Dear My Self

Dear My Self
BAB 7 (Perpisahan)


__ADS_3

"Qila ...."suara sendu seorang gadis yang tak lain adalah Kayra.


Yap semenjak kejadian pembulian itu, Qila memutuskan untuk pulang ke kampungnya. dan Kayra pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Sehingga membuat mereka sudah lama tidak bertemu. Libur yang panjang sebelum penerimaan mahasiswa baru, membuat Kayra benar benar rindu dengan Qila sahabatnya. Dan memutuskan untuk menghampiri Qila dikampung halaman yang Qila tempati.


Namun saat Kayra kerumah Qila. ibu Qila bilang, Qila tidak dirumah dan tidak tau kemana. Satu satunya tempat yang sering Qila kunjungi yaa, danau ini ... dan benar saja. Saat Kayra sampai, dia melihat Qila menangis sambil menutup wajah pada kedua lututnya. Melihat itu Kayra benar benar sedih. Keceriaan Qila seolah lenyap.


***


Medengar namanya dipanggil, sontak Qila langsung membuang muka sembari menghapus air matanya dengan cepat. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Kayra yang langsung duduk disamping Qila lalu memeluk tubuh Qila dengan erat.


"Kayra?" ucap Qila kaget. Karna setau Qila, Kayra sudah pulang kerumah orang tuanya.


"Maafin gue Qila ... maafin gue karna saat itu gue nggak bisa ngejaga elo. Maafin gue yang saat itu nggak bisa belain lo. Maafin gue ...." lirih Kayra saat memeluk Qila.


"Udah lah Kay, ini bukan salah lo kok. Ini udah takdir," ucap Qila yang berusaha tegar.


Kayra langsung melepas pelukannya dan menatap nanar wajah Qila.


"Kalo lo punya masalah ... lo ceritain sama gue. Kita ini temen, sahabat, dan bahkan gue udah anggap lo sebagai saudara gue sendiri Qila. Masalah lo adalah masalah gue ... tangis lo adalah tangis gue ... dan luka lo adalah luka gue juga ..., jadi jangan pernah sendiri lagi kayak gini. Lo punya gue, lo punya bunda yang selalu stay di rumah lo. Jangan terpuruk kayak gini. Gue tau kejadian itu berat buat lo. Tapi plis Qila ... gue mohon. Ayok kita selesain masalah ini bareng. Seperti saat dimana kita pernah bahagia bareng," lirih kayra yang mencoba menyemangati sahabatnya.


Tangis Qiila lagi lagi pecah.


"Hiks hiks hiks ... gue nggak tau Kay. Gue nggak tau apa semua ini bisa terselesain atau nggak! Gue nggak nangis cuman gara gara gue gemuk. Gue nggak nangis cuman gara gara gue berubah. Tapi gue nangis karna kenapa semua orang nggak bisa nerima gue apa adanya? Kenapa orang lain nggak pernah bisa untuk menerima perubahan dalam diri gue, sedangkan gue sendiri udah mencoba untuk mengikhlaskannya. Harusnya bukan mereka yang marah sama gue Kay. Tapi seharusnya gue sendiri lah yang harus marah sama diri gue sendiri! Andai saja perubahan ini adalah sebuah rencana ... maka gue pastiin, bahwa gue nggak bakalan pernah untuk merencanakan perubahan ini," lirih Qila dalam tangisnya.


"Gue tau ini berat buat lo Qila," balas Kayra sambil menggenggam kedua tangan Qila.


"Gue tau ini nggak gampang. Tapi lo harus ingat! Lo nggak seburuk itu. Lo masih Qila yang sama. Lo adalah Qila cantik yang selalu memberi senyum ramahnya. Jadi jangan kayak gini. Dan satu hal. Bahwa diluar sana masih banyak orang yang lebih buruk dari ini, masih banyak orang yang lebih menderita dari lo. Dan disini ... Lo masih punya bunda yang sayang sama lo, lo masih punya gue yang selalu bareng lo. Dan gue yakin ... diluar sanapun masih banyak orang yang sayang sama lo Qila. Lo nggak sendiri. Jadi gue mohon ... jangan nangis buat mereka yang udah nyakitin elo. Lo nggak boleh lemah! Lo harus kuat! Dan gue yakin kalo lo pasti bisa untuk ngelewatin ini semua. Jadi pliiss jangan nyerah."


Mendengar itu Qila benar benar terenyuh. Air matanya benar benar sudah membanjiri kedua pipi cabinya.


"Makasih kay ..." ucap Qila sambil menangis dan langsung memeluk Kayra.


"Makasih karna lo selalu ada buat gue, makasih lo selalu nyemangatin gue, makasih karna lo selalu jadi bahu gue, dan makasih lo selalu stay bahkan ketika semua orang ngejauh dari gue. Bahkan ketika semua siswa dulu benci sama gue, tapi lo tetep ada buat gue. Makasih kay ...." sambung Qila lagi yang masih berada dalam pelukan sahabatnya.


"Karna lo sahabat gue Qila ... dan lo nggak usah pikirin tentang anak sekolah kita dulu lagi. Karna emang sebelum lo berubahpun, para cewek udah benci sama lo. Lo harus inget! Lo nggak seburuk yang lo pikirkan, lo masih tetep cantik, bahkan ketika lo kayak gini sekalipun. Mereka ngehina lo itu karna mereka iri sama lo. Dan tentang cowok cowok di sekolah itu? Mereka juga ikut benci sama lo karna mereka nggak pernah bisa dapetin lo. Bukan karna lo terlalu buruk. Tidak! Sedikitpun tak ada yang kurang dari lo. Lo cuman sedikit gemuk, bukan sangat gemuk. Jadi lo harus mulai hidup baru. Bukan lagi dengan sekolah kelam itu. Lupakan!Tapi disebuah kampus yang bakalan nentuin nasib lo nantinya. Dan gue harap lo bisa jaga diri lo, karna mungkin kita nggak bakalan bisa bareng kayak dulu lagi. Atau bahkan kita bakalan susah buat ketemu."

