
" Tuan ada sesuatu yang penting ingin aku bicarakan mengenai putrimu "
" Apakah salah satu dari putriku membuat kesalahan tuan ?"
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
" Tidak tuan. Ini masalah sayembara kemarin, saya memilih putrimu " ucap Reno memberikan senyuman ke arah Karin
" Kau memilihku tuan? " sahut Karin dengan percaya dirinya
" Bukan dirimu tapi kakakmu Viani " ucap Reno datar
Bagaikan di sambar petir di siang bolong. Raut wajah bahagia Karin berubah jadi murung dan tertunduk malu melihat Reno sedangkan tante Lena dengan wajah kesal menatap Reno.
" Dimana dia? Mengapa aku tak melihatnya dari tadi? " tanya Reno berpura pura tidak tahu
" Maaf tuan dia tidak tinggal bersama kami di sini. Putriku itu lebih memilih tinggal di apartementnya sendiri karena lebih dekat ke tempat kerjanya " jawab pak bambang berbohong
" Oh baiklah. Saya harap anda menerima keputusanku. Secepatnya aku akan mengabarimu lagi dan saya permisi " beranjak dari tempat duduknya meninggalkan pak bambang sekeluarga
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Tante Lena dan Karin tak terima dengan perlakuan Reno. Mereka menyusun rencana untuk membalas kelakuan Reno tadi melalui Via.
" Mama aku benci dengan pria sombong itu "
" Tenang saja sayang. Kita akan membalaskannya semua melalui anak sialan itu "
" Aku sudah tidak sabar ma melihat anak itu menderita. Ayo cepat segera mama bujuk papa ya " memeluk mamanya
Tante Lena pergi meninggalkan Karin menuju ruang kerja suaminya. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk menghancurkan anak tirinya.
" Mas sedang sibuk ya " mendekat ke arah suaminya
" Tidak sayang. Ada apa?" menutup laptopnya karena ia sudah tahu maksud kedatangan istrinya.
" Bagaimana keputusanmu tentang pembicaraan kita tadi ? " menggeliat manja di pangkuan suaminya
" Mau tidak mau aku harus menerima permintaannya. Kalau tidak ia bisa memutuskan kerja sama dengan perusahaanku "
" Segeralah beritahu Via mas. Agar ia mengerti dengan keputusanmu "
Bagus sekali kau akan menderita selamanya anak sialan ucap Tante Lena dalam hatinya
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Seminggu berlalu Reno tak pernah lagi muncul mencari wanitanya. Via yang sadar akan hal itu memutuskan untuk kembali ke apartementnya. Ia tak ingin terlalu lama merepotkan keluarga Sinta.
" Tante, Sinta hari ini aku pamit pulang ke apartrment ya " ucap Via ketika sedang membantu memasak di dapur
" Kok cepat banget sayang. Jadi sepi lagi deh rumah tante " menghentikan potongan wortelnya
" Iya vi. Cepat banget padahal nginap selamanya disini juga gak apa ya ma. Jadi kita tidak terlalu sepi di rumah " menoleh ke arah mamanya dan terlihat mengangguk tanda setuju.
" Aku perhatikan sudah seminggu ini ia tak pernah lagi datang mencariku. Jadi aku rasa ia telah menyerah " ucapnya dengan santai
Aku tak yakin ia menyerah batin Sinta.
" Oh ya sudah kalau itu keputusanmu tapi kalau ada masalah kembalilah kesini lagi nak. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu. " melanjutkan potongan wortelnya karena hari ini menu makan siang mereka sop daging.
" Setelah makan siang ini aku segera pulang ya tan."
" Secepat itu sayang " sedikit terkejut
" Nanti aku mampir ke toko bunga dulu tan. Ada rapat akhir bulan "
" Mama perhatian banget sama anak orang. " sahut Sinta sewot
" Efek kelamaan jomblo emang gitu tan. Suka baperan " ejek Via
Mereka berdua berlarian saling mengejek mengelilingi rumah. Mama Sinta hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
Apartement Kalijaga at 19.00
Via tiba di apartementnya dengan hati bahagia. Ia sangat rindu dengan kamarnya dan bergegas naik lift.
