Dear My Self

Dear My Self
BAB 38


__ADS_3

"Tunggu!"


Mendengar itu sontak Levin menghentikan langkahnya, lalu menghadap kearah Qila.


"Wa-wajah bang Evin kenapa?" tanya Qila ragu. Karna di samping bibirnya terdapat bekas darah yang berasal dari bibir Levin setelah ciuman tadi.


Mendengar itu reflek tangan Levin memegang ujung bibirnya. Dan memang terdapat sedikit darah segar dan terasa sedikit nyeri. Lihat? Bahkan ia lupa bahwa dia baru saja selesai berduel dengan Anjas.


"Ini bukan apa-apa," jawab Levin.


"Mm ... tunggu bentar," balas Qila sembari berdiri. Kemudian tampak ia mengambil sesuatu dari laci lemari belajarnya, lalu mendekat kearah Levin berdiri.


Melihat itu Levin hanya diam sembari terus menatap wajah Qila.


"Kalian habis berantem, ya?" tanya Qila yang sudah berdiri dihadapan Levin. Levin hanya diam tak menjawab pertanyaan Qila.


"Mm ... a-aku bantu obatin, boleh?" tanya Qila ragu sembari terus menunduk.


Levin yang mendengar itu refleks mengangkat ujung bibirnya. Lalu ia mengangkat dagu Qila hingga menatap kearahnya.


"Gue pikir lo udah nggak perduli," ucap Levin sembari tersenyum kearah Qila. Qila yang mendengar itu tiba-tiba merona. Dengan cepat ia membuang pandangannya kesegala arah, asal tak menatap wajah Levin.


"Ya udah, duduk sini. Bukannya lo mau ngobatin gue?" tanya Levin lalu menarik tangan Qila hingga duduk di ujung ranjang. Sedangkan Qila hanya duduk terpaku sembari terus memegang kotak P3K, entah mengapa niatan awalnya yang ingin mengobati Levin tiba-tiba menjadi hilang seketika. Ia menjadi salah tingkah karna Levin terus menatapnya.


Levin yang melihat sikap Qila kembali tersenyum, lalu ia menarik kotak P3K dari tangan Qila kemudian membukanya.


"Nih. Bukannya ngobatin, tapi kok malah bengong," ucap Levin sembari memberikan peralatan obat kepada Qila. Qila yang melihat itu refleks mengambil obat dari tangan Levin.


Lalu Dengan cepat Qila mengobati wajah Levin dengan lembut. Wajah yang sudah lebam dan terdapat sedikit darah.


"Kenapa anda bisa berantem sampe separah ini?" tanya Qila sembari terus mengobati wajah Levin.


"Kita cuma hobi berantem aja," jawab Levin asal.


"Bang Anjas gimana? Apa dia luka kayak gini juga?"


"Mm ... gue pikir dia lebih parah. Apa lo perduli sama dia?"


"Tentu saja saya perduli."


"Lebih dari lo perduli sama gue?"


Mendengar itu Qila terpaku seketika. Dapat ia lihat wajah Levin yang menunggu jawaban darinya, namun ia hanya diam tak menjawab. Lalu ia kembali mengobati luka Levin.


"Aaw! Hati-hati, ini masih sakit. Kok lo kasar gitu, sih?" tanya Levin sambil meringis. Qila yang mendengar itu sedikit kaget, karna ia sampai lupa bahwa ia masih mengonati luka Levin.


"Ma-maaf, saya nggak sengaja."


Mendengar itu Levin menghela nafas berat, lalu menurunkan tangan Qila yang sedang mengobati wajahnya sembari terus menatap Qila lekat. Qila yang melihat itu sontak melihat kearah Levin bingung.


"Kayaknya gue tau gimana cara ngobatin luka gue," ucap Levin sembari terus menatap Qila. Qila yang mendengar itu menautkan kedua alisnya. Ia tak mengerti maksud dari ucapan Levin.


