Dear My Self

Dear My Self
BAB 42


__ADS_3

Subuh itu, saat matahari masih belum terlalu nampak, Qila keluar dari tenda untuk mencari udara segar. Kejadian semalam cukup memakan banyak emosinya. Untuk berpura baik-baik saja bukanlah hal yang mudah, tapi ia telah melakukan itu, meski rasanya begitu melelahkan.


Ia berlajan keluar menuju kursi yang ada di bawah pohon besar yang tak jauh dari tendanya. Ia membuang nafasnya perlahan.


Semuanya benar-benar melelahkan. Semuanya penuh sandiwara. Mungkin sudah saatnya untuk ia melupakan apa yang sudah sepatutnya untuk di lupakan. Mencintai Levin hanya membuat ia semakin hancur saja. Ia tak ingin melambung tinggi, lalu di hempas lagi. Sudah, rasanya sudah cukup! Tak usah tergoda lagi jika Levin tak mampu memberi kepastian atas rasanya.


Qila mencoba memejamkan mata, membuang jauh bayangan Levin dari benaknya. Menikmati segarnya udara subuh ini. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, dengan kepala yang menghadap keatas pohon dengan mata yang masih tertutup.


Saat merasa sedikit tenang, tiba-tiba entah angin dari mana, tapi wajahnya terasa seperti ada sesuatu yang terhembus. Merasakan itu, dengan cepat ia membuka mata, dan betapa terkejutnya ia saat tau bahwa di atas wajahnya sudah terdapat wajah Levin.


Cup


Levin mengecup bibir Qila singkat, lalu menjauhkan wajahnya. Kemudian ia duduk di samping Qila. Sedangkan Qila dengan cepat menghapus bibirnya kasar sembari mengubah posisinya untuk tidak bersandar pada kursi lagi.


Levin yang melihat sikap Qila tampak mengerutkan dahinya.


"Kenapa lo hapus?" tanya Levin sambil menghadap kearah Qila.


Mendengar itu Qila hanya diam.


"Sini, gue kasih bekasnya lagi," sambung Levin lalu mendekatkan wajhnya pada wajah Qila. Dan sontak Qila memundurkan posisi duduknya. Hingga hal itu semakin membuat Levin kebingungan.


"Lo takut sama, gue?" tanya Levin lagi, namun tak kunjung mendapat jawaban dari Qila.


"Lo sebenernya ada a—"


"Cukup!" potong Qila keras sambil berdiri. Ia benar-benar sudah muak dengan sikap Levin yang terus berlaku seenaknya.


"Lo kenapa, sih?" tanya Levin sambil ikut berdiri menghadap Qila.


"Seharusnya yang nanya gitu, saya. Sebenarnya anda kenapa, sih?"


"Gue?"


"Mau anda apa?" tanya Qila lagi. Mendengar pertanyaan itu, Levin tampak terdiam.


"Saya tanya mau anda apa? Untuk apa anda terus mendekati saya jika anda hanya ingin membuat saya semakin hancur!"


"Maksudnya?"


"Untuk apa anda lakukan semua hal yang semakin membuat saya mencintai anda,  lalu selanjutnya anda membuat saya semakin hancur pula! Jadi anda enak, ya. Bisa berlaku seenaknya dengan orang lain. Saya sadar sekarang, bahwa ternyata selama ini saya yang terlalu berharap anda untuk menyukai saya. Padahal sebenarnya apa yang anda lakukan kepada saya selama ini bukan karna anda menyukai saya, tapi hanya untuk mempermainkan saya! Sekarang apa? Apa masih belum puas? Belum puas untuk terus membolak balikkan perasaan orang lain?"


Mendengar itu Levin terdiam seketika sembari terus menatap kearah Qila.


Qila tertawa hambar sambil membuang mukanya.


