkan?"


"Hehe iya sih." ucap Aca sambil menutup pintu perlahan, lalu duduk bersama Qila di atas ranjang.


"Lo lagi ngapain?"


"Kayak yang lo lihat," balas Qila sambil terus membaca buku.


Aca tampak mengangguk paham.


"Bisa ngomong benter nggak nih?"


Mendengar itu Qila menatap Aca sejenak. Kemudian menyimpan bukunya di atas nakas.


"Mau ngomong apa?" tanya Qila sembari menghadap Aca.


"Mm ... menurut lo aneh nggak sih, kalo gue suka sama bang Jek?"


Mendengar itu Qila tampak menautkan kedua alisnya.


"Cinta bisa datang sama siapa aja. Jadi menurut gue itu hal yang wajar."


"Tapi ... apa jatuh cinta emang gini ya?" tanya Aca memelas.


"Hah?"


"Padahal gue lagi suka-suka nya sama bang Jek, eh nggak taunya gue harus nerima kenyataan kalo bang Jek itu punya banyak cewek."


"Emang lo tau dari mana?"


"Aca denger dari orang orang sih gitu. Tapi ini juga salah Aca, ngapain juga Aca baperan sama gombalan bang Jeki. Orang bang Jeki emang selalu gombalim cewek."


"Tapi lo denger dari orang lain kan? Belum tentu itu bener. Karna yang tau siapa bang Jek itu ya bang Jek sendiri."


"Tapi gimana kalo itu bener?"


"Ya ... lo lupain aja."


"Apanya?"


"Bang Jek nya."


"Ya nggak segampang itu lah. Aca tuh udah terlanjur merasa bahwa Aca istimewa. Tapi ternyata bagi bang Jek semua cewek tu istimewa."


"Tapi lo juga. Ngapain di tarok di hati semua omongan bang Jek. Kan jadinya gini."


"Ck-ya mau gimana, lo nggak paham sih. Meleleh hati gue selalu di rayu sama bang Jek Qila. Gak tahan gue sumpah."


"Ya kalo gitu di jalanin aja."


"Jalanin gimana? Di gantung terus kayak gini. Lama lama mati kecekek gue Qila."


"Kok kecekek?"


"Ya kan digantung."


"Ada ada aja lo."


"Jadi gimana?"


Qila tampak diam sejenak.


"Kalo menurut gue sih, lo nggak usah berpikiran terlalu jauh dulu tentang bang Jek. Karna kata orang mah, jangan liat seseorang dari luarnya aja. Jadi sebaiknya lo cari kebenaran dulu, dari pada lo dilema terus."


"Gitu ya ...? Ya udah deh, gue coba cari tau nanti. Makasih ya ...."


"Sip. Ya udah, Keluar sana."


"Jahat bingit!"


****


Malam ini Levin tengah tiduran di atas ranjang kesayangannya sambil bermain game online bersama ke dua sahabat jomblo.


Tok Tok


"Masuk." sahut Levin dengan mata yang masih fokus pada ponselnya.


"Yuhu ... gue menang lagi. Mati kau Jek!" teriak Levin pada ponselnya, tampa menghiraukan siapa yang baru saja masuk.


"Gue tembak lo sampe innalillah, biar tau rasa. Eh Yon, tembak Jeki tuh, kita serbu dia, wkwkwk ...."


Saat tengah asik main, tiba tiba seseorang menarik ponsel dari tangan Levin. Dan sontak membuat Levin kaget.


"Woi, gue lagi main!!" bentak Levin sambil melihat ke arah orang yang mengambil Hp nya. Dan dibuat kaget lagi karna ternyata orang itu adalah Qila.


"Lo! Ngapain lo kesini? " tanya Levin ketus sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


"Sini in Hp gue, gue lagi main! Lo nggak liat hah?" ucap Levin lagi sambil mencoba mengambil ponsel yang ada di tangan Qila. Namun Qila malah menyimpan ponsel Levin pada laci nakas.


"Eh, kenapa di simpen? Gue lagi main paham! Cepetan ambil dan gue nggak terima bantahan!!"


"Nih." ucap Qila tampa mengindahkan bentakan Levin. Dan malah memberikan buku pada Levin, namun tak ada sambutan.


"Gue pengen Hp bodo!"


Qila melempar buku tersebut tepat di depan Levin.

__ADS_1


"Mulai saat ini saya adalah guru les anda. Berarti anda harus mengikuti perintah saya selama jam pelajaran."


"Hah?"


"Buka buku yang saya kasih. Dan kita pelajari bareng bareng."


"Maksud lo apaan nyuruh-nyuruh gue belajar, hah?"


"Tante nyuruh saya ngajarin anda. Maka dari itu mulai saat ini saya adalah guru les anda. Apa masih ada yang kurang jelas?"