Cup


Levin mengecup singkat bibir Qila.


"Bibir lo adalah obatnya." Tersenyum miring.


"Ha?"


Cup

__ADS_1


Levin mengecup bibir Qila untuk kedua kalinya dan Qila masih diam terpaku. Melihat ekspresi menggemaskan dari wajah Qila, membuat Levin kembali mengecup bibir Qila lagi dan lagi. Sampai akhirnya Qila menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya.


"Apa yang anda lakukan!" ucap Qila sambil terus menutup mulutnya dengan rapat. Suaranya pun terdengar samar.


"Bukannya lo pengen bantu ngobatin luka gue? Nah, sekarang gue lagi ngobatin muka gue. Apa ada yang salah?" tanya Levin sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Maksud saya ngobatin pake obat." Melepaskan tangan dari mulutnya.


"Nggak usah repot-repot. Pake bibir lo aja, biar lebih cepat sembuh," ucap Levin sembari tersenyum kearah Qila.


Melihat itu, Qila terpukau dengan senyum tulus dari Levin. Senyum yang selalu membuat ia bimbang, senyum yang selalu membuat ia gagal melupakan lelaki ini. Ia terdiam sembari terus menatap wajah Levin lekat.


"Masih pengen liat muka gue? Apa perlu gue tidur bareng lo, hum?"


Mendengar itu Qila sedikit tersentak. Ia salah tingkah karna sudah tertangkap basah oleh Levin. Lalu dengan cepat ia membuang wajahnya kesamping.


"Ja-jangan gr anda! Silahkan anda keluar!" bentak Qila sambil berdiri.


"Lihat? Tadi lo yang nyuruh gue untuk nggak pergi, sekarang lo yang nyuruh gue keluar. Huuh! Rasanya gue bener-bener dipermainkan."


"Cih! Yang dipermainkan siapa yang ngerasa siapa," rungut Qila dengan suara samar.


"Lo ngomong apa?"


"Bukan apa-apa. Saya cuman bilang, silahkan anda keluar, saya mau tidur."


"Perasaan tadi lo nggak ngomong sebanyak itu."


"Ck-ya terserah saya mau ngomong sebanyak apa."


Mendengar jawaban itu tampak Levin tertawa kecil, lalu berdiri di hadapan Qila. Namun bukannya pergi, ia malah menatap wajah Qila lekat. Qila yang melihat itu menjadi salah tingkah.


"Nga-ngapain anda lihat-lihat saya?"


"Tenang aja, gue nggak lagi mempermainkan lo kok," mengelus rambut Qila lembut. Sedangkan Qila hanya mengedip-ngedip mengerutkan dahinya tak mengerti atas ucapan Levin.


"Gue keluar dulu. Ingat langsung tidur, jangan mikirin gue, oke!" Lalu Levin keluar dari kamar Qila. Setelah Levin menutup pintu kamarnya, Qila langsung terbaring lemah diatas ranjang kesayangannya itu.


Bagaimana mungkin ia tidak memikirkan Levin, jika Levin sering memperlakukannya semanis ini. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Levin, jika Levin terus membuatnya semakin jatuh cinta seperti ini. Ahh, rasanya ia lemah jika sudah berhadapan dengan sikap Levin.


Semua rasa benci, kesal, marah, dan jijik akibat perbuatan Rayen tadi pun rasanya sudah hilang entah kemana. Semunya telah terganti dengan wajah, senyum. dan sikap manis Levin. Tak banyak yang Levin lakukan, hanya besikap perhatian seperti ini saja, sudah cukup untuk membuatnya bahagia.


***


Besok paginya


Tok tok tok


"Bang ... Mama nyuruh turun, ditunggu sarapan di bawah katanya," sahut Lina dari depan kamar Levin.


Ceklek


Pintu kamar Levin terbuka.