"Saya rasa, mungkin saat ini udah cukup. Udah cukup untuk saya bersikap sebodoh ini. Saya udah paham, saya udah paham bahwa seharusnya saya melupakan anda dari dulu. Mencintai anda hanya membuat saya gila saja. San saya harap kepada anda, untuk berhenti mengganggu saya. Apapun keadaannya saya mohon, tolong berhenti untuk mendekati saya. Hubungan saya dengan anda hanya sebatas menjalankan hukuman, dan setelah itu, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi. Dan saya akan keluar dari rumah anda. Agar setiap harinya saya tak perlu melihat wajah anda lagi," ucap Qila tegas sembari terus menatap Levin.

__ADS_1


"Saya udah lelah untuk terus berubah. Saya lelah untuk terus mencoba menjadi yang terbaik di mata anda. Jika pada akhirnya saya akan tetap terlihat buruk!" sambung Qila, lalu pergi dari hadapan Levin.


"Berubah buat diri sendiri nggak terlalu buruk, kan?" tanya Levin keras yang berhasil menghentikan langkah Qila.


"Lalu apa perdulinya anda!?" tanya Qila sembari membalikkan badannya menghadap kearah Levin. Dan Levin berjalan mendekati Qila.


"Gue suka sama, lo." Kata itu yang berhasil lolos dari mulut Levin yang seketika membuat Qila bungkam. Qila masih terpaku tak percaya dengan apa yang Levin ucapkan barusan. Kalimat yang selama ini ia tunggu akhirnya terdengar begitu sempurna dari gendang telinganya. Sekarang ia harus apa? Apa Levin benar-benar mengatakannya?


"Jangan pernah bilang kalo lo nggak suka ngeliat gue lagi, paham? Gue nggak suka dengernya. Gue benci saat lo harus bilang buat ngelupain gue," ucap Levin lalu memeluk tubuh Qila erat. Qila masih terpaku tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Kemudian perlahan Levin melepaskan pelukannya sembari menatap wajah Qila lekat.


"Gue bukan lelaki yang bisa bersikap lembut. Bahkan gue nggak tau dengan cara apa gue bisa mengekspresikan perasaan gue sama lo. Tapi asal lo tau, " ucap Levin memutuskan ucapannya lalu memegang sebelah pipi Qila lembut.


"Asal lo tau kalo gue nggak suka saat lo deket dengan Anjas. Gue nggak suka saat ada orang lain yang deket dengan lo selain gue."


"Lalu gimana dengan perasaan saya saat anda bersama Claudia? Apa anda pikir saya baik-baik saja? Dan apa hal itu membuat saya yakin, kalo anda benar-benar menyukai saya."


Mendengar itu Levin membuang wajahnya sembari mengusap wajahnya gusar. Lalu ia kembali menatap wajh Qila.


"Lo nggak akan paham."


"Saya paham! Saya nggak sesempurna Claudia. Dia ratu kampus, dia punya banyak idola, dan--"


"Gue nggak perduli! Tapi gue cuman pengen lo deket sama gue aja, udah. Jangan pernah pergi lagi, paham?"


Mendengar itu lagi-lagi Qila terpaku, sembari terus menatap Levin lekat. Ini benar Levin? Apa dia sadar akan apa yang dia katakan? Atau ... dia cuman pengen buat Qila jatuh cinta, lalu menangis lagi?


Qila masih diam tak menjawab apapun. Bolehkah dia tertawa mendengar ucapan Levin? Ini sangat manis. Qila selalu ingin mendengarnya, jadi jangan sudahi percakapan ini.


Melihat Qila yang masih diam dengan muka polosnya, membuat Levin tertawa kecil.


"Udah lah, gue tau lo pasti mau. Secarakan lo suka sama gue."


Jlebb! Mendengar kata itu pelangi yang ada di kepala Qila tiba-tiba runtuh. Kembali pipi Qila memerah. Levin tertawa kecil melihat ekspresi Qila yang berubah.