" Akhirnya sampai juga aku di sini " menekan kata sandi apartemennya
Via masuk ke dalam apartementnya dan menghidupkan lampunya. Ia menuju kedapur membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. Botol minuman yang sedang ia teguk terjatuh karena ia terkejut ada seseorang yang memeluk pinggangnya.
__ADS_1
" Honey kemana saja dirimu. Aku merindukanmu " memeluk erat pinggang wanitanya
Bodohnya aku lupa mengganti pasword apartementku gerutu via dalam hatinya
" Reno lepaskan aku. Sudahlah jangan menggangguku lagi " berusaha melepaskan pelukan Reno
Tiba tiba Reno terduduk lemas di kursi meja makan melepaskan pelukannya dari tubuh Via.
" Reno apa yang terjadi denganmu? " memegang tubuh Reno
" Aku baik baik saja honey. Kau perhatian sekali denganku" tersenyum lemas menatap Via
" Ayo kita duduk di sofa saja. Badanmu terasa panas sepertinya kau sakit " merangkul Reno menuju ruang TVnya
Via sangat cemas dengan keadaan Reno yang terlihat sedikit berantakan. Ia segera mengompres kepala pria tersebut agar panasnya cepat turun dan segera memesan makanan dengan ojek online.
" Aku tinggal sebentar ya Ren aku ingin membersihkan diriku sejenak. Nanti kalau ojek onlinenya sudah datang tolong ambilkan pesananku ya. Maaf sedikit merepotkanmu. Tak apa ya aku tinggal sebentar" ucap Via panjang lebar karena terlalu cemas melihat Reno
" Iya honey. Kau tambah cerewet selama meninggalkanku. Mandilah aku tidak apa apa " jawab Reno menggoda Via
Via langsung meninggalkan Reno dan bergegas mandi bebek saja. Hanya butuh lima belas menit baginya untuk mandi tercepat pertama kalinya. Ia segera keluar dari kamarnya menemui Reno.
Terlihat makanan pesanannya sudah tiba dan di letakkan Reno di meja. Via menuju dapur mengambil sendok dan air putih dan kembali mendekati Reno.
" Ren kamu makan dulu ya " menyuapi Reno yang masih terbaring lemas di sofa
Reno membuka mulutnya menerima suapan darinya dan menghabiskannya tanpa tersisa. Via tersenyum melihat Reno menuruti permintaannya. Biasanya sangat susah untuk memberi tahunya.
" Lebih baik kau istirahat di kamarku saja. Sepertinya badanmu bertambah panas Ren "
Reno menyetujui permintaan Via dan segera menuju kamar wanita tersebut. Via merangkul Reno agar ia tak terjatuh.
Via membuka pintu kamarnya segera mendekat ke kasurnya. Di baringkannya Reno secara perlahan dan menutup tubuh Reno dengan selimutnya. Sepanjang malam Via tak hentinya mengganti kompres di kepala Reno hingga panas tubuh Reno berangsur normal.
Cahaya pagi mulai masuk ke celah jendela kamar Via. Reno terbangun dari tidurnya dan melihat wanitanya duduk tertidur pulas di dekatnya. Reno membelai rambut Via dengan lembut sehingga tak sengaja membangunkan wanitanya
" Maaf apa aku mengganggu tidurmu honey ? "
" Ahh tidak Ren. Kau sudah baikan rupanya" tangan kiri menutup mulutnya yang menguap karena masih setengah kantuk sedangkan tangan kanannya memegang kening Reno yang terasa sudah normal.
" Terima kasih sudah merawatku semalaman" menjauhkan tangannya dari rambut Via
" Apa perlu aku telepon sekretarismu agar dia menjemputmu atau setidaknya agar tidak cemas denganmu? " tanya Via berpindah duduk di tepi kasur
Via segera menekan tombol handphone Reno menghubungi Bobi. Dalam hitungan detik Bobi langsung mengangkatnya dan via segera beranjak dari tepi kasurnya berbicara dengan Bobi tapi dengan cepat Reno menarik tangan Via agar kembali duduk di dekatnya. Via hanya menuruti saja kemauan Reno karena ia sedang berbicara dengan Bobi di telepon. Via menceritakan semua tentang keadaan Reno dan memberi alamat apartementnya karena Bobi ingin melihat keadaan bosnya yang memang tak pernah pulang setelah kepergian Via seminggu yang lalu. Via sedikit terkejut mendengar kabar dari Bobi.