"Nggak usah dipanggil gue juga turun," ucap Levin datar tampa menghiraukan Lina dan langsung menuju anak tangga.


"Ya elah ... tumben bangunnya cepet, biasanya harus dibangunin pake beduk masjid dulu," celoteh Lina sambil mengikuti langkah Levin dari belakang.


"Terserah gue, nyawa-nyawa gue. Urusan sama lo, apa? "


"Iidih ... punya abang nggak ada baik baiknya," balas Lina sambil berlari ke arah meja makan.

__ADS_1


"Suka gue! " sahut Levin ketus.


"Ada apa ini? Pagi-pagi kok udah ribut?" tanya Widia yang sedang menyiapkan sarapan.


"Nggak tau. Bang Evin tuh, Ma," jawab Lina.


"Kenapa gue? "


"Evin, kamu udah gede ya. Bisa lembut dikit sama adik kamu?"


"Ya orangnya sudah seperti itu, mau di apakan juga tetap seperti itu, Ma," timpal Herman dengan mata yang masih fokus pada koran yang ada di tangannya.


"Tante lupa? Tante kan punya satu kepala batu di rumah ini," balas Aca dengan wajah tak suka. Semenjak kedekatan Levin dan Claudia saat itu, Aca menjadi tak suka pada Levin.


"Setuju! " sahut Lina lagi sambil duduk di meja makan.


"Udah-udah ... Evin, duduk disini kita sarapan," balas Widia.


Lalu Levin ikut duduk di meja makan. Untuk sesaat hanya keheningan yang menemani sarapan mereka, sampai akhirnya Widia membuka suara


"Oh ya, kalian habis ujian ini rencananya mau kemana?" tanya Widia.


"Mm ... belum ada rencana, Tante." balas Aca.


"Kalo kamu, Qila?"


"Mm ... mungkin pulang ke kampung aja, Tan. Soalnya Qila udah rindu sama Bunda," jawab Qila sembari tersenyum.


"Lina ikut kak Qila! Boleh ya ...." timpal Lina sembari memelas kearah Qila.


"Kalo kak Qila nggak masalah selama Om sama Tante ngizinin, Ina," balas Qila.


"Ma ... Pa ... boleh ya, plis ...." Memasangkan wajah imutnya.


"Cih! Lebay banget," sahut Levin yang jijik dengan sikap adiknya yang kekanak-kanakan.


"Biarin!"


"Iya Om, Tante. Izinin aja Ina, ntar Aca yang jagain. Aca juga mau main ke rumah Qila," sambung Aca lagi.


"Boleh. Tapi apa tidak merepotkan Ibu kamu Qila?" tanya Herman.


"Nggak kok, Om. Malah Bunda seneng kalo banyak yang main ke rumah. Soalnya Bunda tinggal disana juga sendiri," jawab Qila sembari tersenyum.


"Tante punya ide! Gimana kalo kalian liburan di rumah Qila aja. Sekalian ajak temen-temen Levin juga, trus yang satu itu lagi siapa namanya ...?"


"Bang Anjas," sahut Aca.


"Nah, iya, si Anjas. Pasti seru tuh. Nanti Qila bisa ajak kalian jalan-jalan keliling kampung,Tante yakin udaranya segar kalau disana."


"Setuju!" sahut Lina dan Aca serentak.


"Nggak! Evin nggak setuju," timpal Levin.


"Kenapa?" tanya Lina bingung.


"Karna gue nggak mau, paham!" Lebih tepatnya Levin tidak mau karna tak suka karna Anjas juga ikut.


"Harus mau dong, Vin. Sekali-kali kalian main di rumah Qila kan seru," balas Widia.


"Kalo Evin bilang nggak mau, ya nggak mau. Nilai aja belum keluar, udah mikir liburan! Mending di rumah aja."

__ADS_1


"Papa setuju," sahut Herman ditengah perdebatan mereka.


Happy reading 😘😘


__ADS_2