Mendengar itu Levin tampak diam sejenak sembari mencerna kata kata Qila. Lalu tersenyum kecil.


"Ohh ... jadi lo, yang bakal ngajar gue? " tanya Levin sambil terus menatap Qila.


"Emang lo nggak takut sama gue hum?" tanya Levin lagi. Tersenyum licik.


Qila hanya membuang nafasnya perlahan.


"Disini jabatan saya lebih tinggi dari pada anda. Jadi kenapa saya harus takut?" balas Qila tampa ragu.


"Maksud gue lo nggak takut kalo lo makin suka sama gue?"


Qila tersentak mendengar ucapan Levin. Lagi dan lagi pernyataan itu mampu mebuat Qila bungkam.


Levin tampak tertawa kecil saat melihat Qila yang sudah merona.


"Sini!" bentak Levin sambil menarik buku yang ada di tangan Qila.


"Bukannya lo pengen ngajarin gue hum?" tanya Levin lagi sambil tersenyum penuh arti.


'Huuhh ... tenang Qila. Lo pasti bisa!'


Qila kembali mengambil nafasnya lagi, lalu di buang perlahan.


"Oke ... sebelumnya saya pengen ngasih anda sesuatu." ucap Qila sambil mengambil selembar kertas yang ada dalam buku yang Levin pegang.


"Silahkan dibaca."


"Apaan?"


"Saya akan mengajar anda dua jam dalam sehari. Jadi silahkan anda pelajari materi sesuai jadwal yang saya tulis. Dan waktu dua jam tersebut kita gunakan untuk sesi tanya jawab. Sampai di situ paham?"


"Lo gila! Gue nggak mungkin belajar sebanyak ini. Gue nggak mau!"


"Terserah! Karna disini saya sebagai guru les anda, saya juga punya peraturan. Pertama, anda nggak boleh membantah. Kedua! anda harus melakukan semua jadwal yang sudah saya tulis. Dan ketiga, dalam satu hari anda harus menjawab minimal satu pertanyaan yang ada dalam buku yang saya kasih. Mungkin hanya itu."


"Kalo gue nggak mau. Trus lo mau apa?"


"Gampang. Kembali pada peraturan pertama! Kayak yang anda ajarkan pada saya selama ini bukan?" tanya Qila menatap Levin tampa ragu. Lalu pergi.


***


"Sini sini sini ...." ucap Aca sambil menarik tangan Qila kesamping saat Qila keluar. Karna saat Qila masuk, Aca dan Lina sedang menguping dari luar pintu kamar Levin.


"Wihhh kak Qila mah keren. Top markotop deh pokoknya. Wkwkwk ...." sahut Lina sambil tertawa.


Lina dan Aca tampak tertawa senang saat mendapati Qila yang sudah berani melawan Levin.


"Huhh ... hebat apanya? Gue aja sampe gemeteran pas ngomong sama bang Evin, ya gue pura pura nggak takut aja. Padahal badan gue udah panas dingin sampe ke ubun ubun. Lima menit aja gue telat keluar nih, gue pasti in udah mati berdiri gue!"


"Pantesan telapak tangan lo sampe basah gini ya haha ...."


"Ya gitu lah, kayak habis di introgasi!"


"Wkwkwkwkwk ...."


"Semangat kak Qila ...."


*****


"Vin," panggil Jeki saat mereka tengah nongkrong di meja yang ada di bawah pohon.


"Apa."


"Tumben lo bawa buku tebel nih? Mau jadi kubuk ya ...." Sambil melihat isi tas Levin.


"Kubuk?"


"Kutu buku men ...."


"Ya elah, tinggal langsung bilang aja. Alay bener lo," balas Lion.


"Man men, man men. Gue L-E-V-I-N, bukan man men. Paham!"


"Ondeh mak! Gitu aja marah. Cepet tua lo."


"Terserah!"


"Tapi Alhamdulillah juga deh, kalo lo udah mau belajar Vin. Gue doain cepet pinter, supaya gue bisa nyontek wkwkwk," balas Jeki lagi.


"K*mpret!!"


"Tapi serius, lo ngebaca buku setebel ini Vin?" tanya Lion lagi.


"Ya enggak lah! Bisa-bisa keluar biji mata gue kalo ngebaca buku setebel ini. Mana tulisannya polos banget. Nggak ada gambar-gambarnya atau warna kek. Lah ini, kusam amet."


"Iya ya Vin, sebelas dua belas lah sama kehidupan Lion."


"****!" Menyentil kening Jeki.


"Sakit woi! Kalian pasti pengen gue bodohkan? makanya jidat gue kalian sentil terus. Tapi untungnya, gue orang yang pinter nggak ketulungan gitu. Jadi jurus kalian itu nggak manjur lah sama otak gue."