Bel apartement Via berbunyi dan segera membukakan pintu apartementnya karena tahu pasti Bobi yang datang.
" Silahkan masuk tuan. Bos anda ada di dalam kamarku "
" Terima kasih nona. Aku permisi karena ingin langsung melihat tuan Reno "
Via menuju ke dapur membuat sarapan pagi untuk mereka bertiga. Via mengambil bahan bahan dari dalam kulkas untuk membuat nasi goreng. Via sibuk menyiapkan segalanya di meja makan. Setelah semua sudah siap Via segera memberi tahu Bobi dan Reno untuk sarapan dahulu sebelum mereka pulang.
" Kita sarapan dulu ya. Ini susu untukmu Ren" menaruh susu yang selesai ia buat ke hadapan Reno
" Ini buatanmu semua honey? "
" Iya tapi kalau sedikit tidak enak harap maklum ya karena aku bukan chef handal " jawab via tertawa
" Terima kasih nona untuk sarapan pagi ini " sahut Bobi
Via hanya menjawab pertanyaan Bobi dengan mengacungkan jempolnya
" Tuan siang ini ada meeting tapi yang bersangkutan ingin langsung bertemu dengan anda. Jika anda masih sakit lebih baik saya undur saja meetingnya "
" Aku akan segera masuk kantor hari. Aku tak ingin membuat masalah dengan nenek "
" Baiklah tuan"
Setelah selesai sarapan Reno memutuskan untuk segera ke kantor dan berpamitan kepada Via. Via segera menutup apartementnya setelah kepergian Reno.
" Lebih baik aku segera mandi setelah itu bersiap siap berangkat bekerja lagi. Semangat " ucap Via
Segera ia menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Hari ini Via memutuskan agak sedikit terlambat ke toko bunga karena ingin berendam dibath up menghilangkan kelelahannya semalaman mengurus Reno.
Via keluar dari kamar mandinya setelah ia rasa cukup berlama lama di dalamnya. Ia menuju lemarinya untuk mencari pakaian yang ingin ia pakai hari ini. Ia telah siap dengan pakaiannya segera menuju meja hiasnya menggunakan make up tipis seperti biasanya. Ia menatap dirinya di cermin sudah di rasa cukup tak ada yang kurang ia segera mengambil tasnya dan segera berangkat. Langkahnya terhenti melihat handphone Reno yang ketinggalan.
"Aku lupa mengembalikan hpnya tadi sesudah memakainya. Nanti saja aku mengembalikannya" ucap Via dan segera memasukkan handphone Reno ke dalam tasnya.
__ADS_1
Di tengah perjalanan handphone Reno berbunyi Via segera menepikan mobilnya. Via mengambil handphone Reno dan melihat nama Bobi di layar hp tersebut. Segera Via mengangkat teleponnya.
" Hallo tuan maaf..... " ucapan via terhenti karena mendengar suara Reno yang ternyata berbicara dengannya
" Hai honey ternyata handphoneku tertinggal di Apartementmu. Aku sungguh senang ia bersamamu " goda Reno
" Nanti sore aku ke kantormu untuk mengembalikan handphonemu " ucap via singkat dan segera menutup telepon dari Reno
Hari hariku akan terasa menyebalkan kembali gerutu Via
Via segera melajukan mobilnya menuju Toko Bunga untuk melanjutkan pekerjaannya.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Senja telah tiba saatnya Via bersiap siap turun dari ruang kerjanya untuk menemui Reno dan pulang. Sesampainya di bawah ia berpamitan kepada karyawannya untuk pulang terlebih dahulu. Via segera mengemudikan kendaraannya menuju kantor Reno
" Permisi mbak bisa bertemu dengan tuan Reno? " ucap Via kepada sang resepsionist
" Nona Viani ya. Silahkan langsung saja ke ruangan Tuan Reno di lantai delapan ya " ucapnya yang sudah pernah bertemu dengan Via waktu itu.