"Udah yuk! Mau berjuang untuk melenyapkan Claudia nggak nih? Bang Evin dukung kamu."


"Hah?"


"Kita buat Claudia paham. Dia sudah bersaing dengan gadis yang salah. Dia salah karna sudah menjadikan Aqila Liliana ini untuk menjadi saingan mendapatkan hati Levin Pernandes. Bukan begitu?" tanya Levin sembari tersenyum.


"Ayok!" Menarik tangan Qila sembari berjalan.


"Kenapa nggak bang Evin aja yang perjuangin Qila?"


Langkah Levin terhenti saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Qila. Levin membalikkan badannya seraya menatap wajah Qila. Lalu Levin tampak tersenyum kecil, kemudian mengacak rambut Qila pelan. Kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Qila tidak tau ekspresi apa itu. Apa Levin menyuruhnya menunggu? Levin mengatakan iya? Atau tidak? Entahlah, ekspresinya begitu tenang. Qila tak dapat menebaknya.


Namun bolehkah ia jujur? Pagi ini ia sangat bahagia. Untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat yang sangat ingin ia dengar selama ini.


'Gue suka sama lo'


Kalimat itu terus muncul pada pikiran Qila. Qila terus mengikuti langkah Levin dengan senyum yang masih tergambar jelas dari wajahnya. Ia suka saat Levin mengatakan sesuatu yang membuat Qila merasa bahwa ia adalah orang paling beruntung.


"Ngapain kesini?" tanya Qila saat sadar ternyata Levin berhenti tepat pada dermaga yang ada di danau kecil itu.


"Kita naik perahu," ucap Levin sambil tersenyum kearah Qila.


"Saya nggak mau!"


"Tapi sayangnya lo tetep nggak bisa nolak," ucap Levin sambil menarik tangan Qila hingga ia menaiki perahu tersebut.


"Ya ampun! Saya takut! Sekarang saya mau anda turunin saya. Saya nggak mau naik perahu!" bentak Qila sambil terus berpegangan pada samping perahu.


"Gue tetep mau naik," balas Levin lalu membuka tali perahu itu dari penyangga. Lalu ia mulai mengayuh perahu itu pelan-pelan.


"Gimana? Seru, kan?" tanya Levin.


"Seru apanya! Orang takut juga."


"Udah jangan marah, nih, lo ikut ngayuh juga."


"Saya ngga tau,"


"Nggak papa, sini gue ajarin," balas Levin sambil berdiri.


"Eh, eh! Anda ngapain!? Ntar kita jatoh!" bentak Qila cemas karna perahu yang mereka naiki goyang-goyang.


"Ya duduk disini, lah," ucap Levin yang sudah berada di belakang Qila.


Melihat itu Qila hanya diam.


"Sini, aku ajarin. Lo pegang ini, oke!"


Lalu Qila memegang pengayuh tersebut sesuai perintah dari Levin.


"Nah, sekarang kamu kayuh ini pelan-pelan. Ke kiri dulu, terus ke kanan ...." sambung Levin sambil memegang tangan Qila untuk mengajarkannya.


Hingga seketika keheningan yang terjadi diantara mereka. Saat mereka sudah sampai di tengah-tengah danau, Levin menyuruh Qila untuk berhenti. Lalu ia menumpukan wajahnya pada pundak Qila dari arah belakang, hingga membuat Qila diam seketika.


Dapat Qila lihat wajah Levin yang begitu tenang tampak memejamkan matanya. Sedangkan Qila masih diam terpaku menatap wajah Levin.


"Gue bukan lelaki yang baik buat lo," ucap Levin membuka suara sambil membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Gue nggak bisa kayak Anjas yang bisa memperlakukan lo dengan baik. Tapi—"


"Tapi saya suka," potong Qila cepat. Ia tak tau, entah ia mengatakan hal yang benar atau tidak. Tapi memang itulah yang ia rasakan.


__ADS_2