"Wuuuaaakkk! Mati lo sono!" Balas Lion.


"Jahat banget sumpah."


"Diem bisa nggak sih? Pusing gue liat kalian." ucap Levin.

__ADS_1


"Udah ah. Jadi ceritanya lo nggak baca. Trus ngapa lo bawa?"


"Bukan gue, tapi di masukin sama Qila."


"Hah?"


"Cieee ... belum di lamar aja udah jadi istri yang baik ya, gimana kalo udah di lamar ini, wkwk." sahut Jeki


"Lo emang semplur ya! Sini, pengen gue tabok lo!!"


"Ya itu buktinya apa hayoo ... ngaku aja lo Vin."


"Evin mah ngegas nggak ngajak-ngajak ya Jek. Kita jadi ketinggalan jauh ini mah." ucap Lion lagi


"Bener Yon, diam diam menghanyutkan gitu ya."


"Wkwkwk ...."


"TERSERAH!! Ini dia masukin karna sekarang dia yang jadi guru les gue tau nggak! Jadi jangan mikir yang aneh aneh!"


"Guru les?" tanya Lion


"Iya."


"Kok bisa?"


"Disuruh sama nyokap."


"Wah wah wah ... makin nempel nih." balas Jeki tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Levin hanya membuang mukanya ke samping sambil berdecak malas. Karna sekuat apapun Levin jelaskan, teman temannya tidak akan paham.


"Lo sama Qila tuh gimana sih Vin?" tanya Lion lagi.


"Gimana apanya?"


"Lo suka nggak sih sama Qila?"


"Nggak usah ngaco!"


"Gue serius ini Vin."


"Emang gue bercanda?"


"Kalo lo emang nggak suka sama Qila, trus ngapain lo selalu manggil Qila?"


"Maksud lo apaan sih?"


"Lo pikir gue nggak tau. Kemaren lo nyuruh Qila beli makan siang buat lo kan?"


Mendengar itu Levin hanya diam sembari menyenderkan tubuhnya kebelakang.


"Udah lah Vin,  kalo lo bener suka nggak usah angkuh gitu."


"Tapi gue nggak suka sama dia."


"Trus ngapain lo selalu ngajak dia pergi kalo kita lagi ngumpul?"


"Lo ngikutin gue."


"Sory. Tapi gue cuman heran aja, karna setiap lo pergi, pasti Qila juga pergi."


Levin membuang nafasnya kasar.


"Gue tegasin nih ya. Gue itu nggak punya persaan apa-apa sama Qila! Dan kenapa gue nyuruh dia buat ngikutin semua perintah gue? Karna gue pengen ngasih dia pelajaran. Dia selalu berani ngebentak gua, bahkan nggak pernah takut sama gue. Makanya, gue kerjain aja."


"Cuman karna itu?" tanya Jeki lagi.


"Ya iya lah! Dia nggak tau siapa gue."


"Terserah lo deh Vin. Tapi nanti kalo dia tiba tiba pergi jangan nyesel ya."


"Kenapa gue nyesel? Lagipun dia nggak bakalan pergi sebelum gue lulus.  Itu udah jadi perjanjiannya!"


"Ya elah, masih nggak paham dia Jek."


"Udah udah. Ntar auto ngamuk ini mah."


Saat tengah asik membicarakan Qila, tiba tiba Qila dan Aca datang menghampiri ke tiga lelaki tersebut.


"Hay abang abang jomblo ... lagi pada ngomongin apa nih? Kayaknya serius banget." sahut Aca sambil berjalan menghampiri ke tiga lelaki tersebut.


"Eh ada Aca ... lo mau kemana ?" balas Jeki semangat sambil tersenyum.


"Ini. Mau temenin Qila."


"Emang Qila mau kemana?"


"Mau ketemu sama bang Evin."


"Ehem ... Ada yang nyariin tuh Vin." ucap Lion sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Levin datar pada Qila.


"Nih. Buku yang harus anda kerjakan. Dan kalo ada yang nggak paham, ntar waktu dua jam kita bahas." Sambil meletakkan buku di atas meja.


Levin tampak mengambil buku tersebut, lalu menyingkap isinya ke depan dan belakang.


"Lo pengen gue ngerjain sebanyak ini?" tanya Levin sambil melihat tajam ke arah Qila.


"Iya."


"Nggak bakal gue isi! Lo pikir gue mau nurut sama lo hah?"


"Sesuai dengan apa yang telah anda ajarkan pada saya selama ini. Bahwa, kembali pada peraturan pertama! Anda dilarang ngebantah."


Bersambung ....

__ADS_1


Happy reading😘😘


__ADS_2