__ADS_1


Qila membalasnya dengan anggukan. Dia benar benar terharu dan sedih. Sedih karna entah siapa yang akan menjaganya nanti saat dikampus jika nanti ada orang yang membuli atau menghinanya. Qila masih trauma.


"Dan keluarlah dari keterpurukan lo. Tunjukin kalo lo lebih kuat dari yang mereka bayangkan Qila," sambung Kayra lagi seraya melepaskan pelukan Qila, lalu menghapus air mata Qila menggunakan tangannya.


"Jangan nangis lagi."


"Makasih kay ... Gue janji. Gue bakalan tunjukin ke semua orang kalo gue kuat, kalo gue nggak selemah ini. Dan gue bukan lagi Qila yang rapuh. Gue janji!" ucap Qila sambil menghapus air matanya kasar. Lalu mendongakkan wajahnya berharap air matanya akan berhenti untuk keluar.


"Gue yakin lo bisa!"


Dibalas Qila dengan anggukan dan berusa seyakin mungkin untuk tersenyum tegar.


"Dan kamu juga harus janji nggak bakalan sedih lagi. Kamu janji nggak ngeread chat aku lag, dan janji nggak ngacangin telpon aku lagi kayak yang kemaren kemaren."


"Aku janji " ucap Qila tegas.


Kayra pun memeluk sahabatnya lagi. melepas rindu yang kian gencar, mengawali perpisahan yang akan datang diantara mereka. Dan Qila juga berjanji bahwa dia akan tunjukan pada bumi ini bahwa dia adalah Qila yang kuat. Dia tidak akan rapuh lagi, dan dia tak akan tertindas seperti dulu lagi. Ucapnya dalam hati.


"Tunggu ..." ucap Qila sambil melepaskan pelukannya, lalu menatap Kayra.


"Lo tadi bilang kita bakalan susah buat ketemu? Emang bokap lo udah nyari kampus buat lo? Dimana? Diluar kota, provinsi, atau ...."


"P-prancis?"


Dan dibalas anggukan oleh Kayra.


"Jauh banget."


"Yaa mau gimana. Kata bokap sih demi kebaikan gue gitu."


Qila hanya diam. Dia tidak tau bagaiman harus bersikap. Baru saja dia merasa kuat oleh sosok Kayra, namun sekarang sahabatnya itu akan pergi meninggalkannya. Dan dia tidak tau pada siapa nantinya dia akan bercerita jika dia dihina lagi. Namun Qila juga sadar bahwa dia tidak boleh egois. Ini semua pun juga demi kebaikan Kayra sahabatnya.


"Udah ... cuman beberapa tahun kok. Setelah itu semuanya bakalan balik kayak dulu lagi. Dan lo tadi juga udah janji nggak bakalan sedi lagi. Masa sekarang udah sedih aja," ucap Kayra yang berusaha tegar, meskipun didalam hatinya akan sangat teramat merindukan sosok Qila yang sudah menemani hari harinya beberapa tahun belakangan ini.


"Tapi gimana kalo gue dihina lagi? Trus gue mau cerita sama siapa ? Dan ... apa gue bisa sekuat itu jika nggak ada lo?"

__ADS_1


"Ya makanya lo harus jadi Aqila yang lebih kuat meskipun nggak ada gue. Dan gue janji bakalan kasih kabar terus oke."


"Lo janji nggak bakalan lupain gue."


"Gue janji Aqila Liliana ...." balas Kayra sambil tersenyum kearah sahabatnya. Begitupun dengan Qila.


'Makasih ya Allah, disaat seperti ini engkau menghadirkan seorang sahabat yang tak pernah hentinya untuk membuat aku tersenyum. Dan tak pernah hentinya untuk membuat aku kuat. Aku janji! Aku akan menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya,' batin Qila.


"Ehh Qila, lo tau nggak siapa yang bantuin lo pas dibuli," ucap Kayra yang memecahkan lamunan Qila.


"Emm ... sebenernya sih gue nggak tau juga siapa. Tapi mata gue sempet ngeliat lelaki gitu ... tapi nggak jelas mukanya," ucap Qila datar.


"Lo pengen tau nggak?" tanya Kayra antusias dengan senyumnya yang lebar.


Dan dibalas Qila dengan anggukan.


"Yang bantuin lo kemaren ... BANG EVIN QILA!"


"Hah?"


"Iya ... dan jaket yang lo pake itu juga jaketnya bang Evin, yang nganterin kita pulang kekosan juga bang Evin. Haahh, gue nggak kebayang pas bang Evin belain elo kemaren. Kayak iron-man gitu. Dan lo tau nggak? Rayen aja sampe disuruh pake rok. Haha, ya ampun muka Rayen tu udah pucat pasi banget. Lucu lah pokoknya," jelas Kayra panjang sambil tertawa.


Dan hal itu tidak lepas dari penglihatan Qila dan sambil tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya.


"Nah loo ... lo dosa besar tuh karna udah fitnahin bang Evin kemaren. Belum lagi sumpah serapah lo yang super pedes."


"Iya iya, ntar gue minta maaf."


"Emang lo tau rumah bang Evin?"


"Ya enggak ...."


"Trus?"


"Nggak tau juga."

__ADS_1


"Ahh elu ...."


Happy reading😘😘


__ADS_2