Via pergi meninggalkan resepsionist tersebut karena telah mendapat persetujuan untuk bertemu Reno. Via masuk ke dalam lift dan menekan angka delapan menuju ruangan Reno.
Lift berbunyi dan terbuka terlihat Reno berdiri di depan pintu lift menunggu kedatangan Via.
" Selalu berlebihan membuat moodku berantakan " gerutu Via
" Apa yang kau katakan honey? " sahut Reno mendengar perkataan Via
Via segera melangkah keluar lift mendekat ke arah Reno. Reno yang melihat Via mendekat ke arahnya segera menarik tangan wanita itu menuju ke ruangannya. Via setengah berlari karena mengikuti langkah Reno yang cukup besar.
" Lepaskan Ren atau aku akan terjatuh " teriak Via
Reno segera melepaskan tangan Via dan membuat wanita tersebut langsung menabraknya yang tiba tiba menoleh ke arah belakang karena teriakan Via yang cukup kuat
" Awww " ucap Via kesakitan karena menabrak dada bidang Reno
" Jangan berteriak seperti itu lagi ini bukan taman bermain "
" Terserah kau saja. Ini handphonemu aku akan segera pergi " mengambil hp Reno di dalam tasnya dan menaruh di tangan Reno
Baru tiga langkah Via pergi menjauh dari Reno handphone miliknya berdering. Ia berhenti sejenak mengambil handphonenya di dalam tas. Ia melihat nama penelepon di layar handphonenya
Tumben dia meneleponku batin Via sedikit curiga dan segera mengangkat teleponnya
Hallo pa. Ada apa?
Sayang besok temui papa di kantor ya ?
Maaf pa aku tidak bisa. Karena besok aku ada meeting ucap Via asal karena sedang malas menemui papanya
Ayolah sayang hanya sebentar saja papa mohon
Tapi paaa ucapan Via terputus karena Reno secara mendadak mengambil handphone Via
Reno mendengar percakapan Via dan papanya. Ia tahu bahwa hubungan Via dan papanya sedikit renggang karena ibu tirinya. Ia mengambil kesempatan yang sudah ada di depan mata
Besok aku akan membawa putrimu ke kantor anda tuan. Ini aku Reno Wijaya ucap Reno dan segera menutup telepon dari papa Via
" Jangan ikut campur urusanku. Pergi saja kau sendiri esok menemuinya. Aku tak peduli " merampas handphonenya dari tangan Reno dan melangkah pergi meninggalkan Reno
Reno mengikuti Via berjalan menuju lift. Pintu lift terbuka via melangkah dengan cepat masuk kedalamnya dan segera menutup pintu lift. Namun langkah Reno terlalu cepat dan segera masuk ke dalam lift. Di dalam lift mereka berdua hanya diam hingga tiba di lantai dasar.
Via melangkah keluar terlebih dahulu dengan cepat menuju pintu keluar. Terdengar suara seseorang yang tidak asing baginya memanggil nama lengkapnya. Via segera menoleh ke arah tersebut.
Mati aku terjebak dalam lubang buaya gerutu dalam batinnya
Reno yang melihat kedatangan neneknya berhenti mengikuti Via dan memilih kembali ke ruangannya karena tak ingin terlibat masalah.
" Maaf ada apa nek ? " menjawab panggilan nenek mona
" Kemarilah sayang " pinta nenek mona
Via segera melangkah mendekat ke arah nenek mona dan mencium punggung tangan nenek mona yang sudah menjadi kebiasaannya ketika nenek mona datang ke toko bunganya
" Apa yang kau lakukan di kantorku nak? " tanya wanita tua itu dengan penuh penasaran
TERIMA KASIH YA SUDAH MAMPIR KE NOVEL PERTAMA AUTHOR INI.
TERUS IKUTI DAN DUKUNG NOVEL AUTHOR YA 😊
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE NYA 👍
Salam hangat peluk dari author untuk kalian semua ya 😘